
Leon memarkir mobil mewahnya di area parkir motel.
Sesuai rencana, hari ini dia akan mengajak Rosaline menemui para klien penting perusahaannya di sebuah perjamuan.
.
.
.
Rosaline yang baru keluar dari kamar disambut Leon dengan tatapan tak percaya.
"Kenapa?"
Leon menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Apa kau akan pergi ke pemakaman?"
"Tidak." jawab wanita itu singkat.
"Lalu gaun mu? Itu terlihat seperti kau akan menghadiri pemakaman."
"Hitam? Aku memakai pakaian sesuai moodku. Semalam kau tak berhenti menelpon dan membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak. Dan pagi ini kau membangunkan ku pagi-pagi sekali dan memintaku untuk menemanimu pergi ke pertemuan yang membosankan. Aishhh...sudahlah jangan membuat moodku bertambah buruk." dengusnya.
Rosaline langsung meninggalkan Leon dan melangkah menuju mobil Leon yang sudah menantinya. Lalu pria itu menyusul sambil terkekeh melihat ekspresi lucu kekasihnya saat sedang kesal.
.
.
.
Seperti kata Rosaline, pertemuan ini benar-benar membosankan. Entah sudah berapa kali dia menguap mendengarkan pembicaraan yang tak penting baginya, tapi dia harus tetap berusaha untuk terjaga karena Leon yang memintanya.
"Aku harus ke toilet." bisiknya.
"Tapi jangan lama-lama, aku bisa mati merindukanmu." bisik Leon lengkap dengan godaannya.
Rosaline hanya mendengus mendengarnya.
.
.
.
Sebenarnya dia pergi ke toilet sekedar untuk menghindari kebosanan. Setiba di sana dia hanya membetulkan riasan dan berdiam diri sejenak memainkan ponselnya saat tiba-tiba seorang wanita masuk.
Wanita itu sekertaris dari salah satu klien Leon. Sebenarnya Rosaline sangat risih dengan wanita itu, karena bukan sekali dua kali wanita itu kedapatan sedang memperhatikannya saat pertemuan tadi. Dan sekarang seperti disengaja dia mengikuti Rosaline ke toilet.
"Bagaimana, apa menyenangkan berkencan dengan seorang mania s*ks?" ucap wanita itu tiba-tiba sambil mencuci tangannya dengan tatapan lurus ke depan cermin.
Rosaline langsung menatapnya merasa wanita itu sedang berbicara kepadanya, karena tak ada orang lain di toilet itu selain mereka berdua.
"Jangan terlalu senang dulu. Seorang Leon tidak akan berkencan dengan wanita dalam waktu yang lama karena dia tipe pria yang cepat bosan. Jadi jangan berharap dia akan terus berkencan denganmu atau bahkan menikahimu. Aku sudah memberitahumu, jadi pikirkanlah baik-baik!" Lanjutnya.
__ADS_1
"Siapa anda?" tanya Rosaline dengan nada santai.
"Aku mantan pacarnya." jawab wanita itu dengan percaya diri.
Rosaline yang tiba-tiba terkekeh membuat wanita itu mendelik ke arah nya.
"Benarkah? Leon pernah memberitahuku kalau mantan pacarnya hanya Jenifer, dan sisanya hanya jala*g yang melelang tubuhnya secara sukarela." ujar Rosaline dengan nada santai namun tajam.
Wanita itu menampar Rosaline tapi alih-alih marah Rosaline sekali lagi hanya terkekeh.
"Kenapa anda marah, nona? Apa Leon tidak memperlakukanmu dengan baik? Ah, aku tahu. Mungkin dia langsung meninggalkanmu hanya setelah 1 kali bercinta. Apa aku salah?" ucap Rosaline dengan senyuman miring.
Muak dengan yang Rosaline katakan, wanita itu dengan cepat pergi dari hadapannya.
Tak kalah cepat, Rosaline menjegalnya di ambang pintu. "Sepertinya anda salah memilih lawan, nona. Aku bukan seseorang yang bisa anda tangani. Kau sekarang sedang berhadapan dengan Miss Rose pemilik Dandelion Motel."
Rosaline menarik rambut wanita itu dan menjatuhkannya dengan kasar ke lantai sebelum pergi meninggalkannya.
.
.
.
"Ayo mampir ke kantormu dulu sebelum mengantarku ke motel, ada sesuatu yang ingin aku lakukan di sana." ucap Rosaline di tengah perjalanan pulang dan membuat ekspresi Leon sedikit tersentak.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya pria itu sedikit panik.
"Kalau begitu aku harus memeriksa sesuatu di kantormu." jelasnya.
Leon terdiam seolah mengerti apa yang akan dilakukan kekasihnya itu di kantornya. Pria itu tadi melihat Rosaline pergi ke toilet dan diikuti oleh wanita yang masih mengejar-ngejarnya. Dia yakin wanita itu mengatakan sesuatu pada Rosaline.
.
.
.
Rosaline menggeledah ruang kerjanya dari mulai kamar mandi, sofa, hingga laci-laci di meja kerjanya.
Leon hanya bisa mematung di depan pintu seperti tersangka bersama Bobby yang merasa gelisah.
Merasa pencariannya tidak berhasil, wanita itu berjalan ke arah mereka berdua.
"Tuan Bobby, bisakah anda mengganti sofa, kursi dan meja kerja itu?"
Bobby menoleh ke arah Leon.
"Turuti saja kalau kau tidak mau diamuk." ucap Leon hampir berbisik.
Bobby pun menatap kembali Rosaline dan mengangguk pelan dengan senyuman kaku.
"Ah, apa aku harus merubah interiornya juga? Warna hitam sangat menakutkan, warna merah sepertinya lebih cocok dengan kepribadian tuan Leon." lanjutnya
__ADS_1
Lagi-lagi Bobby menatap Leon kembali, dan pria itu membalas tatapannya dengan anggukan.
"Tolong lakukan dengan cepat, tuan Bobby." pintanya dengan suara menggoda.
"Tenang saja Miss Rose, saya akan segera menggantinya." ucapnya lalu meninggalkan sepasang kekasih itu.
Suasana menjadi kikuk dan canggung, Leon berjalan ke arah meja kerjanya dan duduk di sana.
"Aishhh...apa ini? ******? Menjijikan!" Rosaline memungut sebungkus ****** dari bawah sofa dan segera membuangnya ke tempat sampah.
Sepertinya tanpa sengaja Bobby menjatuhkannya tadi saat Leon menyuruhnya membereskan ruang kantor tanpa sepengetahuan Rosaline.
"Aku harus menjaga benihku dari sembarang wanita, karena tidak semua wanita memakai alat kontrasepsi." jawab Leon dengan santai.
"Aishhh, baji***n ini." gerutu wanita itu.
"Tapi aku bersumpah tidak pernah melakukannya di ruangan ini, atau lebih tepatnya belum sempat." lanjutnya mengingat Rosaline pernah memergokinya bersama wanita di ruangan itu.
Rosaline hanya bisa menatapnya dengan ekspresi geram.
Leon menghampiri kekasihnya itu dan memeluknya dari belakang.
"Tapi jika melakukannya denganmu aku tidak perlu benda seperti itu. Hamil atau tidak aku akan menikahimu secepatnya. Kalau kau mau, kita bisa melakukannya di sini." bisiknya.
Mendengar Leon mengajaknya bercinta di ruangan itu mengingatkannya kembali saat dia memergoki pria itu tengah bercumbu bersama jala*g itu.
Dadanya sesak dan hatinya sakit membayangkan Leon bercinta dengan wanita lain di ruangan itu.
"Kenapa?" tanya Leon melihat ekepresi masam kekasihnya.
"Aku bukan salah satu dari jala*g itu, dan tempat ini sangat menjijikan!" ujarnya.
Leon melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh kekasihnya itu hingga mereka saling berhadapan.
"Apa yang dikatakan wanita itu?" tanya Leon mulai serius.
"Wah, kau tahu? Jadi bagaimana rasanya bertemu kembali dengan wanita yang pernah tidur denganmu? Apa rasanya menyenangkan? Apa membuat jantungmu berdebar atau pikiranmu melayang membayangkan moment saat kalian sedang....." kata-katanya mengambang begitu saja, bibirnya tiba-tiba terasa berat untuk meneruskan.
Wanita itu tidak bisa menahan lagi air matanya yang mengalir dengan deras, kini wajahnya tertunduk mencoba menyembunyikan tangisannya.
"Rosaline..." Ucap Leon lembut sambil meraih pipi Rosaline lalu menyeka air matanya.
Rosaline memang wanita yang keras kepala, angkuh dan temperamen namun tetap saja cemburu bisa menghancurkan hatinya.
Leon segera memeluknya, dia tak ingin melihat kekasihnya menangisi hal seperti ini.
"Maafkan aku telah membuatmu menderita karena masa laluku. Mulai saat ini aku berjanji tidak akan mengulanginya. Kau sangat berharga untukku. Aku sangat mencintaimu." ujar pria itu mencoba menenangkan tangisannya.
.
.
.
__ADS_1