
"Mas, gimana ini? Aku kasihan banget melihat Elvan terus begini. Masa mudanya hanya duduk termenung di balkon rumah. Tak ada semangat hidup, hari-harinya selalu di rendung kesedihan." ujar mami Dianti kepada suaminya.
"Memang semua ini salahku yang membuat Elvan seperti ini. Jika aku tak menolak Alana, pasti saat ini Elvan sudah lulus dari kuliah. Dia juga pasti bersemangat mengurus perusahaan ku karna ingin segera menikahi Alana. Tapi semua itu sudah hancur, mau tak mau aku harus menerimanya. Aku memang seorang papi yang jahat dan tega. Memisahkan sang anak dari cinta sejadtinya." sahut papi Adrian lesu. Dirinya sangat menyesali perbuatannya dulu hingga akhirnya sang anak yang menjadi korban karna kesombongannya dulu.
Uang tak bisa membayar segalanya. Tak bisa mengembalikan apa yang telah hancur. Berbagai cara telah mereka lakukan untuk mengobati sang anak, namun hasilnya nihil. Elvan belum mengalami perubahan. Bahkan kini beberapa perusahaannya sudah di ambang kehancuran karna dirinya tak fokus mengurusnya.
"Mana tuh si Misella, calon menantu papi yang di bela mati-matian? Melihat kondisi Elvan seperti ini, langsung pergi ninggalin. Giliran Elvan lagi berjaya, ngejarnya kaya apa. Elvan udah sama Alana aja, masih terus di ganggu. Bilang cinta banget. Preet. Nyatanya malah membatalkan pernikahan dirinya. Padahal jika dia mengurus Elvan dengan sabar, pasti Elvan bisa sembuh. Makanya nanti kalau Elvan sembuh kembali, mami mah ga Sudi punya menantu model kaya gitu. Papi sih lihat orang dari segi harta. Nyatanya ga menjamin kan? Orang sederhana dan pintar justru lebih tulus." gerutu mami Dianti.
"Iya papi ngaku bersalah banget, papi sangat menyesal. Semua ini karna ulahku. Demi sebuah harga diri, anak satu-satunya dan perusahaan dalam zona ga aman.
"Ya udah coba papi bicara sama suaminya Alana, kayanya dia seorang pengusaha juga deh. Kali aja dia bisa bantu kamu!" saran mami Dianti.
Tapi papi Adrian merasa malu untuk meminta tolong kepada suaminya Alana, terlebih dirinya dulu sangat menghina sang istri. Dan kini dia harus menurunkan harga dirinya demi perusahaannya.
"Sekarang papi tinggal pilih! Mau perusahaannya hancur apa ninggalin tuh sikap gengsinya. Kan udah merasa karna sifat gengsi papi, papi menyesal kan? Telah menghancurkan semuanya. Ini juga kalau papi masih memprioritaskan gengsi dan kesombongan, papi akan kehilangan perusahaan dan mengorbankan para karyawan dan keluarga papi! Sekarang papi tinggal pilih aja yang papi mau pilih!" ujar mami Dianti.
Papi Adrian mencoba mencerna ucapan sang istri, dan itu memang benar adanya. Untungnya Alana tak seperti orang lain yang akan membalas perbuatan seseorang karna sebuah dendam. Alan wanita yang baik. Meskipun dirinya sempat merasa sakit hati atas perbuatan dirinya.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti papi coba ke rumahnya! Papi akan coba membicarakan permasalahan perusahaan dengan suaminya Alana." ujar Papi Adrian.
❤️❤️❤️
Malam sudah semakin larut, sang istri pun sudah tertidur pulas. Namun papi Adrian masih saja membuka matanya. Kini dirinya sedang duduk di bangku yang berada di balkon kamarnya sambil menatap bintang-bintang di langit.
Bayangan penyesalan kini hadir menghampiri dirinya. Apa yang di katakan sang istri memang benar, jika kesombongan dan gengsinya selama ini telah menghancurkan dirinya.
"Penyesalan memang selalu datang belakangan, jika aku dulu tak seperti itu. Pasti aku sudah bisa melihat kebahagiaan Elvan dengan Alana. Meskipun Alana bukan terlahir dari keluarga kaya tapi dia sangat kaya hati, dan pemikiran." gumam Papi Adrian.
Papi Adrian membuka pintu kamar anaknya pelan-pelan dan melihat sang anak yang sudah tertidur pulas. Papi Adrian langsung menghampiri sang anak dan duduk di pinggir ranjang sambil mengelus rambut anaknya dengan lembut.
"Maafkan papi ya son! Karna kesalahan papi, kamu harus menanggung penderitaan seumur hidup kamu! Jika papi tak bersifat egois dan sombong, kamu pasti kini sudah menjadi seorang sarjana dari lulusan luar negeri. Kamu sudah bisa membantu papi dalam masa sulit papi seperti ini! Papi memang seorang papi yang sangat jahat, menghentikan kebahagiaan seperti seorang Tuhan yang mengatur jalan hidupmu! Memaksa siapa yang akan menjadi jodohmu." ucap Papi Adrian yang sejak tadi menahan air matanya agar tidak tahan. Tapi pada akhirnya air mata turun begitu saja.
Elvan mendengar suara sang papi yang berbicara, namun dirinya memilih untuk tetap memejamkan matanya, mencoba menahan rasa kesedihannya. Masa lalunya bersama Alana kini hadir dalam bayangannya. Alana adalah wanita terindah dalam hidupnya yang sangat sulit dia lupakan. Tapi menangis atau dia mati sekalipun, Alana tak akan pernah kembali kepadanya.
Rasa emosi tiba-tiba saja menghampiri Elvan, hingga dirinya memilih untuk membuka matanya. Papi Adrian tersentak kaget saat melihat sang anak membuka matanya.
__ADS_1
"Sekarang papi sudah merasa puaskan sudah menghancurkan hidup aku? Tak ada rasa penyesalan yang papi rasakan saat ini. Semua tak akan mampu merubah keadaan seperti dulu! Membawa Alana dalam pelukan ku! Membuat kaki ku berjalan kembali, menikmati hidup ku. Papi puas kan telah membuat aku tak berdaya, dan bahkan semua wanita yang pernah mencintai aku pergi meninggalkan aku. " sahut Elvan ketus. Tentu saja hal itu membuat papi Adrian bertambah menyesal.
Papi Adrian berjanji akan berjuang untuk menyembuhkan anaknya kembali. Dia tak peduli jika salah satu perusahaan miliknya harus di miliki orang lain. Tekadnya sudah bulat, dia akan menemui suaminya Alana. Berharap suami Alana dapat menolongnya. Meskipun dirinya dulu pernah menghinanya. Papi Adrian membicarakan hal ini kepada Elvan, tentu saja hal itu membuat Elvan merasa kaget.
"Yakin papi akan melakukan hal itu? Apa tidak nantinya Alana menganggap kalau papi memanfaatkan dirinya? Biarlah Pi aku seperti ini! Mungkin ini memang takdirku! Aku ingin papi tetap pertahankan perusahaan papi. Aku tak ingin jika suaminya Alana akan menginjak-injak harga diri papi, karna ingin membalaskan dendam istrinya dulu.
Papi Adrian tidak peduli lagi, dia sudah siap menanggungnya. Dia tak peduli jika harga dirinya akan jatuh demi menyelamatkan banyak orang. Dia tak peduli jika sang anak melarangnya.
"Bersabar ya son! Papi akan mengembalikan kamu seperti dulu! Meskipun nyawa papi yang akan menjadi taruhannya." ujar Papi Adrian lembut.
"Kenapa tidak sejak dulu saja papi menyayangi aku seperti ini? Aku sayang sama mami dan papi, tapi mengapa kalian dulu mengabaikan aku? Menganggap aku seperti barang yang tak ada artinya, hingga aku hanya menjadi anak pembantu." ujar Elvan membuat papi Adrian semakin menyesal.
Mampir yuk di karya author lainnya 😄
__ADS_1