Dandelion Motel

Dandelion Motel
Hasrat yang tertunda


__ADS_3

"Aku menginginkanmu, Rosaline." bisik pria itu sejenak melepaskan pagutannya, memberi jarak untuk mengembalikan nafas mereka.


Wanita itu terdiam menatap manik kekasihnya dengan tatapan sayu.


"Tapi aku tidak mau bercinta di rumah sakit, tuan Leon." jawab Rosaline.


Mereka berdua tergelak bersama menyadari kalau mereka sedang berada di ruang perawatan dan siapapun bisa masuk ke sana memergoki.


Leon membangunkan Rosaline perlahan hingga wanita itu kembali terduduk.


"Haruskah aku meminta ijin pulang sekarang juga?" goda Leon membuat Rosaline memicingkan matanya.


"Tidak sebelum kau benar-benar pulih." timpahnya.


"Lihat lah, karena kau datang aku mendadak jadi segar bugar. Kau itu seperti vitamin untukku." ucap pria itu sambil memeluk Rosaline yang duduk di sampingnya lalu mengecup pipi kekasihnya itu dengan lembut.


Tiba-tiba Bobby masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk di tengah kemesraan mereka.


"Sepertinya aku harus kembali nanti." ucap pria itu dengan ekspresi canggung dan hendak berlalu.


"Masuklah tuan, tidak apa-apa." ujar Rosaline mencegahnya.


"Maaf aku masuk di waktu yang kurang tepat." ucapnya lagi sambil melirik Leon yang terus memelototinya.


"Wah, ternyata keputusanku untuk memberitahu Miss rose tidak sia-sia. Kau jadi lebih sehat setelah bertemu dengannya." ujar pria itu mencoba mencairkan suasana tapi malah keceplosan.


"Sudah ku duga pasti kau yang sudah membocorkan rahasia. Kau benar-benar tidak bisa dipercaya." gerutu Leon.


"Jangan salahkan tuan Bobby. Aku yang sudah memaksanya." bela Rosaline.


"Wah, kau melarangku membela adikmu dan sekarang kau membelanya." Leon sedikit kesal.


"Tentu saja, berkata jujur itu lebih baik dari pada berbohong. Lagipula kita impas, kau sudah membuat adikku lebih memihakmu dan sekarang aku akan mengambil orangmu sebagai gantinya." timpah wanita itu tidak mau kalah.


Bobby mengangguk-nganguk sambil tersenyum senang karena ada yang membelanya.


"Aishh, ada apa kau kemari? Cepat katakan dan enyah dari sini!" gerutu Leon pada Bobby.


"Oh iya aku hampir lupa, padahal aku ingin menyampaikan kabar baik. Dokter bilang besok kau sudah boleh pulang."


Leon melirik ke arah Rosaline dengan senyuman penuh arti, sementara wanita itu membalasnya dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.


.


.

__ADS_1


.


Keesokan harinya Rosaline pulang bersama Leon ke motelnya.


Dia benar-benar marah dan mengusir Dante dari rumah. Leon yang ada di sana memberikan kunci apartementnya untuk ditinggali Dante sementara waktu sampai kemarahan kakaknya mereda. Alih-alih sedih karena diusir, Dante malah senang bukan kepalang.


"Aishhh, bocah itu." dengus Rosaline.


"Berhentilah memarahinya." pinta Leon.


"Dan kau harus berhenti membelanya." timpah wanita itu


"Karena aku tidak suka berbagi kamar dengan pria jadi aku akan menginap di sini." ujar pria itu bersemangat.


"Terserah, tidurlah di kamar Dante. Jangan harap bisa masuk ke kamarku." ucap kekasihnya dengan nada masih kesal.


.


.


.


Rosaline duduk di depan cermin dengan ekspresi kesal. Sebenarnya tadi dia sudah bersiap untuk menyambut para tamu di motelnya, tapi Leon melarangnya pergi.


Wanita itu keluar dari kamarnya menghampiri Leon yang sedang serius menonton drama di tv, sementara nenek sudah terlelap di kamarnya.


Wanita itu mengambil alih remote tv dan mengganti saluran sesukanya.


"Kita nonton ini saja." Rosaline memilih sebuah film bergenre horor di salah satu aplikasi film berlangganan.


"Yakk, kenapa harus film horor?" tanya Leon merasa sedikit terganggu dengan film yang dipilih kekasihnya.


"Kenapa, apa kau takut?" selidik wanita itu dengan senyuman mengejek.


"Asal kau tahu, aku tidak takut dengan apapun. Aku hanya benci dikagetkan." elak pria itu.


"Berhenti membuat alasan konyol dan tonton saja!" perintah Rosaline


.


.


.


Wanita itu tidak berhenti tertawa melihat ekspresi takut Leon saat menonton. Pria itu terus berteriak saat hantu-hantunya muncul di layar kaca.

__ADS_1


Bahkan pria itu beberapa kali bersembunyi di belakang punggungnya mencoba untuk tidak melihat adegan seram di film itu dan membuat wanita itu jadi tidak fokus menonton dan hanya bisa menertawakan tingkah lucu kekasihnya.


.


.


.


"Apa kau sangat menikmatinya?" tanya pria itu dengan kesal karena bahkan setelah filmnya selesai Rosaline masih belum berhenti tertawa.


"Maaf." wanita itu mencoba menghentikan tawanya karena ekspresi Leon sudah terlihat benar-benar kesal.


"Baiklah, sebagai gantinya sekarang kita nonton film kesukaanmu. Film apa yang ingin kau tonton?" tanya Rosaline.


"Bagaimana kalau '365 days'?" ucap Leon dengan tatapan menggoda.


"Yakkkk....." sesuai dengan dugaannya wanita itu merespon dengan reflek saat pria itu menyebut salah satu judul film bergenre dewasa bahkan terkesan vulgar.


"Berhenti menonton film! Aku mengantuk." ucap pria itu.


Ekspresi Rosaline berubah canggung. "Tidurlah, kamar Dante di sebelah sana. Aku masih belum mengantuk." seraya menunjuk salah satu kamar di rumahnya.


"Ayo tidur bersama." ajak pria itu.


Semburat merah terlihat di pipi wanita itu, tiba-tiba hawa panas menyerangnya.


"Tidak, aku tidak mau." jawabnya sambil menggeleng kasar.


Tapi Leon tiba-tiba menggendongnya dan wanita itu hanya menunjukan ekspresi kaget tanpa perlawanan.


Pria itu membawa Rosaline masuk ke kamarnya dan membaringkannya perlahan.


"Aku bilang tidurlah di kamar Dante." ucapnya lagi.


"Tidak mau!" jawabnya sambil memandang wajah kekasihnya dengan lekat.


"Kau boleh tidur di sini tapi jangan melakukan hal macam-macam. Kalau kau memang mencintaiku, kau harus menghargai keinginanku." tegas Rosaline dengan nada mengancam.


Rosaline benar-benar sudah membuatnya gila, pikir Leon. Satu sisi hasratnya sudah sangat ingin menyentuh wanita itu, tapi di sisi lain karena rasa cintanya dia tidak bisa memaksakan kehendaknya.


Kalau saja itu bukan Rosaline mungkin dia sudah memangsa dan memainkannya tanpa ampun.


Tapi tidak, Leon sudah berubah. Sekarang dia hanya menginginkan satu orang wanita saja, Rosaline. Dan pria itu sudah memutuskan untuk sedikit bersabar dan menahan dirinya sampai wanita itu benar-benar sudah siap menerima Leon dengan sepenuh hatinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2