Cintaku Tak Semanis Es Cream

Cintaku Tak Semanis Es Cream
Seperti pertanda


__ADS_3

"Nanti jika aku sudah tidak ada di dunia ini, kamu lah yang harus melanjutkan perusahaan ini! Semoga sebelum aku pergi dari dunia ini, kita sudah memiliki keturunan yang bisa melanjutkan kerajaan bisnis aku." ucap Reynaldi. Membuat wajah Alana tiba-tiba berubah sendu.


"Aish...mas ini ngomong apa sih? Jangan ngaco gitu ah! Aku ga sanggup kehilangan mas. Aku cinta sama mas, ga akan ada yang mampu menggantikan mas!" ujar Alana.


Entah mengapa air matanya menetes satu persatu, baru mendengarnya saja Alana merasa tak sanggup apalagi hal itu akan terjadi di hidupnya.


"Kamu harus ingat kalau kematian, jodoh, dan rezeki sudah di atur yang maha kuasa. Sudah menjadi rahasia Allah kita tak bisa mengelak!" ujar Reynaldi dengan bijak.


Memang benar apa yang di katakan suaminya itu. Karna hal itu terjadi juga dengan dirinya sendiri. Bagaimana dulu dia berjuang untuk mempertahankan hubungannya dengan Elvan, namun pada akhirnya berpisah juga. Tapi tetap saja hati Alana rasa nya tak mampu untuk menerimanya.


Akhir-akhir ini Reynaldi sering kali mengucapkan kata kematian, membuat Alana berpikir apa ini sebuah pertanda namun dia terus berusaha menepisnya. Alana berharap jika semua ini hanyalah ketakutan dirinya saja.


❤️❤️❤️


Semakin hari hubungan Alana dan Reynaldi semakin mesra. Dan bahkan Alana sudah siap untuk memberikan keturunan untuk suaminya. Dia siap jika nantinya dirinya harus mengabaikan cita-citanya menjadi wanita karier. Mungkin itu adalah bentuk balasan kepada suaminya yang memiliki hati seperti malaikat.

__ADS_1


"Yang, kita liburan yuk ke Singapura sekalian kita tengok Elvan. Gimana menurut kamu? Aku ingin refreshing, masa otak di paksa kerja terus sih." ujar Reynaldi. Entah mengapa dia ingin sekali melihat perkembangan Elvan di Singapura.


"Kenapa harus ke sana si? Ke Bali aja lah yang dekat." sahut Alana.


"Kan liburan kita bukan semata-mata liburan, tapi kita sekalian bertemu Elvan. Aku ingin mengetahui perkembangan dia? Aku berharap kalau dia bisa hidup normal lagi, melanjutkan kehidupannya." ujar Reynaldi.


Membuat Alana terpanah. Berpikir hati suaminya itu terbuat dari apa, mengapa bisa memiliki hati yang begitu tulus seperti itu. Sampai saat ini Alana pun tak tahu apa motif kebaikan suaminya itu. Padahal dari awal sang suami tak mengenal Elvan, tapi kenapa bisa sebaik itu.


❤️❤️❤️


Hari yang di nanti telah tiba, Reynaldi dan Alana sudah sampai di bandara dan siap terbang ke Singapura. Reynaldi terus menggenggam tangan sang istri dan enggan melepaskannya. Sepanjang perjalanan ke Singapura, Alana menceritakan tentang kepergiannya dulu ke Singapura untuk mengikuti olimpiade matematika dan dia berhasil menjadi sang juara.


"Sayang...kita langsung ke hotel saja ya! Kita mengunjungi Elvan besok saja. Kepala aku terasa sakit sejak tadi di pesawat namun aku berusaha menahannya." ujar Reynaldi. Alana menyetujuinya, karna dia tak ingin sakit yang di rasa suaminya bertambah.


Untungnya mereka kini telah sampai di hotel. Wajah Reynaldi terlihat pucat dan sering kali meringis menahan rasa sakit di kepalanya yang terus bertambah.

__ADS_1


"Sayang...maaf! Sepertinya aku harus langsung beristirahat dulu sampai sakit kepala aku mereda. Ga apa kan kita ga langsung pergi jalan-jalan? Kita pesan makanan hotel saja ya!" ujar Reynaldi lembut. Reynaldi sudah membaringkan tubuhnya di ranjang, bahkan untuk mandi dan berganti pakaian saja dirinya tak sanggup.


Alana menatap wajah suaminya yang sudah tertidur pulas. Saat memandang wajah suaminya entah mengapa hatinya merasa sedih seakan dirinya akan berpisah. Bahkan tanpa sadar dirinya meneteskan air mata, tanpa dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya. Perasaannya tiba-tiba saja melow.


Alana memesan makanan yang berada di hotel untuk mereka makan malam bersama. Setelah makanan sudah tersusun rapi, Alana langsung membangunkan sang suami untuk makan bersama.


"Mas, maka dulu yuk! Nanti tidurnya di lanjut lagi!" ujar Alana membangunkan suaminya dengan lembut. Perlahan Reynaldi mulai membuka matanya.


"Gimana sakit kepalanya? Masih sakit? Apa kita berobat aja mas ke dokter?" ujar Alana dia merasa khawatir dengan apa yang terjadi dengan suaminya, namun Reynaldi menolaknya. Dia mengatakan kalau dirinya sudah merasa baikan, dan menganggap hanyalah sakit kepala biasa karna kurang istirahat.


Mereka menikmati makan malam berdua di kamar hotel. Setelah selesai makan, Alana langsung menyiapkan air hangat dan pakaian untuk suaminya mandi. Alana sengaja memakai lingerie berwarna merah, warna dan pakaian yang sangat menantang suaminya. Dia ingin membahagiakan suaminya.


Reynaldi menampakkan senyuman saat di keluar kamar mandi dan melihat tubuh seksi sang istri. Namun sayangnya, gairahnya meredup. Mungkin karna merasa sakit di kepalanya.


"Maafkan aku sayang...malam ini aku belum bisa memenuhi kewajiban aku membahagiakan kamu! Memberikan nafkah untuk kamu, sabar ya!" ucap Reynaldi sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Padahal saat ini dia hanya memakai handuk yang di lilitkan di pinggangnya, namun miliknya tak bereaksi apapun.

__ADS_1


Alana hanya bisa menahan salivanya, menahan rasa kecewanya. Berniat untuk membahagiakan suaminya, namun dia harus menahan rasa malu atas penolakan yang di lakukan suaminya. Tapi dia berusaha menerimanya, karna dia tak bisa memaksa keinginan suaminya. Dan malam ini hanya di lalui dengan tidur berpelukan tanpa ada adegan ranjang.


Jangan lupa dukungannya ya🙏😍😄


__ADS_2