
Leon berbaring dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Rosaline, di atas ranjang.
Ia menikmati usapan sayang istrinya seraya mendengarkannya bercerita tentang awal pertemuannya dengan Theo hingga saat mereka ketahuan menginap di gudang sekolah setelah pulang dari klub malam.
"Wah... apa kau benar-benar senakal itu saat remaja! Kau bahkan merokok?" Leon berdecak dan menggeleng tak percaya.
"Sebenarnya aku tidak benar-benar kecanduan merokok. Aku hanya penasaran awalnya dan saat itu aku berpikir kalau itu keren. Kau tahu lah semacam... kenakalan remaja! Bahkan aku tidak pernah melakukannya lagi setelah lulus sekolah."
"Tetap saja, kau nakal!" Leon menjentikan jarinya ke dahi Rosaline.
"Aww!!! Sudah ku bilang ini KDRT namanya, dasar bajing*n!" teriaknya
"Kau pantas mendapatkannya!" Leon hanya tersenyum puas melihat ekspresi kesal istrinya.
"Lalu Nora? Sejak kapan kalian menjadi sahabat dekat?"
"Itu sudah lama. Sejak Ibunya Nora pertama kali bekerja di motel, kira-kira saat usia kami 10 tahun. Kami pernah satu sekolah, tapi berpisah saat Sekolah Menengah Pertama karena aku terus berpindah-pindah. Setelah lulus sekolah, ibunya mulai sakit-sakitan dan kemudian dia yang menggantikan ibunya bekerja di motel." terang Rosaline.
"Oke, kembali ke teman priamu itu!Setelah itu apa yang terjadi? Kalian dihukum?" Leon menatap penasaran.
Usapan Rosaline berhenti, kepalanya mendongak dan pandangannya menerawang.
Perlahan ingatannya bergerilya kembali ke masa lalu.
.
.
.
Rosaline dan Theo diceramahi habis-habisan di ruangan kepala sekolah.
Mereka ketahuan keluar dan pergi ke klub malam karena bau alkohol pada tubuh Rosaline.
Sang kepala sekolah berceramah tentang moral dan etika, tentang sopan santun, tentang masa depan negara hingga segala hal yang bahkan sebenarnya tak ada hubungannya.
Ia memberikan wejangan berapi-api pada 2 murid berandal yang jangankan menyimak, mendengar saja tidak.
Baik Theo dan Rosaline hanya hadir raganya, namun pikiran mereka melayang entah ke mana.
Semua petuah sang kepala sekolah, masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.
Akhirnya mereka pun digiring ke kebun belakang sekolah yang terkenal seram dan angker.
Di belakang mereka ada guru bimbingan konseling. Ia memasang wajah galak andalannya, meski begitu 2 murid berandal itu tak takut.
Pak James si guru BK menyuruh mereka membersihkan kebun di hadapannya.
Mereka harus mencabut semua rumput dan gulma yang tingginya bisa sedada hanya dengan tangan kosong.
Yap, tangan kosong!
Itulah hukuman yang sebenarnya.
Theo dan Rosaline menatap malas tapi bagaimana mereka bisa menolak?
Membuat orang tuanya dipanggil ke sekolah karena ulahnya ada di daftar keinginan Rosaline yang terkahir, apalagi dia sudah lelah pindah sekolah dan Theo juga tak ada niat dikeluarkan.
Maka dengan skandal gila yang mereka ciptakan, sebenarnya hukuman itu terbilang ringan, mungkin karena Theo anak dari seorang pejabat di kementerian hukum.
__ADS_1
Pak James mengawasi mereka bekerja dengan mata setajam elang dan tangan berkacak pinggang.
Setelah sekitar 1 jam, pria itu bosan. Maka ia pergi dengan sebaris pesan, "Kalian tidak boleh kembali sampai jam pulang sekolah!"
"Siap, pak!!!" teriak Theo dengan penuh semangat. Ia bahkan memberi hormat ala tentara, sementara Rosaline hanya melirik datar.
Setelah pak James pergi, keduanya langsung merebah kelelahan di atas rerumputan.
Theo tiba-tiba berteriak dan tertawa hingga membuat Rosaline kaget.
"Yakk, dasar bajing*n! Kau kenapa seperti orang kesurupan?"
"Melepas lelah dan kesal! Hahaha... kau harus mencobanya! Suka tidak suka pada sesuatu, teriak saja! Maki kalau perlu! Hahaha...."
Rosaline tak menggubris. Ia memejamkan matanya.
Saat membuka mata, tiba-tiba wajah Theo berada di atasnya, membuatnya kaget sekali lagi.
Rosaline mengutuk dan memukul pemuda itu dengan kesal.
Theo malah tertawa. Ia berdiri dan kabur dari kejaran Rosaline yang masih belum puas memukulnya.
"Dasar Kepar*t, sini kau! Beraninya mengagetkanku!" maki Rosaline.
"Hahaha... lihat! Kau lebih lega kan sekarang? Ayo gadis penyihir! Kejar aku! Maki aku! Hahaha...." teriak Theo kegirangan.
"Gadis penyihir?!?" Rosaline berhenti dan memegangi lututnya dengan ngos-ngosan.
"Iya, kau lupa? Saat kau menari sambil mabuk di klub, kau tak henti berteriak meminta semua orang memanggilmu gadis penyihir! Katamu kau benci dianggap tuan putri, kau lebih suka disebut penyihir!"
Rosaline mengernyit, ia tak mengingatnya sama sekali.
Sekitar 10 tahun lalu, sekolah mengalami musibah kebakaran hingga memakan belasan korban jiwa.
Saat pembangunan kembali, ruang-ruang kelas lama pun terabaikan dan teronggok menjadi sarang hewan hingga para hantu.
Entah kenapa mata Theo malah berbinar cerah melihat bangunan itu.
"Tunggu di sini! Aku akan mengambil sesuatu!" ia berlari meninggalkan Rosaline yang bengong tak paham.
Sekitar 15 menit kemudian, pemuda itu kembali bersama sebuah kamera yang ia ambil dari asrama.
Ia mencari-cari Rosaline tapi gadis itu tak ada. Theo melangkah masuk ke dalam bangunan bekas kebakaran tersebut.
"Hei, gadis penyihir! Kau di mana?" panggilnya sambil sesekali menjeprat-jepretkan kameranya ke sebuah objek di beberapa ruangan.
Menurutnya daripada horor, bangunan ini lebih ke arah estetik dan memukau di mata kamera.
Theo berjalan menaiki tangga dengan pelan dan hati-hati sembari terus mencari di mana Rosaline berada.
Ia yakin gadis itu sedang mencoba bermain petak umpet dengannya.
Dan tiba-tiba saja di ujung tangga, sebuah tangan membekapnya. Tak berhenti di sana, tubuhnya digeret ke sudut dengan semena-mena.
Siapa lagi pelakunya, jelas bukan hantu!
Tapi Rosaline, sahabatnya yang aneh bin nyeleneh itu.
Ia berdiri seinci di depan wajah Theo dengan senyuman sinis menyeramkan.
__ADS_1
Di luar mendung menggantung, kilat mulai membelah angkasa dan petir menggelegar dengan jumawa, membuat wajah Rosaline terlihat menyeramkan. Theo yang tak takut hantu jadi agak keder melihatnya.
Ia jatuh terduduk dengan lemas sambil memegangi jantungnya.
"Bukannya kemarin kau berlagak tak takut hantu?" Rosaline meledek dengan siku terlipat santai.
Ia meninggalkan Theo yang masih gemetar tak karuan.
"Yakk, kau benar benar gila! Bahkan Dean dan Sam Winchester pun akan ketakutan melihat wajahmu tadi!" teriak Theo sewot, namun Rosaline malah tertawa.
"Alasan! Akui saja kalau sebenarnya kau penakut!" Rosaline tersenyum meremehkan.
"Aku bukan penakut! Kau tahu sendiri aku berani pergi ke loteng bekas bunuh diri itu malam-malam. Aku juga berani menonton film hantu sendirian!" dalih Theo tapi Rosaline tak peduli.
.
.
.
Mereka menyusuri lorong demi lorong dengan iseng campur penasaran.
Di luar hujan mulai merintik. Gerimis kecil namun rapat.
Hening.
Yang terdengar hanya langkah kaki mereka dan sesekali suara jepretan kamera milik Theo dengan kilatan lampunya.
Rosaline menoleh.
"Kau memotret tanpa izin, tuan penguasa sekolah?" tanyanya.
Theo tersenyum dan menunjukan hasil bidikannya.
"Kau memang cantik dan fotogenik!" pujinya.
Rosaline tak bisa menahan senyumnya.
"Aku setuju! Aku memang cantik!" ucapnya percaya diri.
"Kau tahu, aku punya dua cita-cita? Antara jadi astronot dan menjelajah angkasa atau menjadi fotografer handal dan membuat pameran foto suatu hari nanti. Kalau kau, apa cita-citamu?"
"Hmm...." Rosaline mendadak bingung dan menjawab sekenanya.
"Mendapat uang darimu, tukang foto amatir! Jika kau sukses nanti dan berhasil membuat pameran foto, pajang fotoku dan kau harus mengundangku! Jika fotoku laku, berikan uangnya padaku. Semuanya!"
"Yakk, dasar serakah! Hahaha... baiklah, aku akan mengundangmu! Berjanjilah untuk datang! Apapun yang terjadi!" Theo mengusap-usap rambut Rosaline dengan gemas.
"Aish, siapa yang mengijinkanmu menyentuhku?" Rosaline mengibas tangan Theo dengan sewot.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, Theo yang kaget spontan menarik Rosaline mendekat hingga wajah mereka nyaris berbenturan.
Keduanya bertatapan dengan agak canggung.
Theo merasakan detak jantungnya berdebar. Ia memandang Rosaline dengan terpana.
.
.
__ADS_1
.