Cintaku Tak Semanis Es Cream

Cintaku Tak Semanis Es Cream
Memilih mengakhiri


__ADS_3

Sebelum mengantarkan Alana dan ibunya pulang ke rumah, Elvan mengajak keduanya untuk makan bakso terlebih dahulu. Elvan memilih tempat yang untuk lesehan, agar bisa mengobrol lebih dekat lagi.


Kini mereka sudah di tempat tukang bakso. Tempatnya sangat nyaman untuk mengobrol. Alana memesan bakso telor dan es jeruk, ibunya Alana bakso urat dan teh tawar hangat, dan Elvan memesan bakso telor dan juga teh botol dingin.


"Van, maaf ibu mau nanya sama kamu? Kamu yakin mau tetap jalani hubungan dengan Alana?" tanya ibunya Alana serius di sela-sela waktu menunggu bakso datang. Dia tak ingin anaknya akan mengalami kesedihan di kemudian hari, karna tanpa restu kedua orang tua Elvan. Terlebih sudah banyak pengalaman di luar sana yang harus berpisah karna perbedaan status sosial, karna si cewek atau si cowok tidak sederajat.


"Aku serius Bu sama Alana! Aku sayang banget sama Alana. Elvan minta doanya, semoga kisah cinta aku sama Alana berjalan lancar. Kelak aku ingin melamar Alana setelah kita sudah lulus kuliah dan bekerja.


Elvan menceritakan kepada sang ibu, kalau dirinya harus kuliah di luar negeri. Sesuai permintaan papinya dan keinginan dirinya untuk masa depan dirinya kelak. Terlebih dirinya anak satu-satunya, dan pastinya dirinya kelak akan menjadi tumpuan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Alana terus menyimak percakapan Elvan dengan sang ibu, entah mengapa hatinya terasa tak sanggup untuk melanjutkan. Bila di bayangkan, rasanya sangat sakit dan menyesakkan dada. Untungnya tak lama kemudian bakso sudah datang.


"Tapi kamu yakin jika kedua orang tua kamu akan merestui hubungan kalian? Secara Alana bukanlah orang kaya seperti kamu. Kalau ibu sih balik lagi, semuanya ibu kembalikan sama Alana. Ibu hanya bisa mendukung apapun yang terbaik untuk anak. Ibu dan ayah hanya ingin Alana mendapatkan pendamping hidup yang baik dan menerima dia apa adanya!


Mendengar ucapan sang ibu, tiba-tiba saja Alana merasa terenyuh. Bayangan tentang penolakan yang di lakukan papi nya Elvan terlintas, dan sikap mami nya Elvan tadi pun menari di pikirannya. Bahwa hatinya merasa ragu untuk melanjutkan. Alana memilih mengakhirinya. Dan Elvan justru terus berusaha untuk menyakini hati calon ibu mertuanya.


Setelah kurang lebih 30 menit menikmati makan bakso, kini mereka telah selesai. Dan akan melanjutkan perjalanan kembali untuk pulang. Selama perjalanan Alana lebih memilih diam, berpura-pura sibuk bermain ponsel. Sesekali Elvan melirik ke arah pacarnya, dia merasa aneh dengan sikap pacarnya yang terlihat cuek dengannya.


"Kamu kenapa sih dari tadi diem aja? Ada yang kamu simpan? Apa karna kejadian di sekolah tadi?" tanya Elvan saat dalam perjalanan menuju mall. Namun sayangnya Alana masih memilih membungkam mulutnya, enggan bicara. Sampai akhirnya dia telah sampai di mall. Elvan dan Alana masuk ke mall dan menuju lantai paling atas. Di sana terdapat arena bermain, tempat duduk santai, dan food court yang menjual aneka macam makanan.

__ADS_1


"Kamu marah sama aku? Ngomong donk Han, aku lebih suka kamu bicara dari pada hanya diam seperti patung seperti ini!" cecar Elvan. Dengan satu tarikan nafas panjang, Alana mengungkapkannya.


"Aku ingin kita akhiri saja hubungan ini!" ucap Alana tegas, membuat Elvan tercengang mendengarnya. Dia tak menyangka Alana akan memutus jalinan cinta dengannya.


"Enggak! Aku ga mau! Kenapa sih kamu jadi seperti ini? Bukankah kita sudah berjanji, akan memperjuangkan cinta kita berdua?" ucap Elvan. Dia merasa tak terima.


Alana menjelaskan, jika dirinya sudah berpikir matang untuk mengambil keputusan ini. Karna dirinya merasa tak yakin dalam hubungan ini, kelak nantinya hubungan ini akan berakhir sad ending.


Elvan tetap merasa tak terima jika hubungannya akan berakhir seperti ini. Rasanya tak sanggup untuk memikirkannya. Hatinya terasa hancur. Karna selama ini, cinta Alana lah yang membuat dirinya kuat.

__ADS_1


"Tega kamu Han! Di saat aku sangat menyayangi kamu, dan berharap jauh hidup sama kamu, kamu justru memilih mematahkannya. Entahlah apa yang terjadi dengan diriku kelak. Mungkin kamu akan merasa puas karna telah menghancurkan aku!" ucap Elvan. Bahkan Elvan sempat meneteskan air mata kesedihannya. Sungguh rasanya dirinya tak mampu, karna tak ada lagi tempat dirinya berpijak.


"Maaf semua ini aku lakukan demi kebaikan kita, aku rasa lebih baik kita akhiri lebih awal dari pada hubungan kita terlalu jauh yang tentunya akan lebih menyakitkan dan sangat sulit untuk melupakannya!" ujar Alana. Mungkin Elvan mengira, Alana merasa bahagia atas perpisahan ini. Alana terlihat sangat tegar di hadapan Elvan, padahal hatinya terasa sangat rapuh. Dia pun merasa tak tahu, apakah dirinya nanti bisa melanjutkan hidup lebih baik ke depannya tanpa Elvan.


__ADS_2