
Dan akhirnya sesuai saran dokter, Elvan sementara di rawat di rumah sakit. Awalnya papinya menolak, karna bingung yang menjaga karna keduanya orang sibuk. Tapi seorang ibu tetap saja merasa tak tega melihat kondisi sang anak yang seperti itu. Mami Dianti memutuskan untuk meminta cuti selama tiga hari. Lagi pula bertahun-tahun dia jarang sekali mengambil cutinya, saat Elvan sakit dulu pun dia tetap bekerja.
Elvan sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Namun dirinya memilih untuk diam. Elvan selalu menggelengkan kepalanya saat sang mami menawarkan makanan apapun.
"Gimana mau sehat, kalau kamu begitu! Pantas aja sakit, orang kamu menyiksa badan sendiri! Cepat sembuh, jangan nyusahin orang tua karna harus menjaga kamu di sini!" sindir papi Adrian.
Dan akhirnya Elvan membuka suara karna merasa kesal dengan ucapan papinya.
"Ya udah kita pulang aja! Elvan juga ga mau di rawat begini! Kalau menurut papi, Elvan mengganggu papi! Ya udah kita pulang sekarang, aku cabut infus ini!" ucap Elvan sampai menarik paksa infusnya dan turun dari ranjang. Dia tak peduli dengan kondisi tubuhnya yang masih terasa lemas.
"Jangan begini nak! Mami ga masalah kok menjaga kamu, yang terpenting bagi mami kamu sehat kembali! Tahan emosimu nak!" ucap mami Dianti menenangkan anaknya.
__ADS_1
Mami Dianti meminta Elvan untuk naik ke ranjang kembali, dan menekan tombol darurat untuk memberitahu infus anaknya copot.
"Udah papi pulang aja sana, kalau cuma bikin ribut aja! Anak sakit, malah di ocehin!" gerutu mami Dianti. Dan akhirnya papi Adrian memilih langsung pulang, meninggalkan mereka berdua. Dua perawat datang dan langsung memasangkan kembali infus Elvan.
"Sabar nak! Maaf jika ucapan papi bikin kamu emosi!" ucap mami Dianti, setelah dua perawat itu keluar. Elvan masih merasa sangat emosi. Dia merasa jika papinya tak menyayangi dirinya.
"Mungkin papi menginginkan aku mati saja? Biar aku tak menyusahkan dirinya. Setelah memisahkan aku sama Alana, sekarang dia menyuruh aku untuk mati!" ucap Elvan sinis. Dan membuat mami Dianti membulatkan matanya mendengar ucapan anaknya.
Mami Dianti menanyakan lebih jelas tentang maksud perpisahan Elvan dengan Alana. Dan Elvan mengatakan jika Alana telah memutuskan hubungan dengan dirinya. Karna dengan alasan kedua orang tua Elvan tak menyetujui hubungan mereka.
"Pengganti banyak, tapi yang sempurna seperti Alana ga ada! Alana yang membuat Elvan menjadi berubah, kan mami tau semester ini Elvan meraih juara ketiga. Semua ini karna Alana yang telah memotivasi Elvan dalam segala hal. Alana juga yang mengingatkan Elvan untuk sholat, dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Dan bahan saat terakhir pun, dia justru memilih mengalah putus dari Elvan. Dari pada Elvan di bilang anak pembangkangan karna tak nurut dengan orang tua. Alana adalah malaikat berwujud manusia yang di ciptakan untuk Elvan. Tapi papi tega menghancurkan hubungan Elvan sama Alana. Hiks...hiks.." ucap Elvan lirih di iringi Isak tangis. Hatinya merasa sedih kala mengingat hal itu.
__ADS_1
Mami Dianti menyadari jika anaknya seperti ini, karna putus dengan Alana. Terlebih Elvan menceritakan kalau dirinya sejak siang sampai tadi pagi tidak makan dan begadang semalaman. Saat maminya memanggil pun, dirinya belum tidur. Mami Dianti merasa iba mendengar penuturan sang anak. Tapi bagaimana dengan suaminya? Pasti justru mengoceh karna kebodohan yang di lakukan anak semata wayangnya. Karna cinta bisa seperti itu. Padahal masih banyak cinta lain yang sudah mengantri, termasuk Misella wanita yang akan di jodohkan dengannya.
Berita Elvan sakit telah sampai ke telinga Andre. Elvan memberitahu jika dirinya di rawat di rumah sakit. Dan Elvan meminta Andre untuk mengajak Alana menengoknya. Elvan juga memberi tahu jika Alana sudah memutuskan hubungannya dengan nya kemarin sore. Sebagai sahabat yang selalu mendukung, Andre akan membawa Alana untuk menengok sahabatnya. Meskipun banyak pertanyaan yang Andre ingin tanyakan ke Sahabatnya, namun dia berusaha untuk menahannya sampai Elvan sembuh dulu.
❤️❤️❤️
"Lan, si Elvan sakit? Lo udah nengok belum? Kita nengok siang ini aja yuk, kamu ikut juga ya yang!" ucap Andre. Andre sengaja berpura-pura tidak tahu jika Alana sudah putus dengan Elvan. Dia juga tak menceritakan hal ini kepada Wita, dia tak ingin jika Wita akan ikut-ikutan seperti Alana memutuskan hubungan dengannya.
"Sorry Dre...kayanya aku ga bisa deh! Salam aja sama Elvan, semoga lekas sembuh kembali!" ucap Alana membuat Wita mengerutkan keningnya. Kok bisa-bisanya Alana bersikap seperti ini, ga seperti biasanya akan langsung menengok Elvan. Lagi pula kenapa Alana tak tahu jika Elvan sakit.
"Tumben lo ga gercep! Biasanya denger cowok si Elvan sakit langsung deh nengok. Kalian lagi ada masalah?" tanya Wita menyelidik menatap ke arah Alana. Tentu saja membuat Alana salah tingkah. Cepat atau lambat perpisahan mereka pasti akan di ketahui. Dan akhirnya Alana memutuskan untuk mengungkapkan semuanya. Memberitahu jika dirinya dengan Elvan sudah putus dari kemarin. Dan tentu saja hal itu membuat Wita tersentak kaget merasa tak percaya.
__ADS_1
Wita merasa kaget mendengarnya, dia masih merasa percaya. Karna terakhir mereka bertemu di sekolah saat pengambilan rapot, hubungan Elvan dan Alana masih baik-baik saja, dan mereka masih terlihat romantis Dan Alana menceritakan jika kejadian ini terjadi sejak di acara ulang tahun Misella. Bahwa papinya Elvan tak menyukai dirinya dan Elvan mendampingi Misella di acara ulang tahun Misella. Hingga akhirnya memutuskan untuk pergi dari acara itu. Namun hubungan mereka berlanjut kembali, karna cinta mereka sangat besar. Dan puncaknya kemarin. Saat maminya Misella menghina dirinya, namun mami Dianti tak membelanya dan justru pulang dengan maminya Dianti tak menunggu dulu ibunya sampai selesai. Padahal Elvan sempat bilang ingin mengenalkan maminya dengan Ibunya. Lagi pula Alana berpikir lagi, jika derajat mereka sangat berbeda. Dirinya hanya orang biasa dan Elvan anak orang berada, terlebih anak suatu yang pastinya kedua orang tuanya bertumpu padanya. Dan Alana tak mau bersikap egois atau pun jahat, merebut Elvan dari kedua orang tuanya. Meskipun Elvan pernah berjanji kepada Alana, apapun yang terjadi Elvan akan mempertahankan hubungan ini. Dia pernah meyakinkan dirinya untuk berjuang bersama.
Andre dan Wita terus menyimak penuturan sahabatnya itu. Memang kondisi seperti itu sangatlah sulit, karna harus melibatkan kedua orang tua. Mereka tak bisa membantu terlalu jauh. Hanya bisa menguatkan Alana dan Elvan harus menerima rasa cinta yang begitu pahit, tak seperti rasa dari es cream yang rasanya begitu manis.