Cintaku Tak Semanis Es Cream

Cintaku Tak Semanis Es Cream
Hujan menjadi pengingat kebersamaan kita


__ADS_3

Acara penyambutan dan penyematan selempang pahlawan sekolah selesai. Murid-murid kembali ke kelasnya termasuk Alana dan juga Elvan.


" Ih...ayang hebat sampai di sambut satu sekolah! Cie yang dapat sematan pahlawan sekolah! Keren...keren!" goda Elvan dan tentu saja membuat Alana tersipu malu.


Berbeda hal nya dengan Misella yang terus mengumpat di dalam kelasnya.


" Pasti tambah belagu aja tuh anak dapat julukan pahlawan sekolah. Gila banget sampai di rayakan satu sekolah gitu. Elvan tambah susah deh melepaskan tuh cewek." gerutu Misella.


" Mendingan Lo lupain aja Sel! Kasian gw sama Lo yang terus mengejar Elvan, tapi Elvan ga pernah melirik Lo sedikit pun! Mungkin Alana cewek sempurna banget bagi Elvan, udah ngalah aja Lo!" ucap Sisil membuat Misella merasa tak terima. Dia akan tetap pada pendiriannya, mengejar cinta Elvan. Dia tak peduli dengan kedekatan Elvan dengan Alana.


" Emm...emang susah ngomong sama orang keras kepala! Terserah lo aja deh, Lo juga nanti yang merasakan!" gerutu Sisil dalam hati.


Jam pelajaran telah berakhir, murid-murid berhamburan keluar untuk pulang. Elvan berjalan sejajar dengan Alana dan Wita berjalan sejajar dengan Andre


Langkah mereka terhenti saat Misella teriak memanggil nama Elvan.


" Emmm, ni cewek ga ada kapoknya banget! Udah gw cuekin masih aja!" gerutu Elvan saat melihat yang memanggil dirinya yaitu Misella.


Kini Misella sudah berdiri di hadapan mereka berempat. Elvan sudah memasang wajah tak bersahabat.


" Bro, gw balik duluan ya! Takut gatel gw lama-lama di sini ada ulet bulu!" sindir Andre sambil terkekeh membuat Wita dan Alana tersenyum mengejek. Dan tentu saja membuat Misella mengepalkan tangannya.

__ADS_1


" Cepat katakan ada apa panggil gw! Gw mau balik, gw ga mau buat cewek gw nunggu lama hanya untuk mendengar omongan Lo yang ga penting!" ujar Elvan tegas. Dan Alana hanya berdiri di samping pacarnya sambil menahan tawa.


Akhirnya Misella mengatakan kalau dia ingin ikut pulang bareng mereka, karna hari ini dia ga bawa mobil.


" Gimana Honey? Apa Misel boleh ikut kita?" tanya Elvan kepada pacarnya. Kalau Alana sebenarnya tak ingin memiliki musuh, dia tak pernah sombong meskipun dia pintar. Tapi jika dirinya di ganggu, dia akan berontak dan membalasnya.


" Boleh aja! Asal dia siap aja melihat kemesraan kita di mobil! Dan aku minta kamu antar dia dulu, baru aku! Aku ga mau dia mencoba merayu kamu di saat aku udah turun duluan!" sahut Alana dan Elvan langsung mengatakan ok dan akan mengikuti perintah nyonya besar.


" Sorry... sepertinya Alana ga suka, gw numpang sama lo? Ya udah ga usah deh, gw naik taksi online aja!" ujar Misella. Misella mencoba menahan perasaannya, sebenarnya dia ingin sekali meremas mulut Alana yang baginya sangat sombong dan menghina dirinya.


" Nah itu Lo tau? Bagus deh sadar diri! Harusnya dari tadi, jadi Lo ga buang waktu gw sama pacar gw untuk mendengarkan omongan receh Lo! Udah yuk yang, pulang!" sindir Alana dan dia langsung mengajak Elvan pergi meninggalkan Misella.


❤️❤️❤️


" Yach...hujan lagi Han! Kita neduh dulu ya!" ucap Elvan yang akhirnya menepikan motornya di sebuah cafe tempat paling terdekat saat terjadi hujan dadakan.


Elvan dan Alana berlari memasuki cafe dan langsung mencari tempat duduk. Kini mereka sama-sama dalam keadaan basah kuyup. Karna hujan datang tiba-tiba.


" Kamu mau pesen apa?" tanya Elvan.


Dan akhirnya mereka memesan satu buah spaghetti untuk Alana, satu piring nasi goreng untuk Elvan, dan juga dua teh manis hangat untuk mereka berdua.

__ADS_1


" Dingin?" tanya Elvan saat melihat Alana yang menggigil kedinginan.


Sayangnya Elvan tak memiliki jaket 2, jaket nya pun basah. Kalau tidak pasti dia akan memakai jaket itu untuk pacarnya.


" Sini aku peluk!" ucap Elvan sambil membawa Alana dalam dekapannya. Tapi tak bertahan lama, Alana merasa risih. Merasa tak enak jika orang melihatnya. Untungnya kini mereka berada di lantai 2, yang hanya ada mereka berdua. Kan cafe itu juga tidak terlalu rame.


" Nanti ada pelayan naik! Ga enak kalau lihat kita pelukan gitu." sahut Alana dan Elvan mengangguk setuju. Dan Elvan memilih menggenggam tangan pacarnya erat.


" Nanti, jika suatu saat kita terpisah karna harus melanjutkan pendidikan di kampus yang berbeda. ingatlah momen ini, di saat hujan turun dengan deras kita dalam kebersamaan. Hujan menjadi pengingat kebersamaan kita!" ucap Elvan. Rasanya begitu sesak saat Elvan mengucapkan tentangnya perpisahan. Rasa nya tak sanggup jika memikirkan hal itu.


Alana menganggukkan kepalanya. Dia pun menjadi melow. Tapi inilah sebuah hidup, terkadang kita harus mengorbankan sesuatu demi kebaikan. Meskipun perpisahan suatu hal yang sangat menyakitkan. Masa depan mereka masih sangat panjang, dan mereka pun ingin meraih apa yang dia inginkan. Bukankah jodoh di tentukan oleh Allah, dan sebagai manusia hanya bisa berusaha.


" Kamu memangnya mau melanjutkan ke mana?" tanya Alana membuka obrolan.


" Papi menyuruh aku melanjutkan ke luar negeri. Entahlah aku belum tau aku akan melanjutkan ke mana. Aku tak bersemangat, karna aku ga mau pisah sama kamu. Lagi pula masih ada satu tahun lagi untuk berpikir, tapi yang pasti aku akan mengambil jurusan bisnis Internasional karna kelak papi menginginkan aku meneruskan perusahaannya secara aku anak satu-satunya. Harapan kedua orang tua ku, tak mungkin aku mengecewakan mereka." ucap Elvan lirih. Alana sangat mengerti, jika pacarnya itu merasa berat untuk berpisah dengannya.


" Yakinlah jika kita berjodoh, pasti kita akan terus bersama. Tapi jika tidak, lantas kita bisa apa? Jangan pikir aku tak sedih saat mendengar penuturan kamu, hatiku terasa sesak mendengarnya. Karna aku tak yakin jika menjalani LDR aku bisa." sahut Alana.


Dalam hal seperti ini tak bisa mencari siapa yang kuat atau tidak. Tapi siapa yang siap dan tidak siap. Kalau merasa siap yakinlah pasti akan merasa kuat. Apapun rintangannya pasti akan terlewati.


" Aku ga boleh menunjukkan perasaan sedih. Aku tak ingin membuat Elvan bertambah berat untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, dan harus terpisah. Aku ga boleh egois, aku ini masih pacaran sama dia dan Elvan tentu saja masih hak penuh kedua orang tuanya. Dan pastinya semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk hidup anaknya." ucap Alana, memberi semangat kepada hatinya. Agar bisa ikhlas menerimanya.

__ADS_1


__ADS_2