Cintaku Tak Semanis Es Cream

Cintaku Tak Semanis Es Cream
Penawar kesedihan


__ADS_3

"Ga apa Dre, Wit gw balik sendiri aja!" ucap Alana berusaha terlihat tegar padahal hatinya terasa rapuh saat ini.


"Yakin Lan Lo ga akan kenapa-kenapa? Gw berdua kan udah janji sama Elvan untuk jaga Lo. Sabar ya Lan, gw ikut prihatin! Tapi emang Lo yakin mau berhenti berharap, putus sama Elvan?" tanya Andre. Mereka kini sedang duduk di bangku dekat parkiran mobil.


"Lo lihat kan gimana gw sekarang? Gw baik-baik aja kok. Kalau merasa sedih, wajar menurut gw. Secara hubungan gw sama Elvan bisa di katakan cukup indah, Elvan bisa membuat menjadi wanita yang lebih berarti, dan gw juga merasakan bahagia menjalani hubungan sama dia. Yach... meskipun kalian taulah, hubungan kami di bumbui rempah-rempah." sahut Alana sambil terkekeh. Padahal sejak tadi dirinya terus berusaha menahan air matanya agar tidak menetes.


"Udah sana Lo balik! Tar di tanyain lo sama bokap nya Elvan kalau Lo balikin mobil lama, di kira Lo nganterin gw pulang deh. Andre, Wita gw baik-baik aja kok, Lo berdua ga usah khawatir. Tenang aja nanti kalau gw ada apa-apa, gw pasti kabarin Lo! Untuk sementara gw ga mau bahas tentang hubungan gue sama Elvan." ujar Alana dan akhirnya Andre dan Wita pamit pulang dan hanya meninggalkan Alana sendiri.


Dan benar saja saat mereka pulang, satu persatu air mata Alana menetes membasahi wajahnya. Alana tak bisa menutupi perasaannya saat ini. Alana duduk termenung seorang diri, membayangi kisah cintanya yang cukup indah harus berakhir. Hanya kakinya sendiri yang bisa di jadikan dirinya untuk berpijak, tak ada lagi Elvan yang bisa menghapus kesedihan yang dia rasa.


"Alana..." teriak seorang cowok, memanggil namanya.


Alana menoleh mencari sumber suara. Dan pandangannya terhenti saat melihat Reynaldi yang sedang berjalan menghampiri dirinya. Dengan cepat Alana menghapus air mata yang membasahi wajahnya, dia tak ingin kak Reynaldi melihat dirinya bersedih.


"Tolong kamu masukkan barang-barang saya! Saya akan mengobrol dulu dengan wanita ini!" titah Reynaldi kepada supirnya. Reynaldi baru saja pulang dari kunjungannya ke kantor cabang di Yogyakarta. Reynaldi di jemput oleh supirnya. Alana menoleh ke arah Reynaldi yang sedang berbicara dengan supirnya, dan tercengang melihat mobil Alphard yang Reynaldi kenakan.


"Apa itu mobil kak Reynaldi? Kenapa dia bilang kalau dirinya hanya pegawai staf biasa? Apa dia membohongi aku?" gumam Alana dalam hati. Serentetan pertanyaan muncul di benaknya.

__ADS_1


Setelah bicara dengan supirnya, Reynaldi langsung menghampiri Alana. Dia duduk di sebelah Alana.


"Kamu ngapain di sini? Sama siapa? Dunia benar-benar sempit ya? Dan benar kan kata aku, untungnya waktu itu kita sempat kenalan kalau tidak kamu akan menabrak aku untuk ketiga kalinya." ucap Reynaldi sambil terkekeh dan akhirnya Alana ikut terkekeh.


"Aku habis nganter teman aku yang melanjutkan kuliah di Inggris. Aku baru mau pulang kak. Oh ya kakak ngapain di sini?" tanya Alana balik.


Reynaldi hanya ber oh ria dan mau terlalu bertanya terlalu jauh. Reynaldi menceritakan jika dirinya baru saja pulang dari Yogyakarta, di suruh bosnya. Dan akhirnya Reynaldi mengajak Alana untuk pulang bareng. Reynaldi mengatakan jika dirinya di jemput oleh supir bos nya. Alana akhirnya pulang bareng Reynaldi.


"Kalau kita ke Ancol dulu dan makan seafood mau ga?" ujar Reynaldi dan Alana mengangguk setuju. Alana menganggap Reynaldi seperti kakaknya sendiri, entah mengapa dirinya merasa nyaman. Sepanjang perjalanan mereka asyik mengobrol. Reynaldi mampu membuat Alana tersenyum dan melupakan sejenak kesedihannya. Obrolan mereka harus terhenti, karna Wita menghubungi Alana. Menanyakan Alana di mana. Karna Wita dan Andre merasa khawatir.


"Kak maaf sebentar aku angkat telepon teman aku dulu!" ucap Alana dan Reynaldi mengangguk.


"Kamu kenapa berbohong? Memangnya siapa tadi yang telepon? Malu ya ngomong pergi sama aku? Karna aku lebih tua?" ujar Reynaldi.


"Ih, apaan sih kak. Aku bukannya malu, cuma aku ga mungkin cerita sama mereka saat ini. Mereka kan ga kenal kakak, yang ada nanti mereka salah paham. Kata siapa aku malu, aku justru senang kok dekat sama kakak. Dan kata siapa kakak tua? Kakak tuh masih seperti seumur aku tau, kakak ganteng." sahut Alana dengan polosnya. Seperti layaknya seorang adik yang lagi merayu kakaknya yang ngambek.


Alana tak tau apa yang di rasa Reynaldi saat ini. Hatinya kini bertaburan bunga-bunga yang bermekaran. Hatinya merasa senang karna mendapatkan pujian dari Alana. Reynaldi merasa tersanjung.

__ADS_1


"Jadi kamu yakin, kalau suatu saat nanti kamu akan mengenalkan aku ke teman-teman kamu?" tanya Reynaldi menyelidik.


"Iya...suatu hari nanti aku akan mengenalkan kakak sama mereka. Aku akan cerita kalau kini aku sudah memiliki kakak cowok." sahut Alana.


Nyes


Hati Reynaldi terasa sakit. Di saat dirinya merasa bahagia karna Alana memuji dirinya, kini dirinya merasakan terlempar dengan ucapan Alana yang menganggap dirinya sebagai kakak cowoknya.


Obrolan mereka harus terhenti, karna mereka telah sampai di sebuah restoran seafood yang besar di daerah Ancol. Alana turun lebih dulu. Sedangkan Reynaldi masih berbicara dengan supirnya. Dia mengajak supirnya untuk makan bareng, tapi sang supir tak mau karna malu masuk restoran. Dan akhirnya Reynaldi memberikan satu lembar uang berwarna merah untuk sang supir makan di luar. Reynaldi mempersilahkan sang supir untuk pergi, asalkan saat dia telah selesai sang supir segera kembali.


Alana dan Reynaldi berjalan berdampingan. Memang terlihat sekali mereka seperti kakak adik. Reynaldi tetap terlihat lebih dewasa dari Alana. Kini mereka sudah duduk di kursi yang khusus untuk dua orang saja.


"Kak, sepertinya makanan di sini mahal-mahal ya? Soalnya restorannya mewah, pengunjungnya juga seperti bukan orang sembarangan. Kakak yakin mau makan di sini? Aku jadi ga enak sama kakak, nanti yang ada uang saku kakak dari tugas luar langsung habis. Kita makan pop mie aja kak di pinggir pantai!" ujar Alana membuat Reynaldi tersenyum. Dirinya jadi merasa bersalah kepada Alana karna telah membohongi Alana, kalau sebenarnya dia bukan seorang staf di perusahaan itu tapi dirinya ada pemilik dari perusahaan itu.


"Kamu pokoknya tenang aja, ga usah mikirin bayarnya! Tugas kamu pilih makanan kesukaan kamu. Urusan bayar, jadi urusan kakak!" sahut Reynaldi dan Alana mengangguk.


Reynaldi terus memandang wajah Alana yang sedang sibuk membaca daftar menu. Senyum bahagia terbit dari bibir Reynaldi, sepertinya dia merasakan jatuh cinta kembali.

__ADS_1


Deg


Jantung Alana berpacu dengan cepat saat netra mereka saling bertemu. Dan dalam hitungan beberapa menit mereka saling memandang. Sampai akhirnya tatapan mereka terhenti karna ponsel Reynaldi berbunyi dan ternyata Handi yang menghubungi sang kakak. Menanyakan keberadaan sang kakak.


__ADS_2