
Dante menatap kesal Leon yang saat ini tengah gelisah menanti kabar dari Rosaline yang masih dalam penanganan dokter.
Ia ingin sekali menumpahkan segala omelan yang ada dipikirannya kepada kakak iparnya itu saat ini juga. Tapi apa daya, dalam situasi genting seperti ini ia benar-benar harus menahannya.
Sementara Leon sedari tadi mondar-mandir di depan ruang perawatan di mana Rosaline tengah menerima penanganan sambil sesekali melihatnya dari balik pintu kaca.
Rosaline terlihat sudah sadar dari pingsannya, dan ia kini sedang berbaring lemas.
Leon akhirnya pasrah dan mencoba untuk duduk setelah menit demi menit terasa begitu lama, dia sudah tidak sanggup hanya melihat istrinya dari balik kaca.
Beberapa saat kemudian akhirnya dokter keluar dari ruangan itu, tentu saja Leon seperti tersentak dan langsung berdiri untuk minta penjelasan dokter atas hasil dari pemeriksaan kesehatan istrinya.
"Tuan Leon, mari ikut ke ruangan saya. Ada yang harus saya sampaikan mengenai kesehatan nona Rosaline." ajak dokter itu yang kemudian diikuti Leon.
Di ruang dokter Leon mencoba menenangkan diri, bersiap mendengarkan penjelasan terkait kondisi Rosaline.
"Begini, tuan Leon..." memulai penjelasan dan membuat situasi terlihat lebih menegangkan.
"Nona Rosaline mengalami pendarahan yang cukup parah, kondisi ibu dan janin tidak bisa dikatakan baik-baik saja."
"Tunggu!" Leon menyela, berusaha memahami yang baru saja dokter katakan tentang janin dan sang ibu.
Ia menghela nafasnya kemudian mulai bicara, " Janin dan ibu? Maksud dokter, Rosaline sedang mengandung?"
Dokter itu mengangguk dan melanjutkan penjelasannya, " Nona Rosaline sedang mengandung, usia kandungannya baru sekitar 7 minggu. Mungkin ia mengalami kelelahan dan banyak pikiran."
Leon hanya diam mematung, rasa bersalah memenuhi sekujur tubuhnya. Kedua tangannya gemetar dan air matanya menetes, namun ia menyekanya dengan cepat. Bahagia dan rasa sedih bercampur saat itu juga.
"Rosaline apa dia baik-baik saja?"
"Kondisinya masih lemah dan usia kandungannya masih sangat rentan, beruntung nona Rosaline segera di bawa kemari dan mendapatkan perawatan lebih cepat." jawab dokter.
"Kami memutuskan agar nona Rosaline dirawat di sini beberapa hari untuk memastikan kondisinya membaik dan kami memantau semaksimal mungkin kondisi ibu dan janin."
Leon hanya mengangguk dengan tangisan yang saat ini lebih tepat disebut sebagai penyesalan.
"Dan..." kata-kata dokter itu mengambang sebelum Leon menyelanya dengan pertanyaan.
"Dan apa?"
Dokter itu sedikit ragu-ragu untuk menjawab, "Nona Rosaline tidak ingin bertemu dengan anda untuk sementara waktu."
Leon hanya bisa menghela nafas dengan pasrah. Ia sangat sedih karena tidak bisa menemui istri yang sedang ia khawatirkan.
Ia terpaksa harus menuruti keinginan Rosaline karena takut memancing emosinya dan menyebabkan kondisinya semakin memburuk.
.
.
.
Rosaline sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VIP ditunggui Dante yang senantiasa menemaninya.
__ADS_1
Di tempat lain lebih tepatnya di koridor depan ruangannya, Leon
hanya bisa menunggu dengan kondisi yang sangat kacau dan sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Dante benar-benar berada di tengah-tengah antara menuruti keinginan Rosaline atau membantu Leon untuk membujuk kakaknya itu, karena sebenarnya Leon merasa kasian melihat kondisi Leon yang sudah sangat kacau.
Dengan sedikit ragu-ragu ia mulai mendekati kakaknya.
"Apa kakak yakin tidak ingin menemui kak Leon? Kak Leon sudah tidak biaa dijelaskan lagi kondisinya, dia sangat khawatir dan..." belum selesai Dante bicara, ia sudah kalap dengan tatapan mematikan dari Rosaline.
"Baiklah aku tidak akan mengatakan apapu lagi." ucap Dante sambil menunduk.
Ia segera pergi dari hadapan Rosaline dan terduduk di sofa untuk membiarkannya beristirahat.
.
.
.
Sudah lebih dari 1 jam Rosaline mencoba untuk tertidur, ia gelisah. Semarah apapun ia kepada Leon, tetap ia tidak bisa membohongi hatinya. Rosaline membutuhkan suaminya saat ini, di sisinya.
Rosaline terus bergerak dengan gelisah, membuat Dante yang duduk di sofa mendadak bangun untuk membantu.
"Apa kakak memerlukan sesuatu?"
Rosaline tidak menjawabnya, tapi dia tahu arti dari tatapan kakaknya.
Dante mengulas senyum, "Baiklah Miss Rose, adikmu ini akan melakukannya dengan baik!"
Dante memang pandai berakting, tapi tetap saja saat harus berpura-pura memarahi kakak iparnya nyalinya sedikit menciut sehingga omelannya terdengar sangat kaku. Padahal Leon sama sekali tidak berusaha menyelanya.
Rosaline yang mendengarnya dari dalam hanya bisa tertawa geli.
Setelah suara omelan ala orang tua dari Dante berakhir, Leon segera masuk ke dalam ruangan. Memang benar kata Dante, kondisi Leon sudah tidak bisa dijelaskan lagi.
Raut wajah yang dipenuhi penyesalan, rambut yang acak-acakan. Dan satu lagi, matanya bengkak.
Pria itu berlutut di hadapan Rosaline sambil menunduk, "Maafkan aku!"
Rosaline menghela nafas, "Minta maaflah padanya." sambil mengelus lembut perutnya yang masih rata.
Dalam posisi masih berlutut, Leon mencoba menatap ke arah perut istrinya. "Ayah minta maaf."
"Apa itu cara minta maaf yang baik? Kau mengajarkan sesuatu yang tidak baik pada anakmu!" ucap Rosaline ketus.
Leon pun bangkit dan berdiri di tepi ranjang di mana istrinya tengah duduk lemah, ia mulai menunduk dan mendekatkan wajahnya ke arah perut istrinya.
Lalu ia mengelusnya dengan lembut, "Ayah minta maaf."
Sentuhan dan suara lembut Leon membuat Rosaline mengulas senyum di bibirnya.
"Sekarang berjanjilah pada kami, bahwa kau akan lebih memprioritaskan kami daripada pekerjaanmu." ujar Rosaline dengan nada manja.
__ADS_1
Rosaline mengulurkan jari kelingkingnya agar disemat oleh jari kelingking Leon sebagai tanda perjanjian.
Namun Leon masih asyik mengelus perut Rosaline dengan kepala yang menunduk.
"Yakkk, berjanjilah!" dengus Rosaline.
Leon kemudian mengangkat kepalanya perlahan, ternyata ia menangis. Ia berusaha menyeka air matanya yang terus mengalir. Lalu ia menyematkan jari kelingkingnya dengan jari Rosaline.
Di tengah tangisannya ia berkata, "Aku berjanji."
"Sayang, kau berjanji tidak akan mengulanginya lagi." lanjutnya.
Masih dengan jari kelingking yang saling bertautan, Rosaline menyeka air mata suaminya dengan tangan yang lain.
"Tolong tepati janjimu!" ucapnya.
Ia langsung memeluk Rosaline dan menghujaninya dengan kecupan di puncak kepalanya dengan kata maaf yang terus terucap dari bibirnya.
.
.
.
Rosaline terus mengubah posisi tidurnya. Ia merasa tidak nyaman dan terus gelisah, padahal sudah cukup larut.
"Butuh sesuatu?" tanya Leon segera bangkit dari duduknya.
Rosaline menggeleng, mulutnya mengerucut sepeti anak kecil yang minta dibelikan permen.
"Aku tidak bisa tidur." ucapnya dengan nada manja.
"Mau cari udara segar di luar? Taman rumah sakit sangat bagus, mau pergi ke sana?" tanya Leon dengan nada lembut.
"Baiklah, ayo!" jawabnya dengan secarik senyuman manis.
Leon menggendongnya dan mendudukannya di atas kursi roda. Lalu membawanya menuju taman.
Mata Rosaline langsung berbinar dan senyumnya seketika mengembang melihat pemandangan taman yang sangat cantik.
Mereka berdua duduk di bangku taman. Leon mendekap Rosaline dari samping dan tak berhenti mengelus-ngelus lembut bahunya.
"Menurutmu kita akan mendapatkan bayi laki-laki atau perempuan?" tanya Rosaline tiba-tiba.
"Laki-laki atau perempuan yang penting bayi dan ibunya sehat." jawab Leon sambil memberi kecupan di puncak kepala Rosaline.
Tangan Leon mulai mengelus perut Rosaline dengan lembut.
"Sayang, ayah sangat menunggu kelahiranmu. Jangan sakit, kau harus sayang pada ibu. Mengerti?" ucap Leon dengan suara lembut dan lucu membuat Rosaline terkikik.
.
.
__ADS_1
.