
Leon tidak tahu bahwa selarik kata 'apapun' akan berakibat sefatal ini.
Ya, harusnya ia sadar sedang berhadapan dengan siapa. Sayangnya cinta sudah membutakannya. Ia lupa bahwa Rosaline seorang wanita yang.... sudahlah! Kalian tahu sendiri dia seperti apa, maka di sini lah sekarang seorang Leon berada.
Di atas salah satu motor koleksinya yang sudah lama tidak dia kendarai, dengan tangan istrinya memeluk erat dari belakang dan William yang duduk di depan.
Rosaline mengatakan kalau ia ingin jalan-jalan ke sebuah pasar olahan ikan laut segar, 15 sampai 20 menit dari rumah mereka.
Leon mulanya tak mau membawa Rosaline yang tengah hamil dengan mengendarai motor, tapi Rosaline memaksa dan bilang ia sekarang mudah mual kalau naik mobil.
Maka, sekali lagi untuk kesekian kalinya Leon mengalah.
Begitu sampai di pasar tradisional yang buka 24 jam itu, mata Rosaline langsung berbinar.
"Sebenarnya kau mencari apa?" tanya Leon sambil menggandeng William.
Mereka menyusuri jalanan pasar yang cukup lenggang pada jam 9 malam.
"Aku tadi melihat di internet, ada tempat makan yang bagus di sekitar sini. Aku ingin mencobanya!"
"Kau ngidam? Kenapa tidak bilang dari awal? Kenapa pakai acara menangis segala?"
"Kau yang membuatku menangis!" bentak Rosaline keras.
Ia melotot tajam, dan Leon langsung mengalihkan pandangannya dengan sok polos. Ia bahkan berpura-pura mengajak bicara William yang bengong melihat kelakuan pasangan somplak di hadapannya.
Setelah 10 menit mencari, akhirnya mereka menemukan tempat yang Rosaline cari.
Sebuah restaurant yang menyajikan berbagai olahan laut segar. Rosaline langsung menggeret Leon masuk ke dalam.
Ia meminta daftar menu dan memesan sederet makanan dengan semena-mena, tak peduli apa mereka bertiga bisa menghabiskannya apa tidak.
Tak lama, pesanan mereka akhirnya datang. Mulai dari sup, semur, bakar bahkan sesuatu yang di sate.
"Ini apa? Sate kerang?" tanya Leon menunjuk tusukan sate yang berisi daging bulat kecil-kecil.
"Bekicot." jawab Rosaline santai sambil menyendok sup ikan yang masih mengepul panas menggiurkan.
"Hah? bekicot?"
"Hmm, kau sungguh tidak tahu itu apa?"
Leon buru-buru membuka ponselnya untuk mencari kata 'bekicot' dan tersentaklah ia!
"Keong,hah?"
"Kau mau makan ini?" Leon heboh.
Ia mendadak agak mual ketika melihat wujud aslinya sebelum diolah.
"Siput! Bukan keong!" protes Rosaline. Padahal ia juga salah, sebab bekicot ya bekicot bukan keong ataupun siput.
"Sama saja, seperti kura-kura dan penyu!"
"Jelas beda! Kura-kura itu bisa hidup di darat dan di air, sedangkan penyu ke darat hanya ketika dia mau bertelur! Makanya banyak membaca di saat waktu luangmu jangan hanya dipakai main game!" sindir Rosaline pada Leon yang akhir-akhir ini keranjingan main game online.
__ADS_1
Leon mendengus sebal, sementara William cekikikan.
"Jadi kau mau memakan ini? Si siput ini???" Leon melotot tak percaya.
"Tidak!" jawab Rosaline santai sambil meniup sup disendok lalu menyuapkannya pada William.
"Lalu kenapa kau memesannya?"
"Untukmu!"
"Untukku???" Leon sampai berteriak saking kagetnya.
"Hmm, itu bagus untuk meningkatkan fungsi ereksi seksual pria! Bagus untuk s*ks! Kau harus memakannya." bisiknya di telinga Leon dengan suara menggoda menyadari ada anak kecil di sampingnya.
Leon sampai terkesiap sendiri mendengar jawaban istrinya, sampai ia tidak tahu harus bereaksi apa.
"Cepat makan!"
"Aku tidak mau!!!"
"Kenapa? Ini bagus untukmu! Ayo cobalah, sayang! Sedikit saja!"
Situasi seolah berbalik. Jika tadi Leon yang memaksa Rosaline untuk minum susu, sekarang giliran Rosaline yang memaksa Leon untuk makan sate bekicot.
Rosaline menyeringai licik melihat wajah tak nyaman suaminya.
Pembalasan dendamnya berjalan mulus tanpa hambatan.
"Ayo, cicipi dulu! Aku berjanji akan minum susu jika kau menghabiskannya!"
"Ya! Asalkan kau menghabiskannya, aku akan minum susu setiap hari!" ucap Rosaline tanpa berpikir.
Leon mengehela nafas panjang dan menelan ludahnya dengan ekspresi jijik.
Demi bayinya, demi agar Rosaline mau minum susu, ia berusaha menghipnotis dirinya untuk melupakan gambar bekicot yang menjijikan itu.
"Baiklah, aku akan menghabiskannya! Tapi kau sungguh akan minum susu setiap hari tanpa merengek, ya? Janji?"
"Janji! Tapi jika kau tidak menghabiskannya, jangan pernah membahas soal susu lagi!" Rosaline mengulurkan tangannya dengan senyum penuh percaya diri.
"Baik!" Leon menjabat uluran tangan Rosaline dengan mantap.
William kembali bengong dengan kelakuan ajaib mereka berdua.
Leon mengambil satu tusukan sate bekicot dan menggigit satu dagingnya.
Ia mengunyahnya dengan ekspresi aneh membuat Rosaline tersenyum lebar.
Namun perlahan, ekspresi Leon berubah. Ia mulai menikmati makanan itu dan bahkan sangat menikmatinya. Dihabiskannya satu tusuk sate bekocot itu dalam sekejap mata.
Tangannya kembali mengambil sate bekicot itu setusuk demi setusuk dan menyantapnya dengan lahap.
Rosaline yang kelabakan sekarang. Rencananya gagal total.
"Kau...kau menghabiskannya? Bagaimana bisa, hah? Bukannya kau tidak suka?!"
__ADS_1
"Ternyata rasanya sangat enak! Sekarang aku akan memasukan sate bekicot pada daftar makanan favoritku. Kau mau mencobanya juga? Ini, buka mulutmu! Aaaaaa....!"
"Yakk, tidak! Tapi....bentuknya kan sangat menjijikan, hitam, lembek dan berlendir!" Rosaline mencoba membuat suaminya mual, tapi tak berhasil sebab Leon telah menandaskan tusukan terakhirnya.
"Mmh, enak! Ini bahkan sangat enak!" ucap Leon. Ia menyeringai licik pada istrinya yang tampak gugup.
"Jadi, bagaimana nyonya Leon? Mulai saat ini aku akan membuatkan susu untukmu setiap hari dan kau harus menghabiskannya tanpa merengek! Ini demi bayi kita!" Leon membelai perut istrinya.
.
.
.
Rosaline menatap segelas susu di tangan Leon seperti menatap racun. Seakan ia anggota kerajaan yang akan dihukum mati.
"Ayo, sekarang tepati janjimu! Minumlah, sayang...! Habiskan! Aku ingin melihatnya!" Leon sengaja menggoda.
Rosaline menerima gelas itu dengan ekspresi tak suka.
"Ayo, cepat diminum! Kau sudah berjanji!" kata Leon sambil bergerak ke kiri dan ke kanan.
"Kau kenapa?"
"Aku....agak kebelet kencing! Tapi tak apalah, aku ingin melihatmu menghabiskan susunya!"
"Ke toilet dulu, sana! Nanti kau bisa kencing di celana!"
"Tidak akan! Ayo cepat diminum!"
Rosaline mulai meneguk susu buatan suaminya perlahan-lahan, sedikit demi sedikit membuat Leon tak sabar.
Ia tak tahan lagi.
"Saat aku kembali, susunya harus sudah habis!" Teriak Leon sambil berlari ke kamar mandi.
Rosaline tak bisa meminumnya, ia ingin muntah.
Diliriknya William yang berkedip lugu di sampingnya.
"William...kau sayang pada bibi, kan?"
Bocah tampan itu mengangguk polos.
Dan sebuah seringai licik tersungging di ujung bibir Rosaline.
Setelah menuntaskan hajatnya dan sekalian cuci muka, Leon kembali menemui istrinya yang sudah terlelap bersama William. Ia tersenyum senang melihat gelas susunya sudah kosong.
Ia tak tahu jika.....
.
.
.
__ADS_1