
Yoga dan Rahma tiba dikantor pukul 07:00 WIB. Karena Faqih yang menyetir mobil Yoga, Faqih pun berangkat kerja membawa mobil Yoga sekalian bersamanya. Seperti biasa pagi-pagi Rahma dan Yoga jalan bergandengan kali ini dari lobby menuju ruangan kerja mereka.
Yoga tidak diperbolehkan duduk disinggasananya oleh Rahma, karena fisik Yoga belum fit betul. Yoga hanya diperbolehkan duduk manis sambil kakinya diluruskan diatas sofa dan Rahma melarang Yoga menahan kantuk jika sudah mengantuk.
"Ini yang mana atasan yang mana bawahan ya Bang, kok gw yang diatur atur ya Bang", keluh Yoga pada Alam tengah meledek dan menyindir Rahma.
" Dimana-mana perempuan menang Mas Yoga, kalau kita ga turutin kemauannya, kelar hidup kita Mas", saut Alam pada Yoga pasrah kalau yang namanya kaum Hawa kalau sudah mengambil alih.
"Mas.. jangan ngedumel aja, minum vitaminnya sm obatnya dulu nih", tegur Rahma pada Yoga dengan lembut.
Setelah sepuluh menit meminum obat dan vitaminnya, Yoga merasa ada yang aneh ditubuhnya dan mengeluarkan keringat dingin, Yoga pun merasa gelisah. Rahma yang melihat keadaan Yoga panik dan mendekat duduk disamping Yoga dan mengelap keringat dingin Yoga sambil memberikan teh manis hangat pada Yoga.
Lima menit kemudian Yoga tidak sadarkan diri dirangkulan Rahma diatas sofa, Rahma panik dan teriak membangunkan Yoga, begitupun Alam dan Hesti yang ikut panik langsung memanggil ambulans fasilitas klinik kantor. Alam dan Hesti ikut berada dalam mobil ambulans yang membawa Yoga kerumah sakit dimana Yoga sering cek up. Yaitu Rumah Sakit terbesar milik pemerintah yang berada di ibukota.
Yoga dibawa ke Unit Gawat Darurat, Yoga diberi pertolongan pertama. Rahma yang melihat keadaan Yoga meneteskan air mata dari kejauhan karena dilarang mendekat pada pasien yang sedang ditindak oleh tim medis.
__ADS_1
Sudah tiga puluh menit berlalu Yoga belum sadarkan diri. Keluarga Yoga baru saja tiba dan Mamy berpelukan dengan Rahma. Faqih yang sedang bekerja karena mendengar kabar dari Rahma bahwa adiknya dibawa ke Unit Gawat Darurat langsung meninggalkan pekerjaannya untuk melihat langsung keadaan sang adik.
Tim dokter melaksanakan pemeriksaan dalam tubuh Yoga. Dan hasil pemeriksaannya sekitar empat jam akan keluar dan bisa didiagnosa penyakit yang diderita Yoga. Rahma memeluk tangan Yoga, dia tidak ingin beranjak dari sisi Yoga.
Setelah empat jam berlangsung, Yoga akan segera dipindahkan ke ruang Intensive Unit Care. Tim dokter pun menemui mereka, mengatakan kalau Yoga sedang ada dalam masalah dengan organ penting ditubuhnya, yaitu Yoga mengalami gagal ginjal. Keluarga dan Rahma sangat shock mendengar kenyataan itu. Keluarga Yoga tidak habis pikir kenapa Yoga mengalami gagal ginjal sedangkan Yoga selama ini melakukan pola hidup yang sehat, Rahma yang tadinya sedang berdiri namun kakinya seperti tidak ada tulang, lemas terduduk lunglai dilantai. Semua orang yang menyayangi Yoga pun sedih.
Tim dokter menyarankan agar Yoga melakukan transplatansi ginjal segera, dan pihak keluarga diminta untuk mencari pendonor ginjal yang terbaik dan tim dokter pun menyarankan kalau ginjal terbaik itu sebaiknya dari pihak keluarga yang dipastikan melakukan pola hidup yang sehat. Papi beserta kakak dan adik-adik Yoga sudah bersedia untuk mendonorkan ginjal mereka untuk Yoga jika diantara mereka ada yang cocok.
Rahma pun juga bersedia menjadi pendonor demi kekasih hatinya, tapi Mami melarangnya karena Rahma seorang perempuan yang akan melahirkan cucu cucunya nanti, apalagi jika suatu saat jika Rahma mengandung, ginjal harus dalam keadaan sehat.
Tim dokter tengah melakukan persiapan untuk transplatansi ginjal Yoga, tim dokter tersebut termasuk dr. Zia Astra, Sp. PD. Ya Zia yang juga menjadi dokter tetap praktek di Rumah Sakit dimana Yoga sedang dirawat secara intensive. Zia yang sebelumnya melihat daftar nama pasien bernama Yoga, tanpa berpikir Zia mencari ruang Intensive Unit Care yang merawat Yoga. Ketika Zia masuk ruang atas nama Yoga, Zia melihat sosok yang ia kenal sedang disisi pasien yang tengah berbaring tidak sadarkan diri. Rahma duduk disisi Yoga sendirian. Detak jantung Zia berdebar dan kaki Zia melemas, karena ia mendapati wanita yang dicintainya sedang bersedih. Zia menghampiri Rahma tanpa Rahma sadari dan melihatnya, karena tidak peduli dengan sekitarnya, Rahma hanya peduli dengan kekasih hatinya yang sedang berbaring tidak sadarkan diri.
"Aku pastikan dia akan baik baik saja, dan aku bersama rekan rekan ku akan melakukan yang terbaik untuknya", sapa Zia pada Rahma. Rahma yang belum melihat siapa yang menyapanya namun terdengar jelas suara itu Rahma mengenalinya. Rahma pun menoleh memastikan bahwa memang suara itu adalah suara Zia.
" Terimakasih atas semuanya Kak, aku tidak tahu harus membalas apa, hidupku ada dihidupnya kak," ucap Rahma kepada Zia. Dan bertekad akan melakukan yang terbaik untuk Yoga. Ia tak tega melihat Rahma terpuruk. Apalagi Rahma berucap bahwa semangat hidupnya ada dilelaki yang sedang berjuang bertahan untuk hidup.
__ADS_1
Sebelum proses persiapan transplatansi dimulai pasien harus dalam keadaan baik, maka dari itu para tim dokter memberi tindakan pada Yoga untuk cuci darah lebih dulu sebelum dua hari lagi akan melakukan operasi transplatansi ginjal.
Rahma yang tidak beranjak dari sisi Yoga menyaksikan calon suaminya membuka matanya setelah dilakukan cuci darah. Rahma pun memanggil perawat dan para perawat memanggil dokter yang sedang piket.
Betapa bahagianya Rahma melihat Yoga sudah sadarkan diri. Rahma segera memberi kabar ini kepada keluarga Yoga yang sedang makan siang dikantin Rumah Sakit.
Dokter memastikan Yoga baik baik saja, Rahma yang merindukan kekasih hatinya langsung memeluk Yoga. Yoga pun demikian, sangat merindukan pujaan hatinya dan meneteskan air mata terharu karena masih diberi kesempatan untuk bersama calon istrinya ini.
"Kamu yang kuat ya Mas !! Ada aku disamping kamu, aku mencintaimu Mas Yoga", ucap Rahma dalam pelukan Yoga.
" Aku bahkan lebih mencintai kamu sayang", ucap Yoga yang tidak ingin melepaskan pelukannya pada Rahma.
Rahma dan Yoga melepaskan pelukan mereka ketika keluarga Yoga datang dan masuk melihat keadaan Yoga. Mereka menjelaskan bahwa Yoga dalam waktu dua hari akan melakukan operasi transplatansi ginjal, dan pendonornya adalah Papi mereka. Dan Papi meminta satu hal kepada Yoga agar tetap semangat. Yoga yang masih lemas hanya menganggukan kepala.
Papi sudah masuk ruang rawat untuk persiapan transplatansi, karena Papi juga harus istirahat total sebelum operasi dilaksanakan.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT NYA YA. AGAR AUTHOR SEMANGAT MELANJUTKAN CERITA. TRIMAKASIH