Cintaku Tak Semanis Es Cream

Cintaku Tak Semanis Es Cream
Ternyata rindu itu menyakitkan


__ADS_3

"Aku rasa, sudah tak ada lagi yang perlu kita bicarakan! Aku pamit! Maaf jika selama aku menjadi pacar kamu, aku telah menyusahkan dan menyakiti hati kamu! Terima kasih atas kasih sayang dan semua yang kamu berikan untuk aku! Perpisahan sangat menyakitkan, tapi paling tidak dulu aku pernah merasakan bahagia menjalani hidup sama kamu! Semoga kelak kamu akan mendapatkan pendamping yang lebih baik dari aku dan pastinya sederajat dengan kamu!" ungkap Alana. Sejak tadi Alana mencoba menahan rasa sesak di dadanya. Dan menahan air mata agar tidak jatuh di hadapan Elvan


"Enggak Han! Aku ga bisa! Please kasih aku kesempatan! Aku yakin lambat laun kedua orang tua aku akan menerima kamu, kita hanya butuh waktu saja untuk lebih bersabar! Hanya kamu yang aku inginkan, tak ada satu pun wanita yang bisa menggantikan posisi kamu! Please Han, jangan lakukan hal ini! Hidup aku akan hancur berantakan!" ujar Elvan. Namun sayangnya keputusan Alana sudah bulat, meskipun hatinya terasa berat. Dia yakin ini adalah keputusan yang terbaik untuknya.


Alana pergi meninggalkan Elvan begitu saja, dia berusaha untuk kuat dengan keputusan yang telah di ambil. Dia berusaha tidak peduli, meskipun Elvan memanggil namanya. Elvan berusaha mengejar Alana hingga dirinya kini menjadi pusat perhatian. Elvan tak peduli dengan kemarahan Alana karna telah membuat malu. Hingga akhirnya Alana memilih menerima tawaran Elvan untuk mengantarnya. Meskipun selama di perjalanan Alana memilih untuk diam.


"Please jangan ganggu aku lagi! Mulai saat ini jangan pernah hubungi aku lagi, tidak perlu mengantar jemput aku, dan anggaplah kita tak pernah ada hubungan apapun lagi seperti dulu lagi!" ujar Alana. Ini adalah keputusan terberat untuk mereka.


Sesuai janjinya, Alana memilih memblokir nomor ponsel Elvan, agar Elvan tak lagi menghubungi dirinya. Alana mencoba untuk kuat, meskipun ternyata rindu itu menyakitkan.


Elvan terlihat sangat lesu tak bersemangat. Tak ada lagi yang membuat dirinya semangat. Elvan memilih mengurung diri di kamar tak makan atau pun menemui kedua orang tuanya.


"Kenapa takdir begitu kejam padaku? Di saat aku sudah menemukan seseorang yang bisa membuat aku semangat, dia pergi meninggalkan aku. Apa aku tak patut bahagia di dunia ini? Ternyata cinta begitu menyakitkan." ucap Elvan lirih.

__ADS_1


Bukan hanya Elvan yang merasakan sangat berat untuk berpisah, Alana pun merasakan itu. Kenangan kebersamaan selama satu tahun tak mudah untuk di hapuskan begitu saja. Ada seberkas rindu yang harus tertahan. Air mata keduanya mengiringi rasa rindu yang begitu menyakitkan. Alana hanya bisa menatap layar ponsel, namun menahan untuk menghubungi mantan pacarnya. Berbeda sama Elvan yang sudah tak bisa menghubungi Alana lagi. Rasanya begitu sakit. Pukul 02.00 pagi Alana sudah tertidur, tapi tidak dengan Elvan. Hingga matanya terlihat bengkak.


❤️❤️❤️


Matahari sudah bersinar terang, Elvan masih terjaga namun tak sedikit pun dia ingin turun menemui kedua orang tua nya. Elvan merasa kesal dengan kedua orang tuanya yang telah menyebabkan perpisahan dirinya dengan wanita yang dia cintai. Wajahnya terlihat murung. Ini hal pertama kali dirinya merasakan patah hati. Meskipun banyak wanita yang mengantri untuk mendapatkan dirinya, namun hatinya tetap terpatri oleh satu nama yaitu Alana Liora Gantari.


"Kemana si Elvan? Kenapa dari tadi ga keluar? Coba kamu lihat dulu sana!" titah papi Adrian.


Biasanya Elvan sudah turun untuk sarapan pagi bersama. Namun Elvan tak nafsu makan, sampai-sampai kemarin siang dia hanya makan bakso yang bareng dengan Alana dan ibunya.


"Kenapa? Ga bangun tuh anak? Anak muda kalah sama orang tua!" ucap papi Adrian.


"Mungkin masih cape kali Pi, masih ingin tidur bermalas-malasan. Biarin deh, kan lagi libur juga." sahut mami Dianti membela anaknya.

__ADS_1


"Alah ga ada tuh istilah hari libur, emang aja dasarnya malas. Itu karna kebanyakan main sama wanita itu, jadi malas!" ujar papi Adrian. Dan tentu saja mami Dianti merasa tak terima. Karna justru Alana memberikan dampak yang baik, semester ini Elvan mendapatkan peringkat ketiga. Dan untuk masalah main, itu suatu kewajaran bagi anak seusianya. Lagi pula Elvan main masih dalam waktu yang wajar tak seperti dulu sebelum sama Alana yang baru pulang menjelang shubuh kemudian langsung tidur tak sholat subuh.


"Percuma berprestasi, tapi sama orang tua membangkang!" sahut papi Adrian. Entah mengapa dia sangat tak menyukai Alana. Dia tak peduli dengan apa yang di rasa anaknya saat ini, akibat dari ulah dirinya.


Jam menunjukkan pukul 09.00 pagi, Elvan tak kunjung turun. Elvan baru tertidur jam 08.00 pagi. Berbeda dengan Alana yang sudah beraktivitas. Di banding Elvan, Alana lebih terlihat move on. Dia tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan keluarganya, meskipun ibunya merasa curiga jika sang anak habis menangis. Tapi Alana menepisnya, karna dirinya semalam tak bisa tdr.


"Lihat mi, masa udah jam 09.00 lewat di Elvan ga bangun juga! Bikin papi emosi aja, biar papi saja yang bangunin dia!" ujar papi Adrian. Papi Adrian langsung bergegas ke lantai dua tempat kamar Elvan berada. Dan menggedor pintu sangat keras. Namun Elvan enggan membukanya.


Tentu saja hal itu membuat mami Dianti merasa khawatir dengan kondisi anaknya, pasti anaknya seperti ini karna ada sesuatu. Hingga akhirnya papi Adrian berusaha membuka dengan paksa, karna tak sabar.


Mami Dianti langsung berlari menghampiri anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Bahkan dirinya sempat meneteskan air matanya, Elvan sakit badannya sangat panas. Mami Dianti meminta sang suami agar membawa sang anak ke rumah sakit.


"Van, bangun sayang! Kamu kenapa? Kenapa kamu sakit tak bilang dengan mami, nak?" ucap mami Dianti. Tanpa pikir panjang kedua orang tua Elvan langsung membawa Elvan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Elvan masih dalam keadaan sadar, tadi hanya tertidur. Namun tubuhnya memang sangat panas. Elvan langsung di tangani oleh dokter, di lakukan pemeriksaan.

__ADS_1


Mami Dianti merasa malu, saat dokter menanyakan kepada mereka tentang apa yang di rasa sang anak dan mulai kapan merasakan hal itu dia tak tahu. Karna memang dia tak perhatian. Berbeda hal nya dengan papi Adrian yang jawabnya dengan santai. Di suruh tanya langsung kepada Elvan. Karna dia kan yang merasakan. Lagi pula anak seusianya terkadang malu untuk mengungkap kalau dia sakit.


__ADS_2