Dandelion Motel

Dandelion Motel
Tenang Sebelum Badai


__ADS_3

Di atas ranjang yang hangat, Leon meletakan kepalanya di atas dada Rosaline sementara tangannya membelai perut wanita itu dengan penuh kelembutan dan cinta.


Mereka sudah berpakaian lengkap sekarang.


"Gadis kecil ayah, kau sedang apa sekarang?" Leon menyapa calon buah hatinya.


"Kau ingin sekali punya anak perempuan ya, hingga memanggilnya seperti itu?" Rosaline membelai lembut rambut suaminya.


"Hmm, aku ingin anak perempuan! Rasanya akan sangat menyenangkan dipanggil ayah oleh anak perempuan secantik dirimu. Dan... aku membayangkan mengusir serta memelototi para pemuda yang mencoba merayunya nanti. Hehe..."


"Tapi dia pria kecilku! Dia Leon kecilku! Aku ingin anak laki-laki yang memiliki wajah tampan sepertimu! Jangan memanggilnya gadis kecil! Nanti dia bingung!"


"Pria kecilmu, hah? Bagaimana kalau benar dia gadis kecilku?"


Keduanya terdiam, lalu sama-sama menemukan ide.


"Bagaimana jika kita memberinya nama panggilan?" seru keduanya nyaris bersamaan hingga membuat mereka tertawa sendiri.


"Hmm... Baby Love? Bagaimana?" tanya Leon.


"Aku suka Baby Love!" seru Rosaline senang.


"Baiklah, mulai sekarang kita panggil calon bayi mungil kita Baby Love! Hai, Baby Love ayah! Apa kau suka panggilan barumu, nak?" Leon mengusap lalu menghujani perut istrinya dengan kecupan hingga Rosaline tertawa kegelian.


Wanita itu menatap suaminya dan jatuh cinta lagi, berkali-kali, selalu jatuh cinta.


"Aku tidak sabar merasakannya bergerak dan menendang." kata Leon antusias.


"Aku juga..."


Keduanya bertukar senyum. Leon mengecup perut istrinya lagi, kemudian bibirnya merambat ke dada Rosaline dan berakhir di lehernya.


"Mmm... aku suka wangimu."


"Jangan bilang kau mau lagi?"


"Mmm....aku....mmm...." bibir Leon naik ke dagu dan meremas bibir istrinya.


Ia melu**tnya dengan penuh gairah, seakan permainan mereka tadi belum cukup. Padahal Rosaline sudah merasa lelah.


Beruntung sebuah ketukan berhasil menyela dan menyelamatkan Rosaline dari 'kebiadaban' Leon.


"Sial! Sepertinya sarapan kita sudah datang!" maki Leon membuat Rosaline tergelak.


Leon hendak keluar tapi Rosaline mencegahnya.


"Biar aku saja! Aku mau memesan sesuatu lagi." katanya.


Ia bangun dengan pelan dan hati-hati karena perutnya yang sudah mulai membuncit.


Sayangnya bukan petugas penginapan dan sarapan pagi yang datang, tapi.....


"Ku bilang aku akan menemukanmu dengan mudah, gadis penyihir! Hehe..."


Rosaline tercekat bingung harus bagaimana, sementara Theo mendadak memeluknya.


"Sudah ku bilang, aku merindukanmu! Kenapa tidak menghubungiku? Aku menunggumu semalaman!"


"Rosaline, siapa dia?" Leon muncul di depan pintu kamar.

__ADS_1


Kalian tentu bisa membayangkan bagaimana raut wajah Leon melihat istrinya berada dalam pelukan seorang pria asing.


Rosaline seketika melepaskan pelukan Theo dan mendorongnya mundur.


"Eh, Leon...dia..."


"Dia siapa?" Theo ikut bertanya.


"Aku Leon, suami dari wanita yang kau panggil gadis penyihir ini!" Leon menarik Rosaline dalam pelukannya.


"Dan kau siapa seenaknya memeluk-meluk istri orang?"


"Suami? Apa dia benar suamimu? Kau sungguh sudah menikah, Rosa?" Theo meraih tangan Rosaline dan Leon mengibasnya spontan.


Rosaline hanya bisa menatap kedua pria itu bergantian dengan tatapan bingung.


"Ku tanya kau siapa?"


"Aku Theo! Sahabat dekatnya saat sekolah dulu!"


Sahabat?


Rosaline punya sahabat dekat pria?


Ya, Leon tahu Rosaline punya banyak teman pria tapi yang ini benar berbeda. Sepertinya ia lebih dekat dari hanya sekedar seorang teman biasa, dia tadi bahkan berani memeluknya.


Ayolah! Semua teman prianya tahu segarang apa wanita ini


Jangan bercanda!


Ku bilang jangan bercanda!


Ia butuh penjelasan segera!


Sekarang juga!


.


.


.


Leon selalu berpikir jika ia adalah satu-satunya pria dalam hidup Rosaline.


Satu-satunya warna di dunianya yang hitam dan satu-satunya lengan tempatnya bersandar, sampai ia bertemu dengan pria berparas manis itu - Theo.


Ia yang menyapa istrinya 'gadis penyihir' dan memeluknya dengan ceria.


Sungguh, jika kalian bertanya bagaimana perasaan Leon saat ini, jawabannya sangat sederhana, seperti direbus dalam kawah gunung berapi.


Bisa kalian bayangkan betapa panasnya itu?


Mereka - Leon dan Theo keduanya sama-sama menatap Rosaline - menunggu penjelasan.


"Dia Leon suamiku! Kami baru menikah." Rosaline mengenalkan Leon pada Theo.


"Dan kami akan segera dikaruniai anak!" Leon memegang perut istrinya, seakan ingin pamer dan menegaskan bahwa ia sudah memiliki Rosaline seutuhnya.


Ya, pria itu cemburu setengah mati dan merasa jika berita kehamilan Rosaline akan ampuh untuk mengusir si tamu tak diundang ini pergi.

__ADS_1


"Ini Theo, teman sekolahku dulu." Rosaline mengenalkan Theo pada suaminya.


Hening....


Baik Leon maupun Theo saling memandang dengan cara yang aneh, seolah mereka sedang bertarung dalam pertarungan atau perdebatan sengit dalam pikiran mereka masing-masing, hingga Theo akhirnya mengulurkan tangannya.


"Selamat atas pernikahan dan calon bayi kalian." ucapnya dengan senyum.


Ia menerima kekalahan dengan santai dan lapang dada, hingga membuat Leon agak tergagap menerima jabatan tangannya.


Theo melihat tato bertuliskan 'Milik Rosaline' di punggung tangan Leon.


Ia tergelak kecil dan menggeleng tak habis pikir.


"Wah, kau tidak berubah ya?!" sindirnya pada Rosaline yang jadi agak salah tingkah.


Leon mengernyit merasa tak nyaman dan penasaran akan kisah masa lalu mereka.


Tiba-tiba Theo menarik tangan Leon dan memeluknya hingga pria itu agak terenyak.


Ia tak biasa dan merasa aneh dengan keramahan selugas ini.


Apa Theo memang tipikal pria yang mudah akrab, ceria dan bisa dibilang tak punya malu dalam artian positif?


Tentu saja!


Selama yang Leon tahu tidak ada salah satu pun dari teman pria Rosaline yang berani memeluknya, seolah mereka tahu betapa berbahaya dan ganasnya wanita itu jika berani bermain-main atau berlaku tak senonoh dengannya.


Hanya Theo!


Mana ada manusia normal yang memanggil Rosaline dengan sebutan 'gadis penyihir' tanpa rasa takut.


Sekali lagi hanya Theo!


Leon sungguh ingin tahu sedekat dan seistimewa apa persahabatan mereka di masa lalu.


"Senang bertemu dengan mu, tuan Leon!" ucap Theo ramah.


Ia melepaskan pelukannya dan melirik Rosaline yang masih tampak mati gaya.


"Pantas saja ku tunggu semalaman, kau tidak juga menghubungiku! Apa kau takut membuat suamimu cemburu, hah?" godanya dengan terkekeh.


Rosaline tak menjawab, ia melirik Leon yang tampak kaget dan pasti sedang berpikiran yang bukan-bukan sekarang.


Situasi terasa canggung dan tak nyaman, beruntung petugas penginapan datang menyela 'keakraban' mereka.


Ia membawa makanan yang dipesan Leon dan Rosaline 30 menit yang lalu.


Theo yang menyadari itu segera undur diri.


"Wah, sepertinya kalian mau sarapan! Baiklah, aku pergi dulu! Rosa ingat, kita harus bertemu lagi nanti! Jangan lupa, kau masih berhutang sesuatu padaku!"


Ia melambaikan tangan dengan ceria bahkan mengedipkan sebelah matanya sebelum pergi, hingga membuat Leon semakin tak nyaman dan dengan terang-terangan memelototi istrinya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2