
" Van, Sabtu ini mami ada undangan arisan dan pertemuan dengan teman-teman SMU mami. Ga papa ya mami ga bisa mengobrol sama mami ? " Percakapan Elvan dan sang mami saat makan malam bersama. Malam ini mami Dianti pulang lebih cepat dan menyempatkan untuk makan malam bersama sang anak.
Sibuk dan sibuk itulah hari-hari kedua orang tuanya. Papi nya selalu sibuk dengan urusan perusahaan dan bisnisnya. Berangkat pagi dan pulang larut malam,mereka bertemu saat sarapan pagi. Biasanya mami dan papi nya menyempatkan waktunya setiap hari Sabtu dan Minggu untuk anak semata wayangnya hanya untuk sekedar mengobrol. Tapi akhir-akhir ini Mereka tak lakukan. Sudah satu Minggu sang papi pergi keluar kota untuk mengurus kantor cabang nya yang berada di Yogyakarta dan Surabaya.
Sebenarnya papi Elvan sudah menyuruh mami Diana berhenti bekerja sebagai sekertaris di perusahaan asing. Dia ingin mami Dianti lebih fokus sama anak semata wayangnya. Terlebih rumah sang nenek dari keduanya berada di luar kota, hingga akhirnya sejak usianya tiga bulan Elvan selalu di urus pembantu.
" Ya udah mi ga apa. " Sahut Elvan, sebenarnya dia merasa kecewa. Tapi dia bisa apa ?
" Aku ini sebenarnya anak kandung mereka apa bukan sih ? Bisa sebegitu ga peduli nya kalian sama aku ? " Ucap Elvan lirih saat sudah berada di kamar.
Dia merasa kasih sayang kedua orangtuanya sangatlah kurang. Bagi mereka materi sudah cukup. Oleh karena itu kedua orang tua Elvan telah memberikan fasilitas mewah untuk Elvan. Elvan tak merasa kekurangan sedikit pun dalam hal materi.
Elvan membaringkan tubuhnya di ranjang.
" Untung ada kamu Lan ? Aku seperti mempunyai keluarga baru di hidupku. Aku merasa beruntung karna kedua orang tua kamu dan kakak kamu mau menerima aku menjadi bagian hidup kamu, mereka menerima aku dengan baik. " Gumam Elvan. Ya mungkin saat ini hatinya terasa rapuh. Dia sangat rindu kasih sayang kedua orang tuanya.
Lagi-lagi dia akan berbicara, aku bisa apa ? Tak ada yang bisa dia lakukan. Protes sudah dia lakukan, tapi kedua orang tua nya masih tak pedulikan perasaan. Untungnya Elvan termasuk anak yang baik. Dia tak terjerumus ke lubang kegelapan. Tak pernah lari ke s*x bebas dan tak pernah lari ke narkoba. Tapi dia melampiaskan ke hal positif meskipun dalam urusan sekolah dirinya sangat malas.
\=\=\=\=
Hari Sabtu. Ya kini sang mami sudah terlihat rapih dan sudah bersiap-siap akan pergi ke arisan. Terlihat sangat glamor.
" Van, mami pergi dulu ya ! Hari ini Bi Isah izin menengok ibunya, kamu makan beli aja ya ! Mami nanti transfer kamu untuk jajan ! " Ujar sang mami.
__ADS_1
Setelah berbicara pada sang anak, kini dirinya melenggang keluar rumah dengan mengendari mobilnya. Mami Dianti lebih suka menyetir sendiri di banding dengan supir.
" Uang...uang dan uang terus. Kalian selalu pikir uang bisa menyelesaikan semuanya. Bahkan perasaan hatiku pun selalu kalian bayar dengan uang dan kasih sayang kalian pun kepadaku sudah cukup bagi kalian dengan memberikan aku uang ? Bukankah harta yang paling berharga kalian adalah aku ? Lantas kenapa kau selalu titipkan aku dengan pembantu ? Sebenarnya aku anak kalian atau anak pembantu ? Bahkan untuk menyediakan aku makanan pun mami tak sempat. " Ucap Elvan lirih. Sungguh hatinya kini merasa sedih bahkan dirinya sempat meneteskan air mata.
Kring...kring..
" Alana ? " Gumam Elvan saat melihat di layar ponselnya nama kekasih hatinya yang menghubungi dirinya.
Elvan menghapus air matanya dan mengangkat telpon dari kekasihnya.
" Ya Honey..." Elvan mencoba bersikap tegar tak ingin menunjukkan rasa sedih yang dia rasakan saat ini.
" Yang, kamu bisa ga ke rumah aku siang ini ? Ibu hari ini nyuruh kamu ke sini ! " Ujar Alana di panggilan telepon. Alana mengundang sang kekasih, karna hari ini hari ulang tahun ayahnya. Dan ibu nya masak nasi uduk.
" Baiklah...habis sholat Zuhur nanti aku ke sana ya !" Sahut Elvan.
" Jangan yang, kamu datangnya jam 11an soalnya kita mau makan bersama nya sebelum Zuhur nanti kita sholat bareng aja di rumah aku. " Ujar Alana. Dan akhirnya Elvan setuju.
Selama menjalin hubungan dengan Alana, banyak terjadi perubahan di diri Elvan. Elvan sekarang rajin sholat dan rajin belajar. Terlebih Elvan memiliki kedamaian dalam hidupnya, karna sudah mempunyai sosok orang tua yang menyayangi dirinya. Ya dia adalah kedua orang tua Alana. Elvan sudah sangat dekat dengan Alana.
Padahal dulu sebelum berpacaran dengan Alana, Elvan tak pernah sekalipun sholat karna memang kedua orang tua nya tak ada yang mengajari dirinya sholat. Tapi Alana yang membimbing nya, Alana mengajarkan banyak hal. Sholat, mengaji, dan dalam bidang akademis. Kini tak ada lagi Elvan yang urakan, Elvan yang suka balapan liar, dan Elvan yang sering nongkrong hingga larut malam.
" Assalamualaikum. " Elvan mengucapkan salam saat dirinya sudah berada di depan pintu pagar rumah Alana.
__ADS_1
Ayah Andi keluar menghampiri Elvan dan menyuruh masuk ke dalam. Ayah Andi melebarkan pintu pagar agar Elvan bisa memasukkan motor sportnya. Seperti biasa dia lebih suka menggunakan motor sportnya kemana pun dia pergi.
Elvan mencium tangan Ayah Andi dengan sopan.
" Lan, ada nak Elvan ini sudah datang ! " Panggil Ayah Andi. Alana keluar dan menghampiri Elvan.
" Karna nak Elvan sudah datang, ayo kita masuk aja ke dalam ! Kita langsung makan aja yuk ! Pasti sudah pada lapar kan ? " Ucap Ibunya Alana.
Semua sudah berada di ruang keluarga yang sudah di gelar karpet dan makanan pun sudah tersusun rapih. Sudah ada nasi uduk, dadar telur, sambal telur, ayam goreng, emping, dan sambal kacang.
" Meskipun kalian hidup sederhana, aku yakin kehidupan kalian sangatlah bahagia. " Gumam Elvan dalam hati saat melihat keharmonisan keluarga Alana.
" Ayo di makan nak Elvan, jangan malu ! Maaf makanan nya cuma sederhana ! " Ujar Ayah Andi saat Elvan hanya bengong.
Alana menyiapkan makanan untuk Elvan makan. Sungguh suasana ini membuat Elvan merasa tersentuh memiliki keluarga baru yang justru lebih berkesan di hidupnya.
Elvan makan dengan lahap. Sungguh makanan yang sangat lezat di buat dari sebuah cinta. Kini usia Elvan sudah 16 tahun dan menginjak 17 tahun, namun tak sekalipun sang mami membuatkan dirinya makanan walaupun hanya sekedar telur dadar.
Tapi itulah kehidupan Elvan sebelumnya, kini hidupnya telah bahagia dengan keluarga baru. Bahkan Elvan sering kali makan di rumah Alana saat Elvan main ke rumah Alana.
" Makan yang banyak nak Elvan ! " Sahut ibunya Alana. Dan Elvan hanya menanggapi dengan senyuman.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya 😘😄😃🙏
__ADS_1