
Alana sudah terlihat segar kembali. Elvan dengan setia menemani sang kekasih memasuki ruangan bimbingan konseling. Misella menatap tak suka ke arah Alana. Dan hal itu tidak terlepas dari pandangan pembimbing konseling.
" Gimana keadaan kamu sekarang Lan ? Apa sudah merasa enak ? " Tanya Mis. Angel, pembimbing konseling di sekolah tersebut.
" Alhamdulillah Mis, saya sudah merasa segar kembali. " Sahut Alana di iringi senyuman.
Mis. Eva hadir juga di sana, selaku wali kelas Alana dan saksi yang melihat tayangan cctv. Alana di suruh untuk duduk di kursi, sedangkan Misella beserta gengnya tetap berdiri.
" Berhubung Alana sudah ada di sini, saya minta kalian sekarang meminta maaf pada Alana, dan mengakui kesalahan yang telah kalian perbuat ! " Ucap Mis. Angel membuka pembicaraan.
Jika bisa memilih, Misella tak pernah Sudi melakukan hal itu pada Alana. Dan dengan berat hati akhirnya Misella beserta gengnya mengulurkan tangannya kepada Alana secara bergantian.
" Lan, gw minta maaf sama Lo ! Gw harap Lo bisa maafin kesalahan gw ! " Ucap Misella meminta maaf. Namun minta maaf Misella tidak lah tulus, hanya sekedar meminta maaf karna di perintah bukan dari lubuk hatinya yang paling dalam. Elvan dan Alana pun merasakan hal itu.
" Maaf Mis Angel, sepertinya Misella tak melakukan dengan tulus ! Saya ingin dia bersujud di kaki Alana untuk meminta maaf ! " Ujar Elvan dan di setujui oleh Mis Angel dan juga Mis Eva. Hal itu tentu saja membuat mata Misella membulat sempurna. Dia tak menyangka Elvan sebegitu pedulinya sama Alana, hingga melakukan hal itu pada dirinya.
" Ayo cepat ! Apalagi yang kamu tunggu ? " Sahut Mis Angel. Karna Misella enggan melakukannya.
Misella dan gengnya perlahan menuruni tubuhnya dan kini mereka berjongkok dan memohon iba kepada Alana. Meminta agar Alana mau memaafkannya.
__ADS_1
" Breng*sek mereka berdua ! " Umpat Misella geram.
🍀🍀🍀🍀
Setelah kejadian itu, Misella dan gengnya sudah tak bersekolah selama dua hari. Berarti masih ada 28 hari yang harus dia lalui menerima hukuman skorsing itu. Jika Elvan dan Alana merasa senang dengan kehadiran mereka, tapi tidak dengan Misella. Hari-harinya terus mengamuk tak terima dengan apa yang terjadi, terlebih dirinya tak bisa melihat Elvan dan tentu saja hal itu membuat Alana semakin dekat dengan Elvan.
" Pi, tolongin Misel donk ! Misel bosen di rumah terus ! Misel kalau begini terus bisa ketinggalan pelajaran ! " Ucap Misel penuh iba.
" Ya habis kamu macem-macem aja, segala bikin ulah. Sekarang kamu tanggung akibat dari perbuatan kamu ! Memangnya kamu ga mikir sebelum bertindak ? Kamu tau ga, kalau perbuatan kamu itu tindakan kriminal yang bisa saja menyebabkan pacarnya si Elvan itu meninggal ! Kamu mau masa muda kamu mendekam di penjara ? " Ucap Papi Emir, papi nya Misella.
" Papi Jahat, Misella sebel sama papi ! " Teriak Misella dan langsung berlari memasuki kamarnya.
" Papi ini aneh banget sih ! Bukannya belain anaknya sendiri, malah menyudutkan ! Misella itu cinta sama Elvan. Papi harusnya usaha donk biar mereka bisa bersatu, kan papi dekat sama Adrian ! Kita lakukan perjodohan aja biar si Elvan terikat sama Misella ! " Sahut Mami Karen.
Papi Emir tentu saja tak suka dengan rencana istrinya, tak pantas jika membicarakan masalah perjodohan tentang anaknya dengan anak temannya. Lagi pula ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya. Selain itu usia Misella masih sangat muda, lulus SMA aja belum. Istri nya udah ngomong masalah percintaan yang terlalu jauh dan akhirnya mami Karen ikut-ikutan merajuk, meninggalkan suaminya dan masuk ke dalam anak kamar anaknya menemui sang anak yang kini sedang menangis.
" Cup..cup...cup. Udah ya jangan nangis lagi ! Kalau lihat Misel seperti ini, mami jadi ikut sedih ! Misel harus sabar, coba kamu ikhlaskan saja Elvan ! Kamu itu cantik, mami yakin kamu bisa dapat yang lebih dari Elvan ! " Ujar Mami Karen menenangkan sang anak.
" Misel hanya mau Elvan, Misel ga mau yang lain ! Titik ! Mami bantuin Misel donk ! " Ucap Misel yang kini memeluk mami nya. Meluapkan perasaannya. Dan tentu saja Mami Karen mencoba menenangkan sang anak.
__ADS_1
Berbeda dengan Misella yang masih terus mengejar pria impiannya. Alana dan Elvan kini sedang makan mie ayam pinggiran. Awalnya Elvan menolaknya. Karna bagi Elvan makanan pinggir jalan itu tidak higienis.
" Enak kan mie nya ? " Goda Alana pada kekasihnya. Bahkan Elvan makan lebih lahap dari Alana.
" Iya.." Sahut Elvan terkekeh.
" Mau romantis makan berdua, ga perlu mahal ! Meskipun cuma pinggiran, insyaallah rasanya enak ! Aku tuh langganan mie ayam ini sudah lama ! Dari aku SD ! " Ungkap Alana.
" Kalau makan nya sama orang tersayang, pasti enak aja ! " Ujar Elvan membuat Alana tersipu malu.
Elvan selalu saja mengungkapkan perasaannya pada Alana. Dan memang bukan karna makannya bareng orang yang tersayang, rasa mie ayam itu memang enak. Bahkan sampai-sampai mereka duduk di trotoar karna bangku yang di sediakan tak cukup. Pembeli juga terus menerus antri. Selain murah dan banyak, mie ayam ini rasanya enak. Tekstur mie nya berbeda dengan mie ayam pinggiran lainnya, karna Pak Udin sang penjual membuat mie nya sendiri.
" Bagi aku kamu itu wanita impian banget. Kamu itu cantik dan pintar tapi kamu ga pernah sombong. Dan kamu selalu mengajarkan aku hal kebaikan ! Seperti ini, kamu mengajarkan bahwa hidup sederhana itu tak sejelek yang di pikirkan. Tak perlu merasa gengsi harus menikmati makan enak di pinggir jalan ! Kalau ada yang murah, kenapa harus bayar yang mahal ! " Ujar Elvan dan Alana langsung menutup mulut Elvan dengan tangannya.
" Hush jangan kencang-kencang ngomongnya, tar bapak nya dengar harga nya di naikin ! " Bisik Alana dan di akhiri dengan tawa dan canda.
Alana dan Elvan tar pernah merasa canggung, jaim, atau sejenisnya. Mereka berdua menjalani hubungan apa adanya. Dengan keterbukaan, tak ada yang mereka tutupi. Mereka juga selalu menjaga kepercayaan pasangannya. Alana selalu membebaskan Elvan menjalani aktivitas lain tanpa ada dirinya. Itulah yang membuat Elvan merasa nyaman. Dulu jika dirinya pernah berpikir jika memiliki kekasih itu membuat pusing dan wanita itu bawel suka nya mengatur tapi pikiran itu di tepis dengan sifat Alana.
" Mau es cream ga ? Kita mampir yuk ke kedai itu dulu ! " Ujar Elvan dan Alana tentu saja tak akan menolak makanan kesukaannya. Elvan sering kali membelikan es cream untuk kekasihnya. Elvan selalu berharap jika hubungannya akan selalu seperti rasanya es cream yang begitu manis.
__ADS_1