Dandelion Motel

Dandelion Motel
William Menghilang


__ADS_3

Leon mencoba menghubungi Dante kembali namun tidak berhasil.


Sementara Rosaline duduk di sisi ranjang menunggu kabar dengan resah.


"Bagaimana?"


"Tidak aktif!"


"Aishh..sebenarnya mereka pergi ke mana?" tanya Rosaline dengan wajah cemas.


"Tadi Dante bilang mereka sedang di taman hiburan." Leon terus mondar-mandir dengan menempelkan ponsel di telinganya.


"Apa mereka hanya pergi berdua?"


"Tidak, Nora dan Bobby ikut bersama mereka."


Leon buru-buru menekan nomor Bobby, tidak diangkat. Lalu nomor Nora, namun sama saja.


Ia tidak tahu bahwa Nora dan Bobby di sana sama paniknya.


Mereka takut mengangkat telepon darinya karena takut ditanya yang aneh-aneh dan diomeli.


"Ayo kita cari lagi!" ajak Bobby.


Dijawab anggukan dari Nora.


.


.


.


"Bagaimana?" tanya Rosaline lagi.


Leon menggeleng.


"Tidak ada yang menjawab!"


"Aishhh!"


"Tidurlah lagi! Nanti aku bangunkan kalau ada kabar." ucap Leon sambil mengusap lengan istrinya.


"Bagaimana aku bisa tidur di saat-saat seperti ini?" dengus Rosaline kesal.


"Tenanglah! Tidak akan terjadi hal buruk apapun. Tapi kalau kau tidak bisa tidur, bagaimana kalau kita ke dapur menyiapkan makan malam sambil menunggu kabar dari mereka?" Leon mengusap lembut pipi Rosaline untuk menenangkannya.


.


.


.


Sudah 1 jam lebih Dante, William dan Rachel menunggu. Langit mulai mendung dengan awan berwarna sendu. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun.


William dan Rachel yang mulai mengantuk akhirnya terlelap di atas paha Dante dengan meringkuk. William di paha kanan, dan Rachel di paha kiri.


Dante mulai kesemutan dan mencoba menggerakan kakinya perlahan.


Lalu ia memindahkan kepala mereka dari pahanya secara perlahan dan hati-hati.


"Ah, sial! Kakiku kesemutan." Dante bergumam sendiri sambil menepuk-nepuk kakinya dengan pelan.


Dari kejauhan seorang gadis dengan rambut berkucir berlari mendekat dan berhenti tepat di depannya.


Dante mendongak.


Keduanya saling bertukar tatapan bingung.


Gadis itu bibinya Rachel yang akhirnya kembali.


Cahaya terang tiba-tiba menyelubungi langit sepersekian milidetik.


Lalu petir menyambar!


Begitu keras dan memekakan.


Gadis berkucir itu berteriak dan melompat kaget ke arah Dante dan HAPPP!!

__ADS_1


Wajah Gadis itu hinggap di dada Dante dengan posisi mereka seolah tengah berpelukan.


Dante yang terkesiap ditambah kakinya yang masih kesemutan mendadak kehilangan keseimbangan dan terjatuh menimpa tubuh gadis yang ada dipelukannya.


Keduanya tercekat dan saling menatap beberapa saat.


.


.


.


Pukul 5 sore hujan masih deras di luar sana.


Belum ada kabar apapun dan Dante, Nora maupun Bobby.


Rosaline yang sedari tadi menunggu sampai tertidur menelungkup di atas meja makan.


Leon yang baru selesai menyiapkan makan malam sampai tidak tega melihatnya dan mengguncang pundaknya pelan.


"Sayang...."


"Aku ketiduran!" ia sedikit tercekat dan mengucek matanya.


"Tidurlah di kamar! Tidak baik tidur seperti itu, badanmu bisa sakit semua!"


"Hoaammmm" Rosaline menutup mulutnya yang menguap lebar dengan tangannya.


"Bagaimana, sudah ada kabar?"


"Belum! Aishhh...Bocah nakal itu kenapa dia bisa menghilang seperti itu?" dengus Leon.


"Mereka bertiga juga salah, bagaimana 3 orang dewasa tidak becus menjaga 1 anak kecil?" bela Rosaline.


"Pokoknya aku akan memarahi mereka semua, terutama bocah pengacau itu. Kau! Jangan coba-coba membelanya!"


Rosaline seketika gugup seolah-olah ia yang sudah membuat kesalahan.


Rosaline sebenarnya tahu Leon sedang cemas tapi pria itu menutupinya dengan omelan dan kemarahan.


Mereka tidak tahu kalau Dante dan William baru saja menginjakan kakinya di ruang tamu dan mendengar pembicaraan mereka.


Dante memberi isyarat pada William untuk langsung naik ke atas secara diam-diam, dan bocah itu mengikutinya dengan lugu.


Keduanya berjalan sepelan mungkin, menuju tangga. Namun hidung William tiba-tiba gatal.


Bocah itu berusaha menahannya, namun tidak bisa. Dan akhirnya...


"HAATCHUIIINGGG!!!"


Dengan seketika suara bersinnya menggema ke seantero sudut rumah itu.


Leon dan Rosaline saling menoleh dan bergegas menuju ke ruang tamu.


Melihat kedatangan Leon, William bersembunyi di belakang Dante dengan takut.


Pria itu melipat kedua tangannya dengan tatapan tajam.


"Kak Leon jangan marahi William! Dia anak yang baik. Tadi dia menghilang karena menolong orang." bela Dante.


"Tentu saja, karena ini semua salahmu. Apa gunanya kau punya otot yang kekar kalau menjaga 1 anak kecil saja kau tidak becus!" omel Rosaline sambil menjewer telinga Dante dan menyeretnya menuju ke arah pintu keluar untuk segera menyuruhnya pulang.


"Aargggh...sakit, kak! Tolong lepaskan, aku minta maaf kak!" Dante meringis.


"Ini hukuman atas kecerobohanmu!"


"Setidaknya biarkan aku makan malam dulu, kak! Perutku sangat lapar."


"Tidak ada makan malam, cepat pulang sana! Awas kalau kau kelayapan!" ancam Rosaline dan diakhiri dengan suara pintu yang di tutup dengan keras.


Kini tak ada lagi Dante yang jadi perisai William dari tatapan tajam Leon.


Bocah kecil itu berkeringat, ia menunduk dan meremas bajunya.


Laon maju dengan perlahan namun mengancam.


Sementara William memundurkan kakinya perlahan.

__ADS_1


Rosaline yang sudah kembali dan menyaksikan mereka pun jadi ikut tegang.


Hening...


Sementara suara hujan semakin deras di luar sana.


Rosaline sudah bertekad akan maju untuk menyelamatkan William dari amukan Leon. Namun siapa sangka, Alih-alih melontarkan berbagai omelan penuh kemarahan, hanya satu kalimat yang keluar dari mulut pria itu.


"Cepat mandi, lalu kita makan malam."


Rosaline yang sedari tadi gugup dan takut jadi terenyak. Dia tidak menyangka Leon akan jadi setenang itu.


Apa dia sudah mulai bisa menyukai William?


.


.


.


Rosaline mengunyah makanannya perlahan. Suasana makan malam kali ini terasa sedikit aneh.


William masih terlihat takut, walau tak setakut tadi. Sementara Leon


seolah tengah tenggelam dengan pikirannya sendiri.


Untuk memecah kekakuan, Rosaline berinisiatif untuk memulai percakapan.


"William, kau naik wahana apa saja di taman hiburan?" tanya Rosaline dengan senyuman lembut.


"Tidak naik apapun!" pertanyaannya malah membuat William menunduk sedih.


Ternyata langkah pertamanya gagal dan malah membuat bocah laki-laki itu menjadi murung.


Kini matanya melirik Leon.


"Kau suka makanannya?"


"Hmmm" jawabnya datar, sibuk dengan pikirannya sendiri.


Langkah keduanya pun gagal. Rosaline menarik nafas, geram dengan situasi kaku seperti ini.


Tapi ia tak mau menyerah!


"Kau sangat tampan. Wajahmu mirip dengan paman Leon saat kecil." pujinya.


"Benarkah? Nenek dan ayah juga bilang seperti itu." ujar William dengan mat berbinar tapi mendadak takut saat melirik ke arah Leon yang berhenti mengunyah dan menoleh ke arahnya.


"Tentu saja, kalian kan paman dan keponakan. Masih satu keluarga." seru Rosaline masih berusaha mencairkan suasana.


"Apa kalian sudah saling mengenal sejak kecil?" tanya William polos.


"Ya, pamanmu adalah teman pertamaku. Mau aku beritahu 1 rahasia?" tanyanya dengan mendekatkan wajahnya ke wajah William.


Bocah pria itu mengangguk antusias.


"Aku sudah menyukainya sejak saat itu." ucap Rosaline sambil menyenggol lengan Leon dengan sikunya, membuat wajah pria itu bersemu merah.


William tersenyum.


Suasana di meja makan itu sudah lebih mencair.


"Apa saat seusiaku badan paman juga kecil sepertiku?" tanya William.


"Tidak! Badanku lebih besar darimu. Makanya kau harus makan banyak agar kau cepat tumbuh besar!" Leon menambah sepotong daging di atas piring William.


Bocah itu mengucapkan terima kasih dengan senyuman lebar dan Leon membalasnya.


Rosaline terharu sendiri dengan perlakuan manis Leon pada keponakannya, rasanya aneh tapi menggemaskan.


Sementara itu di tempat lain, Dante larut dalam pikirannya.


Pria itu masih memikirkan pertemuannya tadi dengan gadis manis berkucir kuda di bawah nyalak petir.


"Aishhh..memalukan! Sangat memalukan!" gumamnya sambil menggeleng - geleng kasar.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2