Dandelion Motel

Dandelion Motel
Ranjau


__ADS_3

Rosaline jadi gemas dan tak sabar. Ia menggebrak kasur dengan keras hingga Theo dan Leon sama-sama terlonjak.


"Apa belum cukup berdarah-darah seperti kemarin, huh? Aiiissshhh, dasar baji***n! Kep***t! Aku akan membuat sarapan! Jika aku dengar satu suara saja dari mulut kalian, aku akan...!?" Rosaline mengancam suami dan sahabatnya yang langsung menelan ludah dengan gugup.


Ia merampas tabletnya dari tangan Leon dan pergi meninggalkan kamar.


Sepeninggal Rosaline, kamar seketika diselubungi oleh keheningan dan perasaan canggung bercampur sebal.


Leon dan Theo saling membuang muka, tak sudi menatap wajah satu sama lain.


Dan karena kepala mereka masih pusing, keduanya pun merebah.


Theo menarik selimut ke arahnya, Leon pun melakukan hal yang sama.


Dimulai dari tarik-tarikan kecil, keduanya jadi tak mau mengalah.


Selimut itu pun menjadi korban pertengkaran mereka ronde selanjutnya.


Keduanya saling tarik dengan kuat hingga Rosaline tiba-tiba muncul di depan pintu.


Kaget melihat kehadirannya, baik Leon dan Theo langsung melepaskan tarikannya dan yang terjadi, keduanya jatuh ke sisi kanan dan kiri ranjang. Pantat mereka mendarat keras ke atas lantai secara bersamaan.


Rosaline hanya menatap datar seraya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan 2 pria dewasa itu.


Leon dan Theo saling berpandangan. Pagi ini untuk pertama kalinya mereka setuju akan sesuatu, bahwa apa pun itu yang disuguhkan Rosaline ke hadapan mereka bukanlah makanan manusia.


"Kenapa diam saja? Ayo makan!" kata Rosaline.


Mereka kini duduk di ruang tamu bersama 2 mangkok berisi sesuatu yang Rosaline sebut bubur.


"Apa ini bisa dimakan?" bisik Theo pada Leon.


Leon menggeleng seraya menelan ludah tak nyaman.


Ia kira ia sudah bebas dari ranjau masakan Rosaline sejak wanita itu anti pada bau dapur, tapi ternyata tidak.


'Peperangan' dimulai lagi.


Ah, ia jadi berharap istrinya kembali mual-mual dan alergi pada bau dapur.


Haruskah ia menghamilinya lagi nanti?


Sepertinya hanya itu satu-satunya cara menjauhkannya dari dapur, tapi... bahkan cara itu hanya bertahan 3 bulan, sebab begitu trimester pertama berakhir, Rosaline sudah bisa bermain-main dengan kompor hingga wajan

__ADS_1


"Kenapa?" Rosaline tampak tak paham jika bubur buatannya menakuti mereka.


"Eh, ini bubur?" tanya Theo.


"Iya! Aku khusus membuatkannya untuk kalian! Setelah makan, kalian harus minum obat!"


"Hmm... Gadis penyihir, kau yakin ini bisa dimakan? Setahuku, sejak SMA dulu kau tidak bisa memasak. Kau ingat dulu pernah nyaris membakar sekolah saat pelajaran tataboga? Hmm..." Theo tampak takut-takut mengungkapkan perasaannya.


"Aku yang sekarang jago memasak! Tanyakan saja pada suamiku!" seru Rosaline percaya diri.


Theo menatap Leon yang langsung tersenyum palsu sambil mengangguk-angguk mantap.


Ia tak mau cari gara-gara dengan Rosaline.


"Lihat! Suamiku memuji masakanku kan!" Rosaline berbangga hati.


"Biar kusuapi ya!" Rosaline tersenyum pada Leon yang membalas senyumnya dengan terpaksa.


"Eh, aku... tanganku sedang sakit! Lihat! Tidak bisa digerakkan! Aku bahkan tidak bisa memegang sendok dengan benar. Apa kau punya roti? Aku sarapan roti saja!" Theo mencoba melarikan diri.


"Kau tidak bisa memegang sendok dengan benar tapi bisa berebut selimut sampai jatuh tadi?" sindir Rosaline tanpa basa-basi.


"Eh... itu aku melakukannya tanpa sadar. Hehe..." Theo membela diri.


Maka yang dilakukannya adalah mengambil mangkok bubur Theo dan memberi isyarat jika ia yang akan menyuapinya sementara Rosaline menyuapi dirinya.


Mereka akan saling menyuapi.


"Lihat! Suamiku sangat baik hati, kan? Dia bahkan mau repot-repot menyuapimu!" puji Rosaline lugu.


Theo tersenyum paksa dan merasa semakin sebal pada Leon.


Keduanya pun mulai makan.


Rosaline menyuapi Leon dan Leon menyuapi Theo.


Berbeda dengan Rosaline yang menyuapi Leon sedikit demi sedikit karena bibirnya terluka, Leon menyendok bubur sebanyak mungkin untuk Theo hingga kewalahan mengunyahnya.


Kedua pria itu sama-sama mengunyah bubur buatan Rosaline dengan ekspresi aneh.


Rasanya jika kalian mau tahu, tak bisa dijelaskan. Belum lagi teksturnya yang tak kalah aneh.


Seperti makanan yang sudah dikunyah lalu dimasak kembali.

__ADS_1


Apa sebenarnya yang dimasak Rosaline?


Hmm... ini rahasia, tapi aku akan membeberkannya hanya untuk kalian.


Karena tidak punya beras dan penginapan ini tidak menyediakan menu bubur, maka Rosaline memesan nasi putih.


Nasi itu lantas dimasukkan ke blender yang tersedia di dapur penginapan bersama beberapa gelas air.


Lantas agar lebih memiliki rasa dan bernutrisi, Rosaline memasukkan suwiran ayam goreng, kacang polong, rumput laut kering dan buah-buahan seperti jeruk, mangga dan pisang yang dibeli oleh mereka di stasiun kapan hari.


Setelah membuatnya *****, ia memanaskannya di atas kompor.


Jadilah bubur sehat ala Rosaline.


Ingin mencobanya?


Silahkan!


Tapi kalau aku sih, mending makan bubur SUN aja.


Cekakak....


"Kenapa wajahmu seperti itu? Kau tidak suka, ya?" Rosaline memicing curiga.


Leon cepat-cepat menggeleng dan tersenyum seraya mengacungkan kedua jempolnya.


Rosaline tersenyum lebar dengan mata berbinar senang.


Leon mengangguk-angguk padahal ia ingin muntah.


Theo menggeleng sinis melihat kelakuan Leon.


Picik sekali! Pikirnya.


"Kau! Kenapa wajahmu juga begitu?" Rosaline menoleh ke arah Theo yang terkaget seketika.


"Eh? Enak! Rasanya enak!!! Aku ketagihan! Hehe.... " jawab Theo spontan dengan cengiran lebar.


Dasar munafik! Leon melirik sinis.


"Sudah ku bilang! Aku yang sekarang jago memasak! kuambilkan lagi, ya! Di dapur masih ada banyak, agar kalian cepat sembuh!" Rosaline tersenyum antusias.


Ia bergegas ke dapur meninggalkan Leon dan Theo yang mulai saling melotot dan menyalahkan satu sama lain atas 'tragedi ranjau' part 2 yang akan kembali menyapa mereka.

__ADS_1


__ADS_2