
Bismillah happy reading all 😘
.
.
.
.
Namanya juga manusia, tak akan ada yang sempurna. Begitupun superhero wanna be ku dan Azka. Tiap hari pulang larut hanya demi sepiring nasi dan sebongkah batu berlian, mengurus RPH abah, peternakan sapi, dan pekerjaannya mendesain yang menguras otak, belum lagi kuliah dan membagi waktu bersama Azka dan aku. Sekuat kuatnya samson betawi jika dicukur habis bulu keteknya maka ia akan lemah, begitupun Rama, sekuat kuatnya Rama, ia hanya manusia biasa.
"A..makan dulu yuu, abis itu minum obat !" ajakku seraya tanganku terulur menyentuh keningnya. Sejak semalam panasnya tak turun turun, baru turun sebentar, setelah efek obat habis panasnya kembali naik.
"Aku dah ga apa apa yank, palingan juga bentar lagi sembuh. Kan obatnya ada disini. Kamu..sama Azka.." ia malah menarikku ke dalam pelukannya, bergelung dengan selimut dan hawa tubuhnya yang panas.
"Azka nyariin kamu, a..." gumamku.
"Maaf ya belum bisa megangin Azka, takut ketularan sakit," jawabnya membuka matanya yang tampak sayu. Ada rasa sedih yang menggantung di langit langit hatiku, melihat lelaki yang biasanya memayungiku dan Azka dari terik dan mendungnya dunia, akhirnya tumbang juga di ranjang.
"Ke dokter yuuu !" ajakku, tapi ia selalu menggeleng dan mengatakan ia baik baik saja. Nafasnya mulai teratur, semalam pun ia pulang ditemani Gilang.
"Hallo, lang..minta tolong semua kerjaan di RPH sama di peternakan handle dulu ya bareng Wawan," ucapku di ujung telfon.
Semenit kemudian aku memencet nomer dokter yang biasa aku datangi untuk berobat, memintanya datang ke rumah.
.
.
Akhirnya kemungkinan terburuk benar terjadi, Rama harus di rawat di RS. Blangkar RS di dorong dengan Rama di atasnya, aku dan Gilang membawa Rama ke RS, ruang VIP ku pilih sebagai kamar rawat inap Rama.
"Aaa...!! gue di infus, Lang !!" seru Rama.
"Ga usah teriak kamvrettt !! malu maluin aja !!" Gilang menoyor bos sekaligus sohib sehidup sematinya ini.
"Abay sama Ridwan datang sebentar lagi !!" ucap Gilang mengotak atik ponselnya mencari nama Vina the istri.
Aku menghela nafas lelah, memikirkan ini dan itu, inilah kewajiban seorang istri...seorang ibu...dan seorang mahasiswa....
Dan aku lebih memprioritaskan kewajiban istri dan ibu. Setelah meminta ijin cuti, namun tetap tak membuatku ongkang ongkang kaki hanya mengurus Rama, setumpuk materi kuliah sudah menunggu di rumah, Airin dan bang Sat, selalu membawakan tugas untukku agar aku tak ketinggalan materi kuliah, bukan karena aku yang maruk..tapi karena aku ingin lulus tepat pada waktunya, lalu konsen saja menjadi istri dan ibu yang de' best buat Azka dan Rama.
"Yang mana yang sakit A ?" tanya Abay heboh melihat setiap inci tubuh Rama.
"Heh curut !! sakit perut gue, gimana bisa happy tummy kalo loe meriksanya kaya meriksa ayam broiler abis di bersiin kulitnya !!" omel Rama, Abay terkikik.
"A..aku pulang dulu sama Wawan, mau ambil baju sekalian mau liat Azka dulu," ijinku pada Rama.
"Lang, bay, Wan..titip Rama. Jagain matanya jangan sampe jelalatan sama suster, kalo sama dokter Furqon boleh !!" jawabku terkekeh.
"Ahahahahaha, siap Ra."
"Jeruk minum purut dong yank !!" jawab Rama lemah.
"Asaalamualaikum !!"
"Waalaikumsalam !"
Kuambil beberapa helai pakaian ganti untuk Rama dan aku, tak lupa pompa ASI, karena Azka masih menyusu, usianya masih 13 bulan. Menimang Azka, mengurus dan memberikannya ASI terlebih dahulu, lalu mandi dan makan.
__ADS_1
"Mboy, mboy jangan nakal ya. Bunda mau urus daddy dulu, daddy sakit sayang. Mboy tunggu di rumah sama ambu sama abah, ada bibi Nia juga a Wawan, " si gemoy Azka memang bayi luar biasa, ia tak pernah mengeluh dengan kesibukan orangtuanya ataupun rewel, hanya saat ia sakit saja terkadang rewel.
Kuciumi setiap centi kulitnya, dan ku gelitiki hingga Azka tertawa terpingkal pingkal, "ambu, titip Azka ya, mungkin nanti mamah sama papah juga bang Akhsan sama ka Nisa kesini buat temenin Azka."
Aku selalu bersyukur dikelilingi orang orang yang menyayangiku dan Rama, definisi Happy family dan keluarga perfect memang nyata adanya.
"Yuhuuu,,, !! A Azka pacaran yuuu !!" Vina datang bersama si kecil Zahra.
"Hai besan !!!" sapa ku cipika cipiki dengan Vina, si kecil Zahra memakai bandana pink, dan wangi lavender khas minyak telon bayi, agar tidak digigit nyamuk.
"Ciee, ngapelin ke rumah wowo nih, A Azka nya lagi berkangen kangen ria dulu nih sama bunda, soalnya bunda mau jihad dulu sayang !!" colekku di pipi gemoy Zahra yang tersenyum menampilkan gigi yang hanya ada dua di bagian bawah.
"Jihad ngurusin daddy ya bunda??" suara Vina dibuat semenggemaskan mungkin mewakili Zahra.
"Iya mantu bunda yang lucu !!" jawabku.
"Titip A Azka ya, suka nakal...suka gigitin terus remote tv !!" jawabku, memang usia Azka sedang asik asiknya menggigiti benda benda asing untuknya.
"Siap bundaku sayang !!"
"Mboy, bunda pergi dulu ya..jangan bikin anak gadis orang nangis ! daddy juga ga pernah bikin bunda nangis !" ucapku pada Azka, ia mengerjap lucu seakan mendengar setiap perkataanku tapi detik berikutnya ia tersenyum.
"Sini sun dulu sayang !!"
"Neng, hati hati..jangan lupa nanti Wawan ngambil ASI kalo persediaan sudah habis di frezzer," ucap ambu.
"Iya ambu,"
"Jangan telat makan, jangan jadi ikutan sakit geulis !!" ucap ambu mengusap usap kepalaku.
"Iya ambu,"
"Vin, Gilang sama yang lain masih di RS?"
Langkahku besar besar menuju ruang rawat Rama, benar saja ketiga makhluk berjuluk preman kampung ini sedang membujuk Rama untuk mau diambil darah, bersama dokter Furqon.
"Yank, aku ga apa apa ga usah di cek darah juga, malu lah darahku bukan darah biru, aku juga bisa sembuh tanpa cek darah !!" apapun tak ada yang ditakuti Rama, tapi tak disangka benda sekecil jarum suntik ia takut.
"A..jangan gitu atuh, dokter langsung aja !!" pintaku membuat Rama akan beranjak dan berontak.
"Aa diem, ga usah berontak, malu maluin..masa Azka aja tiap bulan di suntik !!"
Dokter Furqon membuka bungkusan suntikan dan memasang tali pengerat di lengan Rama. Lelaki tangguh ini membenamkan kepalanya di dada ku dengan sebelah tangannya yang dipasangi infus memeluk pinggangku.
"Dih, ngumpet di istri !!" tawa ketiga teman Rama.
"Malu gue panglima perang kaya gini !!" kekeh Abay.
"Panglima perang pun manusia, bawel loe!" ucap Rama.
Satu tube kecil berisi da*rah Rama akan diperiksa di laboratorium. Selepas cek darah, ketiga orang ini juga pamit pulang.
Dokter kembali bersama seorang suster masih muda, membawa hasil cek lab. milik Rama.
"Bapak sakit tifus, akibat bakteri, bisa dari makanan yang kurang bersih, ditambah kecapean dan jam makan yang tidak teratur !"
"Tuh denger kan, selain bekal yang selalu aku siapin kamu suka jajan apa di luar ? makanan di luar yang ga bersih ?" tanyaku.
"Makanan apa ya dok, saya kalo makan selain dari bekal istri saya paling makanin istri saya tiap malam ! masa istri saya mengandung bakteri jahat ??"
__ADS_1
Tanganku mencubit pinggang Rama, "awww, yank sakit !!" gumamnya meringis. Dokter dan suster muda itu sudah mengulum bibirnya menahan tawa.
"Hahaha, mungkin ada makanan yang tidak bapak sadari pernah dibeli di luaran, sebaiknya istirahat saja, makan makanan yang lembut untuk lambung dan usus," jawab dokter.
"Saya harus berapa lama disini dok?" tanya Rama.
Baru juga datang sudah ingin pulang,
"Kita lihat nanti ya pak, baru juga datang. Di betah betahin aja dulu pak !!" senyum dokter Furqon berlalu bersama suster.
"Aa ihh bisa ga sih kalo ngelucu atau mesum itu liat liat situasi kondisi !!" omelku.
"Bawaan orok yank, Azka gimana yank?" tanya Rama.
"Azka lagi diapelin Zahra !!" jawabku.
"Aku kangen Azka yank, " ucapnya.
"Iya makanya aa sembuh dulu !!" aku menarik kursi di sebelah ranjang Rama.
Disinilah tanggung jawab, dan kesetiaan wanita diuji membantu Rama ke toilet, menyuapinya makan dan menjaganya. Sampai tak sadar aku tertidur di kursi dengan kepala di samping Rama. Tangannya terulur mengelus rambutku.
"Eh, maaf maaf aku ketiduran ya a?" aku segera bangun mengerjapkan mata.
"Eh, aku ganggu ya yank ?" tanya nya. Ia sedikit bangkit menepuk nepuk ranjang sampingnya, memang ranjang ruang VIP sedikit lebih lebar dan empuk.
"Sini, bobo sini..aku elusin !" ucap Rama. Aku menggeleng menolak.
"Aku ga bisa bobo kalo ga meluk kamu, yank !" lirihnya. Akhirnya aku naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Rama.
"Yank, maafin aku udah repotin kamu, bikin kamu bolak balik RS sama rumah, bikin kamu numpukin tugas kuliah, belum lagi Azka yang ditinggal tinggal," aku berbalik badan.
"Ko gitu ngomongnya, udah jadi kewajibanku, a..insyaallah aku nikmatin setiap moment dan perjuangannya !" jawabku.
"Alhamdulillah, jadi pengen ci*pok lama !!" kekehnya ku jiwir hidung pasien nakal satu ini.
"Makasih yank, kamu adalah anugrah paling sexy yang Allah kasih buatku !!" kata katanya itu ga srekk di telinga.
"Anugrah mah toko emas a," jawabku berkelakar.
"I LOVE YOU NARASHEILA"
"LOVE YOU TOO RAMADHAN"
cup !!
Bibir kenyal itu menyentuh bibirku.
"A, "
"Hemmm??"
"Tanganmu bisa diem ga?" tanyaku.
"Kenapa yank??"
"Itu darahnya naik ke selang !!" tunjukku.
"Sayanggggg, darahku kesedottt selang !!!" pekik lelakiku ini
__ADS_1
.
.