Dandelion Motel

Dandelion Motel
Malam Pertama?


__ADS_3

...WARNING!!!...


...21++...


...Buat adek - adek yang masih di bawah umur tolong di'skip saja!...


...Tolong bijak dalam membaca!!!...


Pesta pernikahan baru saja usai beberapa jam lalu, pasangan suami istri ini sudah terlibat perdebatan sejak sampai di rumah baru mereka.


Mulai dari para teman pria Rosaline yang tiba-tiba datang dan entah siapa yang mengundang.


Lalu Leon yang baru memberitahu kalau dia akan mengajaknya ke Jerman untuk perjalanan bisnisnya.


"Ke Jerman? Besok? Perjalanan bisnis? Apa kau gila?" ucap Rosaline kesal.


Dia langsung beranjak dari tempat tidur dan berdiri sambil menyilangkan tangannya di dada di hadapan Leon yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah.


"Aku tidak mau ikut! Tidak mau!" tegasnya lagi.


Namun Leon tidak begitu terlihat mempedulikan bentuk protes istrinya. Ia malah melewatinya dan pergi ke tempat tidur.


"Yakk, aishhh...dasar tuli!"


"Berhentilah marah dan kemari!" ucap Leon dengan nada santainya yang khas.


Dengan memutar bola matanya Rosaline berpura-pura tidak mendengar sebagai bentuk balas dendam.


Lagi-lagi Leon hanya tersenyum tak peduli.


"Baiklah aku tak akan memaksa dan akan pergi sendiri. Tapi jangan salahkan aku kalau aku menyewa wanita lain untuk menemani ku menemui investor." ucap Leon sambil berbaring santai.


Rosaline tak terima. Dia menatap Leon dengan tajam lalu menghampirinya.


"Haruskah kau berkata begitu? Apa kau tak bisa membujuk ku dengan baik?" dengus Rosaline kesal.


"Maksudku, harusnya kita berbulan madu bukan melakukan perjalanan bisnis konyolmu itu." lanjutnya.


"Perjalan bisnis berlanjut bulan madu, sayang." kata Leon.


Dia menarik Rosaline duduk di sisi tempat tidur. Dia menatapnya sebelum akhirnya tersenyum.


"Kita pasti bulan madu, aku akan mengerjakan pekerjaan ku dengan cepat." ujar Leon.


Rosaline masih menatapnya dengan wajah kesal.


"Berhentilah merajuk, kita akan menghabiskan waktu di sana selama 2 minggu. Sebenarnya aku ingin menghabiskan waktu setidaknya 1 bulan untuk berbulan madu tapi pernikahan kita sangat mendadak jadi aku tidak sempat mengatur ulang jadwalku."


Benar juga, pikirnya.

__ADS_1


Ia sendiri yang menginginkan pernikahan yang super mendadak jadi bukan salah Leon kalau dia harus membagi waktu bulan madunya dengan pekerjaan Leon yang tidak bisa ditunda.


Tanpa Rosaline sadar, Leon sudah memeluk tubuhnya dari samping.


Ia menenggelamkan kepalanya di leher Rosaline dan mencumbunya, memberikan tanda di sana, dan membuat Rosaline menggelinjang.


Rosaline mendesah ketika tangan Leon menjelajahi dadanya yang masih tertutup piama.


Perlahan Leon membaringkan Rosaline dan mulai membuka satu demi satu kancing piamanya.


"Aku mengantuk." kata Rosaline tiba-tiba.


Leon mematung seketika dalam posisi menindih Rosaline yang memang sudah memejamkan matanya.


Leon menghela nafas panjang, ia mengalah dan membiarkan istrinya beristirahat.


Pesta pernikahan tadi memang sangat menguras tenaga, pikirnya.


Leon pun memperbaiki posisinya dan mendekap Rosaline untuk tidur bersama.


Namun baru saja Leon hendak memejamkan mata, tiba-tiba Rosaline terkekeh.


"Terimakasih sudah mau mengalah, tapi aku hanya bercanda." ucapnya sambil tertawa.


Tentu saja Leon kembali membelalakan matanya, ia segera bangun dan langsung mendaratkan ciuman di bibir mungil istrinya.


Sejenak Leon menatap wajah cantik istrinya.


"Kau salah telah bermain-main dengan ku, dasar penyihir! Jangan merengek kalau aku tak mau berhenti." bisiknya gemas.


Pipi Rosaline bersemu merah mendengar ancaman menggoda yang keluar dari mulut suaminya.


Tanpa menunggu lebih lama Leon menerkam bibir Rosaline lagi, menelusupkan lidahnya untuk masuk dan menjelajahi setiap rongga mulut kecil istrinya yang diiringi dengan gerakan-gerakan tangan Leon yang gelisah di atas tubuhnya membuat Rosaline mendesah.


Kini tubuh mereka bersatu tanpa celah, bahkan handuk yang melingkari tubuh Leon pun sudah terlepas entah ke mana.


Ciuman Leon perlahan turun menuju dada Rosaline, disesapnya ujung dada itu dan berhasil membuat istrinya melenguh frustasi.


Jari jemari Leon sudah terampil bermain di bawah sana, dimainkannya secara lembut seolah ingin lebih mengenal seluk beluk dari setiap inci tubuh istrinya.


Tak banyak yang dilakukan Rosaline, matanya terpejam menikmati sensasi dari tiap gerakan Leon. Jari jemarinya hanya bisa meremas sprei dan tak henti mendesah.


"Buka matamu, sayang. Kau harus bercinta dengan menatap wajah pasanganmu."


Rosaline perlahan membuka matanya, lalu menatap wajah Leon dengan sayu.


Sial!


Tatapan itu malah membuat hasratnya semakin memuncak.

__ADS_1


Leon segera mencium bibir istrinya sebelum akhirnya dia mendorong masuk dengan manis dan sangat hati-hati.


Kaki Rosaline mulai menggeliat naik, mengalung di pinggang Leon. Gesekan demi gesekan tubuh polos keduanya membuat suhu tubuh mereka semakin memanas.


Leon bisa merasakan kuku-kuru jari Rosaline menancap di punggungnya.


Gerakan-gerakan tubuh Leon seolah menghempaskan seluruh akal sehatnya.


Sungguh waras namun menggila.


Leon menghentikan permainannya sejenak dan membuat Rosaline merengek kecewa.


Dia berbaring di samping Rosaline memberi isyarat kalau kali ini istrinya lah yang harus memimpin permainan.


"Ayo! Kau harus belajar, sayang."


Dengan agak ragu akhirnya Rosaline merangkak naik ke tubuh Leon.


Dia membantu menyingkirkan tirai rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya.


"Kau hebat, sayang." ucapnya dengan senyuman sesaat setelah keduanya meledak secara bersamaan.


Ia menarik Rosaline masuk ke dalam dekapannya dengan terus mengatur nafasnya.


Rosaline pun menyambut pelukannya sambil memejamkan mata.


"Jangan tidur dulu aku masih mau." ucap Leon membuat mata Rosaline membelalak seketika.


.


.


.


Pagi yang sangat sibuk. Seharusnya semalam dia langsung berkemas, namun karena dia terbawa emosi sesaat dan Leon yang tidak mau menghentikan permainannya, Alhasil dia harus melakukannya pagi ini padahal dia sudah sangat lelah.


Leon benar-benar ganas dia bahkan tidak ingat pukul berapa mereka mengakhiri permainan mereka semalam, karena ia sudah 'pingsan' lebih awal.


"Kita berangkat jam 10." ucap Leon santai sambil mondar-mandir mengurus berkas-berkas.


Namun Rosaline menatapnya kesal, Karena dia lebih memilih mengurus berkasnya ketimbang membantunya mengemas barang bawaan.


Leon benar-benar pria yang memiliki ambisi yang sangat tinggi. Dia tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai. Hal yang terpenting baginya saat ini adalah bisa meneken kontrak secepatnya dengan para investor.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2