
Perpisahan sangat menyakitkan bagi dua orang yang sangat mencintai. Tapi semua ini memang untuk masa depannya kelak untuk keluarga kecilnya. Elvan juga ingin menjadi suami yang bertanggung jawab.
Kring...kring...
Suara ponsel Elvan berbunyi, membuat lamunan Elvan terhenti dan dia pun akhirnya langsung meraih ponselnya yang dia taro di atas nakas.
" Aku ga boleh menunjukkan kesedihan aku di depan Alana." gumam Elvan. Elvan memilih menghapus air matanya yang sempat menetes. Ini adalah hal pertama kali dirinya meneteskan air mata. Hatinya tak mampu menutupi rasa sedihnya. Rasanya dirinya belum sanggup untuk mengatakan ini pada pacarnya.
" Hai..." sapa Elvan saat mengangkat panggilan video call dari pacarnya.
Alana merasa aneh melihat wajah tak ceria pacarnya. Hingga dirinya mengerutkan keningnya. Karna hatinya merasa tak enak dan pikirannya mencoba berpikir keras tentang apa yang terjadi dengan pacarnya.
" Hai...mata kamu kenapa merah? Kamu habis menangis?" tanya Alana. Alana bukan hanya pintar tapi perasaannya sangat peka.
Elvan mencoba menyembunyikan, memilih berbohong dengan pacarnya. Dia mengatakan jika matanya habis kelilipan debu. Dan dia juga mengatakan, kalau dia itu cowok dan tak mungkin menangis. Dan Alana hanya ber oh ria meskipun hatinya masih penuh tanya, dia merasa ada sesuatu yang pacarnya rahasiakan.
" Tumben kamu hubungi aku duluan, kangen ya?" goda Elvan membuat Alana wajahnya memerah. Meskipun dia mencoba mengelak tapi respon wajahnya tak bisa menutupi. Sampai saat ini hanya Alana yang bisa buat dirinya tersenyum, membantu dirinya terlepas dari kegundahan hati.
Deg
__ADS_1
Jantung Elvan tiba-tiba berpacu sangat cepat, hatinya tersentak kaget saat pacarnya membahas tentang rencana melanjutkan kuliah ke mana. Nafasnya terasa sesak. Sungguh ini cobaan terbesar dalam hidupnya, harus terpisah dengan orang yang sangat dia cintai.
" Entahlah, aku juga masih bingung han. Kan masih ada satu tahun lagi. Kalau kamu memang ada rencana melanjutkan kuliah ke mana?" tanya Elvan mencoba bersikap biasa. Dia merasa tak tega harus mengungkapkan saat ini. Dia harus membicarakan hubungan dirinya dengan Alana pelan-pelan.
Alana menceritakan jika dirinya menginginkan melanjutkan ke Universitas Indonesia atau Universitas Padjadjaran. Dan jika ada kesempatan dia menginginkan mencoba mencari universitas di luar negeri yang menyediakan beasiswa untuk anak berprestasi. Oleh karena itu Alana akan berusaha untuk melanjutkannya.
" Mengapa Alana bisa sebegitu santainya mengungkap jika dirinya memiliki mimpi untuk mendapatkan beasiswa di universitas yang berada di luar negeri. Apa rasa sayangnya telah berkurang padaku, hingga tak ada perasaan berat sedikit pun untuk meninggalkan dirinya. Dan justru mengapa aku yang merasa berat jika harus berpisah darinya?" gumam Elvan. Apa memang dirinya saja yan terlalu berlebihan, karna takut berpisah dengan Alana.
" Jika aku yang seperti itu, gimana dengan kamu? Apa kamu akan meninggalkan aku, memutuskan hubungan kita? ucap Elvan mencoba menyelidik.
Alana menatap wajah pacarnya dengan seksama. Membuat netra mereka saling bertemu. Sungguh Elvan merasa tak sanggup, jika jawaban pacarnya itu adalah kata putus yang terbaik untuk mereka.
" Entahlah aku juga tak tahu apa yang akan terjadi saat nanti, karna aku sepertinya tak bisa jika harus menjalani long distance relationship. Apa kamu akan pergi meninggalkan aku?" sekarang Alana lah yang mencoba menyelidik. Tentu saja hal itu membuat Elvan tersentak kaget, tentang pertanyaan yang sangat mengena di hati.
\=\=\=\=
Elvan dan Alana kini sudah sampai di sekolah. Mereka kini sudah berada di kelas dan bersiap-siap untuk menerima pelajaran.
" Dua bulan lagi rencananya akan di adakan olimpiade matematika tingkat nasional. Dan jika menang, akan di ikuti kompetisi tingkat negara Asia. Dan rencananya dari kelas kita akan di wakilkan oleh Alana. Alana kamu siap ya? Tapi sebelumnya kamu akan bersaing dulu dengan beberapa sekolah yang berada di kota ini. Setelah berhasil memenangkan kejuaraan tingkat kota, dua bulan lagi kamu akan menjadi perwakilan dari kota kita yang akan bersaing dengan propinsi lain." jelas Mis Eva. Mis Eva adalah wali kelas Alana dan juga mengajar mata pelajaran matematika.
__ADS_1
" Kenapa harus Alana sih Bu? Ibu yakin ga akan malu-maluin? Sekolah kita kan banyak yang berprestasi juga, penampilannya lebih keren lagi ga katro seperti Alana." sahut Stefani. Stefani ternyata diam-diam menyimpan rasa iri pada Alana. Dan langsung mendapatkan sorakan dari teman-teman kelasnya. Bukannya semua mendukung sifat Stefani, justru mereka tak suka dengan apa yang di! lakukan Stefani. Karna bagi mereka, Alana memang pantas menjadi perwakilan dari sekolahnya. Kemampuannya tak perlu di ragukan lagi.
Dan tentu saja mendengar pacarnya di hina, Elvan merasa tak terima. Suasana kelas tiba-tiba saja menjadi riuh karna terdapat pro dan juga kontra.
" Sudah! Sudah! Berhenti! Kalian ini, kenapa jadi rame begini sih? Seharusnya kalian bangga, karna yang menjadi perwakilan yang sangat membanggakan ini dari kelas kita. Dan ingat Stefani, juri itu menilai dari otak, kemampuan berpikir bukan dari penampilan! Jadi ga sepantasnya kamu bicara seperti itu!" ucap Mis Eva membuat semua murid di kelas tak berani lagi mengeluarkan kata-kata termasuk Stefani.
🍀🍀🍀
Hari terus berganti, Alana terus berusaha keras untuk dapat memenangkan kompetisi tingkat nasional. Alana sudah terpilih menjadi pemenang di kotanya, tentu saja hal ini dapat mengharumkan nama sekolah. Namun bukannya ikut mendukung dan menerima Alana sebagai perwakilan sekolah untuk kompetisi matematika yang sangat membanggakan, justru mereka merasa iri karna tak suka jika Alana yang terpilih. Terlebih Elvan dengan setia mendampinginya. Membuat hubungan mereka semakin dekat. Seperti hari ini.
" Cape?" tanya Elvan saat pacarnya baru selesai latihan soal-soal. Alana menganggukkan kepalanya. Elvan memberikan satu botol air mineral untuk Alana. Dan menyuruh meminumnya.
Kini mereka sedang duduk berduaan di depan kelas tempat Alana selesai latihan. Elvan menemani Alana duduk untuk beristirahat dulu. Alana menarik nafas panjang dan membuangnya. Mencoba merilekskan otaknya yang terasa tegang.
Selang beberapa menit...
" Gimana sudah enakan? Mau pulang sekarang?" tanya Elvan yang kini matanya fokus ke arah pacarnya. Alana mengangguk kembali. Dan akhirnya memilih pulang.
" Nanti kalau kamu ikut lomba ke Singapura, aku akan ikut mendampingi kamu. Dan biar kita bisa jalan-jalan di sana." ujar Elvan sambil berjalan ke parkiran motor.
__ADS_1
" Ga usah kali yank! Aku ke sana kan cuma buat lomba, setelah selesai aku akan pulang kembali. Lagi pula aku mana punya uang untuk jalan-jalan ke sana. Kamu juga emang punya uang? Setau aku di sana itu mahal-mahal." sahut Alana. Sepertinya dirinya lupa jika pacarnya itu anak orang kaya yang uang jajannya cukup fantastis. Per hari 300 ribu yang bagi Alana uang segitu bisa buat satu bulan.
Jangan lupa dukungannya kakak 🙏🙏😍😄