Dandelion Motel

Dandelion Motel
Siluman Serigala Tampan dan Penyihir Cantik


__ADS_3

Tangan Rosaline bergerak menjelajahi tubuh Suaminya mulai dari dada, hingga....


"Pangkal paha!" Rosaline melanjutkan ceritanya, sementara tangannya berhenti di atas gundukan kecil di balik celana Leon.


Perlahan gundukan itu menjadi 'monster' yang siap melahapnya.


Wajah suaminya menegang. Nafasnya tercekat dalam nikmat.


Jemari Rosaline bergerak semakin liar, ia menyibak apapun yang mengahalanginya dari si 'monster'.


"Ditantang dan dicengkramnya makhluk itu dengan penuh keberanian.


Diremasnya dan dilum*tnya tanpa ampun!


Malam ini aku yang akan memangsamu! Pikir Rosaline.


Sementara itu, Leon sedang kepayahan. Ia melenguh tak berdaya seperti korban pembantaian.


Tangannya meremas kuat ujung seprei, kegilaan tengah merasukinya. Gerak tubuhnya tak terkontrol lagi. Ia telah hilang dalam pelukan nirwana dan melambung ke angkasa.


Rosaline tersenyum menikmati detak jantung suaminya yang semakin keluar irama serta desah nafasnya yang merekah penuh dahaga.


'Monster' itu menggila.


Sebenarnya Rosaline cukup kewalahan untuk menaklukannya, namun kita tahu, ia wanita yang gigih. Ia ganas dan berbahaya.


"Si serigala yang licik ******* bibir sang penyihir dengan lahapnya, seolah itu kue paling lezat di dunia dan ia sudah kelaparam selama ribuan tahun."


Rosaline melanjutkan ceritanya, sementara jemarinya mulai melahap si 'monster'. Ia mencengkram dan menimang-nimang nyawanya dalam genggaman.


Pria itu menggelinjang dalam pasrah, dalam nikmat yang meluluhlantakkan, dalam kegilaan yang semakin liar dan tak terkendali.


Ia biarkan 'monster' dalam dirinya dihajar habis-habisan oleh jemari sang istri, dilum*t, di gagahi, dipermainkan tanpa henti.


"Aaahhh....Rosaline...."


Ia membekap mulutnya sendiri, tidak mau panggung dongeng mereka didatangi para pendengar tak diundang.


Rosaline tersenyum semakin lebar menyaksikan ekspresi kacau suaminya. Ah, ia sangat menyukainya!


"Dan hari pun berganti, meski telah menyetubuhi penyihir cantik itu berhari-hari hingga tubuhnya biru dan ngilu, namun serigala yang licik itu tetap merasa tidak puas! Ia takut penyihir cantik itu kabur ketika bangun, maka ia....memutuskan menggigit kaki penyihir itu...hingga putus agar ia tak bisa lari ke mana pun..."


Rosaline bangun dan menggigit kaki suaminya, lalu menjilat dan mengecupnya dari betis hingga paha. Leon tersentak kaget dan melenguh tak berdaya.


"Rosaline......"


"Lalu...." bibir Rosaline bergerak naik.


"Tangannya hingga putus agar dia tidak bisa melawan...." ia menggigit tangan Leon hingga meninggalkan bekas di sana.


"Rosaline....." Leon tak kuasa dan tak mau untuk melawan.


Rosaline membenamkan bibirnya di antara lipatan leher suaminya.


"Kini....siluman serigala itu memiliki si penyihir cantik selamanya....selamanya!" Rosaline mengakhiri konser dongengnya sebab panggung telah runtuh dan si 'monster' telah binasa.

__ADS_1


Leon akhirnya kembali ke bumi setelah terhentak ke atas nirwana.


Ia terengah puas dan bahagia.


Dipeluknya tubuh Rosaline. Didekap dan diciuminya ia dengan penuh cinta.


Keduanya terbahak di atas ranjang yang basah oleh peluh dan lekat dengan ******.


"Ah...aku mencintaimu...sangat mencintaimu." Leon membisikan kalimat andalannya.


Dan Rosaline tersenyum. Ia biarkan pria itu meremas bibirnya, membasahi daun telinganya, menghirup desah nafasnya dan tenggelam di antara lipatan lehernya yang sehalus kain sutra.


Mereka kembali masyuk di bawah kusut selimut. Namun kini saatnya Leon yang bercerita, sementara Rosaline, ia akan mendengarkan dengan khidmat dan penuh cinta.


.


.


.


Dante sedang asyik nonton tv saat Leon menghampiri duduk di sampingnya.


"Kau menginap lagi malam ini?" tanya Leon.


"Iya kak, besok aku kuliah pagi dan jarak dari sini lebih dekat ke kampus dari pada dari motel."


"Ayo ikut! Kakakmu ingin makan jagung bakar, jadi ku rasa kita makan malam di luar saja sekalian." ajaknya.


"Apa kak Rosaline sedang ngidam?"


"Wajah kak Leon merah, kalian tadi habis melakukan apa di kamar?" ledek Dante direspon Leon dengan senyuman lebar dan malu-malu.


"Ayo, cepat! Kakakmu sudah menunggu!" menghindari komentar dan keisengan Adik iparnya lebih jauh.


.


.


.


Rosaline sedang asyik bercanda sambil menikmati jagung bakar dengan suami dan adiknya di salah satu sudut taman kota saat sepasang kekasih melewati mereka dengan tertawa-tawa dan agak meringis sambil memperlihatkan tato couple di lengan masing-masing.


Seketika, perhatian Rosaline teralihkan ke seberang jalan - ke sebuah studio tato bergaya retro namun kekinian.


Sorot mata wanita itu langsung berubah. Ia menatap suaminya.


"Apa ditato itu sakit?" tanyanya polos.


"Hah?" Leon mendongak bingung


"Kenapa? Apa kakak ingin ditato?" tanya Dante polos sambil asyik mengunyah jagung bakarnya.


"Jangan aneh-aneh!" peringat Leon.


Ia menyentil dahi istrinya.

__ADS_1


"Aaaaakkkkk!" teriak Rosaline.


"Aish, dasar baji***n! Ini namanya KDRT!" ia mengusap-usap dahinya dengan sewot.


"KDRT, hah? Lalu ini apa?" Leon menunjukan bekas luka gigitan di tangannya.


Rosaline seketika terdiam, ia memasang tampang bodoh.


"Tolong! Apa kalian bisa hentikan pertengkaran suami-istri ini? Kita sedang berada di tempat umum!" dengus Dante.


Leon tertawa, masa bodoh dengan ucapan adik iparnya dan membiarkan Rosaline dengan tampang cemberutnya.


Ia tak mau meladeni kegilaannya.


"Yakk...Leon! Bukankah saat diranjang tadi kau bilang sangat mencintaiku?" teriak Rosaline bar-bar hingga semua orang menoleh ke arahnya dan tentu saja Leon salah tingkah seketika.


"Yakk, kenapa kau meneriakiku seperti itu di depan umum?" bisik Leon malu di samping Dante yang kini menutupi wajah dengan kedua tangannya tak kalah malu dari Leon.


"Kau mencintaiku atau tidak?" Rosaline terus berteriak.


"Iya...iya...! Ssstttt...! Aku mencintaimu!" Leon ingin membekap mulut istrinya tapi semua orang sedang memperhatikan mereka.


"Kalau begitu, ayo ke sana! Kita ke sana! Aku ingin ke sana!" Rosaline merengek bak anak kecil sambil menunjuk ke arah studio tato tersebut.


"Yakk, aku mencintaimu. Tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu melakukan hal gila seperti itu! Lagipula kau sedang hamil, kenapa mau ditato segala! Jangan bilang itu kemauan bayi kita! Ngidammu sudah kelewatan!" Leon menolak mentah-mentah.


"Siapa yang bilang aku mau ditato? Kau kan yang tadi bilang sangat mencintaiku! Ayo buktikan!"


"Hah?" Leon tak paham.


"Aku tidak mau kau didekati banyak semut, memakai topi dan masker di kantor kan tidak mungkin. Jadi....."


"Jangan dilanjutkan! Hehe...kau pasti bercanda!" Leon menggeleng dengan terkekeh. Ia berusaha memungkiri kenyataan akan kegilaan otak istrinya.


"Atau kau lebih senang aku menempelimu terus ke mana pun kau pergi dan mencongkel setiap mata yang memandang wajah tampanmu itu? Kau milikku, Leon!"


"Kak, tidak harus dibuktikan dengan cara ditato kan?" Dante mencoba menengahi.


"Diam kau, Bocah tengik! Jangan ikut campur!" Rosaline melotot geram dan Dante langsung menunduk seperti anak kecil yang habis dimarahi.


"Ayo buktikan bahwa kau mencintaiku! Jangan hanya mengatakannya saja saat kita bermain di atas ran....!" Leon tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang yang memperhatikan mereka, ia langsung membekap mulut bar-bar istrinya.


Leon makin pusing.


"Iya....iya...aku akan menurutimu, tapi ku mohon diamlah! Sssstttt!" bisiknya panik pada Rosaline yang masih merengek.


Dan istrinya tersenyum seketika, matanya berbinar seperti bocah SD yang diberi tambahan uang saku oleh orang tuanya.


Sementara itu, tanpa sepengetahuan mereka, seseorang tengah membidik Rosaline dari balik lensa kamera.


Siapa pun itu, ia memotretnya beberapa kali lalu pergi, menghilang dalam kegelapan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2