
"Sayang...kamu belum siap-siap? Hari ini kita kan mau nengok Elvan sekalian aku mau mengobrol dengan papinya. Ku rasa harus secepatnya bertemu sebelum waktunya terlambat!" ujar Reynaldi.
"Kamu seriusan mas mau nemuin mereka?" tanya Alana.
"Loch memangnya kenapa? Bukankah aku sudah bilang tentang rencana ini? Aku kalau sudah niat, pasti akan aku jalanin." sahut Reynaldi membuat Alana merasa salut dengan sifat suaminya.
Kini mereka sedang dalam perjalanan ke rumah Elvan. Tak lupa mereka sempat membeli parcel buah untuk Elvan dan keluarga. Alana sesekali melirik ke arah sang suami yang fokus menyetir dia merasa beruntung memiliki suami seperti Reynaldi. Bukan hanya peduli dengan dirinya dan keluarganya, tapi juga sangat peduli kepada orang lain.
"Kenapa lihatin aku terus? Cinta ya?" goda Reynaldi dan Alana menganggukkan kepalanya. Bagaimana Alana tak jatuh cinta jika suaminya selalu memperlakukan dirinya sangat istimewa.
Alana terus mengarahkan suaminya menuju rumah Elvan, kini mereka telah sampai di depan rumah Elvan. Alana memilih untuk turun dan mengucap salam.
"Semoga niat tulus ku untuk mendekatkan kamu lagi, itu yang terbaik." gumam Reynaldi. Dia mencintai Alana bahkan sangat mencintai Alana tapi entah mengapa dia ingin hubungan Alana dan keluarga Elvan kembali membaik. Karna bagi Reynaldi, tak baik jika terus menerus memendam perasaan sakit hati atas perbuatan papinya Elvan. Terlebih perbuatannya dulu sudah terbalaskan.
Sang art membukakan pintu pagar agar Alana dan Reynaldi bisa masuk. Alana menunggu Reynaldi memarkirkan mobilnya terlebih dahulu dan mereka masuk bersama ke dalam.
"Suatu kehormatan sekali kalian datang ke rumah kami. Ayo silahkan masuk Tuan Reynaldi dan nyonya Reynaldi!" sapa Papi Adrian sangat ramah.
"Jangan bicara seperti itu pak! Panggil saya Reynaldi saja." sahut Reynaldi sambil menduduki bokongnya.
Meskipun Reynaldi masih sangat muda, namun dia termasuk pengusaha yang sukses. Wajar jika Papi Adrian sangat mengagungkan Reynaldi. Terlebih Reynaldi kelak akan menjadi Dewa penolong untuknya.
__ADS_1
"Gimana kabarnya Elvan pak?" tanya Reynaldi membuka pembicaraan dan Alana memilih untuk diam duduk di sebelah suaminya.
"Kondisinya masih sangat memprihatinkan, belum ada perubahan. Ada yang menyarankan untuk pengobatan di Singapura, dia bilang penyembuhannya bisa lebih cepat. Karna itu terjadi kepada keluarganya. Dulu mengalami lumpuh permanen, namun karna berobat di sana lama kelamaan saudaranya dia normal kembali. Memangnya biayanya ga murah." ungkap Papi Adrian. Reynaldi dan Alana hanya manggut-manggut menyimak ucapan papi Adrian.
"Seperti suara Alana di luar? Tapi mana mungkin Alana di sini? Mungkin aku hanya berhalusinasi saja, karna selalu memikirkan dia." ucap Elvan lirih. Padahal sebenarnya memang ada Alana di bawah.
❤️❤️❤️
"Pak bisa kami bertemu Elvan, sudah lama kami tak melihatnya?" tanya Reynaldi. Entah mengapa dia ingin sekali melihat langsung kondisi Elvan. Alan tak mengerti mengapa suaminya bisa sangat peduli sama sekali dengan Elvan, tak ada sedikitpun perasaan kaku.
Dan akhirnya Alana dan Reynaldi di ajak papi Adrian naik ke atas ke kamar Elvan.
"Kamar ini yang menjadi saksi bisu kebersamaan kami. Hampir saja dulu dia mengajak aku bercinta. Untungnya hal itu tidak pernah terjadi, kalau iya aku akan menyesali seumur hidupku." gumam Alana. Berat rasanya Alana ikut masuk ke dalam. Tapi Reynaldi menggenggam tangannya mengajaknya masuk. Senyuman dari Reynaldi menguatkan hati Alana. Reynaldi yakin jika istrinya masih memiliki cinta untuk mantan pacarnya.
"Hai...Elvan. Gimana kabarmu? Maaf kami baru sempat menengok kamu sekarang." sapa Reynaldi dengan ramah. Reynaldi duduk di pinggir ranjang Elvan tidur. Dia terlihat seperti dekat dengan Elvan sampai-sampai papi Adrian dan Alana merasa terharu. Reynaldi memang luar biasa.
"Hai juga, kondisi aku masih seperti ini kak. Mungkin sampai kapan pun akan seperti ini." sahut Elvan lirih.
"Jangan berkata seperti itu, karna kita ga akan pernah tau apa yang akan terjadi pada kita kelak! Kita harus tetap semangat dan yakin jika suatu saat nanti impian kita akan tercapai! Selama matahari masih bersinar di pagi hari, bintang dan bulan menerangi di malam hari yakin lah Allah itu ada. Teruslah berdoa karna hanya dia lah yang berkehendak. Jika menurut manusia tak mungkin, tapi bagi Allah semua mungkin terjadi." ujar Reynaldi membuat Elvan tersenyum getir. Karna saat ini Elvan memasrahkan hidupnya, tak ada lagi semangat di hidupnya. Karna baginya, hidupnya sudah hancur. Dan tak akan pernah berubah.
Alana memilih menundukkan pandangannya, dia merasa tak tega melihat kondisi pacarnya sekarang ini. Elvan benar-benar sudah tak berdaya.
__ADS_1
"Elvan ucapkan terima kasih karna kakak mau menyempatkan menengok aku! Maaf kalau aku banyak ngerepotin kakak! Aku ikut bahagia melihat kakak sama Alana hidup bahagia, tolong titip Alana ya kak! Cintai dia seperti aku mencintai dia!" ucap Elvan sambil matanya mengarah ke Alana. Reynaldi menganggukkan kepalanya dan membalasnya dengan senyuman meskipun ada rasa sakit yang menggores di hatinya.
"Semoga Allah cepat mengangkat penyakit kamu ya! Kakak doakan semoga kamu bisa sehat kembali seperti dulu! Tetap semangat! Jangan menganggap hal itu tak mungkin! Ya udah kami pamit ya! Next time kami akan ke sini lagi." ujar Reynaldi dan Elvan menganggukkan kepalanya. Meskipun hatinya berkata hal yang di ucapkan Reynaldi tak mungkin terjadi. Reynaldi menggandeng tangan Alana keluar kamar, meninggalkan Elvan.
Kini mereka sudah berada di ruang tamu untuk melanjutkan perbincangan yang sempat terputus. Mami Dianti pun ikut mendampingi sang suami.
"Baiklah om, saya ingin menyampaikan maksud kami mengunjungi rumah om. Selain ingin menengok Elvan, saya juga untuk menanyakan lebih pasti tentang perbincangan om dengan istri saya waktu itu. Kalau boleh tau, perusahaan om namanya apa? Dan lokasinya daerah mana? Dan permasalahan yang om alami saat ini apa?" ucap Reynaldi membuka pembicaraan.
Papi Adrian mulai menjawab satu persatu semua pertanyaan Reynaldi. Dan Reynaldi mencoba menyimak pembicaraan papi Adrian.
"Lantas tujuan om untuk perusahaan itu apa?" tanya Reynaldi memastikan.
"Saya ingin menjual perusahaan tersebut kepada kamu. Karna saya sudah tidak mampu membiayai perusahaan itu. Bisa di katakan saya mengalami kebangkrutan. Namun saya tidak tega dengan para karyawan yang selama ini sudah setia pada perusahaan tersebut. Saya sudah hancur-hancuran Rey. Bahkan untuk membiayai anak saya ke luar negeri saya tidak mampu! Saya menyesal dulu sangat sombong. Hiks...hiks..." ucap Papi Adrian di iringi Isak tangis. Dia tak bisa menutupi kesedihannya atas rasa sesal yang dia rasa.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, terima kasih kalian masih setia dengan karya ini.😍😘🙏
Mampir juga yuk di karya author lainnya, dan jangan lupa beri dukungan 🙏
__ADS_1