
Mereka akhirnya berangkat dari bandara jam 10.30 pagi menggunakan jet pribadi milik keluarga Leon.
Perjalanan selama kurang dari 10 jam akhirnya berakhir. Di Berlin saat ini baru pukul 1 siang, itu artinya mereka akan menikmati sunset pertama mereka di Jerman.
Supir langsung mengantar mereka ke hotel tempat mereka akan menginap.
Rosaline terpana melihat hotel yang ada di hadapannya, sangat indah dan mewah.
Bangunannya yang menjulang tinggi menjadi akses untuk dapat melihat keindahan kota Berlin dari atas dengan leluasa dan menjadi salah satu daya tarik dari hotel ini.
"Pemilik hotel ini seorang keturunan Korea yang di besarkan di kota kita." bisik Leon.
"Dia teman baik ku, dan ada di sini khusus untuk menyambut kita." tambahnya.
Rosaline melirik tak percaya, pemilik hotel ini teman Leon dan besar di kota yang sama dengannya.
"Selamat datang, kawan!" sambut sang pemilik hotel yang langsung menghampirinya saat mereka sampai di lobi hotel.
"Tuan Lee?" ucap Rosaline sedikit terkejut ternyata pria pemilik hotel ini seseorang yang dikenalnya juga.
"Miss Rose?" balas pria itu tak percaya dengan kedatangan tamu gak terduga.
Leon menatap keduanya secara bergantian. Ternyata lingkaran pertemanan mereka tak jauh beda. Dandelion motel memang bukan motel yang besar tapi dengan fasilitas bar dan ruang karaoke membuat motelnya sering kali jadi tempat hiburan para pengusaha sukses, ditambah dengan daya tarik sang pemilik membuat motel ini lumayan terkenal di kotanya.
"Wah, ternyata tuan pemilik hotel ini. Saya pikir hotel besar di kota kami satu-satunya hotel milik anda." ucap Rosaline dengan nada tak percaya.
Pria itu tersipu, "Ini hotel pertama saya, yang ada di kota kita itu hanya salah satu cabang yang saya miliki."
"Ahhh" Rosaline mengangguk-angukan kepalanya seolah mengerti.
"Kalian saling mengenal? Dari mana?" tanya Leon ketus.
"Tuan Lee salah satu pelanggan motel kami. Dia sering datang bersama 2 orang rekannya yang sesama orang korea. Kami sering manggil mereka Trio Lee karena mereka satu marga. Benar begitu tuan Lee?" kata Rosaline penuh antusias.
"Saya hanya mendengar kabar kalau sahabat saya Leon akan datang bersama istrinya. Saya benar-benar tidak menyangka ternyata istrinya adalah anda, miss." ucap tuan Lee masih dengan tatapan tak percaya.
Rosaline hanya menanggapinya dengan senyuman manis.
Sementara Leon mulai kesal dan merasa terganggu dengan interaksi mereka yang terlihat dekat dan akrab.
Seharusnya Leon tidak terkejut seandainya mereka memang sudah saling mengenal, mengingat mereka berasal dari kota yang sama terlebih sama-sama memiliki bisnis penginapan.
Tapi tetap saja dia merasa cemburu dengan keakraban mereka, apalagi saat mendengar Rosaline menyanjung temannya itu hatinya benar-benar panas.
"Apakah anda hanya akan membiarkan kami berdiri di lobi, tuan Lee?" ucap Leon dengan ketus.
"Ah maaf, saya terlalu antusias sampai lupa kalau kalian baru saja menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan." ujar tuan Lee ramah sambil tersenyum lengkap dengan lensung pipinya.
Pria itu dengan segera memberi instruksi kepada karyawan hotelnya untung mengantar mereka ke kamar VIP yang sudah mereka pesan sebelumnya.
.
.
.
__ADS_1
"Apa kau selalu berbicara seperti itu kepada setiap pelanggan motelmu?" tanya Leon sesampainya di kamar mereka.
"Seperti apa maksudmu?" Rosaline yang tidak mengerti maksud dari ucapan suaminya balik bertanya.
"Seperti tadi, nada bicaramu seperti sedang menggodanya." ucap Leon dengan ketus.
"Kapan aku menggodanya? Kami hanya beramah tamah saja." Rosaline menanggapinya dengan santai sambil melepas anting-antingnya di depan cermin.
"Apa dia begitu hebat sampai kau terus menyanjungnya?"
"Ahh, aku hanya sedikit memujinya bukan menggodanya." ucap Rosaline sambil membongkar isi kopernya.
"Itu sama saja." dengus Leon lagi.
"Apa kau cemburu pada temanmu sendiri?" Rosaline mengehentikan aktifitasnya dan berbalik menatap Leon.
"Tidak, aku hanya tidak suka kalau kau terlalu ramah pada pria lain." ucap Leon masih berusaha menyembunyikan rasa cemburunya.
"Akui saja kalau kau sedang cemburu!" Rosaline mulai menghampiri Leon dengan senyum menggodanya.
"Ya, aku akui. Aku memang cemburu. Apa kau senang?" dengusnya kesal.
Rosaline tergelak mendengar pengakuan dari suaminya.
"Kita sudah menikah, kau sudah memiliki ku seutuhnya. Apa kau belum puas?" ucap Rosaline sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Leon dengan senyuman manis.
Leon membalas meraih pinggang ramping istrinya itu.
"Jangan pernah tersenyum seperti itu pada pria lain!" Leon menyibak helaian rambut yang menghalangi wajah Rosaline.
"Kenapa?" tanya Rosaline.
Rosaline tiba-tiba terbahak, "Hentikan rayuan konyolmu! Itu sangat berlebihan." sambil berusaha melepas tangan Leon dari pinggangnya dan hendak berlalu.
Tentu saja Leon segera mencegahnya dengan memeluknya dari belakang.
"Aku tidak berlebihan, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku jatuh cinta padamu karena melihat senyumanmu." ucapnya lagi.
Kali ini rayuan Leon berhasil membuat Rosaline tersipu dan memerah.
"Baiklah, aku tidak akan tersenyum lagi pada siapapun apalagi pada pria lain. Tapi sebagai gantinya aku akan memasang wajah seperti ini saat bertemu dengan mereka." Rosaline berbalik menghadap Leon dengan menjulingkan matanya, menjulurkan lidah dan memasang wajah jelek untuk mengejeknya sambil berlalu.
"Dasar penyihir, awas akan ku tangkap kau! Beraninya kau bermain-main denganku!" ujar Leon sambil berusaha mengejar Rosaline.
Sepasang pengantin baru itu bermain kejar-kejaran sampai beberapa saat sebelum Leon benar-benar menangkap Rosaline dalam pelukannya.
"Yakk, kenapa kau selalu menyebutku penyihir? Bukankah penyihir itu berwajah keriput, tua, jelek dan jahat?" dengus Rosaline kesal.
"Kau salah, penyihir dalam imajinasi ku itu berwajah cantik dan ajaib seperti kau. Sesekali menjadi jahat tidak masalah! Kau tak perlu berusaha berbuat baik pada orang lain agar mereka menyukaimu, cukup baik denganku saja." lalu mengecup kening Rosaline.
"Cchhhh" Rosaline benar-benar kehabisan kata-kata, dia hanya bisa tersipu mendengar rayuan dari suaminya.
"Jangan terburu-buru membongkar koper, beristirahat lah dulu. Aku akan keluar berbincang dengan Lee sebentar." tambahnya
Setelah termakan rasa cemburu di hari pertamanya di Berlin, Leon akui sedikit cemburu pada temannya. Pria itu memang sangat tampan dan sikafnya yang terlalu ramah pada Rosaline bahkan lebih terkesan menggoda membuatnya tidak nyaman.
__ADS_1
Sepertinya Leon harus menyembunyikan Rosaline selama menginap di hotel agar tidak bertemu dengan si pemilik hotel. Dan tentunya dia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan segera meninggalkan hotel ini.
.
.
.
Leon akhirnya menyelesaikan kesepakatanya dengan salah satu konglomerat asal Jerman. Tidak perlu waktu lama dia segera membawa Rosaline mengelilingi kota Berlin.
Mulai dari mengunjungi Romantic Road lalu berlanjut ke Hackescher Markt, menikmati keindahan pemandangannya dan menikmati suasana malam romantis di sana.
Sepertinya Leon tidak melewatkan satu pun tempat romantis di Berlin, bahkan dia tidak henti-hentinya mendapat pujian dari Rosaline yang sangat bahagia bisa menikmati bulan madu yang indah di Jerman.
Leon masih menyisakan satu tempat yang akan mereka kunjungi selama waktu yang masih tersisa di sana.
Pantai Selai jadi persinggahan terakhir mereka. Laut yang terkenal dengan julukan ratu laut utara itu benar-benar menampilkan pemandangan laut yang amat menakjubkan.
Keindahan panorama laut di sana sampai membuat Rosaline menitikan air mata. Dia benar-benar tidak percaya bisa mengunjungi tempat yang luar biasa seperti ini.
Mereka benar-benar menikmati masa bulan madu yang indah di negara Jerman.
.
.
.
"Kakak....." teriak Dante menyambut Rosaline di rumah.
Dia berlari dan segera memeluk sang kakak, "Kanapa pergi lama sekali? 2 minggu terasa seperti 2 tahun."
"Aishhh...lepaskan, Dante!" Ujar Rosaline memberontak.
"Kau benar-benar sangat dingin, kak. Apa kau tak merindukan adikmu ini?"
Seperti biasa dia tidak akan segera melepaskan kakaknya malah akan memeluknya lebih erat untuk menumpahkan kerinduanya pada sang kakak.
Maklum saja, sebelumnya mereka tidak pernah terpisah selama lebih dari 3 hari.
"Ya, tentu aku merindukanmu juga. Sudah, lepaskan! Aku ingin beristirahat." ucap Rosaline pasrah.
Akhirnya Dante melepaskan pelukannya dan tersenyum menyeringai, "Oleh-oleh?"
"Aishhh, dasar bocah tengik! Kau tidak merindukanku, kau hanya ingin oleh-oleh." dengus Rosaline dan langsung pergi ke kamar.
Setelah Rosaline pergi, kini giliran Leon yang jadi sasaran Dante.
"Kak Leon, kau bawa oleh-oleh untukku kan?" tanya Dante dengan wajah berbinar.
"Entahlah, sepertinya tertinggal." jawab Leon lalu berlalu meninggalkan Dante.
Dante sedikit memantung sebelum akhirnya mengikuti Leon lengkap dengan rengekannya.
.
__ADS_1
.
.