Cintaku Tak Semanis Es Cream

Cintaku Tak Semanis Es Cream
Berakhir lebih baik


__ADS_3

"Assalamualaikum." Alana mengucap salam dan membuka pintu rumahnya. Dan ternyata sang ayah sedang duduk santai sambil menikmati secangkir kopi di temani sang ibu.


Alana duduk di sebelah sang ibu. Ikut bergabung dengan kedua orang tuannya.


"Sudah mengantarkan Elvan ke Bandara?" tanya sang ibu membuka percakapan. Alana hanya menganggukkan kepalanya dengan lesu. Alana memilih menyimpan semua ini dari keluarganya.


"Baru di tinggal Elvan kuliah di luar negeri udah ga semangat, apalagi kalau di tinggal Elvan nikah?" goda sang ibu. Dan Alana menanggapinya dengan cengiran.


"Ah ibu kaya ga pernah merasakan jatuh cinta aja. Dulu pas ayah tugas keluar kota ke Yogyakarta cuma tiga hari aja, udah nangis terus. Wajar lah Alana kalau merasa sedih. Kan Elvan perginya cukup lama, Yach meskipun kalau libur panjang dia bisa pulang juga." sahut sang ayah ikut bicara.


Kedua orang tua Alana hanya berpesan pada sang anak. Jika jodoh sudah di tentukan oleh Allah. Jangan terlalu terhanyut dalam kesedihan. Ikhlaskan, biar hati merasa tenang tidak gelisah. Karna merasa cemburu tak melihat kekasih kita di sana ngapain. Pasrahkan sama yang di atas. Sekuat apapun kalau kekasih kita bukan jodoh kita, pasti akan terlepas dari genggaman kita. Manusia hanya berencana, tapi Allah lah yang berkehendak. Dan Alana hanya menganggukkan kepalanya karna memang benar apa yang di ucapkan ayahnya.


Kini hati Alana lebih terasa tenang. Selain sudah merasa tenang karna tadi Reynaldi sudah menemani dirinya. Wejangan dari orang tuanya sangat mengena di hati Alana. Lebih baik dia menata hidupnya yang baru. Memikirkan masa depannya, dari pada harus membuang waktunya hanya untuk memikirkan cintanya yang akan terwujud.


❤️❤️❤️


Elvan kini sudah menginjakkan kakinya di negara Inggris. Dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di apartemen yang sudah di sewa maminya. Elvan ingin segera menghubungi Alana. Selama perjalanan Elvan memilih mendiamkan Misella, karna hatinya masih merasa kesal kala mengingat sikap Misella yang menyakiti hati Alana.


"Kamar kamu itu! Aku masuk dulu!" ucap Elvan. Elvan masuk lebih dulu dan Misella masih diam terpaku di luar sambil menggerutu karna Elvan masih saja bersikap dingin kepadanya.


Elvan memilih langsung membersihkan tubuhnya, karna merasa lengket dan baru akan menghubungi Alana. Berbeda halnya dengan Elvan yang sudah terbiasa hidup sendiri meskipun tinggal bersama kedua orang tuanya. Justru Misella yang lebih terasa harus terpisah dari kedua orang tua nya. Jika selama ini dirinya selalu di layani, di sana dia harus terbiasa memasak dan melakukan apapun sendiri. Perasaan iseng menyelimuti dirinya kini.

__ADS_1


"Tega banget sih kamu Van, biarkan aku sendiri begini!. Norak banget sih kamu, segala ga mau satu apartemen. Lagian aku siap kok kalau kamu minta sama aku." ujar Misella bicara sendiri.


Elvan meraih ponselnya yang berada di dalam tas dan merubah ke nomor Inggris. Setelah itu dirinya membaringkan tubuhnya di ranjang sambil memainkan ponselnya mencari nomor telepon Alana.


"Loh kok ga ada foto profil nya? Kenapa ya?" gumam Elvan saat pertama kali melihat tampilan nomor telepon Alana.


Elvan mencoba menghubungi Alana, dia masih berpikir jika Alana tak memasang foto profil.


"Kok ga aktif ponselnya?" gumam Elvan kembali dalam hati. Kecurigaan akan ada sesuatu yang tak baik, semakin kuat. Elvan masih terus berharap, dengan mengirim pesan chat. Memberi tahu jika dirinya sudah sampai di Inggris. Elvan menanyakan saat ini Alana sedang apa, dan kenapa ponselnya saat ini ga aktif.


"Apa mungkin batrenya lagi habis, makanya ponselnya ga aktif? Apa Alana sudah tidur malam?" Elvan masih berpikir positif, karna memang sebelum pergi memang baik-baik saja meskipun sempat ada tragedi.


Dan akhirnya Elvan memilih untuk tidur, beristirahat sambil menunggu kabar dari Alana. Elvan yakin jika ponsel Alana sudah aktif, pasti Alana langsung menghubungi dirinya.


❤️❤️❤️


Alana langsung menghubungi Andre, untuk membicarakan masalah tadi. Dan untungnya Andre belum tidur. Karna Alana yakin, jika Elvan tak bisa menghubungi dirinya. Pasti Elvan langsung menghubungi Andre.


"Dre, menurut Lo gimana? Asli sebenarnya gw kasihan sama Elvan, pasti dia nyariin gw. Mikirin gw. Tapi gw terpaksa Dre harus blokir nomor dia. Gw harus konsisten sama ucapan gw donk. Lo denger sendiri kan, kalau bokap nya Elvan udah nginjek-nginjek harga diri gw." ujar Alana.


Memang ini adalah keputusan terberat bagi Andre. Di satu sisi dirinya merasa tak tega dengan Elvan, tapi dia juga dengar sendiri betapa jahatnya papinya Elvan kepada Alana.

__ADS_1


"Kalau gw bilang ponsel Lo rusak gimana?" tanya Andre. Jujur dirinya di antara dua pilihan yang sangat membingungkan.


"Gw yakin, Elvan pasti langsung nyuruh Lo beli ponsel baru buat gw! Secara orang kaya mah bebas." sahut Alana. Menurut Andre ucapan Alana benar juga, bagi Elvan ga ada artinya dia pasti akan langsung membelikan Alana ponsel meskipun harus menguras uang tabungannya.


"Terus gw harus gimana? Asli gw berada di posisi yang sangat sulit banget ini." ungkap Andre. Dan akhirnya Alana memutuskan dan menyuruh Andre agar Elvan menanyakan hal ini kepada orang tuanya langsung, mencari tahu kebenarannya. Karna sumber masalah berpangkal dari orang tuanya. Alana ingin tahu kelak orang tuanya akan bicara apa sama Elvan, dan akan terjadi apa saat Elvan mengetahui jika orang tuanya memaksa Alana untuk putus dengannya.


Dan akhirnya Andre mengikutinya meskipun hatinya terasa berat. Karna dia yakin kalau Elvan akan frustasi, dan bisa saja Elvan langsung pulang mengamuk. Merasa tak terima dengan sikap orang tuanya.


"Maafin aku Van, aku terpaksa melakukan hal ini. Sebenarnya ini keputusan yang sangat berat untuk aku. Aku menyayangi kamu. Biarlah aku simpan perasaan ini dalam hati. Aku tak sudi menjadi menantu orang tua kamu. Semoga kamu bahagia bersama Misella." ucap Alana sambil menghapus satu persatu foto kebersamaan mereka.


Air mata Alana tambah mengalir deras saat melihat video yang berisi foto-foto kebersamaannya yang di buat Elvan saat di puncak terakhir mereka bersama.


"Aku sayang sama kamu Van. Sebenarnya di lubuk hati aku yang paling dalam, aku ga mau pisah sama kamu. Kamu adalah cinta pertama aku. Kamu adalah satu-satunya cowok yang membuat aku mengerti akan sebuah cinta." ucap Alana lirih. Alana masih belum mampu menghapus kenangan dirinya bersama Elvan.


Kesedihan terhenti saat dirinya mendengar ponselnya berdering dan ternyata Reynaldi. Reynaldi yang saat ini melakukan panggilan video kepadanya. Alana menghapus air matanya dan mengangkat panggilan video dari Reynaldi.


"Assalamualaikum. Lagi apa ini adiknya kakak yang cantik?" sapa Reynaldi memulai pembicaraan.


"Walaikumsallam. Baru mau tidur kak." sahut Alana. Reynaldi melihat kesedihan di wajah Alana. Dia yakin jika Alana habis memikirkan cowok yang tadi dia ceritakan. Reynaldi tahu jika Alana habis menangis, terlihat dari matanya. Namun Reynaldi tak mau menanyakan terlalu dalam. Tugas dia saat ini bukan mengorek dan mengingatkan Alana akan masa lalu, tapi menghapus dan membantu Alana untuk menghapuskan nama Elvan di hati Alana.


"Ya udah istirahat ya! Ingat sebentar lagi udah mau mulai kuliah! Jaga kondisi kamu, jangan lupa makan dan beristirahat. Kan ga lucu kalau pas waktunya kuliah, kamu izin karna sakit." ujar Reynaldi membuat Alana tersenyum. Senyum inilah yang Reynaldi suka.

__ADS_1


Dan akhirnya mereka mengakhiri panggilan. Karna Reynaldi menyuruh Alana tidur, Alana pun merasakan kantuk.


__ADS_2