Cintaku Tak Semanis Es Cream

Cintaku Tak Semanis Es Cream
Permintaan maaf


__ADS_3

Tak terasa sudah tiga hari Elvan di rumah sakit, namun dia masih belum juga sembuh. Bagaimana dirinya bisa sembuh, karna rasa sakit akan perpisahan yang membuat dirinya tak semangat untuk sembuh. Mami Dianti sudah mulai gelisah, karna sehabis menerima telepon dari kantor tempat dirinya bekerja. Kerjaan sudah banyak menanti. Posisinya serba salah, di satu sisi dirinya merasa tak tega untuk meninggalkan anaknya yang masih sakit, tapi dirinya juga merasa tak enak jika harus terus menerus meminta izin untuk tidak masuk. Mami Dianti sempat membicarakan hal ini kepada Papi Adrian, agar mereka bisa bergantian untuk menjaga Elvan, tapi papi Adrian bilang jika dirinya sibuk tak bisa meninggalkan pekerjaannya.


"Ya udah mi, kalau mami harus bekerja, aku pulang aja! Istirahat di rumah nanti juga sembuh! Aku juga sudah merasa tak betah jika harus berlama-lama di sini!" ucap Elvan. Dia merasa kasihan, jika maminya harus terus-menerus meminta izin ke kantornya.


"Kamu yakin, jika kamu pulang akan baik-baik saja?" tanya mami Dianti menanyakan kepada sang anak, untuk menyakinkan lagi.


"Aku tuh sakit bukan sakit fisik sebenarnya, tapi sakit hati aku. Bagi aku perpisahan sangat menyakitkan. Rasanya aku enggan membuka mataku untuk melihat dunia lagi. Aku tak sanggup jika nanti aku harus bertemu langsung dengan Alana.


Mami Dianti sangat mengerti dengan apa yang di ucapkan anaknya. Hingga akhirnya dirinya memutuskan ingin meminta maaf kepada Alana. Dia berniat untuk menyatukan kembali sang anak dengan Alana. Dia tidak takut jika nantinya suaminya akan marah.


Dan tentu saja hal itu membuat Elvan merasa bahagia, karna sang mami mendukung hubungan dirinya dan bahkan akan membantu Alana kembali kepadanya. Dan akhirnya Elvan memberikan nomor ponsel Alana kepada maminya. Karna nomor dirinya di blokir oleh Alana, sehingga dia tak bisa menghubungi Alana.


"Nomor siapa ini? Tak ada namanya di kontak aku?" ucap Alana. Dan akhirnya Alana memilih untuk mengangkatnya takut ada yang penting. Dan ternyata maminya Elvan yang menghubungi dirinya.


Mami Dianti meminta maaf jika telah membuat hati Alana merasa sakit. Mami Dianti juga meminta Alana agar kembali lagi dengan anaknya. Karna sang anak tak bisa hidup tanpanya.


"Maaf Tante, tante ga perlu meminta maaf padaku. Bagiku wajar apa yang di lakukan om dan tante, karna setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Memiliki calon menantu yang selevel dengan tante dan om, dan itu bukan aku! Aku hanya orang biasa yang mencintai tulus anak Tante dan om." ucap Alana.


Nyes

__ADS_1


ucapan sederhana namun ngena banget di hati, menusuk hingga ke relung hati yang paling dalam. Sungguh mami Dianti merasa malu dengan apa yang di ucap Alana. Seperti tertampar.


"Please Lan, kasih kesempatan untuk Elvan!" ucap mami Dianti memohon iba. Namun tak semudah itu Alana menerima Elvan kembali, setelah apa yang di perbuat kedua orang tuanya kepadanya.


"Nanti aku pikirkan dulu ya tan, karna aku ga mau merasa kecewa lagi! Aku hanya manusia biasa yang memiliki hati dan perasaan!" sahut Alana dan membuat mami Dianti tak berkutik, bagaimanapun dia tak bisa memaksa Alana.


Elvan merasa lesu saat mendengar percakapan maminya dengan Alana yang tak memiliki titik temu. Sepertinya posisinya kini terbalik, sekarang Elvan lah yang harus mengejar cinta Alana.


Hari ini juga, Mami Dianti memutuskan untuk membawa sang anak pulang ke rumah. Hal ini juga atas permintaan Elvan, karna sudah merasa jenuh di rumah sakit. Dan kini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Tak ada lagi keceriaan terlihat di wajah Elvan, Elvan lebih banyak diam.


Elvan hanya bisa memandang wajah Alana bersama nya di bingkai foto yang dia pajang di kamarnya. Air matanya tak bisa lagi di tahan. Kini sudah mengalir deras membasahi wajahnya.


Elvan membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya. Berniat untuk melupakan sesaat, namun sayangnya hal itu sangatlah sulit dilakukan. Bayangan Alana selalu menari di pikirannya.


"Aku besok harus masuk sekolah, agar aku bisa menemui Alana besok!" gumam Elvan dalam hati. Elvan berusaha untuk semangat, meskipun terasa berat untuk melakukannya.


Bunyi alarm di ponselnya membangunkan dirinya untuk menjalankan kewajibannya sebagai muslim dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Pagi ini Elvan akan menjemput Alana seperti biasa.


Satu persatu orang tua nya telah berangkat bekerja dan Elvan hanya menatapnya dari balik tirai kamar. Elvan merasa seperti orang asing bagi kedua orang tuanya. Tak ada satu pun dari mereka menganggap dirinya ada di rumah itu. Mereka pergi begitu saja tanpa berpamitan dulu dengannya. Sakit, tapi tak berdarah. Elvan Selalu berusaha untuk tegar, mungkin ini semua jalan hidupnya. Selama ini Alana yang membuat dirinya lebih berarti.

__ADS_1


"Den, sarapan dulu! Udah bibi siapkan!" ujar Bi Isah saat majikan kecilnya hendak pergi ke luar untuk berangkat sekolah.


"Terima kasih bi, tapi Elvan lagi malas. Udah buat bibi aja sarapannya!" ucap Elvan dan langsung melenggang keluar rumah, menghampiri mobilnya yang terparkir di garasi, dan melajukan mobilnya menunju rumah Alana.


Kini Elvan sudah sampai di depan rumah Alana. Setelah memarkirkan mobilnya, Elvan langsung turun untuk memberi salam dan menjemput Alana.


Deg


Jantung keduanya berdegup kencang, mata mereka saling bertemu. Seperti orang yang pertama kali bertemu. Namun hal itu tak berlangsung lama, Alana langsung membuang muka untuk mengalihkan pandangannya.


"Eh nak Elvan, gimana sudah sehat?" tanya ibunya Alana dan Elvan menjawab dengan Alhamdulillah sudah mendingan. Elvan meminta Alana untuk naik ke mobilnya, dan berhubung ibunya tak tahu apa yang terjadi dengannya. Mau tak mau dirinya masuk ke dalam mobil.


"Aku turun di depan aja! Nanti aku naik ojek online aja!" ucap Alana. Namun Elvan tak mempedulikan ucapan Alana, dia tetap melajukan mobilnya. Meskipun dirinya harus mendengar ocehan Alana.


Elvan akan membawa Alana ke puncak, untuk mengajaknya mengobrol serius. Mungkin saja udara dingin akan membuat hati dan pikiran yang terasa panas akan kembali dingin.


"Aku ingin sekolah! Kamu akan membawa aku ke mana?" ucap Alana. Dan Elvan memberitahu jika dirinya akan mengajak Alana ke puncak.


"Aku ga mau! Tak ada lagi yang perlu kita bicarakan lagi! Ikhlaskan, mungkin ini yang terbaik untuk kita. Namun Elvan tetap pada pendiriannya untuk tetap membawa Alana pergi ke puncak untuk mencari udara segar agar bisa berpikir tenang. Hari ini mereka tak masuk sekolah.

__ADS_1


__ADS_2