
Elvan dan Alana mengakhiri percakapan mereka. Tak terasa sekarang sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Itu tandanya mereka sudah mengobrol kurang lebih 1,5jam.
Elvan bergegas langsung mandi dan bersiap-siap untuk sarapan pagi bertemu papi nya. Dia sangat yakin jika papi nya akan memarahi dirinya. Apapun yang terjadi Elvan sudah siap.
"Kemana tuh anak? Kenapa udah mau jam 07.00 dia belum turun juga? Mami panggil Elvan sana suruh turun!" ucap papi Adrian.
"Jangan keras-keras sama Elvan, nanti dia jadi sebel sama kamu! Orang tua ga usah ikutan urusan anak muda! Kaya ga pernah muda aja sih Pi!" sahut mami Dianti. Mami Dianti khawatir jika sang anak nantinya akan menjadi jauh dengan papi nya dan merasa tertekan hingga akhirnya menjadi anak yang broken home. Dia tak ingin sang anak seperti dulu lagi, menjadi anak yang bermasalah dan tak karuan jika sampai harus berpisah sama Alana. Karna Alana memberikan dampak yang baik untuk Elvan anak semata wayangnya.
Baru saja Mami Dianti hendak menaiki anak tangga untuk ke kamar anaknya, ternyata Elvan sudah keluar dari kamarnya hendak turun dan akhirnya mereka bertemu.
"Mami kita kamu masih tidur, baru aja mami mau naik ke atas." ujar mami Dianti.
Kini mereka bertiga sudah berada di meja makan untuk sarapan pagi. Kesunyian tercipta di meja makan. Tak ada sepatah katapun terlontar dari mereka bertiga. Papi Adrian memilih tidak membahas dulu, biar sang anak selesai makan dulu. Elvan pun berusaha untuk bersikap biasa
Sarapan pagi telah selesai. Elvan hendak kembali ke kamarnya lagi namun papi Adrian langsung memanggilnya dan bicara kalau ada yang dia bicarakan.
__ADS_1
"Emmm...apa Pi?" ujar Elvan. Elvan menghentikan langkahnya. Bagaimanapun papi nya adalah orang tua nya yang patuh dia hormati, meskipun telah membuat hubungannya sempat bermasalah dengan pacarnya.
"Duduklah!" ucap papi Adrian.
Elvan mengikuti perintah papi nya untuk ikut duduk bersamanya di ruang tv. Dan kini mereka sudah duduk. Suasana terasa tegang, karna papi Adrian ingin membicarakan hal serius.
"Sejak kapan kamu berhubungan sama wanita itu?" tanya papi Adrian dengan gaya seriusnya. Tapi Elvan memang sudah berniat, apapun yang terjadi dia akan berusaha mempertahankan hubungannya dengan Alana.
"Hampir satu tahun sebentar lagi. Sejak aku masuk semester dua di kelas satu." sahut Elvan. Elvan memilih tak menatap papinya, dia memilih untuk nunduk seperti seorang terdakwa yang sedang di tanya penyidik.
Papi Adrian menanyakan segala hal tentang Alana. Mulai tinggal di mana, bapaknya kerja di mana, menanyakan apa benar yang di katakan Misella kalau Alana masuk ke sekolah itu bukan karna anak dari keluarga mampu tapi Alana masuk karna beasiswa. Dan semua di jawab lantang oleh Elvan.
Hal itu tentu saja membuat papi Adrian menggeleng-gelengkan kepalanya, ternyata anaknya itu menurun seperti dirinya dulu yang mengejar maminya. Tapi papi Adrian egois, masa lalu nya dulu tak ingin terjadi dengan sang anak. Dia ingin anaknya menikah dengan keluarga yang sederajat.
Dan ternyata sebelum acara ulang tahun Misella, papi Emir papi nya Misella sempat membicarakan masalah Perjodohan anaknya dengan papi nya Elvan. Papi Emir terpaksa menuruti keinginan sang istri dan juga anaknya, karna mami Karen berkata jika sang anak ga mau menjalin hubungan dengan cowok manapun. Cintanya hanya untuk Elvan seorang. Dan sebagai orang tua, papi Emir menjadi bersalah jika sampai anaknya menjadi perawan tua.
__ADS_1
Demi merapatkan kekeluargaan dan pengembangan usaha bersama, akhirnya mereka sepakat untuk menjalankan perjodohan ini. Terlebih mereka sudah saling kenal satu sama lain. Papi Adrian juga sudah mengenal Misella sejak Misella kecil. Bagi papi Adrian semuanya sudah jelas, dibandingkan Alana yang tak jelas asal usulnya.
"Papi sudah memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan Misella! Mulai sekarang, papi minta kamu mulai jauhkan wanita itu! Karna percuma kamu tetap mempertahankan dia, tapi ujungnya kamu akan berpisah dengannya. Berikan kebebasan kepadanya untuk menjalin hubungan dengan yang lainnya. Jangan kamu ikat terus dia dengan status pacar kamu! Dan papi minta, mulai sekarang kamu berusaha untuk menerima Misella! Karna kelak kamu akan menikah dengannya setelah lulus kuliah! Kamu tak perlu mencari kerja, kelak kamu akan meneruskan usaha yang papi dan papi nya Misella dirikan!" ujar papi Adrian tegas. Dia tak ingin anaknya itu membantahnya. Namun sayangnya anaknya itu sudah bertekad untuk memperjuangkan cintanya.
"Aku mencintai Alana, hanya Alana yang aku cintai sampai kapanpun!" sahut Elvan tak kalah tegasnya.
"Kalian itu baru cinta monyet, nanti juga ada kala nya bosen. Nanti pas kamu terpisah jarak dan waktu, hubungan kalian juga akan bubar!" sahut papi Adrian membuat Elvan mengepalkan tangannya. Sungguh teganya papi bicara seperti itu padanya. Dan akhirnya Elvan memutuskan untuk pergi meninggalkan papinya. Lagi pula tak ada gunanya juga dia bicara. Mungkin memang dia harus berjuang sendiri tanpa restu papi nya. Elvan yakin, jika mami nya mendukung hubungan dirinya dengan Alana.
Dan hal itu tentu saja membuat papi Adrian bertambah tak suka dengan Alana, karna sudah berhasil mempengaruhi otak anaknya. Dia pikir jika Alana adalah wanita licik yang mencari kesempatan untuk memperdaya anaknya, karna Elvan anak orang kaya. Terlebih Elvan anak satu-satunya, dan di pastikan harta kekayaan semuanya akan jatuh ke Elvan. Dia yakin sekali, jika Alana tidak tulus mencintai Elvan.
"Kok papi ga ngomong sama mami sih kalau berniat mau menjodohkan Elvan sama Misella? Kasihan Elvan Pi! Alana itu anak yang baik, kalau Misella itu anak manja. Dia itu hanya terobsesi sama Elvan, mami ga yakin kalau Misella adalah calon istri yang baik untuk Elvan. Mami ga setuju pokoknya punya menantu seperti Misella. Mami yakin cintanya Alana sangat tulus kepada Elvan." gerutu mami Dianti. Dia tak rela menyerahkan anaknya kepada Misella. Mami Dianti ingin mencari menantu yang bisa mengurus anaknya. Terlebih selama ini Alana telah memotivasi Elvan menjadi anak yang baik.
"Keputusan papi sudah bulat! Lagi pula papi sudah janji sama Emir akan menjodohkan anak kita sama mereka agar hubungan persaudaraan kita semakin erat!" sahut papi Adrian.
"Mempererat persaudaraan bukan begitu caranya! Ga harus memaksa Elvan untuk menikah dengan anaknya! Papi tuh kaya masih di zaman Siti Nurbaya aja sih." ucap mami Dianti ketus. Mami Dianti merasa geram dengan sikap suaminya itu yang selalu mau menang sendiri.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya 🙏🙏😍😄