Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya

Cintai Aku Seperti Kau Mencintainya
perjalanan panjang


__ADS_3

Di lain tempat Zia yang sedang melanjutkan studi spesialis penyakit dalam di kampus lamanya, harus pintar-pintar mengatur waktu karena sebisa mungkin waktunya dibagi untuk bertemu Rahma. Apalagi semakin lama, Rahma semakin sulit untuk dihubungi. Dan kebetulan Zia ada waktu untuk menjemput Rahma.


*Chat Zia(Z) dengan Rahma(R)*


Z : Dek, kakak mau ketemu kamu ya, kakak kangen kamu, ada yang kakak ingin bicarakan penting dengan kamu..


R : Maafin aku kak, besok pagi aku harus berangkat terbang ke Taiwan, dan lanjut ke Hongkong selama seminggu.


Z : Ya sudah, tolong kasih kesempatan kakak untuk ketemu kamu sebelum kamu terbang, kakak jemput nanti ya.. ?


R : kita ketemu dirumahku aja kak, aku bareng teman-teman nanti sampai rumah.


Z : ok, nanti habis magrib kakak kerumah kamu..


R : jangan habis magrib, nanti kakak menunggu ku terlalu lama..


Z : memang kamu sampai rumah jam berapa ?


R : belum tau,


Z : kalau begitu kakak habis magrib kerumah kamu, biar nanti kakak bisa sambil ngobrol dengan orang rumah, dan kamu jangan pulang terlalu malam ya..


R : iya


Ada persiapan jadwal Yoga dengan Rahma untuk kunjungan kerja ke Taiwan dan Hongkong selama seminggu. Dan yang memakan waktu lama adalah di Hongkong yang menghabiskan waktu 4 hari, sebab segala kegiatan di Hongkong sudah sama-sama diatur kepala Dubes Hongkong.

__ADS_1


Pulang kerja Rahma diantar oleh Yoga, sepanjang perjalanan Rahma memutar otak agar Yoga tidak mampir disaat ada Zia yang menunggunya dirumah.


"Mah, Mas ga mampir ya, karena mau prepare untuk besok, besok Shubuh kakak jemput kamu", ucap Yoga karena penerbangan akan berangkat pukul 07:30 WIB dan saat ini Yoga tidak begitu resah menahan rindu dimalam hari, karena hampir seminggu lebih mereka berdua akan bersama-sama walau diselingi banyak kegiatan.


" iya mas, aku juga mau prepare", jawab Rahma yang padahal merasa lega dan beruntung jika Yoga tidak mampir secara kebetulan dengan apa yang Rahma pikirkan sejak tadi, karena khawatir pastinya Yoga dan Zia bertemu. Mau jawab apa Rahma ke mereka nanti, itulah kecemasannya sejak tadi.


" ok sampai ketemu shubuh nanti ya Mah", pamit Yoga yang langsung pulang dengan senyum tampannya.


"iya terimakasih ya Mas, Hati-hati!", sahut Rahma penuh senyum khasnya.


Saat melangkah memasuki gerbang halaman Rumahnya, Rahma sudah melihat kendaraan Zia yang parkir digarasi rumah Rahma. Dan melihat sosok Zia sedang duduk berbincang dengan kakak ipar Rahma.


" Assalamualaikum ", sapa Rahma.


" Waalaikumsalam, udah sampai Dek.. , sahut Zia. Dan kakak ipar Rahma pun masuk kedalam rumah meninggalkan mereka berdua.


" Mas Yoga, habis prepare untuk besok Shubuh sudah harus berangkat dari sini", jawab Rahma dengan raut wajah lelah.


"Jadi atasan baru kamu itu namanya Yoga?", tanya Zia agak sedikit ketus tapi dengan nada yang lemah dengan tatapan kosong.


"Sama siapa aja kamu kunjungan keluar negeri, berdua saja kah dengan Yoga?", sambung pertanyaan Zia lagi.


" Iya betul, aku kesana bersama beliau murni kerja, dan memang harus kami berdua yang berangkat, banyak yang beliau harus benahi, bukan mau mesum atau lainnya yang merusak", penjelasan Rahma dengan lembut tapi dalam hatinya geram dengan pertanyaan Zia yang terlalu posesif.


"Lalu kamu disana menginap berdua-duaan dihotel?", intograsi Zia yang makin serius dengan tatapan matanya dan wajahnya hanya berjarak 10 cm dengan wajah Rahma.

__ADS_1


" Kebetulan tipe Mas Yoga orangnya tidak neko-neko, beliau sangat menghemat anggaran yang notenya uang rakyat, jadi Mas Yoga dan aku akan bermalam di kamar tamu kantor Dubes. Apalagi Mas Yoga paham beliau membawa aku. Jadi banyak saksi di kantor Dubes kalau kami nanti tidak tidur sekamar dan kami berdua tidak macam-macam", jelas Rahma dengan senyum yang dipaksakan dan wajahnya memberikan jarak untuk menjauh dari wajah Zia.


"Ada lagi yang kamu ingin tanyakan?supaya hatimu lega dan tidak berpikir jelek tentang aku dan Mas Yoga, kebetulan aku juga harus prepare karena Besok Subuh aku sudah harus berangkat", sambung Rahma dengan mengusir halus Zia karena sudah lelah dengan sikap posesifnya.


" Aku percaya dengan kamu, dan aku tidak berpikir yang macam-macam, aku cuma khawatir kamu akan jatuh cinta dengan Bos yang baru kamu kenal itu", penjelasan Zia yang memasang wajah mendekat lagi dengan wajah Rahma yang Rahma sendiri agak sedikit risih.


"Kak, sekarang kamu harus belajar yakin akan takdir kita kemana, dan Tuhan sudah yang mengaturnya, dan Tuhan juga yang hanya bisa membolak balikan hati manusia, tanpa manusia itu sendiri bisa memahaminya", ucap Rahma menasehati Zia agar tidak resah dan ikhlas dengan takdirnya apakah dirinya nanti berjodoh apa tidak.


Zia pun berpamitan, dan kalimat terakhir Rahma sudah membuatnya tersentuh, dan terngiang-ngiang dikepalanya.


" Aku pamit pulang, besok kamu hati-hati dijalan, jaga diri kamu, dan berjanjilah disana kamu selalu memberi kabar untukku", pinta Zia lirih pada Rahma.


"Iya terimakasih, kalaupun disana ada sinyal pasti akan ku kabari", ucap Rahma tersenyum sambil berdiri karena Zia pun sudah berdiri dari posisi duduknya untuk bersiap-siap pulang.


Sehabis sholat Subuh, Yoga langsung tancap gas kendaraannya menuju rumah Rahma, dan Rahma pun sudah siap untuk terbang berangkat bersama Yoga.


Didalam pesawat Rahma banyak pesan dari kakak-kakaknya agar hati-hati dan selalu menjaga diri, dan hal itu Rahma ceritakan kepada Yoga bahwa keluarganya sangat mengkhawatirkannya.


" Mungkin adiknya ini harus ku nikahi, supaya kakak-kakaknya tidak perlu khawatir lagi ketika kerja bersamaku kemana-kemana, karena sudah ada suaminya yang melindunginya", ucap Yoga yang menyindir dan tertawa.


"Iya ya Mas..maunya Mas Yoga itu sih hehehe", sahut Rahma dengan tawa dan wajah yang memerah karena malu dan Yoga pun tersenyum.


Setengah perjalanan dalam pesawat Rahma dan Yoga tertidur dan tanpa mereka sadari kepala Rahma bersandar dipundak Yoga begitupun kepala Yoga bersandar dikepala Rahma. Karena mereka berdua memesan tiket kelas ekonomi. Bukan karena seorang Yoga tidak sanggup membayar akan tetapi perjalanan ini difasilitasi negara, sehingga Yoga pun tidak mau menghambur-hamburkan uang rakyat.


Yoga merupakan anak pengusaha property, dari kecil kedua orangtuanya mendidik keempat anaknya agar mandiri, tidak bergantung dengan jerih payah orang tuanya. Yoga sendiri pun sejak SMP sampai kuliah mengandalkan beasiswa. Sampai detik ini Yoga pun selain sebagai pejabat anggota dewan Yoga juga melebarkan sayapnya di bisnis property.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE NYA


__ADS_2