Cintaku Tak Semanis Es Cream

Cintaku Tak Semanis Es Cream
Kebahagiaan Misella


__ADS_3

Berbeda dengan Elvan yang sedang merasa galau karna pacarnya tak bisa di hubungi. Justru saat ini Misella bisa tersenyum bahagia. Dirinya baru saja mendapat kabar dari maminya. Kalau Alana di hina oleh papinya Elvan, dan Alana sudah memutuskan hubungannya.


"Sekarang kita lihat reaksi apa yang dilakukan Elvan saat mendengar Alana sudah memutuskan hubungan dengannya. Dan papinya juga telah menghina Alana." ujar Misella di iringi gelak tawa mewarnai kemenangan dirinya.


Misella sudah bersiap-siap dan akan menghampiri Elvan. Misella memutuskan untuk berpakaian sexy, bukankah di negara sekarang dia tinggal suatu hal yang biasa. Terlebih dirinya berharap jika Elvan akan tergoda dan melupakan Alana.


Misella menekan tombol bel apartemen Elvan dan Elvan membukanya. Tanpa di suruh Misella langsung masuk layaknya seorang wanita penggoda. Misella menduduki bokongnya dan mengajak Elvan untuk pergi.


"Sorry gw lagi males Sel! Gw masih merasa cape. Paling gw bikin pop mie aja kalau laper. Lo kalau mau makan, cari aja sana sendiri. Btw, penampilan Lo sekarang kenapa jadi seperti tante-tante girang begini. Ga salah tuh muka, jadi menor model badut Ancol begitu?" ujar Elvan membuat Misella merasa kesal dengan ucapan Elvan yang mengejeknya. Padahal dirinya berusaha berdandan cantik untuk memikat hati Elvan, eh sekarang dirinya malah di samakan dengan badut di Ancol dan Tante girang.


"Tahan emosi kamu Misella. Ini sebuah awal. Karna Elvan saat ini sedang galau memikirkan cewek sia*lan itu. Lambat laun Elvan pasti jatuh ke dalam pelukan kamu!" Misella mencoba menenangkan hatinya sendiri.


"Ga bagus Van makan pop mie begitu, nanti yang ada pas kita sudah mulai kuliah, kamu malah sakit." ujar Misella lembut. Elvan mencoba berpikir, dan benar apa yang dikatakan Misella. Dirinya harus bisa menjaga kesehatan, terlebih dirinya kini tinggal di negeri orang jauh dari kedua orang tuanya.


"Ya udah tunggu dulu! Gw mandi dulu!" ujar Elvan kepada Misella, dan Misella menganggukkan kepalanya. Elvan langsung bergegas untuk mandi. Perutnya pun terasa lapar.


Elvan keluar dengan menggunakan celana pendek sedengkul dan kaos oblong tak lupa dirinya memakai topi pemberian Alana dan juga switer.


"Sumpah ini cowok keren banget, cuma pakai gitu aja udah keren banget." gerutu Misella.

__ADS_1


Sebelum pergi, Elvan menyuruh Misella mengganti pakaiannya kalau ga memakai switer untuk menutupi pakaiannya yang kurang bahan. Karna Elvan merasa risih. Lagi pula sebagai teman, Elvan mencoba mengingatkan jika Misella harus bisa menjaga diri di negara bebas ini. Tentu saja Misella mengikuti ucapan Elvan. Dirinya merasa tersanjung dengan perhatiannya Elvan yang membuat dirinya salah paham.


Kini mereka sedang berada di sebuah restoran siap saji. Elvan memilih untuk makan di apartemen. Dirinya memesan makanan untuk sekarang dan sore. Karna dia malas jika harus keluar apartemen lagi. Elvan menyuruh Misella melakukan hal yang sama seperti dirinya.


Setelah menunggu hampir 45 menit, Elvan memilih untuk langsung pulang ke apartemen. Mereka hanya berjalan kaki, karna mood Elvan lagi buruk hingga dirinya malas untuk pergi jauh.


"Bahagia banget bisa berdua begini sama Elvan. Meskipun kaki gw harus merasa cape karna harus berjalan kaki, tapi hati gw bahagia banget. Justru malah terasa romantis." ucap Misella dalam hati. Sesekali dirinya melirik ke arah Elvan yang matanya fokus dengan jalanan sampai-sampai dirinya tersandung dan jatuh.


"Aww...sakit!" ucap Misella sambil meringis.


"Gimana sih Lo jalannya? Emang ga kelihatan tuh batu sebesar itu? Makanya jalan jangan Meleng! Lihat pakai mata!" umpat Elvan. Dan hal itu membuat Misella menangis. Karna Elvan sedikit membentaknya. Bukan merasa kasihan dengannya, dan malah marah dengannya. Dan akhirnya Elvan meminta maaf kalau dirinya membuat Misella tersinggung.


Elvan menyuruh Misella duduk dan dia menyiapkan makanan dan minuman untuk Misella. Bagaimanapun keluarga Misella telah menitipkan Misella kepadanya, dan tugas dirinya menjaganya. Tapi belum apa-apa dirinya telah membuat Misella terjatuh dan kakinya bengkak.


Suasana terasa hening. Elvan fokus dengan makanannya. Hal yang sama di lakukan Misella, meskipun sesekali dirinya melirik ke arah Elvan. Dan kini Elvan telah selesai makan.


"Ya ampun Sel, kaki Lo bengkak! Duh gw harus gimana ya? Soalnya kita kan di negara orang. Coba gw browsing dulu ya untuk meredakan kaki yang bengkak biar kaki Lo ga parah banget." ujar Elvan dan Misella hanya mengangguk. Dalam hatinya bersorak gembira. Ternyata jatuhnya ini membawa keberkahan. Elvan jadi perhatian padanya.


Setelah dirinya mendapatkan informasi dari google. Elvan mulai melakukan pertolongan pertama kepada Misella. Elvan membantu Misella untuk membaringkan tubuhnya di sofa dan sedikit mengangkat kakinya.

__ADS_1


"Aww..." ringis Misella.


"Sakit ya? Tahan dikit ya, biar meredakan memar di kaki Lo! Ngurangin bengkak." ucap Elvan lembut. Ini hal pertama kalinya bagi Elvan menyentuh tubuh dan kaki Misella.


"So sweet banget sih kamu Van. Bikin aku tambah cinta sama kamu." gumam Misella dalam hati sambil memandang wajah Elvan.


Dan gara-gara Elvan sibuk mengurus Misella, dirinya jadi melupakan sosok Alana yang sebelumnya hadir di pikirannya.


"Van, aku mau buang air kecil! Mau ke toilet!" rengek Misella. Tentu saja hal itu membuat Elvan merasa bingung. Tidak mungkin dirinya bertindak jauh harus membukakan segitiga pengaman milik Misella dan menemani dirinya di dalam toilet.


Dan akhirnya Elvan hanya membantu memapah Misella sampai depan pintu kamar mandi.


"Maaf aku cuma bisa bantu kamu sampai sini. Kita bukan muhrim. Kamu coba mencari sandaran di tembok aja ya!" ujar Elvan dan Misella membalas dengan senyuman.


Elvan menunggu Misella di depan pintu, menunggu sampai Misella keluar dari kamar mandi dan membantu memapah kembali ke sofa. Melihat keadaan Misella seperti itu, Elvan menjadi tidak tega menyuruh Misella pulang ke apartemennya. Tapi Misella hanya bisa tidur di sofa karna Elvan tak mengizinkan Misella tidur di ranjangnya.


Elvan memapah Misella kembali ke sofa.


"Kalau kamu mau menginap di sini, ga apa. Tapi maaf kamu cuma bisa tidur di sofa! Kalau besok kaki kamu masih bengkak, besok kita ke dokter aja biar cepat sembuh. Ingat dua hari lagi kita sudah mulai kuliah!" ujar Elvan dan Misella hanya mengangguk. Baginya membiarkan dirinya menginap di sini, Elvan mengurusnya sudah sangat bersyukur.

__ADS_1


"Ya udah kamu istirahat aja ya! Aku hubungi Alana dulu!" ujar Elvan dan tentu saja membuat Misella merasa sakit. Setelah di angkat ke tempat tertinggi, kini Elvan menghempaskan dirinya. Padahal Misella sudah sangat bahagia Elvan mengurusnya, tapi ujung-ujungnya Elvan teringat Alana kembali.


__ADS_2