
Leon yang akhirnya sadar bahwa sikapnya berlebihan, kini sedang kelimpungan mencari Rosaline.
Ia kembali ke studio foto dengan tubuh yang basah kuyup, tapi tempat itu telah sepi.
Memang studio itu Rosaline sewa seharian dan karena pemotretan mendadak batal maka semua kru pulang.
Leon bergegas ke villa, berharap menemukan istrinya sedang duduk manis menantinya di atas ranjang, namun tentu saja itu mustahil.
Rosaline tak ada di sana dan pasti sedang mencarinya seorang diri di tengah hujan.
Sial!
Bagaimana bisa Leon meninggalkan istrinya yang sedang hamil sendirian?
Pria itu menyesal setengah mati dan sibuk mengutuki diri.
Ia tiba-tiba teringat pada surat ancaman itu.
Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Rosaline dan calon bayi mereka?
Sungguh Leon merasa bodoh!
Sangat bodoh!
Ia ketakutan sendiri, berharap semua kecemasan di benaknya hanya ilusi. Rasa cemburu dan kemarahannya kini tak penting lagi.
Dengan menggigil, tangannya yang memutih dan kisut dicambuk dingin kembali menekan nomor istrinya. Namun tak bisa.
Hujan membunuh sinyalnya. Membuatnya merana dalam penyesalan dan rasa bersalah.
.
.
.
Rosaline mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia menatap ke luar jendela yang mengarah ke halaman samping pondok tempatnya berteduh.
Pemilik pondok ini adalah si sosok dalam balutan jas hujan tadi.
Namanya Marta, ia seumuran ibu Rosaline, jadi kita panggil saja 'bibi'.
Wanita itu sedang dalam perjalanan pulang dari membersihkan kebun saat melihat Rosaline di tengah jalan.
Katanya sosok Rosaline mengingatkannya pada sang anak yang tinggal jauh darinya.
Rosaline sebenarnya tak suka mendapat bantuan dari orang asing bahkan sampai berani berteduh di rumahnya, tapi hujan yang tak kunjung berhenti dan petir yang semakin keras menyalak membuatnya tak kuasa menolak.
Ia kedinginan dan terlalu lelah untuk kembalik ke villa.
"Ku buatkan teh Madu. Ku lihat kau berbicara dengan bayi dalam perutmu tadi. Berapa usia kandunganmu?" bibi Marta meletakkan segelas teh yang masih mengepul panas ke meja kecil di hadapannya.
"Tiga belas minggu." Rosaline menjawab datar.
"Wanita hamil sepertimu kenapa berkeliaran sendirian di tengah hujan badai begini?"
"Aku mencari suamiku." Rosaline menatap keluar dengan mendesah.
"Di mana suamimu? Kenapa ia tega menelantarkan istrinya yang sedang hamil di tengah hujan?"
"Aku tidak tahu ia di mana, tapi jika ketemu, aku akan memberi pelajaran pada pria baji****n itu!" Rosaline mengepalkan tangannya dan memukul meja dengan geram hingga si gelas teh terguncang dan isinya sedikit tumpah.
Bibi Marta tertawa melihat kelakuan tamunya yang menurutnya lucu. Rosaline melirik aneh ke arahnya.
"Baji****n? Hahaha...kau memanggil suamimu baji****n? Ya, tentu saja ia pria baji****n karena tega menelantarkan istrinya yang sedang hamil! Kau harus memberinya pelajaran! Hahaha...sudah, minumlah teh nya! Hangatkan tubuhmu! Kasihan bayimu!"
Rosaline mengangguk dan tanpa sungkan langsung menyeruput tehnya.
"Aaaahhh...panas! Sialan, panas!!!" ia buru-buru meletakkan tehnya ke atas meja dengan kasar.
__ADS_1
Rosaline heboh mengipas-ngipas mulut dan lidahnya.
"Hahaha...kau baru saja memaki tehnya? Dasar ceroboh! Sudah tahu panas, kenapa tidak ditiup dulu? Kau ini! Hahaha...." bibi Marta lagi-lagi dibuat tergelak oleh kelakuan ajaib tamunya.
"Aish, ini semua gara-gara Leon!" maki Rosaline kesal.
Ia merenggut dengan tangan terkepal.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu depan.
Bibi Marta dengan segera bangun dan bergegas memeriksanya.
"Bibi, apa kau baik-baik saja? Kenapa meneleponku? Apa kau sakit lagi? Jatuh lagi di kebun?" terdengar suara seorang pria di luar.
Rosaline yang sedang meniup-niup tangannya seketika mendongak.
Ia mengenalnya!
Tentu saja ia mengenal suara itu!
Pemiliknya adalah alasan suaminya cemburu!
"Tidak! Bibi baru memanen banyak apel dan ingin memberimu."
"Bibi ini, ku kira ada apa! Membuatku cemas saja! Undangan dariku sudah dibaca, kan? Ingat, bibi harus datang! Eh, ini sepatu siapa? Bibi ada tamu?"
"Seorang wanita. Kasihan, ia sedang hamil tapi malah ditinggal suaminya! Bibi menemukannya di tengah jalan." Bisik bibi Marta pada sosok yang sudah dianggapnya anak sendiri itu.
"Hah?" Theo menatap kaget.
"Orangnya di dalam?" tanyanya penasaran.
"Iya."
"Siapa namanya?"
Dan seketika terperangaah ia!
"Gadis penyihir!? Wah, jadi wanita hamil yang ditinggalkan suaminya itu kau?" tatapnya tak percaya.
Di dekat mereka, bibi Marta melongo mengetahui bahwa kedua tamunya saling mengenal.
.
.
.
Bagi Rosaline, ada 3 jenis kegelapan dalam hidupnya.
Pertama, tragedi gila penuh darah yang menimpa keluarganya dalam semalam.
Kedua, terganggunya mental neneknya setelah kejadian itu.
Ketiga, janji seorang Theo yang raib di bawah temaram sinar bulan pada akhir Desember, belasan tahun silam.
Rosaline masih ingat hari itu dengan jelas, ketika untuk pertama kalinya ia mulai membuka hatinya pada seseorang.
Namun sebelum kisah mereka bahkan dimulai, api romansa itu padam, gugur dimangsa waktu lalu terhempas ke jalanan dan diinjak musim yang silih berganti.
Kalian penasaran apa yang terjadi di antara mereka?
Mari kita kembali ke halaman sekolah asrama itu, tempat yang Rosaline panggil penjara tapi Theo menyebutnya taman bermain.
Siapa yang benar?
Kalian yang menentukannya!
.
__ADS_1
.
.
Sebuah mobil berhenti di halamannya yang megah.
"Kita sudah sampai, sayang!" kata pria berkumis tipis di balik kemudi pada seorang gadis remaja berwajah cantik tapi garang di kursi penumpang
Gadis itu Rosaline.
Ia melangkah keluar dengan angkuh. Ini kesekian kalinya ia pindah sekolah, asrama, atau apapun itu.
Si pria berkumis tipis dengan setelan jas ikut keluar dan berdiri di sampingnya.
Sebelum mereka masuk, pria yang biasa ia panggil ayah itu menahan lengan si gadis dan mengulurkan tangannya.
Si gadis tergelak sinis, ia menatapnya dengan kesal.
"Ayah sungguh ingin kita masuk dengan bergandengan tangan?" tanyanya.
"Permen karetmu!" jawab Billy.
"Oh!" Rosaline tampak agak malu tapi ia menutupinya dengan gaya santai.
Gadis itu lalu menunduk dan meludahkan permen karetnya ke tanah.
Rosaline tersenyum dan melangkah maju, namun baru selangkah, Billy kembali menahan lengannya.
Ia mengulurkan tangannya yang lain kali ini.
"Apa lagi?" tanya Rosaline sok polos.
"Rokok, korek dan benda-benda aneh yang kau sembunyikan. Atau ayah yang harus mengeluarkannya?" ancam Billy.
"Ayah...!!!" Rosaline merenggut dan mulai mengeluarkan rokok dan korek dari dalam branya, lalu serangga mainan, petasan dan benda-benda aneh lainnya dari sela kaos kaki serta lipatan roknya.
Billy menggeleng dan menaruh semuanya ke dalam mobil.
"Kau ini anak gadis, tapi kelakuanmu seperti anak laki-laki saja! Bahkan kenakalanku dulu tak separah kau! Ckckck... Untung kau pintar, kalau tidak mungkin tidak akan ada sekolah yang mau menerimamu!"
Rosaline hanya menanggapi omelan ayahnya dengan acuh seakan telinganya tuli.
Ia berjalan memimpin anak gadisnya ke dalam asrama.
.
.
.
Rosaline tak suka sekolah, tapi ia suka belajar.
Ia tak suka mendengarkan guru tapi suka mengerjakan tugas, membaca dan mempelajari banyak hal.
Ia sebenarnya murid yang cerdas, tangkas dan berprestasi namun karakternya yang masa bodoh, dingin dan suka seenaknya sendiri itu lebih sering membuat jengkel guru dan menakuti teman-temannya.
Rosaline menunggu di lorong, sementara Billy berbasa-basi sebentar dengan kepala sekolah di dalam ruangan.
Ia memandang ke luar jendela dan melihat seorang murid laki-laki sedang dikejar beberapa pria di lapangan.
Murid itu terbahak-bahak sambil merekam aksi orang-orang yang mengejarnya dengan kamera video.
"Sekolah ini boleh juga!" Rosaline bergumam dengan secarik senyuman licik nan misterius.
.
.
.
__ADS_1