Cintaku Dipalak Preman Pasar Soleh

Cintaku Dipalak Preman Pasar Soleh
rumah sakit


__ADS_3

Happy reading all 😘


.


.


.


.


Bismillah


.


.


.


.


39 derajat celcius, sudah beberapa hari ini mboy sedikit rewel. Kata dokter, jika dalam waktu 3 hari panasnya belum juga turun, maka harus di adakan pemeriksaan darah.


"Yank, kamu istirahat aja dulu, biar Azka aku yang jaga," ucap Rama jempolnya mengusap lembut pipiku.


Begini rupanya perasaan seorang ibu jika anaknya sakit, kacau bagaikan bekas tempat sampah yang sudah diacak-acak tikus. Sudah beberapa hari jam tidurku hanyalah beberapa jam saja seharinya. Mataku patut disamakan dengan mata panda yang terdapat lingkaran hitam di sekitar matanya.


"Tapi, a...aa kan kerja besok ngampus pula," jawabku menolak.


"Yank.." Rama memegang tanganku yang akan menaruh baju kotornya.


"Yang berumah tangga itu kita bukan hanya kamu," jelasnya mengambil baju kotor miliknya lalu menaruhnya dipojokan.


"Mumpung mboy tidur kamu ikut tidur, cucian kotor dan semua tugas kamu, biar aku yang kerjakan," senyumnya selalu hangat untuk siapa saja terlebih lagi aku, kata Rama senyum itu hanya khusus untukku entah senyum yang mana yang dia beri untuk orang lain.


"Sini aku kelonin," lirihnya menarikku ke atas ranjang dengan pelan takut mboy terbangun.


"Jangan macem-macem ya, a ! Aku cape," ancamku pada Rama, lelaki satu ini jika tak kuperingatkan, tangan dan bibirnya ini suka nyosor bak bebek yang sedang mencari makanan.


"Engga yank, kali ini aku serius, walaupun serius band udah bubar," kelakarnya.


Aku berbaring dengan Rama yang berada di belakang dan memelukku, aroma tubuhnya membuatku tenang, seperti lilin aroma therapy yang menenangkan. Inilah sumber ketenanganku, selain aroma tubuh Azka. Tangan Rama terampil mengusap kepalaku lembut mengantarkanku ke dunia mimpiku.


.


.

__ADS_1


Sudah lewat 3 hari tapi Azka belum juga membaik, Rama tak ingin mengambil resiko lebih lagi, selain obat dari dokter pun obat tradisional sudah diaplikasikan namun Azka tak kunjung membaik.


"Yank, nomer berapa ?" tanya nya sambil tangannya menepuk nepuk pan*tat Azka dan mencoba membuat Azka senyaman mungkin agar tak rewel, lihatlah mata-mata kaum hawa melihat hot daddy di sampingku ini. Mata-mata penuh memuji dan memuja, jika akupun jadi mereka, tentu hal sama yang akan kulakukan. Bagaimana tidak laki-laki berpenampilan ala badboy ini sedang menggendong bayi gemoynya dengan telaten, ia menenangkan Azka yang sudah mulai rewel.


"Bayi Azka !!" seru suster.


"A..ayuk..!" ajakku.


.


.


Air mata tak dapat di tahan lagi aku menangis di pelukan Rama, sesak rasanya Azka dinyatakan terserang demam berdarah, melihat tangan mungil Azka yang ditusukan jarum infus dan menangis membuatku berharap jika posisi Azka dapat kutukar denganku. Tangisan pilu nya merasakan sakit menyayat hati.


"Hey...bunda harus kuat ga boleh cengeng, mboy anak yang kuat," ucap Rama menghapus air mata dan ingusku.


Rama meminta ruang rawat VIP, agar tak harus bercampur dengan pasien lain, dan nyaman pula untukku dan Azka. Rama pamit untuk pulang dan membawa pakaian ganti.


"Hey sayangnya bunda dan daddy, kamu kuat nak ! Kamu anak seorang Ramadhan Restu Al-Kahfi," gumamku pada Azka. Anak gemoy ku ini terlihat risih dan tak nyaman dengan infus yang terpasang, ia menggerak-gerakan tangannya, saking aktifnya darah malah naik ke dalam selang infus membuatku panik.


"Ya allah de !" panikku.


"Dokter ! Suster!" panggilku.


Rama tidak datang sendiri ada ambu dan abah, juga ada keluargaku namun ka Anisa tak ikut karena memang aturannya wanita hamil tidak boleh membesuk pasien.


"Mamah," aku memeluk mamah, membagi rasa lelah, khawatir dan sedih ku pada wanita yang telah melahirkanku.


"Sabar sayang, Azka pasti sembuh," jawab mamah.


"Azka masih kecil mah, harus ngerasain sakit dan dirawat," adu ku sama seperti saat aku masih kecil jika aku merasa tersakiti.


"Bunda Azka cengeng, masa anaknya aja anteng tidur, lah emaknya nangis kejer!" goda bang Akhsan.


"Anak gue bang, tadi darahnya naik ke selang infusan," ucapku menghapus air mata.


Ambu, mamah, abah, papah dan bang Akhsan tak bisa lama karena jam besuk yang terbatas.


"Yank, makan dulu," pinta Rama.


"Aku belum laper, a !" jawabku.


"Tapi Azka butuh ASI mu, badan kamu juga perlu asupan dan tenaga buat rawat Azka."


Akhirnya aku menurut dan makan, badanku benar-benar lelah. Rama mengambil posisi di belakangku dan memijat pundakku.

__ADS_1


"Istirahat saja, walaupun bunda ini malaikat tapi bunda juga manusia butuh makan dan istirahat," ucapnya.


"Biar aku yang jagain Azka, besok aku minta cuti biar bisa nemenin kamu dan Azka," jawabnya tersenyum.


Rama membawaku duduk di sofa ruang rawat, memelukku dari samping hingga aku dapat menyandarkan kepalaku di bahunya, memeluk Rama mengadukan keluh kesahku.


"Tadi darah Azka naik, a ! Aku takut Azka kenapa napa," lirihku.


"Aku ga becus jadi ibu, a !" air mataku kembali mengalir.


"Suuttt ! Ga boleh ngomong gitu, Kamu bunda ter-the best buat Azka dan istri terbaik untukku," ucapnya.


"Aku ga bisa jaga Azka, a..sampe nyamuk aja berani gigit Azka," aku sesenggukan. Rama menepuk-nepuk punggungku, memelukku posesif dan mencium pucuk kepalaku.


"Mboy, liat nih bayi gede-nya daddy lagi nangis nyalahin dirinya sendiri !!" ucap Rama bermonolog seakan mengobrol dengan Azka yang sedang tidur.


"Iya daddy, bunda mboy lebay," ucapnya dimiripkan dengan anak kecil. Aku menepuk dadanya kesal tapi Rama malah tertawa.


"Serius juga !!" aku mengangkat kepalaku.


"Jangan serius serius ahh ! Masih siang," kekehnya, aku semakin mencubit pinggangnya hingga ia mengaduh.


"Bahkan nabi saja tidak dapat menolak sakit dan maut yank, apalagi kita yang hanya butiran debu, itu sudah menjadi ketentuan Allah. Jangan menyalahkan diri sendiri, sudah ketentuannya mboy harus sakit. Hapus air matamu kasih senyuman buat mboy kita, anak bisa merasakan apa yang ibunya rasakan," aku segera menyerut ingusku dan menghapus jejak-jejak air mata.


"Aku selalu ada disamping kalian," tambah Rama.


"Makasih, a. Memang kalau jodoh pilihan Allah tidak akan salah," jawabku, kembali memeluk dada bidang yang terbalut kaos t- shirt the beatles hitam ini.


"Woiyadong !! daddynya Azka !!" ucapnya, rasa percaya diri Rama memang tinggi, setinggi langit diangkasa dan tak dapat disamai oleh siapapun.


"Bunda tidur dulu, biar mboy daddy yang urus," Rama menyugar rambutnya dan beranjak menuju ranjang Azka yang menggeliat terbangun.


"Assalamualaikum anak daddy yang hebat, mboy sama daddy dulu ya biar bunda nya istirahat. "


Tak ada tugas seorang istri ataupun tugas seorang suami, yang ada ialah tugas bersama, bukan hanya pekerjaanmu atau kewajibanku tapi kewajiban bersama, sebuah kalimat janji di depan Tuhan bukan hanya sebatas suami yang menafkahi atau istri yang melayani. Namun, saling melengkapi dan bekerja sama dalam setiap halnya di dalam kehidupan bersama menuju jannah Allah.


.


.


.


hay hay readers maaf mimin susah sekali untuk update , mimin pun tak janji akan menambah bonchap dalam waktu dekat.Mimin mau tanya nih ada yang rindu dengan MIPA 3 ?? jika iya yuk tengok karya chat story mimin yang pertama beberapa sahabat CDPPS sudah ada yang singgah kalau berkenan yu tengok keseruan MIPA 3 klik profilku.....semoga berkenan dan suka terimakasih


__ADS_1


__ADS_2