Dandelion Motel

Dandelion Motel
Black Rose


__ADS_3

Rosaline keluar dari kamar mandi, ia naik ke ranjang dan berbaring di samping suaminya.


Tak ada dialog, hanya keheningan. Rosaline sedang larut dalam cengkarut di benaknya.


Segala yang terjadi terlalu sulit ia mengerti.


Leon hendak membuka percakapan, namun Rosaline lebih dulu buka suara dengan pandangan kosong menembus langit-langit kamar.


"Dia bukan manusia semacam itu! Dia bukan manusia semacam itu, Leon...." desahnya tak paham.


"Sayang...." Leon ingin memeluk istrinya, namun Rosaline lebih dulu mendekapnya.


"Dia bukan manusia semacam itu...." Rosaline tiba-tiba terisak.


Dan Leon seketika bingung, apa ini ulah hormon atau karena tindakan Theo yang benar-benar sudah melukainya?


Jika ini murni kekecewaannya pada Theo, berarti hubungan mereka lebih dekat dari yang dibayangkannya.


Kali ini alih-alih cemburu, Leon justru ikut merasa sedih dan kasihan.


"Sssstttsss... tenanglah, sayang.... Kita tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi pada seseorang setelah belasan tahun... Ssstttsss...." Leon mengusap-usap punggung istrinya.


"Theo... dia sungguh bukan kepa**t seperti itu! Tapi... tapi... aku menemukan foto-fotoku yang ia ambil diam-diam dan banyak surat ancaman di lacinya! Kenapa? Kenapa dia melakukannya, Leon? Kenapa???" Rosaline menatap suaminya bingung.


Tubuhnya gemetar tak karuan, sementara air mata tak henti membasahi paras cantiknya.


Ia pasti sangat terkejut mengetahui seseorang yang pernah sangat dikenalnya tega berbuat sekeji ini.


"Ssstttsss... ssstttsss... tenanglah! Tenanglah, Rosaline....! Tenanglah, sayang..." Leon berusaha menenangkannya, ia pun bingung harus mengatakan apa.


Ia hanya bisa mengusap punggung istrinya dan membuatnya lebih tenang.


"Kenapa? Kenapa dia berbuat seperti itu? Setelah belasan tahun menghilang, setelah meninggalkanku seenaknya tanpa kata! Kenapa dia datang dan mencoba mengacaukan keluarga kita, bahkan membahayakan bayi kita? Kenapa? Dasar bajin**n!!! Kepa**t!!! Aku harusnya tak melepaskannya begitu saja tadi! Aku harus memberinya pelajaran! Aku akan membunuhnya sekarang juga!!!" Rosaline tiba-tiba bangun.


Ia benar-benar ingin pergi menghajar Theo.


Leon buru-buru bangun dan menenangkannya.


Sisi emosional Rosaline dan sifat impulsifnya kembali tanpa terduga.


"Tenanglah! Tenanglah, sayang! Kau tidak boleh seperti ini!" Leon memeluknya erat.


Sekian menit berlalu dan tangisan Rosaline mulai mereda.


"Aku tahu kau pasti sangat terkejut!" Leon membelai lembut wajah istrinya.


"Itu wajar, semua orang pasti terkejut! Itu normal! Tidak apa-apa! Kita tidak bisa mengerti bagaimana waktu bisa mengubah watak seseorang."


"Aku masih tidak percaya... Aku masih..." Rosaline kembali tergugu.


"Iya... iya... besok kita akan mencari tahu kenapa dia melakukannya. Besok aku akan lapor polisi. Jangan cemaskan apapun! Baby Love kita pasti ikut terkejut." Leon menunduk dan membelai perut istrinya.

__ADS_1


"Kau pasti sangat terkejut kan, Baby Love ayah? Sekarang tidur ya! Ayah akan menyuruh ibumu tidur juga!" bisik Leon dengan agak susah sebab ujung bibirnya yang robek membuatnya kesakitan setiap kali bicara.


"Sekarang istirahatlah! Baby Love juga perlu tidur, karena itu ibunya juga harus tidur ya!" Leon mengajak istrinya berbaring.


"Maafkan ibu, nak... Maafkan aku, Leon..."


Rosaline merasa bersalah karena sosok dari masa lalunya adalah sumber dari petaka yang menghampiri mereka.


Ia juga merasa sangat berdosa pada calon bayinya, sebab membuat jiwa polosnya ikut terseret dalam bahaya.


"Bukan salahmu! Kenapa ini salahmu? Aku yang harus minta maaf! Aku gagal melindungi kalian! Aku terlambat menyelamatkanmu dari pria psikopat itu! Aku bahkan tak tahu siapa pelaku teror itu jika bukan karenamu! Aku suami yang lamban, Rosaline! Aku ayah yang payah dan tak berguna! Jika mengingat bagaimana tubuhmu dibekap di pesta tadi dan dilemparkan ke dalam kolam, rasanya aku..." Leon mengepalkan tangannya dengan geram.


Hening... dan ia mendesah.


Airmatanya jatuh.


Ia sungguh tak sanggup memikirkan jika... jika... mimpi buruknya menjadi kenyataan.


Bagaimana ia bisa menjalani hidup jika terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya?


Tidak bisa!


Leon pasti akan mengakhiri hidupnya juga.


"Baby Love... maafkan ayah... Rosaline... maafkan aku... maafkan aku..." Leon gantian tersedu di atas pundak istrinya.


Beruntung Rosaline hanya dilemparkan ke kolam, bagaimana jika itu sungai berarus deras atau sebuah jurang?


Ia bisa gila.


Ia sungguh bisa gila hanya dengan membayangkannya saja.


Rosaline mengangkat paras pucat suaminya dan menatapnya dalam-dalam.


Rasanya aneh, sebab beberapa jam lalu mereka masih bergelimang canda, berselimut tawa dan saling menggelitik di atas kasur ini, namun... kini semuanya lenyap dan yang tersisa hanyalah kesedihan yang mengguncang - menyesakkan.


Dipegangnya pipi suaminya. Demamnya sudah turun, namun pria itu masih tampak layu dan menyedihkan.


"Kau... seperti kurma yang kering... aku benci melihatmu begini! Aku benci melihatmu seperti ini!"


Ah, semuanya ulah Theo sialan itu!


Dasar bajin**n tengik!


kepa**t jaha**m!!!


Tiba-tiba Rosaline jadi bertanya-tanya, bagaimana bisa ia berakhir di sini?


Bagaimana bisa ia terjatuh dalam perangkap seorang Theo?


Semuanya pasti bukan kebetulan!

__ADS_1


Semuanya pasti sudah direncanakan!


Rosaline turun dari ranjang dan bergegas mengambil ponselnya dari dalam tas.


Ia lalu kembali dan menunjukan apa pun yang dibukanya pada Leon.


Rosaline membuka akun sosial media miliknya, di mana seorang pengikut sosmednya bernama 'BLACKROSE' merekomendasikannya tempat ini.


Si pengikut itu mengirim link voucher diskon penginapan yang berhasil memikat Rosaline.


Ia bahkan memohon-mohon agar Rosaline mau menerimanya sebagai hadiah pernikahan.


"Kepa**t! Dengan bodohnya aku tertipu dan datang ke tempat ini! Theo pasti pemilik akun ini! Dasar bajin**n!!! Sungguh aku akan mencincangnya hidup-hidup besok!!!" Rosaline meremas ponselnya yang tak berdosa.


Leon mengambil alih ponsel itu dan mengecek foto profil serta segala data pribadi dari akun bernama 'Blackrose' tersebut, namun tak banyak yang bisa ia dapatkan selain sebuah pertanyaan di kolom perkenalan:


..."BAGAIMANA BISA...


...KAU TERSENYUM...


...SETELAH MENGHENCURKAN...


...HIDUP SESEORANG?"...


Keduanya terdiam dan saling berpandangan dengan tak paham.


"Dendam apa yang Theo miliki padamu? Apa kau menolak cintanya dengan kasar dulu? Aku bukan tipikal orang yang percaya bahwa cinta bertepuk tangan sanggup membutakan seseorang, tapi setelah melihat kegilaan dari si bereng**k Jason rasanya...."


"Jujur saja aku masih tak percaya... rasanya aneh! Rasanya aneh, Leon! Theo dan aku... kami bahkan tidak pernah benar-benar saling menyatakan perasaan. Dan berbicara soal dendam, harusnya aku yang mendendam padanya! Kenapa dia yang mendendam padaku? Bajin**n itu yang menelantarkanku di tengah dinginnya salju" Rosaline mengernyit tak paham.


Keheningan kembali memangsa mereka.


Tiba-tiba terdengar suara gedoran keras dari pintu depan.


Siapa yang bertamu selarut ini?


Rosaline dan Leon saling pandang.


"Rosa... kumohon... dengarkan penjelasanku! Rosa... Rosa...!!! Buka pintunya dan dengarkan penjelasanku!!!" teriak Theo.


Leon dan Rosaline seketika tersentak.


Theo?


Apa itu benar-benar dia?


Datang ke villa mereka sama saja dengan menantang maut!


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2