Dandelion Motel

Dandelion Motel
Drama Hormon Part Sekian


__ADS_3

Rosaline sedang mencari salah satu antingnya yang hilang di bak pakaian kotor. Ia curiga antingnya tersangkut di salah satu bajunya, ia pernah mengalami ini sebelumnya. Tanpa sengaja tangannya menemukan secarik kertas dalam saku celana Leon.


Dibuka kertas itu dengan penasaran.


Sebuah surat ancaman yang isinya :


...Selamat atas pernikahan kalian!...


...Semoga kebahagiaan kalian terenggut!...


...Seperti kau merenggut milikku!...


Tubuhnya mendadak gemetar, ia segera menemui Leon yang baru selesai mandi.


Leon sedang menyisir rambutnya di depan cermin saat Rosaline datang menodongnya dengan sederet pertanyaan seraya menyodorkan secarik kertas 'keramat' yang ia rahasiakan.


"Ini apa? Dari siapa? Kenapa ada di kantong celanamu?" cecarnya.


"Ini? Bagaimana bisa kau menemukannya?"


Leon sangat terkejut.


Ia meremas kertas itu dan melemparnya jauh-jauh.


Ia lantas mengajak Rosaline duduk untuk menenangkan diri.


"Tenanglah, itu hanya...." Leon bingung harus menjelaskan apa pada istrinya.


"Jangan berbohong! Kau pasti sedang mencari alasan, kan? Katakan padaku, siapa yang berani-berani mengancam kita? Aku akan mengahajarnya!" teriak Rosaline berapi-api.


"Ssstttt, pelankan suaramu! Ini sudah malam. Aku akan menjelaskan semuanya. Tenanglah! Tenanglah, sayang!" Leon memeluk tubuh istrinya yang gemetaran.


Rosaline tiba-tiba menangis. Ia tergugu di atas pundak Leon yang dengan sabar mengusap dan menepuk-nepuk pelan punggungnya.


Setelah istrinya cukup tenang, ia mulai menjelaskan perihal surat tersebut. Ia tidak tahu bagaimana caranya berkelit atau membuat alasan.


"Jadi, hari ini sebenarnya aku tidak hanya pergi ke kantor. Tapi aku juga mengunjungi Jason di penjara."


"Pria psikopat itu? tapi kenapa?"


"Hmm, pria beren***k itu! Seperti yang kita ketahui berita pernikahan kita dan juga kehamilanmu sudah tersebar, beruntung mengenai insiden itu Bobby berhasil membujuk para wartawan untuk tutup mulut dan tidak menulis artikel apapun tentang masa lalu keluargamu. Aku curiga Jason tahu dan surat itu darinya."


"Jangan menyebut namanya, aku mual mendengarnya!"


"Oke, maksudku dia."


"Lalu apa yang baji***n itu katakan? Apa dia mengaku? Siapa yang dia suruh?" potong Rosaline tak sabar.


"Mmh, dia tidak mengatakan apapun, lagipula apapun yang dia katakan tidak penting! Aku sudah memperingatkannya. Kau tidak perlu cemas! aku tidak mau kau sakit lagi." Leon membelai lembut wajah istrinya.


Hening...


Rosaline menunduk dan mengelus perutnya dengan sedih.


"Bagaimana bisa ada pria sejahat itu? Bahkan setelah dia di penjara pun dia tidak membiarkan aku hidup dengan tenang." gumamnya tak paham.


Ia tidak akan pernah lupa bagaimana dia dan Ferdinan mencuci otak ayahnya dan membuat keluarganya hancur.


"Aku selalu takut padanya, dia selalu datang dalam mimpi burukku. Aku takut dia merencanakan sesuatu yang buruk pada keluarga kita."

__ADS_1


"Tenanglah! Aku akan memastikan itu tidak akan terjadi. Aku akan melindungi keluarga kecil kita, aku berjanji!" Leon kembali memeluk istrinya.


"Kita tidak bisa diam saja! Kita harus lapor polisi! Siapapun kaki tangan pria gila itu, kita harus menangkapnya!" Rosaline melepaskan pelukan suaminya


"Iya, sayang. Kita akan segera lapor polisi. Kau tak perlu cemas! Cukup cemaskan bayi kita, karena itu yang terpenting sekarang! Kau ingat kata dokter, kan? Kau tidak boleh stres! Aku bisa dimarahi nanti, ya! Serahkan semuanya padaku! Aku akan mengatasinya. Tugasmu hanya satu, bahagia di sisiku!" Leon mengelus perut istrinya.


Rosaline mengangguk dan tersenyum.


.


.


.


Keesokan harinya Leon lapor polisi dan kini penyelidikan tengah berlangsung.


Leon terus meyakinkan Rosaline bahwa pelakunya akan segera tertangkap.


Sementara itu, kesedihan lain sedang menghinggapi keluarga mereka, sebab si kecil William dan keluarganya akan pulang besok pagi.


Daniel dan Karina mengucapkan banyak terima kasih pada Leon, Rosaline dan juga Dante karena telah merawat putra mereka.


Demi menciptakan perpisahan yang indah, Rosaline, Leon dan Dante membuat pertunjukan dongeng kecil-kecilan di halaman rumah mereka.


Mengingat bocah itu sangat senang mendengar Rosaline membacakan dongeng untuknya hampir setiap malam menjelang ia tidur.


Rosaline dan Dante mulai mendongeng di halaman rumah yang dihiasi lampu-lampu dan beberapa bangku.


William menyaksikannya dengan sangat antusias takjub.


Setelah selesai mendongeng mereka masuk kembali ke dalam rumah.


"Tentu saja, siapa yang melarangnya?" Ia tersenyum lebar dan menggendong William.


.


.


.


Leon memberikan segelas susu hangat di tangannya pada Rosaline yang menerimanya dengan agak ogah.


"Ayo, sayang diminum! Ini harus dihabiskan! kata Leon pada Rosaline yang merengut.


"Aku tidak suka baunya, hueeekkk!" Rosaline ingin muntah.


"Tapi itu bagus untuk bayi kita. Setidaknya kau minum sedikit saja, ya? Ya?" Leon terus merayu.


Rosaline mendesah. Ia tidak keberatan melakukan apapun untuk bayinya, tapi untuk minum susu itu perkara lain.


"Ayolah, sayang! Setengahnya saja. Bayangkan ini minuman favoritmu!"


"Tapi Ice Americano rasanya tidak seperti ini!"


"Ya, kan namanya juga dibayangkan. Ayolah, seteguk saja! Ini demi anak kita, ya?"


Rosaline memandangi segelas susu ditangannya, ia menelan ludahnya dengan tak nyaman.


"Baiklah!" Rosaline meneguk susunya dengan sangat terpaksa.

__ADS_1


Sedikit! Sangat sedikit!


"Sudah!" ia meletakan gelas susunya di nakas samping ranjang.


"Hah! Sudah? Itu bahkan hanya beberapa tetes!"


"Aku bilang sudah!"


"Ayolah! Lagi, ya?" Leon mencoba menyodorkan kembali susunya ke mulut Rosaline namun wanita itu menolaknya mentah-mentah.


"Ku bilang sudah ya sudah! Kalau kau mau, minum saja susunya sendiri! Aku sudah mengandung anakmu, apa kau akan menyiksaku lagi dengan minum susu sialan itu?" Rosaline jadi emosi.


"Menyiksamu lagi?"


"Iya, selama hampir 3 bulan ini kepalaku sering pusing, tak terhitung berapa kali lagi aku mual dan muntah, belum lagi tubuhku jadi cepat lelah. Hamil itu menyiksa jika kau mau tahu! Dan sekarang aku harus minum susu sialan itu, dasar Bang**t! Kau kejam, Leon! Kau sungguh kejam!" tangis Rosaline tiba-tiba pecah.


Ah...drama hormon part sekian dimulai lagi.


Melihatnya begitu, Leon hanya bisa mendesah dan menahan diri.


"Baiklah aku minta maaf! Aku yang salah! Maafkan aku, ya!" Leon mengalah.


Ia berlutut memegang tangan istrinya yang duduk di tepi ranjang di samping William yang sedari tadi bengong menyaksikan pertengkaran absurd mereka.


Rosaline masih menangis sesegukan, amarahnya belum jua mereda.


"Lihat! William sampai bengong melihat kita! Sudah, kau tidak perlu minum susu lagi! Kalau perlu akan ku buang kotak susu itu! Sudah, ya...kau jangan menagis! Tenanglah! Maafkan aku, ya!" Leon memeluk dan mengusap-usap punggung istrinya.


"Kau mau apa? Rosaline ku sayang kau mau apa? Aku akan membelikan apapun untukmu! Katakan saja!" Leon merayu dan mengusap airmata istrinya dengan sabar sampai tangisnya mereda.


Rasanya aneh melihat pria yang dulu sangat egois dan merayu wanita hanya ketika ia menginginkan 'sesuatu' dari mereka bisa jadi sebucin ini sekarang.


Ia selalu berusaha mencoba memahami dan menuruti keinginan Rosaline sebisanya, meski kelakuannya terkadang di luar nalar.


Cinta memang zat yang sangat berbahaya!


Ia mengubah sifat manusia!


Meluluhlantakkan gengsi!


Menikam rasa malu!


Dan membumihanguskan ego!


Cinta tanpa pengorbanan adalah omong kosong!


Mereka yang tak mau berkorban, tak layak dicintai!


"Hmm...Aku mau..."


"Katakan saja!"


"Apapun?"


"Apapun!" Leon tersenyum.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2