Dandelion Motel

Dandelion Motel
Prewed yang Tertunda


__ADS_3

Leon tercenung di depan cermin. Ia masih dibayangi peristiwa semalam dan hingga kini perasaannya tak karuan.


"Sarapannya sudah datang, sayang! Ayo kita sarapan dulu!" Rosaline masuk kamar dan memeluknya dengan mesra.


Leon tersenyum. Ia mengangguk dan memeluk balik istrinya seolah tak ada apa-apa.


Ia tak mau istrinya cemas, apalagi cuaca di luar sedang cerah.


Mereka harus melanjutkan sesi pemotretan yang kemarin tertunda karena hujan berlabur cemburu buta.


Duh!


Leon malu sendiri kalau mengingatnya.


Sepanjang sarapan, Leon terus memperhatikan istrinya. Sesekali ia mengusap cemot di bibirnya, menyibak rambutnya yang jatuh menutupi wajah hingga mengambilkannya minum.


Rosaline tersenyum senang melihat sikap suaminya yang lebih manis dari biasanya.


Leon tak pernah seperhatian ini sebelumnya.


Apa karena ia masih merasa bersalah atas kejadian kemarin?


Rosaline membalas perhatian suaminya dengan sikap yang sama.


Ia mengusap cemot di bibir Leon dan menaruh lauk di piringnya.


"Makan yang banyak! Kau harus menjagaku dan anak kita nanti, kan?" kata Rosaline, membuat Leon mendadak tersedak.


Apa Rosaline tahu soal surat ancaman semalam? pikirnya curiga.


"Kenapa?" Rosaline mengurut-urut punggung suaminya.


"Eh...tidak! Tidak apa-apa! Uhukkk... uhukkk..." Leon menggeleng.


Ia yakin Rosaline belum tahu, sebab jika tahu, istrinya itu pasti sudah mengeluarkan sumpah serapah.


"Makan pelan-pelan! Kau ini seperti anak kecil saja!" Rosaline geram sendiri.


"Hehe..." Leon tersenyum menutupi kecemasannya.


.


.


.


Ini adalah hari yang cerah, awan tampak berkilauan di bawah sinar mentari yang merekah terang menggagahi angkasa.


Impian Rosaline dan Leon akhirnya terkabul.


Setelah kemarin dihajar hujan seharian, kini mereka bisa menikmati serunya pemotretan di atas barisan bukit yang diapit jernihnya air laut


Rosaline memang tak salah pilih!


Tempat itu seindah dunia dongeng dalam salah satu novel fiksi favoritnya - Lord of the Rings.


.


.


.


Rosaline dan Leon baru selesai dirias saat seorang wanita muda meminta izin menemui mereka.


Linda, wanita itu adalah penanggungjawab lapangan pada pemotretan ini.


"Apa anda sudah siap?" tanyanya pada Rosaline dan Leon.


"Ya!" jawab Rosaline ditimpali anggukan dan senyum sopan Leon.


"Baiklah, kita mulai sekarang saja ya! Mari ikut saya!"


Leon membantu istrinya berdiri dan menggandengnya.


"Kau terlihat pucat! Apa kau sakit?" Rosaline tiba-tiba menyadari perubahan di wajah suaminya.


"Tidak! Mungkin riasanku sedikit terlalu tebal." bohong Leon.


Sebab sebenarnya, sejak beberapa saat lalu ia memang merasa kurang enak badan.


Pasti karena kehujanan kemarin ditambah stres memikirkan ancaman semalam hingga tak bisa tidur nyenyak.

__ADS_1


Rosaline mengangguk polos dan percaya saja.


Mereka naik perahu ke sebuah pulau kecil di tengah laut, dan harus mendaki ke puncak bukitnya, di mana sebuah mercusuar tua nan estetik berdiri di sana.


Leon yang tak mau istrinya kelelahan, menggendongnya sampai ke atas.


Orang-orang yang kemarin menyaksikan pertengkaran mereka jadi bertanya-tanya dan agak geleng-geleng kepala.


Bagaimana bisa mereka semesra ini setelah kemarin segaduh itu?


Begitu sampai di lokasi pemotretan, Linda mengatakan bahwa hari ini mereka akan memakai jasa fotografer lain karena fotografer yang kemarin mendadak ada urusan urusan.


"Apa dia bisa dipercaya?" tanya Rosaline tanpa basa-basi.


"Anda tenang saja! Ia teman CEO kami dan cukup terkenal di dunia fotografi."


Tak lama, seorang pria dengan kamera tergantung di lehernya mendekat.


"Gadis penyihir! Sepertinya jodoh kita belum berakhir! Kita bertemu lagi!" sapanya dengan ramah dan ceria, seolah kemarahan dan penolakan Rosaline kemarin hanyalah ilusi belaka.


Ya, Theo berdiri di sana!


Di hadapan mereka!


Ia adalah fotografer lain yang dimaksud Linda tadi.


Tiba-tiba Leon merasa terancam. Ia merangkul pinggang istrinya dengan spontan, seolah ingin mengatakan bahwa Rosaline adalah miliknya.


"Hai!" Theo menyapa Leon dengan ramah.


Meski tak nyaman tapi Leon tetap berusaha membalas sapaannya dengan sopan.


.


.


.


Pemotretan pun dimulai. Segalanya berjalan lancar kecuali satu hal, Leon selalu berusaha menghalangi tangan Theo saat pria itu mendekat dan ingin membantu menata gaya istrinya.


Rosaline diam-diam tersenyum, ia tak bisa berbohong bahwa tingkah suaminya saat cemburu sangat menggemaskan.


Tak jarang 'penyihir licik' itu bahkan sengaja melakukan kesalahan atau pura-pura tak paham atas arahan Theo agar pria itu mendekat dan memeragakannya secara langsung.


"Contohkan denganku saja!" Leon menyuruh istrinya minggir.


Dan mau tak mau, Theo pun memeluk Leon dari belakang.


"Ehmm... ehmm..."


Keduanya bertatapan dengan aneh nan canggung.


Bagi Leon, berada dalam pelukam Theo tentu saja rasanya aneh!


Sangat aneh malah!


Tapi itu lebih baik daripada melihat Rosaline dipegang-pegang lelaki lain, amarahnya bisa mendidih.


Tak berhenti sampai pose pelukan dari belakang, Rosaline kembali berlagak tak paham soal pose nyaris ciuman di dekat mercusuar.


Dan lagi-lagi, Theo mencontohkannya dengan Leon.


Semua orang termasuk Rosaline sebenarnya menahan tawa melihat kecanggungan mereka.


Entah kenapa Rosaline kecanduan mengerjai suaminya yang memilih menahan malu daripada terbakar api cemburu.


Setelah sekitar 3 jam, pemotreran Leon dan Rosaline akhirnya selesai.


.


.


.


"Kau pasti lelah?" Leon menyibak beberapa helai rambut yang jatuh menutupi wajah istrinya.


Mereka duduk berdua di atas batu di tepi bukit seraya menikmati pemandangan senja.


Di belakang mereka, para kru sibuk berlalu-lalang membereskan peralatan.


Dunia benar-benar serasa milik berdua.

__ADS_1


"Hmm! Tapi aku bahagia!" Rosaline tersenyum lebar dan bergelayut mesra di pundak suaminya.


"Kau terlihat agak pucat, kepalamu pusing lagi?" Leon menatap istrinya cemas.


"Sedikit! Anakmu membuatku merasa seperti vampir!


"Kenapa?"


"Aku harus minum obat anemia itu setiap hari." keluh Rosaline.


Leon tersenyum dan menangkup gemas pipi istrinya.


"Jika bisa, aku yang hamil menggantikanmu!" ucapnya.


"Aish, kau menghiburku dengan hal yang tidak mungkin!" Rosaline tetap cemberut.


"Aku baca di internet, jika ibu hamil wajar menderita anemia, bahkan nyaris 50% ibu hamil pasti mengalaminya. Bersabarlah! Sekitar enam bulan lagi, kan?" Leon merangkul istrinya.


"Hmm! Enam bulan lagi dan kita akan jadi ibu dan ayah!"


Keduanya menatap perut Rosaline dan tersenyum lebar.


"Tapi aku takut...." kata Rosaline tiba-tiba.


"Takut?" Leon membelai kepala istrinya dengan penuh perhatian.


"Hmm!"


"Apa yang kau takutkan?"


"Apa kita bisa menjadi orang tua yang baik?"


"Kita akan belajar bersama-sama, sayang... Lagipula kau sudah berhasil membesarkan dan merawat Dante dengan baik. Aku salut padamu!" Leon tersenyum bijak menenangkan istrinya.


Rosaline mengangguk dan membalas senyumnya.


"Hmm... kita pulang, ya! Di sini dingin. Kau makin pucat dan bisa-bisa sakit! Nanti begitu sampai penginapan, langsung minum obat, OK?!"


"OK, tuan Leon!" Rosaline tersenyum.


Leon membantunya berdiri dan ternyata di belakangnya sudah ada Linda yang sedari tadi tampak bingung bagaimana cara menyela romansa mereka.


"Eh, nona Linda? Ada apa?" tanya Leon agak kaget.


"Karena pemotretan sudah selesai, saya mewakili kru ingin mengucapkan terimakasih dan berpamitan."


"Ah ya, kami juga mengucapkan terimakasih." Leon membalas dengan ramah sementara Rosaline hanya mengangguk kecil.


"Lain kali, jika seseorang mengajakmu bicara, jawablah dengan ramah dan sopan!" nasehat Leon setelah Linda pergi.


"Aish, kau mulai mengomeliku lagi karena orang lain!"


"Tapi manusia itu makhluk sosial, sayang! Kau harus belajar bersosialisasi! Nanti kita pasti pergi melakukan kunjungan wali murid ke sekolah baby Love dan... Yakk... dengarkan aku! Kenapa pergi seenaknya begitu?" Leon mengejar istrinya yang berjalan turun duluan.


"Cerewet!" maki Rosaline ketus.


Ia terus berjalan meninggalkan Leon dengan tak peduli.


"Jangan cepat-cepat! Pelan-pelan saja! Kau bisa jatuh!" teriak Leon khawatir tapi Rosaline terus berjalan.


Langkahnya bahkan tak terhentikan.


"Yakk....Leon.... Leon... kakiku bergerak sendiri! Jalanannya menurun!" teriak Rosaline mulai panik.


Ia kena karmanya karena marah saat dinasehati baik-baik.


"Jangan bercanda!" teriak Leon ikut panik.


"Yakk...Leon! Leon! Aku tidak bisa berhenti! Tolong aku!!! Yakk....!!!" teriak Rosaline heboh.


Leon berlari sekuat tenaga untuk mengejar istrinya tapi jarak Rosaline tetap tak terjangkau.


Wanita itu meluncur dengan cepat karena kondisi jalanan yang curam ditambah sepatu yang dipakainya semakin memperburuk keadaan.


Rosaline berusaha berhenti tapi tak bisa.


Ia bahkan kehilangan keseimbangan dan nyaris tergelincir jatuh jika saja.... seseorang tak menangkap dan memeluknya dengan segera.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2