
"Jam berapa ini?" saat Elvan membuka matanya. Dia langsung meraih ponselnya di atas nakas. Senyum bahagia terbit di wajahnya saat melihat banyak pesan chat dan panggilan masuk dari wanita pujaannya.
"Aku bahagia banget, ternyata kamu merindukan aku? Kamu mencoba terus menerus menghubungi aku. Makasih ya Han. Aku juga sangat merindukan kamu. Bersabar ya! Aku akan memberikan surprise untuk kamu.
Elvan langsung bersiap-siap untuk pergi. Rencananya dia ingin memberikan kejutan untuk pacarnya. Rencananya dia ingin membeli cincin couple yang akan dia pakai untuk mereka berdua. Cincin itu sebagai pengikat hubungan mereka selama mereka akan terpisah jarak dan waktu.
Elvan menuruni anak tangga dan mencari keberadaan sang mami yang tak nampak. Elvan sempat menanyakan kepada art yang bekerja di rumahnya, dan ternyata sang mami masih tertidur. Mungkin karna tubuh masih terasa lelah. Elvan juga sempat menanyakan tentang sang papi, dan ternyata papi Adrian semalam tak pulang.
"Kemana si papi? Kenapa dia sampai ga pulang? Apa papi ke luar kota lagi?" gumam Elvan. Sampai Elvan selesai sarapan pagi, sang mami belum juga keluar. Hingga akhirnya Elvan memutuskan untuk menghampiri sang mami di kamarnya.
Elvan mencoba membangunkan sang mami untuk sarapan pagi menjelang siang karna kini jam menunjukkan sudah pukul 09.00 pagi. Mami Dianti sempat membuka matanya, namun masih merasa malas. Elvan berpamitan kepada sang mami. Memberitahu jika dirinya ingin ke rumah Alana mengantarkan oleh-oleh. Dan juga bertemu Andre dan Wita untuk memberikan oleh-oleh dari Inggris.
"Ya udah terserah kamu! Yang penting kamu sudah merasa enak kan badannya sekarang?" ucap Mami Dianti.
"Udah, justru sekarang sakitnya beda. Sakit karna menahan rindu mi. Ya udah Elvan pergi dulu ya mi! Elvan minta uang donk mi, mau beli cincin couple untuk Alana sama Elvan. Biar Elvan mengikat Alana." ujar Elvan. Saat ini Elvan memang sudah tak memiliki tabungan. Karna uangnya yang sebesar 200 juta udah Elvan kasih Alana, saat kejadian dirinya bersiteru dengan papinya. Elvan takut jika papinya akan memblokir rekening dirinya.
__ADS_1
"Ya udah mami transfer 5 juta. Tapi sebelumnya mami mau tanya, emang kamu yakin tetap mau mempertahankan Alana? Kamu tau sifat papi kamu, orangnya keras ga bisa di tentang. Kalau udah ngomong a ya a ga bisa b. Kasihan Alana, lebih baik kamu lepaskan dia! Jangan terus beri harapan yang nantinya akan membuat dirinya sangat sakit!" ucap mami Dianti. Namun Elvan tetap keras kepala tak bisa di bilangin. Tekadnya sudah bulat, dirinya akan tetap mempertahankan Alana.
"Anak sama papi sama aja. Sama-sama keras kepala. Ga ada yang mau mengalah." gerutu mami Dianti.
Dan akhirnya mami Dianti mentransfer sebesar 5 juta ke rekening anaknya untuk membeli cincin couple. Elvan langsung mengucapkan terima kasih dan pamit pergi kepada sang mami.
"Cukup ga ya 5 juta buat beli cincin?" ucap Elvan sambil mencoba menghitung harga sebuah cincin mas putih.
Setelah menghitung-hitung ternyata pemberian maminya kurang kalau untuk beli dua cincin. Akhirnya Elvan memutuskan hanya untuk membeli buat Alana.
Sebelum ke rumah Alana , Elvan membeli cincin terlebih dahulu ke toko mas. Wajahnya berbinar-binar saat melihat cincin bermata satu yang sangat indah. Dan bagi Elvan model itu sangat pas untuk Alana. Setelah mendapatkan cincin mas putih untuk Alana, Elvan langsung menuju rumah Alana.
Alana tersentak kaget saat mendengar dari ibunya bahwa ada pacarnya datang. Sampai-sampai Alana mengira sang ibu sedang mengerjai dirinya. Karna setau dia pacarnya itu baru pulang lusa dari Inggris. Alana langsung cepat-cepat memakai pakaian. Alana keluar menemui Elvan dengan menggunakan celana pendek sedengkuk di padukan dengan kaos ketat yang menunjukkan lekuk tubuhnya.
"Kamu? Kok pulang ga beritahu aku sih?" ucap Alana saat bertemu Elvan pertama kalinya. Dan Elvan hanya menanggapi dengan senyuman. Saat sang ibu masuk. Alana langsung menghampiri sang pacarnya dan memberikan Capitan di perut, meluapkan kekesalannya karna sang pacar Telang mengerjai dirinya. Elvan langsung menarik tangan Alana dan membuat Alana jatuh di pangkuannya. Dan wajah mereka kini sangat dekat.
__ADS_1
"Kangen." bisik Elvan di telinga Alana membuat Alana merinding seperti terkena sengatan listrik. Wajah Alana terlihat memerah.
Alana langsung bangkit dari pangkuan Elvan dan duduk di seberang Elvan. Dia takut ibunya nanti melihat dirinya. Alana pamit ke dalam untuk membuatkan minuman untuk pacarnya. Dia mencoba menetralkan perasaannya saat ini.
"Ibu mana? Aku bawa oleh-oleh untuk ibu, ayah, kakak, dan ini buat kamu." ucap Elvan. Alana langsung memanggil sang ibu dan memberitahu jika Elvan membawakan oleh-oleh untuk sang ibu, ayah, dan kakaknya. Mendengar itu, ibunya Alana langsung keluar menghampiri Elvan dan mengucapkan terima kasih. Ibunya yakin jika tas pemberian Elvan bukanlah tas murah. Alana juga mengucapkan terima kasih kepada Elvan. Elvan membelikan tas dan jam tangan untuk Alana.
Setelah memberikan oleh-oleh, Elvan izin kepada ibunya Alana untuk mengajak Alana pergi. Tentu saja ibunya Alana mengizinkannya. Karna keluarga Alana memang sudah merasa dekat dengan Elvan.
Saat Alana berganti pakaian, Elvan mencoba menghubungi Andre menanyakan keberadaan Andre saat ini. Dan ternyata Andre berada di rumahnya. Hari ini dia tidak ke rumah Wita. Dan akhirnya Elvan memutuskan mengajak Alana pergi ke puncak.
"Kita ke puncak aja ya! Aku pengen menghirup udara segar!" ujar Elvan dan Alana setuju. Dia pun merasakan hal yang sama. Melepaskan kepenatan selama libur, agar otaknya merasa fresh kembali saat mulai kuliah.
Setelah menempuh perjalanan dua jam lebih, akhirnya mereka sudah sampai di sebuah mesjid besar di kawasan puncak pass. Elvan memarkirkan mobilnya dan menggandeng tangan Alana menaiki anak tangga menuju mesjid. Di pelataran depan dan belakang mesjid terdapat taman yang indah dan juga banyak bangku untuk duduk. Dan kini mereka sedang duduk di bangku yang pandangannya mengarah ke jalan raya. Elvan mengeluarkan satu kotak merah kecil dan memberikannya kepada Alana.
"Apa ini?" tanya Alana. Dan Elvan menyuruh Alana membukanya. Mata Alana terpanah saat melihat cincin mas putih dengan mata yang bersinar. Cincin itu sangat bagus, meskipun terlihat mungil.
__ADS_1
"Ini untuk apa?" tanya Alana kembali.
Elvan menjelaskan jika cincin itu sebagai simbol untuk ikatan cinta mereka. Biar tak akan ada cowok yang mencoba mendekati Alana saat Elvan tak ada di sisinya nanti. Karna dua bulan lagi mereka benar-benar akan terpisah dalam kurun waktu yang cukup panjang. Alana awalnya sempat menolak, dia tak ingin menjadi bebannya nanti. Tapi Elvan terus memaksa. Dia tak ingin satu orang pun yang akan merebut Alana darinya.