Dandelion Motel

Dandelion Motel
Aku Benci Baumu!


__ADS_3

Malam ini seperti sebuah kejutan, William ingin tidur sendiri di kamar tamu.


Leon yang memang sangat mengharapkan itu tentu saja menurutinya dengan senang hati.


.


.


.


Rosaline tengah memakai pelembab wajah sebelum tidur. Dari depan cermin, ia memandangi bayangan Leon yang duduk bersandar di tempat tidur sambil berkutat dengan laptopnya.


"Aku tahu kau menggilaiku, tapi tak perlu memandangiku seperti itu!" ucap Leon santai dengan tatapan masih tertuju ke layar laptop.


Rupanya ia tahu kalau istrinya sedang mencuri pandang darinya.


Rosaline yang mendengar itu hanya menggeleng dan tergelak gemas.


Leon mengehentikan aktifitasnya. Ia tiba-tiba mendekat, mengecup pundak Rosaline dan menempelkan dagunya di sana.


"Aku senang melihat caramu memperlakukan William, kau pasti akan jadi ayah yang baik." puji Rosaline membuat Leon terenyuh lalu tersenyum lebar.


Keduanya naik ke atas tempat tidur.


Leon mengecup kening Rosaline, mengecup perutnya dan membelainya lembut penuh dengan suka cita.


Keduanya saling pandang dengan binar bahagia.


"Aku mencintaimu." bisik Leon.


Ia berbaring di samping Rosaline.


"Kau tidak membalasnya?"


"Haruskah aku membalasnya? Balasan apa yang lebih bernilai selain aku sekarang sedang mengandung anakmu?" jawab Rosaline tersenyum sengaja menggoda suaminya.


"Aishhh..baiklah!" Leon mencubit hidung mancungnya dengan gemas.


"Tidak, tidak! Aku hanya bercanda! Kadang kita berpikir bahwa perasaan itu tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata tapi cukup dengan tindakan. Padahal manusia itu adalah makhluk yang penuh dengan prasangka dan butuh kejelasan! Jadi sayang, Aku juga mencintaimu!"


Rosaline mengecup bibir Leon penuh dengan kelembutan.


Pria itu tersenyum lalu memeluknya lebih erat.


Kini mereka tengah memandangi foto hasil USG Rosaline.


"Menurutmu dia akan mirip siapa?" tanya Leon.


"Aku harap wajahnya mirip denganmu. Aku ingin dia mewarisi hidungmu yang runcing ini." ujar Rosaline lalu menyentil gemas ujung hidung Leon.


"Dan memiliki sifatku." lanjutnya.


"Memangnya kenapa dengan sifatku?" dengus Leon.


"Tidak bisa begitu! Apalagi kalau dia perempuan. Cukup 1 wanita bar-bar di rumah ini. Kita tidak butuh lagi." canda Leon.


"Yakk!! kau sebut aku apa?" Rosaline melepaskan pelukan Leon.


"Hmm" gumam Leon menahan tawanya dengan wajah sok lugu.


"Kau sebut aku apa barusan?" Rosaline mendekatkan wajah galaknya.


"Bar-bar!" jawab Leon.


Dan Rosaline langsung memukulinya dengan bantal.


"Kau mau mati, hah?"


"Hahaha....sudah hentikan....ini sudah malam....hahaha...tidak boleh berisik! hahaha..." teriak Leon. Namun Rosaline tidak mau berhenti.


Dunia serasa milik mereka berdua, hingga suara bel menyela pertengkaran manis mereka.


Siapa yang datang selarut ini?

__ADS_1


Leon dan Rosaline bergegas turun untuk mengeceknya.


Dan di sanalah Daniel.


Ia datang untuk menjemput William.


.


.


.


"Silahkan diminum tehnya, kak!" ujar Rosaline.


"Terima kasih." jawabnya dengan senyum penuh sopan santun.


"Ini sudah malam, sebaiknya kakak menginap di sini. Di sini ada beberapa kamar tamu yang kosong. Lagipula di luar juga sedang hujan." ujar Leon.


"Iya, rencananya juga begitu. Hehe...!"


Lalu ia menceritakan tentang Keadaan Karina yang belum juga kunjung membaik membuatnya harus bolak-balik antara rumah sakit dan kantor. Bahkan ia sudah tidak sempat pulang ke rumahnya. Ditambah lagi kesibukan di perusahaan milik ayahnya yang semakin bertambah karena Leon yang memutuskan untuk mendirikan perusahaannya sendiri.


Sebenarnya Leon tidak lepas tangan begitu saja. Walau tidak terjun secara langsung, ia tetap mengawasi perkembangan perusahaan ayahnya dan baru akan turun tangan kalau-kalau ada masalah besar yang terjadi.


"Sebaiknya William tetap tinggal berasama kami, kak." ucap Leon tiba-tiba, membuat Rosaline membulatkan matanya.


Dia sedikit terkejut dengan perubahan sikap suaminya terhadap William, tapi walau bagaimanapun ia senang akhirnya Leon mau menerima kehadiran William di tengah-tengah mereka.


"Benarkah? Apa kalian tidak keberatan?" Daniel sebenarnya senang Leon dan Rosaline mau menjaga William untuk sementara waktu tapi tetap saja ada rasa tak enak hati memenuhi perasaannya.


"Tentu saja tidak, kak! Kami malah senang, rumah ini jadi lebih hangat semenjak ada William. Lagipula ini masih dalam masa liburan sekolahnya. Apa kakak tega hanya meninggalkannya di rumah dengan perawat? Sementara anak lain pergi berlibur. Jika dia di sini setidaknya ada kami yang menemani dan menghiburnya." timpah Rosaline.


"Baiklah kalau kalian memang tidak keberatan, aku bahkan sangat senang dan lega." ucap Daniel.


.


.


.


"Apa kesehatan kak Karina seburuk itu?" Rosaline mendesah sedih.


Hormon kehamilan sepertinya membuat ia lebih sensitif dan lebih mudah bersimpati.


Leon mengusap-usap pelan bahu Rosaline, menenangkannya.


"Jangan cemaskan apapun! Kak Karina pasti akan sembuh. Ia ditangani para dokter yang sudah ahli. Jadi sekarang kau tidur saja, bayi kita juga harus tidur!"


Sekali lagi Leon mencium perut Rosaline yang masih rata lalu tersenyum.


Rosaline mengangguk dan membalas senyumannya.


Ia memeluk Leon dan menyandarkan kepalanya di atas dada bidang pria itu.


Perlahan keduanya terpejam dengan tangan saling menggenggam.


Berharap esok hari mereka terbangun dengan perasaan yang lebih baik.


.


.


.


"Ayah...!!!" teriak William begitu melihat daniel keesokan harinya.


Bocah tampan itu berlari menyongsongnya.


Daniel menyambutnya dengan pelukan hangat, menggendongnya, lalu mencium pipinya dengan suka cita. Terlihat betapa ia merindukan putra semata wayangnya itu.


"Sarapan sudah siap, kak. Ayo kita sarapan." ajak Leon yang pagi ini bangun lebih awal.


Sebenarnya ia sengaja bahkan sudah bertekad untuk bangun lebih dulu dari istrinya. Bibi ema masih cuti, ia harus menyelamatkan perutnya dari masakan Rosaline yang rasanya seperti pembantaian baginya.

__ADS_1


"Kakak dan William sarapanlah lebih dulu! Aku akan bangunkan Rosaline dulu."


.


.


.


"Nona penyihir, ayo bangun! Sarapan sudah siap." goda Leon sambil mengusap lembut pipi Rosaline.


Dan ibu dari calon anaknya itu membuka matanya perlahan.


"Nona penyihir, hah?" Rosaline tersenyum, mengulurkan tangannya dengan manja.


Leon tersenyum gemas lalu menarik tangannya seperti sedang membangunkan anak kecil.


Rosaline yang belum sepenuhnya sadar menggelayut dengan mesra di atas pundak Leon, memeluknya.


"Aku masih ngantuk!"


"Ayo, kita sudah ditunggu kak Daniel dan William di meja makan." Leon mencium pipi Rosaline.


Lalu tiba-tiba ekspresi Rosaline berubah. Ia mendorong Leon menjauh, hingga pria itu nyaris terjatuh dari tepi ranjang.


Rosaline tergopoh menuju kamar mandi sambil memegangi perutnya.


Wanita itu muntah-muntah di depan wastafel membuat Leon panik setengah mati.


"Ada apa? Kenapa?" tanyanya.


Ia mendekat ke arah Rosaline, namun dengan cepat wanita itu menghentikannya.


"Stop!!!" serunya sambil menutup hidung dan mengangkat tangannya.


Leon seketika mematung bingung.


"Ada apa?" tanyanya kembali.


"Jangan mendekat!" teriaknya masih membekap mulutnya.


"Ada apa?" Leon semakin bingung.


"Baumu, aku tidak suka baumu! Hoeeekkk...!" Rosaline muntah lagi di wastafel.


Begitu selesai, ia mengusap bibirnya dengan kepayahan.


"Keluar!!!" ia mendorong Leon dengan bar-bar.


Pria itu tergagap mundur di depan pintu kamar mandi yang dibanting Rosaline dengan keras di depan mukanya.


Hampir saja hidung bangirnya


tertampar daun pintu.


Ia menoleh bingung ke kanan dan ke kiri.


Apa yang baru saja terjadi?


"Rosaline...Rosaline...!"


"Jangan dekati aku! Aku benci baumu! Hueekkkk....hueeekkk...." Rosaline muntah lagi.


.


.


.


Nah lho!


Leon diusir.


Cekakak....

__ADS_1


__ADS_2