
Theo yang mendengar kegaduhan dari luar segera berlari memeriksanya.
Rupanya Rosaline yang mabuk mengacaukan tumpukan galon kosong di pojokan minimarket.
"Aduh!" Theo menepuk jidatnya dan tersenyum sok malu pada seorang pria yang ikut keluar dari minimarket.
Pria yang usianya tak jauh, mungkin hanya selisih 2-3 tahun di atas mereka yang kemudian kita kenal sebagai Leon.
Beruntung kasir minimarket sedang sibuk melayani pelanggan di dalam, jadi tak sadar kekacauan yang terjadi d luar. Kalau tidak, apa kira-kira reaksinya melihat tumpukan galon kosong yang sudah ditatanya kini berantakan tak karuan.
Dan si tersangka utama malah bergulingan di lantai dengan muka menghadap tembok.
Mulutnya meracau tak jelas, sesekali bahkan berteriak-teriak memaki bangs*t hingga bajing*n.
"Sepertinya dia mabuk berat." pertanyaan itu menceplos dari mulut Leon begitu saja.
"Hmm, hehe...." Ia lalu membereskan tumpukan galon yang diberantakan Rosaline dengan cepat.
Leon tentu saja tak tinggal diam dan membantunya.
"Terimakasih!" ucap Theo setelah merapihkan tumpukan galon terakhir.
"Apa kebetulan kau tahu apotek terdekat dari sini? Aku harus membeli obat pengar untuknya." Theo menunjuk Rosaline yang meringkuk nyaman di atas lantai.
"Sepertinya aku melihat di ujung jalan sana ada apotek."
"Bisa tolong titip dia sebentar?" Theo tersenyum dan mengedip-ngedipkan mata memelas, membuat Leon terpaksa mengangguk dengan canggung.
Sepeninggal Theo, Leon diam di tempat sambil memandangi si gadis bertudung yang terus mengumpat. Ia tak bisa melihat wajahnya.
"Gadis ini...ckckck....mulutnya kasar sekali! Pasti sangat merepotkan memiliki pacar sepertinya!" gumamnya sambil menggelengkan kepala.
Ponselnya berdering, Leon terpaksa meninggalkannya untuk menerima telepon. Setelah selesai, Leon berniat kembali ke tempat itu dan melihat ada kegaduhan di sana.
Theo yang sudah kembali dari apotek terkepung oleh 3 orang pemuda mabuk.
Mereka tadi sempat bersitegang di club malam dengan Theo dan Rosaline.
Karena apa?
Salah satunya mencoba melecehkan Rosaline di lantai dansa dengan berpura-pura jatuh demi memeluk dan meremas pantat gadis bar-bar itu.
Merasa tak terima, tentu saja Rosaline mengumpat, meludah bahkan memukul kepalanya.
Sempat terjadi huru-hara yang berhasil dimenangkan Theo karena memiliki kenalan orang dalam serta dibantu ketiga temannya.
Nah, pemuda itu rupanya sakit hati. Ia lantas mengajak teman-temannya untuk membuntuti Theo dan Rosaline guna membalas dendam.
Mereka berencana 'mengisengi' Rosaline saat ditinggal sendiri, beruntung Theo segera datang.
Namun kini ia harus melawan 3 pemuda berandal tersebut dan melindungi Rosaline sendirian.
Leon yang akhirnya selesai dengan panggilan teleponnya terkejut melihat emperan minimarket mendadak jadi area pertarungan 3 lawan 1.
Meski Theo pintar berkelahi tapi tetap saja, ia kalah jumlah dan sangat kewalahan.
Leon bergerak maju saat melihat seorang berandal mencoba mengisengi si gadis berhoodie yang belasan tahun kemudian kita tahu menjadi istrinya.
Ia menendang bahu barandal itu hingga jatuh terjungkal mencium aspal.
Keduanya pun baku hantam.
__ADS_1
Harus kalian tahu jika saat kecil Leon sudah belajar bela diri, jadi ia cukup jago dalam urusan berkelahi.
Rosaline yang mabuk tak sadar akan bahaya yang datang mengincarnya.
Ia asyik berguling di dekat tumpukan galon sementara Leon berusaha melindunginya mati-matian.
Meski 3 lawan 2, namun Theo dan Leon tetap bisa bertahan bahkan posisi mereka cukup di atas angin.
Keduanya terbilang gesit dan lihat dalam menghindari serangan serta membalas setiap pukulan.
Seorang pemuda dari kubu lawan berhasil dilumpuhkan. Situasi kini menjadi seimbang.
Theo dan Leon bertukar senyum tanpa sadar.
Mereka semakin bersemangat.
Bagi Leon ini bagai sebuah hiburan di tengah gersang hidupnya yang begitu datar belakangan.
"Kenapa kalian berisik sekali? Dasar bajing*n!!! Kepar*t!!! Bangs*t!!! Diamlah, aku ingin tidur!" teriak Rosaline tiba-tiba membuat semua orang tersentak, terutama Leon.
"Jangan kaget! Dia memang begitu! Aku kasihan kepada suaminya di masa depan nanti! Hahaha...." kata Theo sambil menahan sebuah pukulan.
"Kau bukan pacarnya?" tanya Leon seraya menghindari tonjokan.
"Kau gila? Menikahinya sama dengan mati muda! Setiap hari harus rela dimaki! Aku masih sayang nyawaku! Hahaha...." Theo menangkap sebuah tendangan yang mengincar wajahnya.
Setelah perkelahian yang melelahkan dan cukup menguras tenaga, akhirnya Theo dan Leon menang dengan telak.
Mereka berhasil membuat ketiga berandal itu menyerah dan kocar-kacir ketakutan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Theo pada Leon yang tadi melindunginya dari hantaman galon kosong dengan punggungnya.
Mereka duduk berdua tak jauh dari Rosaline yang masih meracau tak jelas, sembari mengompres lebam dengan sekaleng coca-cola dingin.
"Terimakasih! Kau sudah mau membantu kami."
Leon tersenyum.
"Kalian pulang naik apa? Aku bawa mobil, apa perlu ku antar?"
"Tidak, sekali lagi terimakasih. Aku sudah memanggil taksi."
"Sebaiknya kau juga segera pulang! Aku khawatir mereka bertiga kembali membawa teman-temannya dan mengganggumu nanti."
"Jangan cemas! Malam ini juga aku akan meninggalkan kota ini." jawab Leon santai.
Pandangannya menerawang.
Ia harus mengakhiri masa libur kuliahnya dan kembali ke luar negeri tanpa menemui orang tuanya.
Satu-satunya alasan ia datang ke kota itu adalah mengunjungi panti asuhan.
"Kenapa? Apa kau tinggal di luar kota?"
"Ya, aku ke sini hanya berkunjung."
Taksi yang dipesan Theo akhirnya datang.
Leon membantunya membuka pintu taksi dan Theo memapah Rosaline masuk.
"Terimakasih sekali lagi!"
__ADS_1
"Sama-sama!" Leon menutup pintu taksi dan membalas lambaian tangan Theo di kaca belakang mobil.
Mereka pun berpisah bahkan sebelum saling berkenalan.
.
.
.
Rosaline berdiri. Hujan memang masih belum reda, namun setidaknya tak begitu lebat lagi.
Ia mengambil payung merahnya, meninggalkan Theo yang terdiam tak tahu harus mengatakan apa.
Ucapan Rosaline cukup menamparnya. Ia masih dibekap rasa bersalan meski belasan tahun telah berlalu.
"Rosa...setidaknya izinkan aku mengantarmu ke penginapan!" Theo melewati bibi Marta yang kebingungan.
"Nanti aku jelaskan ya, bi!" ucapnya seraya memakai sepatu dengan tergesa.
Ia keluar bahkan tanpa menggunakan payung.
Sementara itu, Rosaline akhirnya menemukan Leon. Ia melihat pria itu kuyup di bawah hujan sambil terus meneriakan namanya di tengah jalan.
"Rosaline...Rosaline...! Maafkan aku! Kau di mana? Rosaline...!" Leon mencarinya ke segala tempat.
"Leon!!!" panggil Rosaline dari arah belakang.
Leon menoleh seketika. Ia lega luar biasa.
Tak perlu banyak kata, pria itu langsung berlari dan memeluk istrinya.
"Maaf...maafkan aku, sayang!" Leon merasa bersalah bersalah sendiri.
Ia melepas pelukannya dan menatap Rosaline.
Pria itu tersenyum dan membelai lembut pipinya, menyibak helaian rambut yang jatuh menutupi wajahnya.
"Aku merindukanmu! Sangat merindukanmu! Maafkan aku sudah marah-marah dan dingin seharian!" ucapnya.
"Aish, dasar bajing*n!" maki Rosaline dengan mata berkaca-kaca.
Ia melempar payungnya ke udara dan menarik wajah suaminya lebih dekat.
Diciumnya bibir manis itu di tengah jalan, di bawah rintik hujan.
Leon membalas ciumannya dengan penuh gairah, seakan tadi pagi mereka belum bercinta.
Ah...sepertinya Leon harus mengakuinya!
Bahwa ia kecanduan.
Ia kecanduan Rosaline!
Tak jauh dari mereka, Theo menyaksikan kemesraan itu di bawah kucuran hujan.
Ia basah, tak cuma tubuh namun juga hatinya.
.
.
__ADS_1
.