Dandelion Motel

Dandelion Motel
Panik


__ADS_3

Hari ini jadwal kuliah Dante sangat padat. Sejak Rosaline menikah, tugasnya jadi bertambah yakni kuliah dan menjaga motel peninggalan orang tuanya.


Walaupun Rosaline sesekali datang membantu tapi tetap saja sekarang ia yang memegang tanggung jawab atas motel, beruntung ada Nora yang diangkatnya sebagai manager sedikit banyak lebih berpengalaman darinya.


Saat ini di sela kegiatan kampusnya, Dante terlihat tengah mengantri di salah satu foodcourt untuk makan siang.


Ia membaca menu yang tertulis di atasnya, sibuk memikirkan makanan apa yang diinginkannya.


"Silahkan!" seru si penjaga stan makanan ketika pelanggan yang berdiri di depan Dante menyelesaikan transaksinya dan pergi.


Dante mendongak dan keduanya saling tatap dengan jarak yang lebih dekat dan jelas.


Hening.


Keduanya saling mengenali.


Ialah si gadis yang berkuncir satu itu.


Yang tanpa sengaja berpelukan dengan Dante di taman hiburan.


Dante terenyak melihat ke arahnya, ia adalah gadis yang pernah membuatnya sangat malu.


Apa yang terjadi sebenarnya?


Mari kita kembali ke taman hiburan kala itu!


Ketika suara petir menyambar begitu keras, gadis itu melompat ke arah Dante yang otomatis menangkapnya.


Namun Dante hilang keseimbangan. Ia terhuyung, kemudian benar-benar tengsungkur jatuh dan mendaratkan tubuhnya persis di atas tubuh si gadis yang ada di pelukannya.


Setelah saling menatap beberapa saat, gadis itu dengan cepat mendorong tubuh Dante yang berada di atas nya hingga pria itu terduduk dan "PLAKKK!!!" gadis itu menamparnya - TELAK.


Dante tercekat sedikit mengaduh lalu memegangi pipinya yang memerah dan berdenyut ngilu.


William dan Rachel pun terbangun.


Keduanya melongo tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Maaf aku tidak sengaja." ucapnya sambil merapatkan kedua telapak tangannya.


Ia menyadari kesalahan walau sebenarnya ia tidak sengaja.


Satu hal yang harus kalian tahu, walaupun Dante sering menghabiskan waktunya di club malam dan sedikit urakan tapi untuk urusan wanita ia termasuk pria yang bermartabat.


Ia penjungjung tinggi sopan santun, penerap norma bermasyarakat dan tahu batas antara pria dan wanita - terutama yang belum menikah.


Berterimakasihlah pada Rosaline yang dengan sabar mengajarkan perilaku luhur itu, meski ia sendiri tak sungguh-sungguh melaksanakannya terutama setelah kenal dengan Leon.


Kembali ke wanita berkucir satu. Ia ikut bingung dan salah tingkah sebab tak pernah menampar siapapun seumur hidupnya, terutama seorang pria.


Ia pun yakin pria yang ada di hadapannya ini bukanlah seorang pria mesum, semuanya murni akibat suara petir yang memekak dan mengagetkan itu.

__ADS_1


"Bibi Luna!" Rachel yang kegirangan melihat bibinya sudah datang melompat dari bangku dan berhambur memeluknya.


Dante pun yang sudah paham siapa gadis itu menggandeng William dan berpamitan karena terlalu malu untuk memperkenalkan diri.


Gadis itu ingin mengejar untuk meminta maaf atas tamparannya tapi Dante terlalu cepat berlari, ia menghilang di balik punggung orang yang berlalu-lalang. Selain itu hujan mulai turun dan Luna, ya itu namanya, ia harus segera mengajak Rachel berteduh karena gadis kecil itu mudah sekali terserang flu.


Kembali ke saat ini.


Luna tahu nama pria di hadapannya adalah Dante.


Tentu saja Rachel yang memberitahunya. Bocah itu menggambarkan Dante sebagai paman tampan yang sangat baik hati karena mau menemaninya untuk menunggu.


"Tuan Dante!" kata Luna dengan senyuman sopan dan penuh dengan rasa bersalah.


Ia ingin meminta maaf tapi Dante tiba - tiba menunduk salah tingkah. Ia membungkuk sopan dan pergi menuju stan lain - sekali lagi ia hilang dari pandangannya.


Luna yang kebingungan dan sungguh ngin mengejar, tapi antrean pembeli mengular. Ia tak bisa enyah begitu saja.


.


.


.


Sementara itu Rosaline, Leon dan William tengah mengahabiskan waktu mereka bersenang - senang di area permainan anak untuk menghibur William karena Daniel harus kembali meninggalkannya.


Ketiganya nyaris mencoba semua permainan yang ada.


Mulai dari bola basket (Leon mengangkat William untuk membantunya memasukan bola ke keranjang), menembaki zombie dalam video game, bermain bombom car, mengambil boneka dalam mesin capit sampai-sampai Leon dan Rosaline ketagihan dan berebut ingin terus memainkanya. Entah berapa banyak uang yang mereka habiskan untuk satu permainan itu. Bahkan Leon ketularan Rosaline yang hobi mengumpat karena terus - menerus gagal.


Mereka sangat cocok menjadi orang tua, tidak ada yang mengira kalau William bukan anaknya.


.


.


.


Di tengah perjalanan pulang, Rosaline yang kelelahan sempat tertidur namun tiba - tiba terbangun, ia merasa perutnya tak nyaman.


Ia bolak - balik mengganti gaya duduk sambil memegangi perutnya yang terasa agak keram. Rasa sakit itu sesekali mereda namun selang beberapa menit kemudian kembali datang.


Ia tak tahu apa ini wajar atau berbahaya bagi kehamilannya.


"Kau kenapa, sayang?" tanya Leon mulai menyadari ekspresi istrinya saat di lampu merah.


Rosaline mengernyit dan mengatakan kalau perutnya terasa agak sakit.


"Apa bibi mau ke toilet?" tanya William polos.


Rosaline menggeleng, ia mencengkram tangan Leon sembari meringis kesakitan.

__ADS_1


"Di mana yang sakit? Di sini? Di sini?" tanya Leon gugup sambil ikut memegang perut istrinya.


Keringat dingin membasahi tengkuknya. Rasa takut dan cemas menghantamnya, ini pengalaman baru baginya sebagai calon seorang ayah. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan calon anaknya, mengingat Rosaline pernah mengalami ini sebelumnya.


Rosaline mengangguk pelan.


"Iya di sekitar sana." jawabnya.


"Sejak kapan? Kenapa tidak bilang?"


"Sejak 15 menit yang lalu, tapi rasanya timbul tenggelam."


"Kita ke dokter sekarang, ya!" kata Leon.


Begitu lampu berubah hijau, ia langsung banting stir secepatnya tak jadi pulang ke rumah.


"Apa sangat sakit, bibi?" tanya William sambil memegangi pundak Rosaline dengan penuh perhatian.


Rosaline mengangguk sambil menahan sakitnya.


Bocah tampan itu ikut was-was dan takut. Keceriannya tadi sirna.


Sementara Leon menyetir dengan brutal. Ia salip sana, terobos sini. Berbahaya sebenarnya tapi mau bagaimana lagi.


Ia harus segera sampai rumah sakit yang jaraknya cukup jauh.


Sekitar 20 menit akhirnya mereka sampai di halaman rumah sakit.


Leon membantu Rosaline turun dengan hati-hati.


"Apa kau bisa berjalan sendiri? Ah tidak! Ku gendong saja!" Leon membawa Rosaline dalam gendongannya dan masuk dengan tergopoh.


William mengikutinya dengan bingung serta penuh kecemasan.


"To..tolong perutnya sakit!" ujar Leon pada perawat yang ada di lobi rumah sakit.


Seseorang dari mereka dengan cepat mengarahkannya ke salah satu bilik bertirai di IGD.


Leon membaringkan Rosaline di sana.


Rosaline memejamkan mata menahan rasa sakit sambil memegangi perutnya.


Leon dan William menatap cemas di dekat ranjang.


"Sakit perutnya sejak kapan? Di bagian mana?" perawat itu meraba perut Rosaline dan menekannya pelan.


"Dia sedang hamil, saya takut." Leon memegangi tangan Rosaline dengan takut.


"Tunggu sebentar! Saya akan panggilkan dokter."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2