
Di tepi sungai, pada hari minggu sepasang suami-istri itu saling bergandengan sambil sesekali saling pandang dan tersenyum sendiri.
Di sekitar mereka berderet para penjual makanan, keluarga yang sedang berpiknik hingga pasangan-pasangan yang sedang kasmaran.
Tiba-tiba langkah Rosaline terhenti, ia menjulurkan tangannya ke sebuah food truck penjual roti isi.
"Aku menginginkannya!"
"Kau mau itu?" tanya Leon.
"Hmm" gumam Rosaline dengan mata berbinar.
"Baiklah! Aku akan membelikannya! Duduk di sini dan jangan ke mana-mana!" Leon menuntun Rosaline untuk duduk di sebuah kursi taman lalu mengelus sayang kepalanya sebelum ia berlari menuju food truck itu.
Ada sekitar 7 orang mengatre di depannya, 1 orang bisa membeli 2 bahkan 5 roti.
Melihat antreannya saja sebenarnya Leon malas, tapi demi Rosaline dan bayi mereka, maka baiklah!
Setelah 30 menit mengantre hingga pegal dan lelah berdiri, Leon akhirnya mendapatkan 2 roti pesanannya.
Ia segera berlari ke arah Rosaline yang sedang asyik duduk sambil mengamati sepasang suami-istri dengan bayi kecil mereka.
Leon merangkul pundaknya, membuatnya agak terkesiap kaget.
"Yakk, kau mengagetkanku!" protes Rosaline.
"Kau sedang melihat apa sampai tidak sadar suamimu di sini, hah?" Leon pura-pura kesal, kemudian duduk di sampingnya.
"Mereka!" tunjuk Rosaline pada pasangan yang sedang mendorong kereta bayi.
"Memang ada apa dengan mereka?" tanya Leon sambil membukakan kertas pembungkus roti isi milik Rosaline.
"Aku ingin seperti mereka! Bisa kan kita seperti mereka?"
"Tentu saja, asal...." Leon tampak serius dengan kalimatnya.
"Asal apa?" Rosaline menatap cemas bercampur penasaran.
"Asal...kita..."
"Kita apa?" tanya Rosaline semakin penasaran.
"Punya kereta bayi,hehe...."
"Aiishhh, lucu sekali! Aku baru sadar menikahi pria dengan selera humor sereceh ini, ckckck...!" Rosaline menggeleng dan mengambil roti isinya dari tangan Leon.
"Sudah terlambat untuk menyesalinya! Sekarang kau sudah menjadi milikku, nona Rosaline!" Leon menggigit roti isinya.
"Dasar serigala licik sia**n!" Rosaline tersenyum lalu menggigit roti isi miliknya, namun baru juga 1 kunyahan ia sudah memuntahkannya kembali.
"Hueeeekkk.....Hueeeeekkk...." ia menutup mulutnya dan mengembalikan rotinya ke tangan Leon.
"Kau kenapa?"
"Aku benci....hueekkk....telur! Belikan lagi tanpa telur!" rajuknya dan Leon menatap food truck tempatnya tadi membeli roti.
Di sana pembeli mengular lebih panjang dari sebelumnya.
__ADS_1
Leon mendadak pucat.
"Harus di sana? Bagaimana kalau kita cari di food truck yang lain? Aku yakin ada penjual roti isi yang lebih enak di sekitar sini."
"Tidak mau! Aku hanya mau roti isi di tempat itu!"
"Tapi di sana antre sekali."
"Kau tidak mau membelikannya untukku? Untuk bayi kita? Kau bilang akan bersamaku sampai ajal menjemput, tapi membelikan roti isi saja kau tidak mau?!" mulut bar-bar Rosaline sudah kembali beraksi.
Dan jika sudah begini, ia hanya bisa pasrah.
"Baiklah...baiklah...aku akan membelikannya! Tenanglah! Tenanglah!" Leon buru-buru pergi sebelum suara Rosaline semakin meninggi.
Sungguh perjuangan suami dan calon ayah yang patut kita acungi jempol!
LOL
.
.
.
Rosaline memakan roti isinya dengan lahap sehingga rasa lelah Leon setelah hampir 1 jam mengantre terasa lenyap.
"Kau mau apa lagi?" tanya Leon.
Rosaline menggeleng.
"Nanti dulu! Aku mau bermain sambil mencerna makanan ini dulu."
"Hmm"
Keduanya mencoba berbagai permainan di sana, mulai dari menaiki perahu menyusuri kanal, menerbangkan layang-layang, hingga hal yang paling sederhana yakni mengambil foto candid satu sama lain.
Leon yang paling iseng, manurutnya ini kesempatan langka melihat Rosaline keluar rumah tanpa make up. Jadi dia harus mengabadikannya.
Sungguh istrinya memang cantik, bahkan sangat cantik.
Mau dipoles make up atau tidak, wajahnya sudah seperti seorang dewi.
Leon begitu terpesona bahkan ia berharap wajah anaknya kelak mirip dengan istrinya.
Tak terasa mereka sudah pergi nyaris seharian, cahaya senja sudah menjala perlahan.
Rosaline sedang menyedot minumannya saat memergoki Leon kembali mengambil fotonya secara diam-diam.
"Yakk...kau seharusnya memberitahuku agar aku bisa berpose!"
Suaminya hanya tersenyum.
"Kau bilang tadi kakimu sakit, biar ku pijat ya!" Leon duduk di samping istrinya dan mulai memijat kakinya dengan perhatian.
"Selain kaki, apa perutmu baik-baik saja kan?"
Rosaline mengangguk lalu mengecup pipi Leon secara tiba-tiba hingga membuat pria itu sedikit terkejut.
__ADS_1
Keduanya tertawa lebar dan bahagia.
Ponsel Leon bergetar, pesan dari Bobby yang mengingatkannya soal acara penghargaan pengusaha muda tersukses besok.
Ia harus datang minimal 1 jam sebelum acara dimulai.
"...sampai jumpa di lokasi acara!" Bobby mengakhiri pesannya dengan sok manis.
.
.
.
"Kondisimu cukup sehat kan untuk menghadiri acara besok?" tanya Leon dalam perjalanan pulang.
"Aku baik-baik saja, percaya lah!" jawab Rosaline meyakinkan.
"Jujur sebenarnya aku masih sedikit trauma dengan wawancara apalagi dengan yang namanya wartawan." wajah Rosaline muram seketika.
Rosaline tiba-tiba kembali mengingat peristiwa 9 tahun lalu di mana wartawan menyerbu kediamannya memberikan berbagai pertanyaan yang memojokan bahkan menghakimi keluarga mereka dan sungguh membuatnya sesak.
Bahkan Dante sampai tidak bisa masuk sekolah selama beberapa minggu karena wartawan selalu mengincarnya bahkan menunggunya di gerbang sekolah.
Ratusan artikel tentang keluarganya saat itu sangat santer diberitakan membuat keluarga mereka viral seketika sampai beberapa dari saudara dan kerabat yang seharusnya merangkul dan memberi perlindungan justru malah memutus kontak dan ikut memojokan mereka, membuat Rosaline dan keluarganya menjadi terasing.
"Tentu saja, tapi pertanyaan yang akan mereka ajukan hanya seputar bisnis dan perusahaan. Mungkin aku juga akan membahas sedikit tentang pernikahan kita. Kau tahu acara pernikahan kita hanya dihadiri orang terdekat saja, belum banyak orang yang tahu aku sudah menikah. Dan besok aku ingin memamerkanmu pada semua orang." Leon mencoba meyakinkannya.
Ia tersenyum lalu meraih tangan Rosaline dan mencium punggung tangannya sementara tangan yang lainnya dia atas setir.
"Apa kau yakin? Perasaanku sedikit tidak enak!" ucap Rosaline ragu.
"Bobby sudah memastikannya, sayang....! Tidak ada yang akan membahas masa lalu keluargamu! Yang aku khawatirkan hanyalah kesehatanmu, apa kau sungguh baik-baik saja?"
Ia tidak bisa tawar-menawar jika menyangkut kesehatan Rosaline dan bayinya.
"Baiklah kalau begitu! Hanya 1 jam dan aku juga tidak berdiri, hanya duduk dan juga kau yang akan menjawab pertanyaan. Sepertinya tidak akan ada masalah." Rosaline sepertinya sudah setuju untuk mendampingi Leon besok.
Keputusan Rosaline disambut Leon dengan senyuman bahagia.
"Aku akan meminta Bobby menyiapkan ambulan di sana!"
Rosaline terdiam mencerna ucapannya lalu mendadak tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Leon bingung.
"Kau bilang ambulan? Humormu yang ini jauh lebih bagus daripada kereta bayi tadi." Rosaline kembali tertawa.
"Eh, aku serius. Aku sudah menelepon Bobby dan memintanya menyiapkan ambulan di lokasi untuk berjaga-jaga."
"Hahaha....jangan dilanjutkan lagi! Perutku sakit karena tertawa! Hahaha....ambulan katamu? Hahaha....."
"Yakk....!!!" Leon bingung sendiri.
Ia serius tapi kenapa istrinya malah menganggapnya bercanda.
.
__ADS_1
.
.