Cintaku Tak Semanis Es Cream

Cintaku Tak Semanis Es Cream
Pertemuan penuh haru


__ADS_3

Kini Alana, Reynaldi dan kedua orang tua Elvan sudah berada di rumah sakit. Saat Alana menginjakkan kakinya dan melihat sekeliling rumah sakit, entah mengapa hatinya tiba-tiba saja merasa sesak dan bahkan kini wajahnya sudah terlihat pucat. Kini mereka sudah berada di depan ruangan Elvan berada.


"Itu Elvan! Silahkan kamu dulu yang masuk ke dalam, karna harus bergantian!" ucap Papi Adrian sambil menunjuk ke arah seorang cowok yang sedang terbaring lemah dan banyak di pasangkan alat medis di tubuhnya.


Alana menatap ke arah sang suami dan Reynaldi menganggukkan kepalanya sambil melepaskan genggaman tangan sang istri.


"Masuklah! Dia membutuhkanmu!" ucap Reynaldi. Reynaldi bersikap ikhlas menahan perasaan sesaknya untuk mempersilahkan sang istri menemui mantan pacarnya.


Alana melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan, dan menghampiri mantan pacarnya. Reynaldi hanya menatap sang istri dari luar jendela. Ternyata ikhlas sangatlah tak mudah. Mulut berkata ikhlas, tapi hati belum tentu sejalan.


"Rey, kamu ga boleh egois seperti ini! Bukankah kamu yang menyuruh istrimu menengok mantan pacarnya agar dia memiliki semangat hidup kembali?" ucap Reynaldi menguatkan hatinya. Tiba-tiba rasa takut kehilangan menghantuinya, dia takut jika sang istri akan di rebut kembali saat Elvan tersadar kembali.


❤️❤️❤️


Kini Alana sudah berada di dalam dan duduk di sebuah kursi yang letaknya sangat dekat dengan Elvan.

__ADS_1


"Assalamualaikum. Hai Van, Alana datang menengok kamu! Aku datang ke sini untuk memberi kamu semangat. Cepat sadar ya! Aku menunggu kamu!" ucap Alana. Alana berusaha untuk tegar. Padahal hatinya kini semakin merasa sesak karna harus melihat mantan pacarnya tak berdaya seperti itu, masih betah memejamkan matanya.


Mukjizat, benar-benar suatu mukjizat. Karna Elvan langsung terbangun dari komanya saat mendengar suara wanita yang dia cinta. Elvan menggerakkan jari-jari tangannya. Dan perlahan membuka matanya. Air matanya menetes, dia tak menyangka saat membuka mata Alana berada di sampingnya.


Air mata mengiringi pertemuan penuh haru mereka. Dan bahkan bukan hanya Alana dan Elvan yang tak kuasa menahan air matanya, kedua orang tua Elvan pun ikut meneteskan air mata. Terlebih sang papi yang kini semakin merasa bersalah karna telah memisahkan anaknya dengan wanita yang dia cintai, hingga akhirnya tragedi kecelakaan terjadi yang hampir saja merenggut nyawa sang anak. Ternyata cinta Elvan ke Alana sangat besar, hingga dirinya langsung membuka matanya.


"Hai, apa kabar? Lama kita tidak bertemu, dan kita harus bertemu di sini. Semoga kamu cepat sehat kembali!" ucap Alana, namun Elvan hanya diam. Hanya matanya yang terus memandang wanita yang masih dia cintai.


Elvan berusaha menggerakkan tangannya, mencoba meraih tangan Alana namun terasa kaku. Elvan menangis histeris karna kedua kakinya tak bisa di gerakkan.


"Kamu harus semangat untuk sehat kembali! Lihatlah di luar sana, kedua orang tua kamu mengharapkan kamu sehat kembali dan bisa berkumpul dengannya! Aku yakin Allah memiliki rencana lain untuk hidup kamu, ku mohon bersabarlah!" ucap Alana menenangkan.


Alana dapat merasakan bagaimana rapuhnya Elvan saat ini. Masa depannya hancur, percintaannya hancur, dan kini dirinya harus melewati hidupnya sebagai orang yang cacat.


"Untuk apa aku hidup, jika kamu tak bisa menjadi milikku? Aku benci orang tuaku! Mereka yang membuat aku seperti ini! Lebih baik aku mati, dari pada harus menderita seperti ini!" ucap Elvan histeris. Dan Alana tak mampu bicara. Karna apa yang di katakan Elvan memang benar. Hal itu membuat Alana merasa iba.

__ADS_1


"Meskipun kita tidak bisa bersama, aku masih mau kok jadi teman kamu! Sesekali aku akan menengok kamu, aku akan izin sama suamiku." ujar Alana yang masih terus memberi semangat, dia merasa tak melihat kondisi Elvan saat ini. Rasanya begitu saja melihat orang yang kita cintai sangat menderita. Ya...Alana masih mencintai Elvan meskipun kini cintanya kini lebih besar untuk suaminya. Elvan bukan lagi pangeran impiannya.


Elvan sekarang telah berubah, tak akan menjadi pria popular lagi. Bahkan di manakah Misella saat ini? Bukankah dirinya dulu berkata sang mencintai Elvan? Hanya Elvan yang dia cintai? Mengejar cinta Elvan dengan mati-matian? Di saat Elvan seperti ini, dirinya justru menghilang bagai di telan bumi. Menghilang begitu saja. Terbukti bahwa cintanya tidak tulus kepada Elvan. Kalau sudah begini siapa yang akan di salahkan?


Elvan masih terlihat tidak menerima kenyataan hidup yang baru dia hadapi. Yach...dia butuh waktu untuk semua ini. Tak semudah itu dia bangkit dalam kondisi lumpuh. Menikmati hari-harinya di kursi roda.


"Aku mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. Memang benar kata orang, bicara itu memang sangat mudah, tetapi dalam prakteknya rasanya sangat berat untuk kamu menjalani kehidupan selanjutnya! Maaf aku tak bisa hadir di hidup kamu terlalu jauh, karna aku sudah di miliki pria lain! Aku tak mungkin melukai hatinya! Yang mengangkat aku dari keterpurukan! Aku pamit! Semoga kamu lekas sembuh! Terima kasih sudah menjadi bagian penting di hidup aku! Terima kasih atas kasih sayang yang kamu berikan kepada aku selama ini!" ujar Alana. Alana bangkit dan pergi meninggalkan Elvan. Dia harus sadar, bahwa dia telah menjadi milik orang lain, pria yang sudah menunggu Alana di luar. Meskipun mulut Reynaldi berkata mengizinkan, tapi dia tetap hanya seorang manusia yang memiliki hati dan perasaan. Yang merasakan sakit, di saat sang istri bicara dengan orang masa lalunya.


Elvan hanya bisa memandang kepergian Alana. Dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Alana berpamitan pulang kepada kedua orang tua Elvan. Kedua orang tua Elvan mengucapkan terima kasih, karna berkat Alana, Elvan sudah terbangun dari tidur panjangnya. Selama enam bulan dirinya menunggu, dan baru hari ini Elvan terbangun. Dan semua ini karna kedatangan Alana.


Sebelum pergi, Alana melambaikan tangannya dari balik kaca, dia yakin di dalam sana Elvan melihat dirinya pergi. Air mata Elvan semakin mengalir deras, di saat melepas kepergian Alana bersama suaminya.


"Mengapa takdir begitu kejam padaku? Hingga aku harus merasakan sesakit ini. Alana aku masih sangat mencintaimu, mungkin melihat kamu bahagia dengan yang lain akan membuat aku ikut bahagia! Selamat jalan, semoga kamu meraih bahagia, meskipun bukan bersamaku!" ucap Elvan lirih.


Mami Dianti menghampiri sang anak, menghapus air mata yang telah membasahi. Hanya satu kata yang bisa dia ucapkan, yaitu sabar. Tapi bukankah selama ini Elvan selalu menjadi anak yang sabar? Yang selalu menerima perlakuan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya 🙏😍😄😘


__ADS_2