
"Dari mana kamu? Ada orang tua di rumah, malah pergi." ujar papi Adrian. Suasana rumah menjadi tegang. Semenjak kejadian di pesta ulang tahun Misella, hubungan papi dan anak menjadi merenggang.
"Dari rumah teman." ujar Elvan dengan wajah tak bersahabat.
"Wanita itu kan? Masih saja, udah di bilangin mulai jauhi!" sahut papi Adrian. Namun Elvan memilih tidak menanggapi. Dia pamit mau ke kamar.
"Mi, lihat tuh anak kamu! Orang tua belum selesai ngomong, dia malah pergi! Ini cewek bener-bener memberi dampak yang buruk. Sudah sih dari keluarga ga jelas asal usulnya." ucap papi Adrian namun Elvan mendengar ucapan papi nya dari dalam kamarnya.
Mami Dianti langsung menghela nafas panjangnya, dia menjadi ikut kesal dalam suaminya. Kenapa justru membela orang lain di bandingkan anaknya sendiri.
"Jangan kasar sama anak! Ingat Elvan anak kamu juga bukan anak aku aja! Kan bikinnya bareng, emang kamu ga ngakuin? Ya udah kalau ga merasa buat, mungkin benar kali Elvan dari yang lain." ucap Mami Dianti kesal. Mami Dianti langsung pergi meninggalkan suaminya ke kamar, dan tentu saja papi Adrian langsung mengekor dan minta maaf karna bicara seperti itu tadi. Namun mami Dianti masih kesal dengan ucapan suaminya.
"Marah sih marah, tapi jangan bicara asal! Kalau Elvan atau art dengar, bisa salah paham! Kamu mau Elvan pergi ninggalin rumah ini karna menganggap ucapan kamu benar? Wong ucapan sama sikap kamu sama, menganggap Elvan seperti bukan anak sendiri. Ya udah aku mau tidur!" ujar mami Dianti. Mami Dianti langsung naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya untuk tidur karna besok dirinya sudah mulai aktivitas kembali.
Melihat sang istri naik ke ranjang, papi Adrian pun ikutan dan langsung memeluk sang istri dari belakang.
"Jangan ngambek donk! Main dulu yuk! Besok kan aku udah sibuk lagi." ujar papi Adrian merayu mami Dianti, namun mami Dianti tak memperdulikannya. Dia ingin memberi pelajaran kepada suaminya. Agar suaminya sadar kalau perbuatannya salah.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️
Bunyi alarm di ponsel Alana dan Elvan telah berdering. Mereka bangun untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, dan bersiap-siap untuk sekolah. Mereka melakukan hal yang sama namun di tempat yang berbeda.
"Bismillah semoga di mudahkan semuanya! Semoga kelak papi bisa menerima Alana." doa Elvan.
Kini dirinya sudah rapih dengan pakaian sekolahnya. Elvan yang dulu dengan sekarang sangatlah berbeda. Bukan Elvan yang sulit sekali di bangunkan untuk sekolah. Hidup Elvan kini sudah teratur semenjak Alana di sisi nya.
Elvan menuruni anak tangga menuju meja makan. Wajahnya terlihat segar dan lebih bersemangat. Dia terus memotivasi dirinya sendiri. Untuk tidak peduli atau menanggapi ucapan papi nya. Lebih baik dia jalanin saja dan terus berdoa agar hati papi nya bisa luluh. Karna hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati seorang manusia.
"Pagi Pi, pagi mi!" sapa Elvan sambil menghampiri kedua orang tua nya secara bergantian untuk memberikan kecupan di kedua pipinya.
Setelah selesai sarapan, Elvan pun memilih untuk langsung berangkat menjemput pacarnya dulu. Hal ini adalah agenda Elvan setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Dan kini Elvan telah sampai di depan rumah pacarnya dan langsung di sambut oleh pacarnya. Alana naik ke atas motor dan Elvan langsung melajukan kembali menuju sekolahnya.
"Kamu udah sarapan belum! Kalau belum, kamu sarapan dulu! Aku tadi di rumah sudah sarapan." ujar Elvan di sela-sela dalam perjalanannya.
Alana mengatakan jika dirinya sudah sarapan mie instan. Mengapa Elvan menanyakan hal itu? Karna Elvan sangat tau kalau pacarnya itu susah makan pagi. Dan Elvan merasa khawatir jika sampai Alana sakit. Dalam urusan makan, Alana sangat susah harus di paksa dulu. Hal ini yang membuat tubuh Alana selalu langsing, karna Alana lebih suka makan sereal ataupun buah.
__ADS_1
Alana dan Elvan sudah turun dari motor, dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke sekolah. Melihat Elvan sudah datang, Misella yang sejak tadi menunggu langsung berlari menghampirinya.
"Ngapain lain sih ni ulat keket? Heran hobi banget gangguin gw." gerutu Alana dalam hati.
"Van, kamu kok waktu itu pulang duluan? Papi kamu sampai nyariin kamu. Oh ya saat pesta ulang tahun aku, papi kamu memberi tahu jika kita berdua di jodohkan dan akan di nikahkan setelah lulus kuliah!" ucap Misella sambil melirik ke arah Alana dengan tatapan merendahkan. Dan tentu saja ucapan Misella membuat Alana tersentak. Jantungnya berdegup sangat kencang, wajahnya langsung berubah pucat.
"Yes berhasil!" ujar Misella.
"Tutup mulut lo! Karna sampai kapanpun hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan! Gw ga akan pernah mau tunangan dan bahkan sampai menikah dengan lo! Hanya Alana yang gw cinta di hidup gw sampai kapanpun!" sahut Elvan, dan tentu saja membuat Misella merasa malu karna kini Alana lah yang sekarang menatap ke arah Misella dengan tatapan mengejek
"Lo ga pantes untuk Elvan! Status kalian berbeda, gw pastikan Elvan akan jadi milik gw!" ucap Misella kepada Alana. Dan Elvan pastinya akan langsung membela pacarnya.
"Yang bisa mengatakan pantas atau tidak pantas itu hanya gw, bukan lo! Karna yang menjalani ini gw, bukan lo! Dan gw bilang sama lo! Jangan pernah bermimpi terlalu jauh jika tak ingin terluka! Karna itu hanya mimpi lo saja, dan ga akan pernah terjadi di hidup lo! Camkan itu!" ujar Elvan membuat Misella tak mampu berkata apapun. Elvan dan Alana langsung pergi meninggalkan Misella. Karna bel masuk telah berbunyi.
"Alana...kenapa sih lo selalu saja jadi penghalang gw sama Elvan! Gw akan selalu berusaha merebut Elvan kembali dari lo!" ucap Misella geram.
Jam pelajaran sudah di mulai, Alana dan Elvan mulai fokus memperhatikan gurunya menerangkan. Semenjak Elvan menjalin hubungan dengan Alana, Elvan selalu rajin belajar. Dia selalu memperhatikan gurunya menerangkan dan mengerjakan tugas sekolah tepat waktu.
__ADS_1
Tak terasa sebentar lagi mereka akan naik ke kelas tiga, dan artinya mereka akan segera berpisah. Kalau boleh memilih, Elvan ingin waktu terhenti sampai sini saja agar dirinya akan terus bersama Alana.
Tolong berikan dukungannya!🙏😍😍😘😘😃😄