
"Entah mengapa rasanya berpisah sama kamu tujuh hari seperti satu abad. Baru beberapa jam berpisah saja, aku udah merasa kangen banget sama kamu." ucap Elvan lirih. Dia memilih untuk menyibukkan dirinya sendiri dan memejamkan matanya untuk menghindari Misella yang terus berusaha mendekati dirinya. Kini Elvan sudah mengudara di atas langit.
Setelah pacarnya pergi, Alana pun kembali pulang. Alana akan langsung ke rumah Wita, dia tak ingin ibunya mengetahui kesedihan dirinya. Dan setelah perjalanan selama dua jam, akhirnya Alana kini sudah sampai di rumah Wita. Dan ternyata sudah ada Andre di sana. Kebetulan rumah Wita kosong, jadi Alana bisa dengan bebas meluapkan kesedihannya.
"Pacaran terus! Bikin gw iri aja sih kalian. Enak banget jadi kalian bisa selalu bersama, bahkan kuliah aja rencananya nanti kalian bareng. Lah gw sama Elvan harus terpisah waktu dan jarak bertahun-tahun." gerutu Alana.
"Gw mau puas-puasin nangis hari ini! Hiks...hiks...sedih banget gw tadi Wit melepas Elvan. Tau ga sampai-sampai gw sama Elvan ketemuan di depan toilet, karna gw ga mau ketemu si ulet keket sama emaknya Elvan sama emaknya Misella." ujar Alana.
"Serius Lo? Terus kalian ngapain di toilet? Ga ketawan orang Lo berdua di dalam toilet bareng?" tanya Wita.
"Gi*la Lo! Emang gw mau ngapain sama si Elvan? Gw tadi kan bilang ketemu di depan toilet, perasaan ga ngomong di dalam toilet deh? Elvan cuma mengecup kening dan mencium punggung tangan gw, itu pun suasana lagi sepi.
Alana meluapkan kesedihannya di depan Andre dan juga Wita. Sejak tadi dirinya berusaha untuk menutup kesedihannya, tapi saat ini dirinya sudah tak mampu.
"Jujur Lan, gw merasa kasihan sama kisah cinta Lo berdua! Perasaan gw, berat banget cobaan kalian berdua. Cinta kalian pahit banget, ga seperti rasa es cream kesukaan kalian yang begitu manis di rasa. Ibarat kata cinta kalian itu seperti Cintaku Tak Semanis Es Cream." ujar Andre sambil terkekeh.
❤️❤️❤️❤️
...❤️Cinta tak mungkin berhenti❤️...
...Tak ada kisah tentang cinta yang bisa terhindar,...
__ADS_1
...dari air mata...
...Namun ku coba menerima hatiku membuka, siap untuk terluka...
...Cinta tak mungkin berhenti, secepat saat aku jatuh hati...
...Jatuhkan hatiku kepadamu, sehingga hidupku pun berarti...
...Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci...
...Walau kini aku harus pergi, tuk sembuhkan hati...
...Walau seharusnya bisa saja, dulu aku menghindar dari pahitnya cinta...
❤️❤️❤️
"Puasin! Luapkan kesedihan Lo sekarang! Biar hari esok Lo bisa bersikap tegar! Ingat jodoh, maut, dan rezeki sudah ada yang mengatur dan manusia hanya bisa berencana dan berusaha namun keputusan tetap dari Allah!" ungkap Wita. Melihat sahabatnya seperti itu. Andre dan Wita pun ikut merasakan yang di rasa Alana.
"Please jangan bilang Elvan, kalau gw seperti ini saat dia pergi! Gw ga mau kalau dia sampai ga jadi kuliah di Inggris, gara-gara ga tega melihat gw sedih begini! Mungkin kalau gw ga pernah tau Misella akan di jodohkan dengan Elvan, dan juga kalau Misella ga kuliah bareng sama Elvan mungkin gw ga akan sesakit ini!" ungkap Alana sambil terisak tangis. Andre dan Wita hanya mengangguk setuju. Karna Andre dan Wita yakin, Elvan bisa saja seperti itu. Membatalkan kuliahnya.
Setelah selesai menangis dan sudah merasa tenang, Alana pamit pulang. Wita menyuruh Alana untuk mandi agar seger dan matanya ga terlalu seperti habis nangis.
__ADS_1
"Mata Lo bengkak banget Na! Lo lihat sini!" ucap Wita sambil mengajak Alana mengaca.
"Iya bengkak banget, terus gw harus gimana donk? Gw ga mau ibu gw tahu kalau anaknya habis nangis." sahut Alana.
"Habis Lo nangis kaya gitu banget sih, bingung deh jadinya. Lo bilang aja deh mata Lo kelilipan serangga terus Lo kucek tuh mata, makanya jadi begitu! Tapi ga tau juga sih, emak Lo percaya apa ga." ujar Wita. Habis mau gimana lagi, emang kenyataannya begitu.
Alana pamit pulang dengan naik ojek online. Setelah menempuh 30 menit, dirinya sampai di rumah. Alana mengucap salam dan masuk ke dalam rumah. Tak lupa mencium punggung tangan ibunya.
"Gimana Elvan sudah berangkat? Habis nangis ya kamu? Mata sembab begitu? Habis nangis di mana kamu?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut sang ibu.
Alana langsung memeluk sang ibu, padahal tadi dia sudah berusaha tegar tapi saat mendengar ibu nya bicara seperti itu Alana menjadi sedih kembali.
"Sabar, cinta itu butuh perjuangan! Elvan juga kan ke sana untuk mengurus kuliahnya, biar bisa jadi orang yang sukses! Kamu doakan saja, semoga di permudah langkahnya untuk meraih kesuksesan! Balik lagi ke persoalan jodoh, kalau kalian jodoh sekuat apapun badai yang akan menerjang kalian, kalian akan tetap bersama!" ujar ibunya Alana, memberikan sedikit wejangan untuk sang anak.
Ibunya menyuruh Alana makan, dia sangat tahu. Biasanya saat remaja mengalami patah hati, mereka sering kali melupakan untuk makan. Matanya berbinar-binar saat melihat ayam penyet makanan kesukaannya. Alana langsung melahapnya dan sementara melupakan tentang pacarnya, dirinya fokus untuk makan.
Setelah mengudara berjam-jam, kini Elvan beserta rombongan telah sampai di Inggris. Mereka langsung menuju apartemen yang sudah dia sewa. Mereka lebih memilih menginap di apartemen di bandingkan hotel. Untuk hari ini mereka hanya ingin beristirahat. Untuk urusan pendaftaran kuliah dan mencari tempat tinggal buat mereka berdua, rencananya baru di lakukan besok.
"Huhft lelahnya. Padahal hanya di suruh duduk berjam-jam saja." ujar Elvan yang langsung membaringkan tubuhnya di sofa yang berada di kamar. Elvan memilih tidak langsung mandi, dia ingin merilekskan tubuhnya yang terasa kaku.
Elvan langsung meraih ponselnya dan mengaktifkan nomornya selama ada di sana. Dirinya langsung menghubungi pacarnya, untuk memberitahu bahwa dirinya telah sampai. Meskipun mereka hanya melepas rindu lewat panggilan video di ponsel, tapi mereka berdua tetap merasa bahagia.
__ADS_1
"Mandi dulu sana, jangan pacaran dulu!" sindir mami Dianti. Dia sangat tahu jika anaknya kini sedang di landa kasmaran. Sehingga selalu merasa rindu dengan pacarnya. Dan akhirnya Elvan mengakhiri panggilan, karna dia ingin membersihkan tubuhnya dulu. Kini Elvan hanya memakai celana boxer dan kaos oblong.
"Aku di sini aja mi, malas keluar! Badan aku masih terasa remuk! Lagi pula ini masih pagi banget, mendingan mami istirahat dulu!" ujar Elvan dan mami Dianti mengangguk mengerti. Karna dirinya pun merasa hal yang sama, namun merasa tak enak jika meninggalkan Misella dan maminya tidur. Dia memilih keluar dulu untuk mengobrol sebentar.