Dandelion Motel

Dandelion Motel
Definisi Istri yang Baik


__ADS_3

Rosaline baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan dress yang robek bagian belakangnya.


"Apa kau yang merobeknya?" tanyanya dengan ekspresi menuntut.


Leon mencoba mengingat kembali apa yang dilakukannya semalam pada dress itu.


Ah ya, saat itu karena tergesa-gesa melepas dress itu tanpa sengaja dia merobeknya.


Tiba-tiba pria itu tersenyum sendiri mengingat adegan demi adegan yang mereka lakukan semalam.


"Apa kau sedang tersenyum, tuan Leon? Aishhh...Kau sepertinya sangat senang melihatku memakai dress yang robek." celotehnya kesal.


Leon menghampiri Rosaline sambil membawa jas nya dan memakaikan jas itu padanya.


"Itu karena semalam aku terlalu bersemangat, sayang. Jadi tanpa sadar aku telah merobeknya." bisiknya dengan nada menggoda sambil menempelkan bibirnya di telinga kekasihnya itu, lalu memeluknya dari belakang.


Rosaline masih memasang wajah tak terima sampai Leon membalikan badan Rosaline membuat mereka saling berhadapan, lalu mengecup puncuk kepalanya.


Akhinya wanita itu tersenyum karena perlakuan lembut Leon padanya.


Ia meraba bibir Leon dengan lembut, "Aku suka bibirmu, sangat suka."


"Bukankah dulu kau selalu mengabaikannya? Dulu kau tak pernah merespon ciumanku." ujar Leon.


Pipinya seketika merona. Rosaline terlalu malu untuk menanggapi pertanyaan kekasihnya itu.


Dulu dia memang menolaknya bahkan marah saat pria itu menciumnya tapi sekarang berbeda, saat pria itu menunjukan sisi lembutnya dia tidak bisa membohongi perasaannya.


Rosaline sekarang benar-benar jatuh cinta pada pria itu, pria yang selalu dia panggil 'baji***n beren***k' itu kini telah menaklukan hatinya.


Leon memeluk dan menangkup wajahnya, memberikannya ciuman lembut di pagi hari.


"Ayo berkencan hari ini." ajak Leon tiba-tiba.


"Apa kau tidak akan masuk kantor?" wajahnya seketika mendongak karena penasaran.


"Kemarin aku sudah bekerja keras dari pagi hingga larut malam, tidak-tidak maksudku hingga menjelang pagi lagi. Hari ini aku ingin bersantai dan menghabiskan waktu berdua saja denganmu."


Kata-kata Leon membuat wajah Rosaline seketika memerah mengingat permainan mereka semalam.


sampai dia tidak ingat lagi jam berapa mereka akhirnya bisa benar-benar tertidur.


"Mau pergi ke mana hari ini?" tanya Rosaline dengan antusias.


"Bagaimana kalau ke taman hiburan?" Leon mengusulkan.


"Tidak-tidak, aku tidak suka tempat yang terlalu ramai." tolak Rosaline.


"Kalau bioskop?" usul Leon lagi.


"Lain kali saja kita ke sana. Bagaimana kalau kita di rumah saja, bukannya kau lelah dan ingin bersantai?"

__ADS_1


"Aiiii....Miss Rose, dasar kau penyihir licik. Bukannya berkencan di luar kau malah memilih tinggal di rumah saja, apa kau ingin mengulang permainan kita semalam?" ucap Leon dengan tatapan menggoda.


"Sebentar lagi kita akan menikah. Aku harus belajar bagaimana jadi istri yang baik mulai dari sekarang dan tiba-tiba aku ingin melakukannya. Ayo kita lakukan sekarang! Ayo Leon! Ayo!" ujar Rosaline membuat mata Leon seketika membelalak.


Permainan mereka semalam memang harus dilanjutkan pikirnya.


.


.


.


Leon berdiri sambil menyilangkan tangan di dadanya memperhatikan Rosaline yang sibuk berkutat di dapur, mengeluarkan segala macam perabotan memasak dari mulai wajan, pisau, dan lainnya.


Sama seperti kalian, Leon juga kecele tempe oleh perkataan Rosaline yang dikiranya mengajak 'bermain' eh tahunya malah belajar memasak.


Entah apa yang ada dibenaknya sehingga tiba-tiba ingin belajar menjadi istri yang baik. Dan definisi istri yang baik menurut Rosaline salah satunya adalah bisa memasak.


Sementara Leon mengawasinya dengan ketar-ketir mengingat Dante pernah memberitahu bahwa kakaknya tidak pandai bahkan sangat buruk dalam hal memasak.


Rosaline sama sekali tidak menyadari atau sebenarnya bodoh amat pada ekspresi Leon yang sangat kentara memperlihatkan kecemasannya.


Bagaimana tidak cemas, seumur hidupnya wanita itu sangat jarang 'menginjak lantai dapur'. Satu-satunya makanan yang bisa dia buat adalah mie instan kemasan cup.


Mungkin dia terbiasa melakukan berbagai macam pekerjaan rumah kecuali memasak karena dia terbiasa makan masakan koki di motel tempatnya bernaung selama ini.


Leon tahu dia dalam masalah besar ketika Rosaline mengucapkan kalimat sederhana yang sebenarnya berbahaya bagi lidah dan perutnya, "Aku akan belajar memasak mulai sekarang."


Tentu saja Leon panik dan buru-buru menghisap darah yang menetes dari telunjuknya kemudian menyekanya dengan tisu sebelum membalutnya dengan plester.


"Bukankah aku terlihat keren memasak untukmu sampai berdarah-darah? Itu bukti kesungguhanku." celotehnya sok polos dan lugu.


Ternyata selain bar-bar, pikiran wanita ini terkadang aneh bin nyeleneh.


"Apa kau sedang memamerkan kecerobohan mu? Jika semua orang berpikir sepertimu, mungkin acara 'Master Chef' akan jadi ajang bunuh-bunuhan."


Mendengar itu Rosaline merengut lalu kembali memotong sayuran dengan emosi. Dan caranya memotong sungguh membuat Leon jadi ngeri sendiri.


"Sudah sana pergi! Aku tidak suka diomeli. Aku harus memasak dalam mood yang bagus." usirnya.


.


.


.


Leon menatap was-was pada sepiring nasi goreng yang diletakan Rosaline di hadapannya.


Uapnya mengepul panas. Alih-alih menerbitkan air liurnya, pria itu malah sibuk komat-kamit membaca doa.


"Ayo makan!" ucap Rosaline mesra.

__ADS_1


Ia mengambil sesendok nasi goreng lalu mencoba menyuapi Leon yang masih ogah-agahan membuka mulutnya.


"Yakkk...Ayo cepat buka mulutmu!" pintanya mulai bar-bar.


Ia tidak peduli dengan ekspresi ragu dan ketakutan Leon akan rasa nasi goreng yang dibuatnya.


"Kau mengikuti resep kan, tanpa menambah bahan-bahan yang aneh ke dalamnya?" selidik Leon.


"Aishhhh, cerewet sekali. Ayo cepat cicipi!" Rosaline mendorong sendok berisi nasi goreng itu ke mulut Leon hingga pria itu nyaris tersedak.


"Bagaimana? Bagaimana? Pasti enak! Tidak mungkin tidak enak, itu buatanku. Ayo jawab aku! Jawab aku! Jawab aku!" paksa Rosaline tak sabaran pada Leon yang masih mengunyah perlahan.


Bagaimana seseorang gagal padahal yang dimasaknya nasi goreng bumbu kemasan? pikir Leon sambil terus mengunyah nasi goreng buatan Rosaline yang super asin.


Ia memang membaca petunjuk pembuatan di kemasan, bahkan dia sampai mencari resep di internet. Tapi tangannya yang tak berakhlak memasukan 2 bungkus bumbu ke dalam 1 porsi nasi tanpa takaran.


"E-enak..." bohong Leon lalu meminum air sebanyak mungkin.


Rosaline tersenyum lebar mendengarnya.


"Tentu saja, itu nasi goreng buatanku." pamernya dengan nada percaya diri.


Leon kira penderitaannya akan dihadapinya bersama dengan si juru masak.


Namun alih-alih ikut makan nasi goreng itu bersamanya, Rosaline malah membuka kemasan roti lapis siap makan dan memakannya.


"Kau tidak ikut makan masakan mu?" Leon melongo merasa terkhianati.


Rosaline menggeleng dengan santai.


"Aku khusus memasaknya untukmu, hanya untukmu." dengan senyuman sok manis.


Glekkk


Leon menelan ludah melihat sepiring penuh nasi goreng yang harus dihabiskannya seorang diri.


.


.


.


Lalu bagaimana nasib Leon dan perutnya?


Mari kita doakan bersama.


Cekakak.....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2