Cintaku Tak Semanis Es Cream

Cintaku Tak Semanis Es Cream
Kepergian orang yang di cintai


__ADS_3

"Hiks...hiks...besok Elvan akan pergi meninggalkan aku." ucap Alana sambil terisak tangis. Dia tak bisa membayangkan nasibnya dia selanjutnya akan seperti apa tanpa kehadiran orang yang selalu ada untuknya.


Sama halnya Dengan Alana yang sedang nangis Bombay, Elvan pun melakukan hal yang sama. Dia merasa sangat sedih karna harus meninggalkan wanita yang dia cintai.


"Ih kamu kaya cewek aja sih, nangis terus! Memang di awal mungkin kamu akan terasa berat, tapi lama kelamaan pasti kamu akan mulai terbiasa. Kalian itu masih sangat muda, pasti masih sangat labil. Sekarang bilang cinta, beberapa bulan lagi pasti bisa lupa. Apalagi kalian harus terpisah jarak dan waktu yang cukup lama. Nanti kamu pasti menemukan orang baru, terlebih hari-hari kamu akan bersama Misella. Alana pun demikian, bisa saja dia melupakan kamu dengan hadirnya orang baru di kehidupannya." ucap mami Dianti membuat Elvan merasa marah mendengar ucapan maminya.


"Kok mami jadi ga mendukung aku gini sama Alana sih. Dan justru sekarang malah mendukung Misella gitu. Aku tuh cintanya sama Alana, dan aku yakin Alana juga ga akan seperti itu! Pokoknya sampai kapan pun Elvan hanya mau Alana, titik!" ucap Elvan ketus.


❤️❤️❤️


Hari yang di nanti telah tiba, Alana akan mengantarkan kepergian Elvan ke Bandara. Dia tidak peduli dengan cemoohan papinya Elvan, Misella dan maminya Misella nanti. Elvan meminta tolong Wita dan Andre untuk menemani Alana. Alana telah sampai di rumah Elvan bersama Wita dan Andre. Andre memarkirkan motornya di parkiran Elvan. Karna Andre yang akan membawa mobil Elvan, mengantarkan Elvan ke Bandara bersama Alana dan Wita.


"Mau ngapain kamu di sini? Lebih baik kamu tinggalkan Elvan, dan jangan ganggu dia! Sampai kapanpun jangan pernah bermimpi kamu bisa bersama anak saya! Karna setelah Elvan dan Misella lulus kuliah, mereka akan menikah! Kamu tidak pantas untuk anak saya!" ucap papi Adrian ketus.


Terlihat Alana ingin membalas perkataan papi Adrian, tapi Elvan langsung memberi kode kepada pacarnya itu untuk tidak menanggapi ucapan papinya. Dan anggaplah seperti angin lalu. Hingga akhirnya Alana menghela nafas panjang untuk mengatur emosi di dalam hatinya. Hatinya terasa geram mendengar penghina papinya Elvan. Meskipun di awal dirinya akan menangis dan sedih, tapi dia bisa melakukan hal itu kepada Elvan.


"Udah sih Pi! Kenapa harus merusak mood aku? Aku sebentar lagi mau berangkat, kenapa ga mau buat aku bahagia sih!" ujar Elvan dan akhirnya papi Adrian mengerti. Anggap saja Alana adalah teman dekat Elvan seperti Andre dan pacarnya Andre. Mengantar kepergian temannya yang akan melanjutkan pendidikan di luar negeri.

__ADS_1


Kini mereka dalam perjalanan menuju Bandara. Tapi papi Adrian memilih naik mobil sendiri dengan sang istri. Dia tak sudi harus satu mobil dengan Alana. Kedua orang tua Elvan dan Misella hanya akan mengantar kepergian anak-anaknya sampai Bandara.


Elvan memilih duduk di belakang bersama Alana. Dan Wita menemani Andre duduk di depan.


"Jaga diri Lo baik-baik sob di negeri orang! Ingat godaan pasti akan semakin banyak! Sukses bro untuk pendidikan Lo, semoga Lo bisa jadi orang sukses!" ucap Andre sambil tangannya masih menyetir dan pandangannya lurus ke depan, hanya sesekali melirik ke arah belakang.


"Thanks bro, sukses juga buat kalian semua! Wit, Dre gw titip calon istri gw ya!" ujar Elvan. Andre dan Wita menunjukkan jempolnya.


Elvan langsung membawa pacarnya dalam dekapannya lagi.


"Aku pasti sangat rindu masa-masa kebersamaan kita selama ini, rindu senyum manis kamu, dan rindu perhatian kamu." ucap Elvan sambil masih memeluk pacarnya erat.


"Udah tenang aja bro Lo di sana, semua akan baik-baik saja di sini! Lo ga usah khawatirkan Alana di sini, gw yakin Alana cewek yang setia. Dia ga akan meninggalkan Lo, kalau Lo bisa setia menjaga hati Lo!" ucap Andre dan Elvan menganggukkan kepalanya.


Tak terasa mobil yang membawa mereka telah sampai di Bandara, rasa sesak semakin menyelimuti perasaan dua insan yang akan berpisah.


Elvan turun dan menggenggam tangan Alana, dia tidak peduli dengan papinya, Misella, dan kedua orang tua Misella. Elvan terlihat gagah, menggenggam Alana dengan bangganya. Tentu saja hal itu membuat Misella merasa geram dan memberikan tatapan tajam ke arah Alana.

__ADS_1


"Sekarang kalian masih bisa saling menggenggam, tapi aku pastikan saat Elvan kembali, aku lah yang akan di genggam Elvan." ucap Misella.


Suasana terasa tegang. Karna maminya Misella langsung mengeluarkan pendapatnya. Dia tak terima dengan kedatangan Alana dan melihat Elvan terus menggenggam tangan Alana.


"Pergi kamu dari sini! Ganggu acara kami saja! Kamu tak pantas berada di sini! Elvan lepasin tangan kamu! Kamu menyakiti anak Tante! Ingat kamu itu sudah jadi milik Misella!" ucap mami ya Misella. Sempat terjadi keributan antar maminya Misella dengan Elvan. Elvan merasa tak terima pacarnya di hina. Sampai saat ini Elvan masih menganggap hanya Alana pacarnya, dan Misella bukanlah siapa-siapanya.


Untungnya papi Emir mengingatkan sang istri, karna saat ini mereka ada di Bandara. Tak boleh membuat keributan. Elvan pun mencoba menjauh mencari tempat untuk dirinya duduk bersama Alana, Wita, dan juga Andre.


"Aku ke toilet dulu ya!" ucap Alana. Elvan menyuruh Wita untuk menemani Alana, Elvan merasa takut jika kejadian dulu si sekolah akan terjadi kembali.


"Ngapain tuh ulat keket ngikutin mereka?" gumam Andre, Andre membisikkan kepada Elvan bahwa Misella mengikuti Alana dan Wita. Tentu saja hal itu membuat Elvan merasa geram dan menyusul ke toilet. Dia tak ingin Alana di sakiti Misella.


Kedua orang tua mereka tak memperhatikan jika anak-anak mereka satu persatu menghilang. Kalau Misella memang bilang kepada maminya kalau dia mau ke toilet. Dan benar saja Misella hampir saja melayangkan tamparan ke wajah Alana, namun Elvan lebih dulu menarik tangan Misella.


"Berapa kali gw bilang, jangan pernah ganggu Alana tapi Lo ga pernah dengar ucapan gw! Gw juga udah selalu bilang sama Lo, kalau gw ga cinta sama Lo. Kenapa sih Lo masih maksa terus, kaya Lo ga laku aja sih! Berani Lo menyakiti Alana, gw ga akan pernah pedulikan Lo di sana!" ancam Elvan membuat Misella merasa takut dan langsung pergi meninggalkan mereka.


Alana meneteskan air mata, yang sejak tadi dia tahan karna penghinaan yang bertubi-tubi kepadanya. Ternyata mencintai dan memiliki seorang Elvan sangat berat perjuangannya. Hingga dirinya ingin berhenti berharap, tapi Elvan masih saja terus menguatkan. Cinta yang kuat karna perjuangan yang luar biasa.

__ADS_1


Sudah hari Senin, boleh donk author minta vote nya. Terima kasih yang sudah mendukung karya ini😍😘😄🙏


__ADS_2