Dandelion Motel

Dandelion Motel
Reuni Tak Terduga


__ADS_3

Kereta singgah di salah satu stasiun sebelum menuju stasiun kota tempat tujuan mereka.


Melalui pengeras suara pihak kereta menginfokan bahwa mereka bisa menghabiskan waktu 30 menit untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.


Sekitar 5 menit yang lalu, Leon bilang ingin ke toilet tapi sampai saat ini ia belum kembali.


Rosaline yang cemas menyusul suaminya ke toilet namun tidak ada.


Ia lantas meneleponnya tapi tak diangkat.


Di mana Leon? Pikirnya.


Rosaline menyusuri tiap lorong kereta dan mengintip di kanan dan di kiri.


Suaminya tak ada!


Entah ia menghilang ke mana!


Kecemasan Rosaline baru memudar tat kala ia sampai di gerbong paling belakang di mana dilihatnya Leon sedang bengong menatap ke dalam bilik khusus perokok tersebut.


"Kau sedang apa?" Rosaline memegang pundak suaminya hingga pria itu agak tersentak kaget.


"Eh, kau? Kenapa kemari?"


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada di sini?"


"Aku sedang melihat mereka! Aku merindukan mereka!"


"Mereka? Orang-orang itu?" Rosaline melongok bingung.


"Bukan orang-orang itu! Tapi rokok dan asapnya!" jawab Leon santai.


Rosaline mendelik mendengarnya.


"Kau ingin merokok? Jangan gila! Rorok tidak baik untuk kesehatan, apalagi sekarang aku sedang hamil! Ayo pergi dari sini! Meski gerbongnya tertutup rapat, aku masih bisa mencium sedikit baunya! Kau tahu, perokok pasif jauh beresiko daripada perokok aktif!" Rosaline mengomel sambil menyeret suaminya agar menjauh dari gerbong tersebut.


"Kita mau ke mana? Tidak kembali ke kursi?"


"Kau perlu diceramahi dulu!"


"Apa salahku? Aku hanya melihat! Lagipula semenjak kita bersama, aku tak pernah merokok!"


"Pembohong!"


"Pambohong?"


"Iya! Jangan dikira aku tidak tahu kau sering menyelinap keluar kamar dan merokok malam-malam!"


"Hanya sekali!"


"Sekali? Katakan lagi dan akan ku tambah omelanku!"


"Hehe...baiklah! Beberapa kali.Kau tahu mulutku rasanya pahit."


"Jika mulutmu pahit, aku akan membelikanmu permen sekarung! Aku tidak peduli, pokoknya kau tidak boleh menyentuh rokok lagi!Sekarang dan untuk selamanya!" seru Rosaline tegas.


"Sekarung? Bisa-bisa bukan asap rokok yang membunuhku, tapi diabetes!"


"Kau membantahku lagi, hah? Aku melarangmu karena aku menyayangimu!"


"Aku tidak ingin merokok, sayang...! Aku hanya rindu baunya!" Leon membela diri.


"Tetap saja, asap dan racunnya akan menempel di bajumu lalu saat kau di dekatku tanpa sadar aku dan calon bayi kita menghirupnya! Beraninya kau dekat-dekat dengan asap rokok! Kau mau meracuniku dan anakmu, hah?!"

__ADS_1


Ah, salah Leon!


Memang Leon selalu salah!


Seharusnya Leon menerapkan 3 aturan ini dalam hidupnya:


Pertama jangan berdebat dengan ibu-ibu apalagi yang sedang hamil!


Kedua jangan berdebat dengan Rosaline!


Dan yang ketiga, tentu saja jangan berdebat dengan Rosaline yang sedang hamil!!!


Itu sama saja menantang maut!


Habislah kau, Leon!


Pria itu kini mati kutu dan hanya bisa pasrah mendengar omelan istrinya yang tak berhenti sepanjang gerbong kereta.


.


.


Leon mengajak Rosaline duduk di sebuah kedai di depan stasiun sambil menikmati pemandangan yang membentang indah di luar.


Pegunungan dan aliran sungai, serta barisan bukit nan hijau.


Udara cukup dingin sebab hujan baru saja reda. Pelayan menyuguhkan 2 cangkir teh hangat serta 2 porsi pisang bakar madu di meja mereka.


Pasangan suami istri itu makan dengan tenang tanpa ada perbincangan apapun.


Bukan karena masih ada uap kemarahan di antara mereka, tapi sesekali mereka ingin menikmati waktu dengan pikiran masing-masing.


Rosaline melirik suaminya dan mengusap sedikit cemot di bawah bibirnya lalu menjilatnya dan kembali makan.


Ia menikmati perhatian istrinya, dengan begitu dia merasa dimiliki dan dicintai.


Sebelum Rosaline datang, ia tidak pernah merasa sedamai ini dalam hidupnya. Semua uang, kekayaan dan kekuasaan yang ia miliki tidak pernah bisa membuatnya nyenyak dan merasa puas.


Tapi dengan kehadiran Rosaline di sampingnya sudah cukup membuat hati Leon penuh dan tergenapi.


Iseng, Leon mengoleskan lagi madu ke ujung bibirnya. Rosaline melihatnya dan kembali ingin mengusapnya, namu Leon menahan tangannya.


Ia lantas menyondongkan wajahnya dengan sok polos.


Rosaline yang kenal betul pikiran mesum suaminya langsung tergelak dan geleng-geleng kepala.


Baiklah!


Ia ikut menyondongkan wajahnya dan membersihkan noda madu itu dengan pagutan yang panjang dan menyenangkan.


Bibir keduanya menari di tengah dingin dan lembab cuaca serta khusuk di siang yang mendung.


Semua perdebatan tentang rokok merayap pergi ke angkasa dan hilang begitu saja, seperti asap rokok ditelan udara.


Tanpa mereka tahu jika beberapa kursi dari tempatnya duduk, seseorang tengah memandangi Rosaline diam-diam.


.


.


.


Tepat pukul 4 sore kereta yang Leon dan Rosaline tumpangi akhirnya sampai di stasiun kecil tempat yang mereka tuju.

__ADS_1


Keduanya turun dengan salah seorang perwakilan dari pihak travel merangkap penyedia jasa pemotretan yang langsung mengantar mereka ke penginapan dan memberikan jadwal serta sedikit arahan soal konsep pemotretan besok.


.


.


.


"Ah, aku lapar tapi tubuhku lelah sekali." keluh Rosaline sambil menggonta-ganti saluran tv sebab tak ada satu pun acara yang menarik di matanya.


Leon yang baru selesai mandi pun dengan sigap menawarkan diri untuk memijat istri super sensitifnya itu.


Ia duduk di tepi ranjang dan mulai memijat kaki Rosaline.


"Apa kau sudah minum vitamin dan obat anemiamu?" tanyanya perhatian.


Rosaline menggeleng.


"Dasar! Dokter bilang kau harus meminumnya tepat waktu!" Leon akhirnya menemukan celah untuk membalas omelan istrinya yang memanaskan telinganya selama hampir 3 jam perjalanan.


Ia mengambil obat dari dalam tas, lalu tersadar kalau mereka kehabisan air mineral.


"Tunggu di sini, aku akan membeli keluar sebentar!"


30 menit berselang dan pria itu belum kembali.


Rosaline yang lagi-lagi bosan mencoba menelepon Leon, tapi ia tak mengangkatnya dan malah mendengar bunyi dering ponsel di dekatnya.


Ternyata ponsel Leon ketinggalan di kamar.


Rosaline mendengus sebal, ia memutuskan untuk menyusul suaminya.


Kenapa ia selalu menghilang dan meninggalkanya sendirian?


Jangan-jangan kali ini ia benar-benar mencoba menyelinap untuk merokok, pikirnya.


Wanita hamil itu berkeliling area penginapan yang cukup luas dan lengkap, mulai dari area tempat bermain anak hingga kolam pemandian air panas, namun Leon tak kunjung ketemu juga.


Karena lelah, ia memutuskan untuk duduk di area foodcourt dan saat itulah seseorang memanggilnya dengan sebutan yang sangat familiar dan tak ada seorang pun yang pernah memanggilnya dengan nama panggilan itu kecuali 'dia'.


"Rosa si gadis penyihir, apa ini kau?"


Rosaline mendongak dan menemukan pria dengan senyuman yang sangat dikenalnya.


Ialah "Pemilik ciuman pertamanya', yang enggan ia ceritakan pada Leon.


Setelah belasan tahun berlalu.


Kini pria itu ada di sini.


Di tempat ini.


Tepat di hadapannya.


.


.


.


Syalala....lala...


Cuma mau bilang itu aja!

__ADS_1


__ADS_2