Dandelion Motel

Dandelion Motel
Makan Malam Romantis


__ADS_3

Setelah asik bermain tanpa terasa hari sudah menjelang malam, mereka menikmati indahnya sunset dari atas balkon sebuah restaurant di pinggir pantai.


"Bagaimana, apa kau menyukainya?" tanya Leon pada kekasihnya yang masih dengan posisi berdiri menikmati indahnya pesona langit malam di sisi pantai. Lalu kemudian Leon mengarahkannya untuk duduk.


Mereka menikmati makan malam di bawah guyuran sinar rembulan. Pencahayaan yang remang-remang dan tamu yang terbatas seolah restaurant itu benar-benar dibuat privasi. Musik bergenre jazz yang lembut yang diputar di playlist menambah suasana romantis.


Leon mengulurkan tangannya untuk mengajak Rosaline berdansa.


"Tidak-tidak, aku tidak bisa berdansa." tolak wanita itu.


"Ayolah aku akan mengajarimu." pria itu coba meyakinkan seraya meraih tangan kekasihnya dengan lembut.


Rosaline bangkit dari duduknya, mereka berdua kini saling berhadapan. Namun wanita itu menghindari tatapannya dari Leon karena berhadapan langsung dengan pria itu seperti ini membuatnya sangat gugup dan itu sesuatu yang ingin dia sembunyikan.


"Ini sangat mudah, letakan tanganmu seperti ini." ucap Leon seraya mengarahkan kedua tangan Rosaline untuk mengalung di lehernya.


"Jangan mengelus tengkukku, atau aku akan menggila." bisik pria itu dengan nada menggoda.


Rosaline hanya mendengus dan terus menghindari berkontak mata langsung dengan Leon. Namun wanita itu tersentak ketika pria itu menarik pinggang rampingnya untuk lebih menempel kepadanya, spontan Rosaline menatap wajahnya. Kini pandangan keduanya tengah beradu dan saling menatap.


"Sekarang ikuti langkah kakiku." pria itu memberi instruksi untuk menuntun langkah mereka agar seirama.


Setelah beberapa kali akhirnya Rosaline melakukannya dengan cukup baik. Ekspresinya sudah terlihat lebih santai tapi jantungnya masih tetap berdebar kencang.


Di tengah dansanya Leon melempar senyuman manis ke arah Rosaline lalu mengecup singkat bibir mungil kekasihnya itu. Wanita itupun memberanikan dirinya untuk membalas kecupan Leon.


Dari kecupan-kecupan singkat kini berubah menjadi pagutan lembut di antara keduanya.

__ADS_1


Dan malam ini tempat itu menjadi saksi moment romantis yang baru pertama kali Rosaline rasakan dan pertama kali Leon lakukan.


"Aku mencintaimu." Entah sudah berapa kali Leon menyatakan cintanya dan wanita itu hanya mampu menjawabnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dari tatapannya, Rosaline benar-benar telah tersentuh dengan perlakuan lembut pria itu.


Diakhir lagu pria itu mencium puncak kepala Rosaline dan memeluk kekasihnya itu dengan sangat erat.


.


.


.


Semenjak ditinggalkan orang tuanya, Rosaline percaya bahwa di dunia ini hanya ada warna hitam. Tak perduli ada berapa warna yang ada, pada akhirnya ketika semuanya dicampurkan hanya akan menghasilkan warna hitam. Dia tumbuh dewasa dengan pemikiran seperti itu.


Rosaline yang selalu pesimis, skeptis, realistis tidak pernah percaya pada hal romantis. Namun sejak Leon datang, segalanya berubah.


Mereka berdua adalah dua kutub magnet yang saling berlawanan bahkan cenderung tolak-menolak sebenarnya. Ketika tumbuh dengan rasa kecewa pada orang tua membuat si pria gemar bertingkah egois dan sesukanya, sebaliknya menjadi yatim dan terpisah dari ibunya di usia belia membuat si wanita selalu menahan diri bahkan menyembunyikan ketakutan dan kesedihannya di balik senyuman manisnya.


Tapi pada akhirnya mereka saling menaklukan satu sama lain. Saling melucuti kesepian, kekosongan dan kekeringan dalam tandusnya jiwa mereka.


.


.


.


Leon memarkir mobilnya di depan motel kemudian dia menoleh ke arah Rosaline yang masih tertidur di jok mobilnya.

__ADS_1


Dipandanginya wanita itu dengan sangat lekat sambil tersenyum seakan itu pemandangan yang sangat indah dan sayang untuk dilewatkan hingga dia tak mau untuk membangunkannya. Lalu disibaknya helaian rambut yang menutupi wajah cantiknya.


"Kau sangat cantik bahkan ketika sedang tertidur." bisik Leon seolah sedang bermonolog.


Perlahan pria itu melepas sabuk pengaman dari pinggang Rosaline, dikecupnya dengan lembut pipi kekasihnya hingga membuat wanita itu tersentak dari tidurnya.


Ia terperanjat menyadari mereka sudah sampai di area parkir motelnya, "Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Rosaline dengan ekspresi kaget dan malu.


"Mungkin sudah sekitar 2 jam." jawab Leon santai.


"Yakkk...Kenapa tidak membangunkan ku?" tanyanya lagi tidak bisa menutupi rasa malunya.


"Kau terlihat sangat lelah, aku tak tega membangunkanmu. Bahkan tadi tidurmu sangat lelap seperti putri tidur jadi aku menciummu agar kau terbangun." goda Leon.


Semburat merah terlihat di pipi wanita itu.


"Wajahmu memerah?" tanya pria itu dengan sedikit tawa.


"Panas. Ya, karena di sini terasa panas sekali." elak wanita itu sambil berpura-pura mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya dengan ekspresi canggung sekaligus malu.


"Rosaline, terima kasih untuk hari ini." ucapnya sambil meraih tangan kekasihnya.


"Jangan bekerja dan beristirahat saja untuk malam ini." pinta Leon dengan nada lembut.


Rosaline hanya menjawabnya dengan anggukan lembut sebelum dia keluar dari mobil Leon dan masuk ke motelnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2