Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya

Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya
bunda


__ADS_3

"Tuh kan kesiangan !!", gerutu Rahma dan langsung lompat berdiri dari tempat tidur dan menutupi pakaian minimnya dengan kimono, karena terkejut melihat matahari sudah menyilaukan sinarnya kedalam kamarnya melalui sela sela gorden jendela yang masih tertutup.


" Jam berapa memangnya Yang?", tanya Zia mengeryitkan alisnya karena merasa silau ketika istrinya membuka gorden jendela kamarnya.


"Maaf Yang, aku kesiangan, ini sudah jam 8", jawab Rahma dan siap siap keluar kamar dan melihat suaminya kembali menarik selimutnya.


" Lho kamu ga praktek Yang ?", tanya Rahma heran.


" Hari ini kan memang agak siang jam 2 nanti Yang", jelas Zia dan kembali dengan tidurnya.


"Oh ya sudah, aku kedapur dulu", ucap Rahma lega karena tidak perlu terburu buru menyiapkan sarapan untuk suaminya dan langsung meninggalkan kamar.


Rahma telah selesai menyiapkan sarapan untuk suaminya dan ketika menghidangkan ke meja makan, ia mendengar suara mobil masuk ke garasi rumahnya. Ia mengintip dari balik jendela melihat siapa yang datang bertamu sepagi ini.


" Assalamualaikum anak bunda ", salam Bunda Zia dengan senyum bahagia melihat menantunya menyambutnya.


" Waalaikumsalam bundaku ", Rahma menjawab salam Bunda Zia dengan pelukan rindu dengan sang mertua. Dan bunda pun memeluk erat dan mencium kening menantu kesayangannya.


" Zia sudah berangkat praktek Nak?", tanya Bunda pada Rahma dan Rahma mempersilahkan bunda duduk disofa ruang keluarga.


"Kak Zia praktek jam 2 siang Nda..", jawab Rahma sambil membuatkan secangkir teh manis untuk mereka bertiga.


" Lho Zia kemana sekarang ?", tanya Bunda heran tidak melihat anaknya.


"Tadi sudah bangun Nda, terus tarik selimut lagi Nda hehehe", jawab Rahma dengan membawakan nampan berisikan tiga cangkir teh manis yang masih hangat dan dua gelas air mineral.


" Iya Bunda maklum pengantin baru ", ucap Bunda dengan senyum senyum karena melihat banyak noda merah dibagian leher dan dada atas menantunya yang berkulit putih.


" Maaf ya Nda, pakaian aku seperti ini, habisnya aku santai karena dirumah hanya berdua saja", ucap Rahma karena merasa risih mertuanya tersenyum malu melihat kearahnya tanpa ia sadari ada noda dibagian leher dan dada atasnya.


"Bunda santai dulu sambil nonton tv dulu ya Nda, aku bangunkan Kak Zia dulu", ucap Rahma dan dipersilahkan oleh bunda agar membangunkan suaminya.


Rahma membangunkan suaminya setelah memastikan suaminya sudah bangun, Rahma ingin ke toilet untuk mandi sebentar sebab malu dengan bunda.


" Yang ayo bangun ada bunda diluar, kamu temenin bunda, aku mandi dulu", ucap Rahma dan meninggalkan suaminya ke toilet.


Rahma terkejut saat melihat dirinya didepan cermin didalam toilet. Banyak stempel merah dibagian leher dan dadanya. Alangkah malunya ia dengan ibu mertuanya yang pasti melihatnya tadi.


"Pantes Bunda tadi senyum senyum, pasti karena lihat ini deh ", gerutu Rahma didalam toilet. Dan Rahma pun membiarkannya karena bunda sudah terlanjur melihatnya, dan pastinya bunda pun memaklumi mereka berdua.

__ADS_1


***


" Lho kesini ga bilang bilang sih Nda.. ?", ucap Zia saat keluar dari kamar menghampiri bunda yang sudah memakai pakaian lengkap.


"Kan bunda datang kerumah anak bunda sendiri Nak", jawab Bunda menerima pelukan anaknya.


" Iya kalau Bunda kabarin kan aku bangunnya ga santai begini Nda", jawab Zia duduk disamping bundanya.


"Gimana Zi ? kamu mau nyumbang berapa cucu untuk Bunda dan Ayah ?", tanya Bunda bergurau sambil meraih secangkir teh yang telah dibuatkan Rahma.


" Sebelas !! ", jawab Zia sekenanya menjawab gurauan Bunda dan meraih segelas air mineral lebih dulu karena baru bangun dari tidurnya.


Bunda sangat menyayangi anak anak dan menantunya, sifatnya yang penyayang dan lembut membuat suasana dirumah penuh dengan kasih sayang. Apalagi Bunda yang humoris dan low profile, membuat Rahma tidak pernah canggung sejak dulu dengan Bunda.


" Ga pakai nunda nunda kan kamu dengan Rahma?", tanya Bunda serius.


"Enggak lha Nda, ngapain nunda nunda, sekasihnya aja kalau Yang Menciptakan mempercayakan aku dan Rahma segera memiliki anak ", jawab Zia santai dan paham apa yang dimaksud Bunda, Zia menyalahkan tv agar obrolan mereka terbawa santai.


" Tapi kamu tetap berjuang keras kan !! ", ledek Bunda pada anaknya.


" Bukan berjuang keras lagi Nda, tapi sampai titik darah penghabisan !!", jawab Zia sekenanya karena terbiasa dengan gurauan Bundanya.


" Asik.. bunda mau dung sarapannya buatan anak bunda yang cantik", jawab Bunda menghampiri Rahma yang sudah siap siap dimeja makan.


"Ayo Yang", ajak Rahma pada suaminya.


" Aku mandi dulu sebentar Yang", ucap Zia dan masuk ke kamar.


"Ok kita nunggu kamu Zi.. ", ucap Bunda yang ingin sarapan bersama sama.


Rahma dan Bunda ngobrol sambil menunggu Zia dimeja makan. Rahma yang merasa nyaman dengan Bunda sejak dulu semenjak menjadi sahabat Zia, sehingga ketika sudah menjadi istri Zia, Rahma sudah tidak merasa canggung dengan Bunda. Bunda pun sejak dulu sangat mensupport Zia untuk mengejar cinta Rahma. Sebab Bunda pun menyukai Rahma dan bangga jika suatu saat Rahma menjadi menantunya. Dan akhirnya keinginannya terkabul, bahwa Rahma sekarang kini sudah menjadi istri anaknya dan dengan kata lain Rahma menjadi menantu kesayangannya.


" Kamu ga berangkat kerja Nak hari ini?", tanya Bunda pada Rahma dengan santai.


"Aku sudah resign Nda... ", jawab Rahma dengan nada sedikit kecewa.


" Lho kenapa kamu resign sayang?", tanya Bunda penasaran.


"Kak Zia yang meminta aku resign supaya aku bantu beliau urus Rumah Sakit Astra nanti Nda", jawab Rahma dengan sikap pasrahnya.

__ADS_1


" Hah, modus Zia aja itu sih ! hati hati kamu sama suami kamu itu Nak, tipe laki laki cemburuan ! dia itu maunya biar kamu ga kemana mana, selalu sama dia, jadi ga ada kesempatan laki laki lain lirik kamu", ucap Bunda membela Rahma.


"Ya mau bagaimana lagi Nda, tugasku memang harus mematuhinya", jawab Rahma dengan nada lemas dan pasrah.


" Padahal sudah bersyukur sekali dia, kamu sudah mau terima dia nikah sama kamu, seharusnya sebelum kamu mau terima dia, hal itu kamu ajukan sebagai syarat sebelum menikah, bahwa walaupun sudah menikah kamu tetap nyaman dengan pekerjaan kamu. Jadi dia ga sampai nyuruh kamu resign seperti ini", suara Bunda yang begitu semangat membela menantunya.


"Ya mau bagaimana lagi Nda, nasi sudah jadi bubur", jawab Rahma pasrah. Dan Zia datang menghampiri mereka dimeja makan.


" Ayo Nda, aku sudah lapar", ucap Zia mengawali pembicaraan dan Rahma menuangkan nasi serta lauk pauk dipiring suaminya.


"Biar Bunda ambil sendiri Nak", ucap Bunda ketika Rahma ingin menuangkan nasi ke piring bunda.


" Zi.. bunda baru tahu kamu minta istri kamu resign dari kantornya ?", tanya Bunda menembak isi pikiran Zia.


"Iya, aku mau biar istriku selalu dekat dengan aku Nda, bantu aku urus Rumah Sakit nanti", jawab Zia santai walaupun pikirannya tidak bisa menjangkau pikiran sang bunda.


" Egois sekali kamu Zi.. udah syukur Rahma mau menikah sama kamu, penurut pula dia dengan suami, hati hati kamu jangan macam macam Zi.. ditinggal Rahma baru tau rasa kamu nanti.. kalau Bunda tahu sebelumnya, bunda pasti larang kamu meminta Rahma tuk resign, dia sudah bersusah payah meniti karirnya disana, tau tau nikah sama kamu bukannya disupport malah disuruh resign", ocehan Bunda menusuk isi hati anaknya, Rahma tidak menyangka jika Bundanya betul betul membelanya.


"Nda.. Nda.. mana berani aku macam macam", jawab Zia santai walaupun jadi merasa bersalah dengan istrinya.


" jangan mentang mentang kamu sebagai suami bisa dengan seenaknya merampas hak hak istri", nasehat Bunda benar benar membuat Zia tidak bisa berkutat, Rahma yang baru kali ini melihat bunda ngomel hanya bisa diam saja.


"Nda nih apel India enak sekali Nda.. ", ucap Rahma menawarkan Bundanya buah karena sudah selesai makan sarapan paginya untuk mengalihkan suasana.


" Iya Nak, enak sekali, bunda suka", jawab Bunda ketika mencicipi buah yang Rahma sediakan untuk sang mertua.


"Habiskan Nda selagi ada", ucap Rahma senang melihat bundanya menyukainya.


" Pantes.. Bunda daritadi ngomel ngomel, ternyata kena rayuan maut menantu kesayangan ", gerutu Zia, Bunda dan Rahma hanya tersenyum melihat Zia down sehabis dimarahi oleh bundanya.


" Bunda pamit ya Nak, bunda harus kembali ke kantor ", ucap Bunda tengah siap siap.


" Yah bunda, temenin aku dirumah Nda, aku sendirian dirumah lho", ucap Rahma yang masih rindu pada mertuanya.


"Suruh suami kamu ajak kamu praktek dengannya, tanggung jawab dia hari ini kamu nganggur", omelan Bunda, Rahma pun hanya tersenyum senyum melihat suaminya masih saja diomeli oleh bundanya, Zia yang melihat istrinya bahagia melihat suaminya diomeli melirik lirik kearah Istrinya.


Setelah bunda menghilang dari pandangan mereka. Rahma masuk kedalam rumah merapikan meja makan, Zia pun membantu Istrinya.


bersambung

__ADS_1


HAY READERS JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT NYA AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. DAN JANGAN LUPA VOTE AUTHOR JUGA YA. TERIMAKASIH.


__ADS_2