Dandelion Motel

Dandelion Motel
Jauhi Saya!


__ADS_3

Hari ini Rosaline merasa lega karena hampir sepanjang hari ini dia tidak bertemu dengan Leon, pria menyebalkan yang selalu membuatnya naik darah setiap kali mereka bertemu.


Tapi itu tidak berlangsung lama sampai dia menerima sebuah pesan singkat. "Maaf sayang hari ini kita tidak bisa bertemu, tapi sebagai gantinya aku mengirimkan beberapa bodyguard untuk menjagamu dari nyamuk-nyamuk." tulis Leon.


Dan benar saja tak berapa lama beberapa orang suruhan Leon berjaga di motelnya dan mereka terus membuntuti ke manapun Rosline pergi.


Pada awalnya Rosaline mencoba mengabaikannya, namun sekarang dia benar-benar sudah naik pitam.


"Di mana bos kalian?" tanya wanita itu geram.


.


.


.


Rosaline datang ke kantor Leon diikuti orang-orang suruhannya. "Di mana ruangan tuan Leon?" tanya wanita itu pada salah satu karyawan perusahaan.


.


.


.


Rosaline tiba di depan sebuah ruangan dan langsung membuka pintu tanpa mengetuk. Di dalam sana dia melihat Leon sedang asyik berciuman dengan seorang wanita.

__ADS_1


Suatu perasaan ganjil menyeruak di hatinya, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dadanya sakit seakan tertusuk duri, mungkinkah ini rasa cemburu seorang Rosaline?


"Woww....." seru Rosaline. Leon setengah terperanjat melihat kedatangan Rosaline yang secara tiba-tiba dan menghentikan kegiatannya. "Rosaline?"


"Ambil orang-orangmu dari tempatku!" perintah wanita itu dengan tatapan datar.


Lalu dengan santai pria itu berjalan ke arahnya. "Kenapa, mereka akan menjagamu dari para baji***n saat aku tak ada bersamamu."


"Menjagaku dari para baji***n? Chh, apa anda tidak bercermin,tuan? Anda sendiri telah melanggar syarat dari saya yang telah anda setujui sebelumnya." sambil melirik sinis ke arah wanita lain yang masih berada di ruangan itu. Dan wanita itu kini hanya terduduk santai dengan senyuman menyeringai.


"Apa kau sedang cemburu?" ucap Leon dengan senyuman miring.


"Tidak, hanya saja saya menyesal telah memberi anda kesempatan." kilahnya.


"Sangat menggemaskan saat melihatmu marah seperti ini, nona." ujar pria itu menggoda.


Rosaline hendak berlalu saat tangan Leon menjegalnya, " Tapi ini bukan kencan. Aku hanya bersenang-senang denganya." timpah pria itu dengan wajah tanpa bersalah.


"Ya anda benar, saya tidak pernah melarang anda untuk bersenang-senang dengan wanita seperti mereka, karena berkencan dengan saya sangat membosankan. Silahkan anda lanjutkan kembali. Bawa orang-orang anda dari tempat saya, dan saya harap kita tidak bertemu kembali." tegasnya.


Rosaline meninggalkan Leon yang masih mematung di depan pintu sebelum pria itu mencoba menyusulnya.


"Aku mencintaimu." teriaknya pada Rosaline yang sedang menuruni tangga dan menarik perhatian para karyawan yang berada di sana, seolah mereka sedang menyaksikan pertunjukan teater gratis.


Sejenak wanita itu menghentikan langkahnya, menarik nafas dan mengeluarkannya dengan kasar lalu meneruskan langkahnya kembali.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Rosaline." teriak pria itu lagi.


Wanita itu masih tidak menghiraukannya dan terus melangkah menuruni tangga.


Kali ini pria itu berhasil mengejarnya, kini mereka saling berhadapan satu sama lain.


"Aku bilang aku mencintaimu, kenapa kau malah pergi? Bukankah itu yang kau inginkan?" ucap Leon.


Rosaline melipatkan kedua tangan di atas dadanya dan menatap pria itu dengan tajam.


"Pikirkan kembali, tuan! Apa yang anda katakan dengan apa yang ada di hati anda itu sangat berbeda. Apa kau tahu? Seorang wanita selalu bisa menerima baik-buruk masa lalu seorang pria. Tapi ketika seorang wanita telah rusak? hanya beberapa pria saja yang bisa menerima baik-buruk masa lalunya dan mau membawanya keluar dari sisi gelap kehidupannya, kebanyakan dari mereka hanya menikmatinya. Sama seperti anda, hanya ingin menikmati." terang wanita itu.


"Jangan hanya karena saya berpenampilan seperti mereka lantas anda mengganggap saya sama dengan mereka dan berharap bisa menikmati saya. Saya berbeda, tuan. Saya bukan mereka!" tegasnya lagi.


"Atau mungkin karena status saya sebagai anak dari seorang narapidana yang membuat anda menjadikan saya sebagai bahan lelucon? Jika anda ingin bersenang-senang silahkan saja, tapi tolong jauhi saya!"


Leon hanya bisa terdiam seribu bahasa. Kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu seperti hantaman besar yang menimpanya. Dan apa, anak seorang narapidana? Pria itu benar-benar tidak mengerti dan masih berusaha mencerna perkataannya.


Rosaline kini sudah benar-benar melangkah keluar dari kantor itu meninggalkan Leon yang masih berdiri mematung.


Perasaan menyesal menyeruak di hati wanita itu. Tak seharusnya dia mengujinya, menguji seorang Leon.


Tak seharusnya dia menerima ajakan Leon untuk berkencan, padahal dia bisa saja menolaknya saat itu juga. Tanpa sadar dia sudah berharap pada pria itu dan membuatnya harus terjerumus dalam lingkaran hubungan seperti ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2