Dandelion Motel

Dandelion Motel
Pernikahan 2


__ADS_3

Rosaline dan Leon saling melempar pandangan, jangan sampai gara-gara acara pernikahan yang mendadak Leon jadi lupa membeli cincin.


"Mana cincinnya? Jangan bilang kalau kau lupa membelinya!" bisik Rosaline dengan tatapan tajam.


"Kau meminta acara pernikahan yang super mendadak, aku jadi lupa soal cincinnya." jawab Leon sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Apa kau sudah gila? Kau ingin mati?" bisik Rosaline dengan tatapan mengancam.


Para tamu undangan saling menoleh bingung dan penasaran apa yang sedang terjadi di mimbar sana.


Leon melirik ibu Anna seolah sedang memberi isyarat. Ibu Anna yang sudah mengerti maksud dari lirikan Leon segera menghampiri mereka di mimbar dan memberikan kotak kecil berwarna merah berisi cincin pernikahan mereka berdua.


"Aishhh, aku kira kau benar-benar melupakannya." bisik Rosaline dengan tersipu.


"Mana mungkin aku lupa hal sepenting ini. Pernikahan macam apa tanpa cincin?"


Mereka pun saling menyematkan cincin itu ke jari manis mereka dengan senyuman yang merekah.


Kini sesi yang ditunggu-tunggu telah tiba.


Sebuah ciuman perlambang janji setia mereka.


"Dengan ini saya umumkan, kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri!" seraya mempersilahkan mempelai pria untuk mencium pengantinnya.


Leon yang tak mau menunggu langsung menarik Rosaline dan memberikannya luma**n liar penuh cinta.


Rosaline tersenyum dan membalas ciumannya dengan gairah yang sama.


Para tamu sampai berteriak heboh. Sementara Dante menggeleng, malu sendiri melihat kelakuan kakak dan kakak iparnya itu.


Kini tiba saat pelemparan bunga.


Bobby membantu Nora untuk mendapatkannya. Entah dengan cara menghalangi dari yang lainnya, juga menjaga Nora agar tak jatuh saat menangkap bunga itu.


Lalu keduanya saling bertukar senyum malu-malu saat Nora berhasil menangkap bunganya.


.


.


.


Cahaya mentari semakin redup dan menghilang dimangsa waktu.


Hari menjadi benar-benar gelap, beruntung pijar puluhan lilin menerangi malam mereka.


Kehadirannya mendatangkan suasana manis dan romantis tanpa terduga.


Pemain musik yang disewa Leon mulai menampakan diri.


Mereka menghibur di sebelah tenda makan, sementara para tamu menikmati hidangan.


Di sela makan malam, beberapa orang turun ke lantai dansa. Kalian bisa lihat ayah Sam bersama ibu Anna, Bobby dengan Nora, dan beberapa pasang tamu lainnya.


Lagu romantis mengalun lembut


mengisi lantai dansa yang merupakan butiran pasir.


Para tamu melepas sepatunya dan berdansa dengan bertelanjang kaki bersama kedua mempelai yang telah melakukannya lebih dulu.


Rosaline menaruh dagunya di antas pundak Leon. Matanya terpejam.

__ADS_1


Ia menikmati alunan musik, suara tawa para tamu, deburan ombak, detak jantung dan desah nafas suaminya.


Ya, suaminya.


Ia tersenyum bahagia. Sesungguhnya Rosaline masih belum percaya, anak lelaki yang jadi teman pertamanya 20 tahun silam kini menjadi suaminya.


Satu lagu romantis telah selesai dimainkan.


"Tunggu sebentar." ucap Leon seraya melepaskan pelukannya.


Rosaline hanya bisa menatapnya saat Leon pergi ke arah para pemain musik.


Tiba-tiba Leon berdehem dengan mikrofon di tangannya.


Semua orang menoleh agak bingung, apa yang akan mempelai pria lakukan?


Leon melirik Bobby yang langsung berlari mengambil gitar di mobil. Kemudian dia duduk di samping mimbar.


Sungguh? Leon akan bernyanyi?


Rosaline duduk di samping Dante dengan tak sabar.


Bobby memetik gitarnya perlahan dan Leon mulai bernyanyi.


...Bayangkan diri kalian adalah Rosaline, maka lagu yang paling kalian sukai lah yang Leon nyanyikan....


Semua orang termasuk orang tua Leon terperangah, baru sadar kalau ternyata Leon bisa bernyanyi.


Dan suaranya boleh juga.


Rosaline tersenyum, ia sudah tahu betapa bagusnya suara Leon.


Pria itu sering menyanyikannya lagu pengantar tidur saat mereka bertelepon hingga larut malam.


Lagu kini berganti lebih ceria dan penuh irama.


Rosaline dan Leon mengajak Dante menari bersama. Ketiganya tertawa bahagia. Dante merasa sangat bahagia karena kakaknya akhirnya menikah.


Malam semakin larut. Leon mengajak Rosaline menepi, menjauh dari geliat pesta. Biarlah para tamu menikmati pesta mereka dengan musik, hidangan lezat dan kembang api.


Leon memakaikan jasnya pada Rosaline, menggandeng tangannya menyusuri pesisir, membasuh kaki mereka dengan dingin dan segarnya air laut.


Keduanya saling pandang dengan gelak tawa.


"Suamiku!" ucap Rosaline dengan nada menggoda.


"Istriku." balas Leon dengan nada yang sama


Dan mereka kembali tergelak dengan semburat merah di wajah.


Leon memeluk Rosaline, ia pun masih tak percaya kini sudah bergelar suami dari wanita dingin, angkuh dan sulit ditaklukan itu.


Dan pertemuan pertama mereka ternyata sudah berawal jauh sebelum ini, saat mereka sama-sama masih kecil. Bukankah ini takdir?


Keberuntungan semacam ini tak jatuh kepada sembarang orang, dan mereka adalah salah satunya.


"Jadi suamiku, di mana kau belajar kalimat sepuitis itu?" goda Rosaline.


Keduanya duduk di atas jembatan kayu yang mengarah ke tengah laut.


"Aku menikahi wanita yang dingin dan sedikit pemarah, jadi aku harus belajar menaklukan hatinya dengan kalimat-kalimat romantis."

__ADS_1


"Awww, aku terharu." Rosaline tersenyum menggoda.


"Lalu kau, haruskah memanggil ku dengan sebutan beren***k dan baji***n di depan umum, hah?" Leon pura-pura cemberut.


"Tapi aku juga menyebutmu pemberani dan mengangumkan."


"Tetap saja!"


"Kau juga menyebutku angkuh dan pemarah!"


"Apa kau kesal, hah?"


"Aku sangat kesal sampai ingin memakanmu."


Leon tergelak.


"Baiklah, kalau begitu makan aku! Makan aku! Makan aku!" teriak Leon membuat Rosaline panik sendiri karena semua orang mungkin bisa mendengarnya.


"Hyaaaa" Rosaline buru-buru membekap mulut suaminya.


Leon hanya diam berlagak pasrah dengan tatapan menggoda.


Leon membelai pipi Rosaline lalu perlahan turun ke dagunya. Diangkatnya paras cantik istrinya itu dan dibawanya lebih dekat.


Namun tiba-tiba wajah itu berubah muram, wanita itu menangis.


"Kau tak apa?" tanya Leon sedikit panik.


"Aku baik-baik saja, aku hanya merindukan ibuku. Seharusnya dia ada di sini berbagi kebahagiaan bersama kita." air matanya terus mengalir.


Leon menyekanya, "Kau tak perlu cemas, kita akan mencarinya bersama-sama. Aku berjanji aku akan menemukan ibumu secepatnya, kalau perlu akan ku kerahkan semua orang-orang ku untuk mencarinya."


Rosaline mengangguk pelan, air matanya sudah mulai surut. Leon memeluknya dengan erat.


Saat dirasa Rosaline sudah tenang, Leon melepas pelukannya.


Ia mencondongkan wajahnya, lalu mengecup keningnya, kedua kelopak matanya, pipinya dan bibirnya begitu dalam dan penuh cinta.


"I love you, Rosaline. Aku sangat mencintaimu." bisik Leon di sela ciumannya.


"Aku lebih mencintaimu." balas Rosaline dengan tatapan sayu.


Sementara sepasang pengantin baru itu asyik mereguk kebahagiaannya dan para tamu berbahagia berpesta di tepi pantai, nun jauh di sana, di sebuah tempat yang tak bernama, seorang wanita paruh baya kebingungan di dalam hujan bersama selembar kartu nama kusut di tangannya.


Ia mencari dan terus mencari namun sulit menemukan.


Ia lelah namun tak kehilangan harapan. Tubuhnya lemah namun ia masih tak mau menyerah.


Sayangnya, keberuntungan tak mendatangi semua orang pada malam itu.


Sebuah motor milik pengantar makanan menyerempetnya hingga menubruk trotoar.


Darah dan bau anyir membanjiri di antara genangan air hujan. Kesadarannya enyah namun kartu nama kusut masih tetap tergenggam.


Dan kalian pasti tahu siapa wanita paruh baya yang malang itu.


Ialah Nancy.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2