Dandelion Motel

Dandelion Motel
Kasih Seorang Ibu


__ADS_3

Aku akan memulai bab ini dengan sebuah kalimat yang sangat terkenal, "Kau tahu alasan kenapa tidak ada panggilan bagi orang tua yang kehilangan anaknya? Seorang istri yang kehilangan suaminya disebut janda, suami yang kehilangan istrinya disebut duda, sedangkan anak yang kehilangan orang tuanya disebut yatim piatu."


Karena kehilangan seorang anak adalah suatu perasaan yang tidak bisa terkatakan, kesedihannya tidak mampu tergambarkan.


Kisah ini bukan hanya tentang anak-anak yang kehilangan orang tuanya, tapi juga orang tua yang harus terpisah dengan anaknya.


Bagi Nancy 9 tahun yang lalu merupakan hari ternaas dalam hidupnya. Itulah hari di mana dia kehilangan seluruh harapannya, suami nya dan juga terpaksa harus meninggalkan anak-anaknya.


Apa yang lebih menyakitkan dari cinta bertepuk sebelah tangan?


Cinta yang tidak bisa diwujudkan dengan tindakan


Cinta yang tidak bisa diperlihatkan lewat perhatian.


Cinta yang hanya bisa menggema tanpa benar-benar bisa ditunjukan keberadaannya.


Lantas apa yang lebih menyakitkan dari itu?


Cinta seorang ibu yang tak bisa tersampaikan pada anak-anaknya.


Bagi seorang ibu anaknya adalah semesta, jiwa dan nafasnya.


Dan ketika takdir memisahkan Nancy dan anak-anaknya, tak terbayangkan betapa hancur perasaannya.


Seolah baru kemarin dia berjanji akan menyeka setiap tetes air mata di pipi mereka, melawan semua yang mencoba melukai mereka dan memastikan mereka selalu tersenyum.


Seolah baru kemarin...


.


.


.


Waktu adalah musuh.


Nancy tergugu menyaksikan anak-anaknya menangis, menjerit dan memanggil-manggil namanya di saat tersuram hari di mana mereka dipisahkan secara paksa.


Kematian bukan hal paling menakutkan bagi orang tua. Meninggalkan anaknya sendirian di tengah kejamnya dunia adalah yang paling mereka cemaskan.


Tapi Nancy bisa apa?


Takdir itu datang tanpa kata,


tanpa rencana, tanpa aba-aba.


Itu bukan cuma hari yang paling menyakitkan bagi Nancy tapi bagi semua keluarganya, terutama bagi Rosaline.


Mendadak ia menjadi sendirian mengurus adik kecilnya dan seorang nenek yang sakit.


Nancy sadar, cinta tanpa pertemuan kembali adalah suatu penyiksaan tapi dia sudah memutuskan untuk pergi, menghilang dari anak-anaknya.


Bukan karena dia tidak menyayangi anak-anaknya, justru karena dia sangat mengasihi mereka.


.


.


.


Nancy merapatkan jaketnya dan tidur meringkuk di belakang bak sebuah truk. Ini adalah tumpangannya yang ke sekian.

__ADS_1


Ia tak mampu menghitungnya lagi. Ia hanya tahu, ia harus sampai di alamat yang tertulis di kartu nama itu secepatnya. Maka ia menumpang apapun dan bekerja serabutan agar bisa makan.


Jika saja Rosaline dan Dante tahu ibu mereka menderita seperti ini, entah apa yang akan mereka lakukan.


.


.


.


Leon turun dari mobil bersama Rosaline di sebuah rumah dengan pekarangan yang luas.


"Wah...besar sekali rumahnya. Apa ini rumah klienmu?" ucap Rosaline seraya menatap rumah itu dengan takjub.


"Ini rumah orang tuaku." jawab Leon sambil menggandeng tangan Rosaline agar berjalan beriringan.


"Yakk, tadi kau bilang akan menemui orang penting lalu kenapa kita ke sini?" protes wanita itu sambil memukul pelan tangan Leon yang berotot.


"Sudah waktunya aku memperkenalkanmu pada mereka karena sebentar lagi kita akan menikah." jelasnya.


"Tapi aku belum siap, bagaimana kalau mereka tidak menyetujui pernikahan kita?" tanya Rosaline dengan ekspresi khawatir.


Kekhawatiran wanita itu bukan tanpa alasan, mengingat status keluarganya yang berbeda dari orang kebanyakan mungkin saja bisa jadi alasan orang tua Leon untuk tidak setuju.


"Setuju atau tidak, aku akan tetap menikahimu." jawab Leon mantap.


.


.


.


Begitu mereka membuka pintu, ibu Anna segera berhambur memeluk Leon.


"Ibu senang kau pulang, ibu sangat merindukanmu." ucapnya lagi.


Sejenak ibu Anna melepas pelukannya lalu meraih pipi Leon, ditelitinya setiap sudut wajah pria itu.


"Kau jauh lebih tampan sekarang." lalu kemudian mengecup dahi Leon.


Rosaline yang menyaksikan interaksi antara ibu dan anak itu menjadi ikut terharu, dan menambah rasa rindu terhadap ibunya.


"Siapa gadis ini?" tanya ibu Anna yang baru menyadari keberadaan Rosaline karena semenjak tadi dia terlalu fokus melepas rindu pada Leon.


"Ini Rosaline, calon istriku." jawab Leon memperkenalkan.


"Sungguh? Ibu sangat bahagia kau pulang. Dan mendengar kabar bahagia ini ibu jadi lebih bahagia lagi." ujarnya dengan senyuman merekah.


"Kalian sangat serasi sekali, cantik dan tampan. Sangat sempurna." ucapnya lagi.


Leon dan Rosaline hanya tersipu mendengar pujian dari ibu Anna.


"Oh iya, ayah di mana bu?" tanya Leon di tengah kebahagiaan mereka. Belum sempat ibu Anna menjawab...


"Dasar anak nakal! Akhirnya kau berani untuk pulang rupanya." teriak pak Sam yang tiba-tiba keluar dari salah satu ruangan di rumah itu.


Leon yang sudah tahu tabiat ayahnya menanggapi dengan santai. Berbeda dengan Rosaline, wanita itu sedikit terperanjat.


"Memangnya kenapa? Bukankah ini rumahnya juga. Anakmu baru pulang setelah sekian lama, tapi kau malah memarahinya." protes ibu Anna.


"Sekali-kali kita harus memberinya pelajaran, kau selalu saja membelanya." balas pak Sam.

__ADS_1


"Sudah, sudah, ayah ibu berhentilah bertengkar di sini sedang ada tamu atau aku akan pergi." ucap Leon mencoba menengahi.


Leon melirik Rosaline yang sedikit syok karena kedatangannya malah disambut dengan pertengkaran pasangan suami-istri itu.


"Leon tersenyum tipis, jangan takut. Mereka berdua memang biasa bertengkar seperti itu." bisiknya.


Rosaline masih mencoba memahami apa yang Leon katakan.


"Hai, Rosaline. Apa kabar? Bagaimana bisnis motel mu?" tanya pak Sam tiba-tiba setelah mengakhiri perdebatannya dengan sang istri.


"Ba-baik om, Om juga apa kabar? Motel berjalan dengan baik berkat Om."


"Baguslah. Seperti yang kau lihat, om sudah semakin tua." jawabnya.


"Apa kalian sudah saling mengenal?" tanya ibu Anna.


"Iya, tante." ucap Rosaline dengan senyuman ramah.


"Tunggu-tunggu, kenapa ayah tidak terkejut aku membawanya ke sini? Apa ayah memata-mataiku lagi?" selidik Leon.


Pak Sam tidak menjawab, ekspresi wajahnya berubah kikuk.


.


.


.


Akhirnya Leon dan Rosaline mengutarakan rencana pernikahan mereka, dan semua berjalan lancar. Orang tua Leon sama sekali tidak keberatan, malah mereka merasa sangat bahagia.


Leon pun tidak menyangka mereka akan bisa berinteraksi seluwes ini, tidak ada kekakuan sama sekali seperti sebelum-sebelumnya.


Semua rasa bencinya telah mencair, yang ada hanya suka cita.


.


.


.


Ibu Anna menarik tangan Leon saat pria itu baru keluar dari kamar kecil.


"Ada yang ingin ibu katakan." ucapnya sambil membawanya ke kamar yang dulu ditempati Leon.


"Apa kau sudah mengunjungi makam ibu kandungmu?" tanya ibu Anna.


"Kenapa aku harus mengunjunginya? Ibu yang membesarkanku ada di sini." jawabnya.


"Kau masih membencinya?"


Leon memalingkan wajahnya tanpa menjawab.


"Ibu dan ayahmu tidak bersalah. Aku yang seharusnya kau benci."


Dahi Leon mengernyit mencoba mencerna apa yang ibu Anna katakan.


"Mungkin ini saatnya ibu mengatakan fakta yang belum kau ketahui."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2